Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Titipan Bunda Rita


__ADS_3

Akbar mengemudikan mobilnya menuju rumah mantan mertuanya untuk menjemput Maxwell. Anak itu menangis dan minta segera dijemput Daddynya, padahal tadinya Akbar dan Mila berniat menjemputnya setelah mengantarkan Bunda Rita untuk menaiki bus yang akan membawanya kembali ke panti.


Mobilnya berhenti tepat didepan rumah yang ia tuju, segera Akbar keluar dari mobil itu dan langsung menuju pintu rumah, menekan bel yang ada disisi kiri pintu, tidak berapa lama seseorang pun membukan pintu itu untuknya.


"Tuan!" sapa Bibi pembantu rumah itu. "Silahkan Tuan, Tuan dan Nyonya sudah menunggu" ucapnya sambil membuka pintu dengan lebar.


"Terima kasih Bi". Lalu melangkah memasuki rumah. Akbar berjalan mengikuti langkah Bibi yang membawanya ke meja makan. Disana terlihat kedua orang tua itu sedang membujuk Maxwell untuk makan, sementara Maxwell menangis dan terus menggelengjan kepalanya.


"Aku mau Daddy!" teriak anak itu.


Akbar menggeleng dengan senyum tipis dibibirnya, menghampiri mereka yang berada di meja makan.


"Maxwell" ujarnya. Serentak ketiga orang itu menoleh kearahnya.


"Daddy!" teriak Maxwell lalu berlari kearahnya. Akbar menangkapnya dan mengangkat tubuh kecil itu.


"Kenapa menangis? Kamu tidak boleh menyusahkan Nenek dan Kakek seperti ini" ucapnya dengan lembut sambil merapikan rambut Maxwell.


"Kenapa Daddy lama sekali, Maxwell tidak suka disini" jawab Maxwell dengan cemberut.


Kedua orang tua itu tertawa mendengar ucapan Maxwell. Mereka sama-sama beranjak dari duduknya.


"Sebenarnya dari kemarin dia sudah meminta pulang, tapi karena masih ingin bersamanya, kami terus membujuknya dan menjanjikan akan segera mengantarnya pulang, pagi ini dia menangis terus menerus". Kata Mama Rania sambil membelai rambut cucunya. "Dia sangat menyayangimu Akbar" lanjutnya. "Terima kasih sudah menjaga cucu kami dengan baik, meskipun dia bukan anak kandungmu, tapi kamu sudah menjadi Ayah yang hebat untuknya".


"Jangan berkata seperti itu Tante, semenjak Maxwell lahir, dia sudah menjadi anak ku, aku akan menjaga anak ku dengan baik" jawab Akbar sedikit kesal dengan ucapan mantan mertuanya itu. "Tolong! jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi, apalagi didepan Maxwell" ucapnya dengan tegas.


"Baiklah, kami percaya kamu pasti akan menjaga Maxwell dengan baik, tapi... " ragu-ragu dengan ucapannya. "Tapi bagaimana dengan istri mu, apa dia bisa menerima dan menyayangi Maxwell seperti kamu menyayanginya ?"


"Maa" tegur suaminya ketika melihat raut wajah Akbar yang langsung berubah setelah mendengar ucapan istrinya. "Akbar, maaf, kami terlalu mengkhawatirkan Maxwell" sambungnya dengan senyum kaku.


"Daddy, aku ingin main dengan Bunda" ucap Maxwell tiba-tiba. Akbar tersenyum.


"Setelah ini kita temui Bunda ya" jawab Akbar.


"Benarkah? Apa Bunda akan datang kerumah?" tanyanya dengan girang.


"Bunda sekarang tinggal dirumah kita"


"Asyikkk" teriak Maxwell dengan senangnya.


Kedua orang tua itu saling bertatapan, berusaha mencari tahu Bunda yang dimaksud Maxwell dan Akbar.


"Tante dan Paman tidak perlu khawatir, Mila sangat menyayangi Maxwell, begitu juga dengan Maxwell, mereka berdua saling menyayangi" jawab Akbar dan memaksakan senyum dibibirnya. "Apa Maxwell menyukai Bunda Mila?"


Maxwell langsung menganggukkan kepalanya.


"Lihatlah, tidak ada yang perlu kalian khawatirkan, Maxwell dan Mila sudah dekat bahkan sebelum kami menikah" menatap kedua orang tua itu.


"Hahahaha... syukurlah kalau ternyata mereka punya hubungan seperti itu" tertawa namun terlihat jelas wajahnya tidak menyukai kenyataan itu.


"Kalau begitu Akbar pamit Tante, Paman" ucap Akbar lalu meninggalkan mereka yang masih berdiri mematung ditempatnya.


"Pa, kita harus menyuruh Rania pulang dan mengambil Maxwell dari Akbar" ucap Mama Rania setelah Akbar pergi meninggalkan mereka.


"Untuk apa Ma ? Biarkan Rania mengejar mimpinya, Maxwell juga akan bahagia dengan Akbar dan Mila" jawab suaminya sembari berjalan kemeja makan dan meneguk air putih yang berada di atas meja.


"Pa, Maxwell itu cucu kita, aku tidak mau dia dibesarkan oleh wanita yang tidak jelas asal usulnya, Mila itu anak panti asuhan! Papa mau membiarkan cucu kita punya Ibu seperti dia" mengejar suaminya yang berjalan meninggalkannya.


"Lalu Mama mau apa? Dulu Mama yang menyuruh Rania untuk menyerahkan Maxwell pada keluarga Akbar, Rania juga tidak akan mampu merawatnya, dan Mama sendiri, apa sanggup menjaganya ?". Mulai kesal dengan istrinya.


"Kita bisa sewa baby sister untuk menjaganya"


"Ma! sudah, hentikan! percayalah Maxwell akan lebih bahagia tinggal bersama mereka". Meninggalkan istrinya didapur.


"Aku tidak akan membiarkan cucu ku diasuh oleh wanita itu" gumamnya setelah kepergian suaminya. "Gadis panti asuhan? Hah yang benar saja, aku harus menghubungi Rania".

__ADS_1


*******


Bus yang akan membawa Bunda Rita sudah hampir berangkat, para penumpang pun sudah mulai menaiki bus tersebut.


"Bunda, tunggu lima menit lagi, Akbar sudah mau sampai". Mila berusaha menahan Bunda Rita yang akan menaiki bus.


"Tapi Kak, busnya sudah mau jalan, Bunda bisa ditinggal kalau tidak naik sekarang" jawab Mona melihat supir bus yang mulai menyalakan mesin.


"Tidak apa-apa, kita tunggu lima menit lagi". Bunda Rita menahan langkahnya yang akan menaiki bus.


Tidak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di hadapan mereka. Akbar keluar dari dalam mobil dan menggendong Maxwell. Mereka menghampiri ketiga wanita itu.


"Maaf Bunda, kami terlambat" ucapnya dengan penuh penyesalan.


Bunda Rita tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Bunda masih disini, kalian belum tertambat" jawab Bunda sambil mencubit pipi Maxwell. Yang dicubit malah tertawa. Mila mengambil alih Maxwell dari Akbar. "Akbar, Bunda titip kedua putri Bunda, tolong jaga mereka dengan baik" ucapnya sambil mengusap bahu Akbar.


"Iya Bunda, Akbar janji akan menjaga mereka".


"Berjanjilah sama Bunda kalau kamu tidak akan pernah meninggalkan Mila lagi, bagaimana pun keadaannya kamu akan selalu bersamanya"


"Bunda". Sela Mila dengan air mata yang mulai berlinang. Dia menurunkan Maxwell dari gendongannya dan berjalan mendekati Bunda Rita, meraih tangan Bunda Rita dan menggenggamnya.


"Aku janji Bunda, aku akan selalu disisinya apapun yang terjadi, dan aku juga akan selalu menyayangi" lanjut Akbar sambil memandang Mila. "Mila adalah hidupku, dan kami akan hidup bahagia bersama" tersenyum lalu meraih tangan Mila.


"Bunda titip Mona juga, kamu boleh memarahinya kalau dia nakal". Ucapnya dengan tertawa namun air matanya mulai jatuh dikedua sudut matanya.


"Bunda, percayalah Akbar pasti akan menjaga mereka dengan baik" mengeringkan air mata Bunda Rita lalu memeluknya. "Bunda jangan khawatir, Akbar akan menjaga mereka" ulangnya lagi. Bergantian Mona dan Mila pun memeluk Bunda Rita.


Setelah bunyi klakson beberapa kali, Bunda Rita pun melangkah dan menaiki bus. Mereka menatap kepergian bus sambil melambaikan tangan.


Setelah bus yang membawa Bunda Rita menghilang, Akbar mengajak mereka untuk masuk kemobil dan membawa mereka kembali kerumah.


Sesampainya dirumah, semua barang-barang Mona dan Mila sewaktu dikontrakannya sudah berada dirumah Akbar. Beberapa orang terlihat sibuk memindahkan dan menyusunnya kedalam rumah.


"Ini kan barang kita semua Kak" ucap Mona sambil mengikuti langkah Mila.


"Karena kalian juga sudah ada disini" jawabnya santai. "Mona, kamar kamu ada disebelah kamar tamu, kalau ada yang kurang atau tidak suka bilang saja pada mereka" sambil menunjuk kamar dengan pintu cat warna pink.


"Kamar ku" seru Mona lalu langsung berlari menuju kamar yang dimaksud.


Mila menatapnya dengan memicingkan mata, tapi Akbar malah tersenyum dan mengangkat bahunya, lalu menaiki tangga menuju kamarnya. Mila pun mengikutinya bersama Maxwell.


*******


Nando duduk sambil sesekali melihat arah pintu masuk, memastikan kedatangan yang sosoknya dia nanti-nanti. Nando berulang kali memperbaiki penampilannya, merapikan rambut, baju, dan semua yang melekat ditubuhnya. Malam ini adalah momen yang sangat berharga untuknya, dia ingin semua yang ia rencanakan berjalan dengan lancar.


Waktu terus berjalan, namun Nayra yang dia tunggu-tunggu belum juga muncul, Nando melirik jam tangannya, sudah lewat lima belas menit dari waktu yang mereka sepakati.


"Kenapa dia belum datang?" gumamnya. "Ahhh harusnya aku menjemputnya tadi, aduh bodoh banget sih aku malah meminta dia datang sendiri kesini" mulai menyalahkan diri sendiri. "Apa dia tidak datang?" mulai menduga-duga. "Tapi tidak mungkin, Nayra pasti datang" berusaha meyakinkan diri sendiri.


Nando semakin tidak sabar, dia mulai beranjak dari duduknya, namun begitu berbalik, Nayra sudah berada dipintu masuk dan berjalan kearahnya. Gadis itu datang dengan penampilan yang sangat berbeda dengan penampilannya selama ini, dengan mini dress, rambut di gerai dan dengan riasan tipis membuatnya terlihat sangat anggun, dia berjalan dengan tersenyum lebar pada Nando, ia menghampiri Nando yang berdiri mematung memandangnya.


"Maaf, aku terlambat" ucapnya ketika sudah sampai dihadapan Nando.


Nando tidak menyahut, matanya pun tak berkedip memandang Nayra.


"Nando" sambil melambaikan tangannya diwajah Nando. "Nando!" mulai meninggikan suaranya.


"Ahh" tersentak kaget. "Oh, Nay, kamu sudah datang"ucapnya dengan kikuk. "Mari silahkan duduk" menarik kursi untuk Nayra.


Nayra menurut, dan kini mereka duduk berhadapan.


"Apa kamu menunggu lama?"


"Tidak, hanya saja aku yang tidak sabar untuk segera bertemu dengan mu" jawab Nando yang membuat wajah Nayra langsung merona merah. "Kamu mau makan apa?" sambil memanggilkan seorang pelayan yang bertugas disana.

__ADS_1


Nayra membuka menu yang disodorkan pelayan, membolak baliknya lalu menentukan pilihannya pada banana pancake. Si pelayan mencatat pesanannya lalu meninggalkan mereka.


"Kamu tidak makan?" tanya Nayra melihat Nando yang hanya memesan minuman. Nando menggeleng.


"Aku baru tahu kalau disini ada cafe" ucap Nayra sembari mengelili Cafe tersebut dengan pandangannya. "Kenapa hanya ada kita ?" menyadari kalau semua meja kosong, satu-satunya meja yang berpenghuni hanyalah meja yang mereka tempati saat ini. "Nando, apa kamu sengaja membooking seluruh cafe ini?" menatap Nando dengan penuh curiga. Nando hanya tersenyum menanggapinya.


Tidak lama kemudian pesanan mereka pun tiba, pelayan yang berbeda datang menghidangkan pesanan.


"Ayo, kamu makanlah dulu" ajak Nando.


Nayra menyantap makanannya dengan lahap, karena sepulang kerja tadi dia memang tidak sempat makan, begitu sampai dirumah dia langsung bersiap untuk bisa tampil seperti malam ini.


Selesai dengan makanannya, dia meneguk minuman yang sama dengan milik Nando.


Nando ikut meneguk minumannya, lalu meletakkan kembali gelas itu ditempatnya semula.


"Bagaimana dengan makanannya, apa kamu menyukainya?"


"Enak, aku menyukainya" jawabnya dan kembali mengelilingi seluruh cafe dengan pandangannya. "Tuh kan benar, dari tadi hanya kita berdua tamu di cafe ini" bisik Nayra. "Katakan, kamu tidak sedang membooking seluruh Cafe ini kan?".


"Lebih tepatnya menutup untuk tamu lain, malam ini tidak menerima tamu lain" jawab Nando masih dengan santai.


"Hah? menutup untuk tamu lain ?" dengan dahinya berkerut berusaha mencerna isi ucapan Nando.


"Nay cafe ini adalah milikku, aku tidak menerima tamu lain malam ini karena aku hanya ingin berdua denganmu"


"Kenapa?" tanya Nayra dengan detak jantung yang mulai tidak beraturan. Mata Nando yang terus menatapnya membuat dia semakin tidak bisa bernafas.


"Karena ada sesuatu yang ingin aku katakan" jawab Nando tanpa melepaskan Nayra dari pandangannya.


Nayra menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan, berusaha untuk tetap hidup agar bisa mendengar apa yang akan dikatakan Nando.


"Nay" mulai meraih tangan Nayra diatas meja. "Mungkin ini terlalu mendadak, tapi aku tidak ingin kalah cepat dengan yang lain, aku ingin menjadi orang yang pertama, aku..." mulai lupa dengan kalimat yang sudah dia hafal dari kemarin. "Aku... " tatapan Nayra semakin membuatnya lupa dengan apa yang seharusnya dia ucapkan.


"Sebenarnya apa yang mau kamu bicarakan". Nayra mulai menarik tangannya, namun Nando menahannya.


"Nay, menikahlah dengan ku" ucapnya dengan memejamkan kedua matanya, tidak berani melihat reaksi Nayra.


Cukup lama mereka terdiam, hingga akhirnya Nando memberanikan diri membuka matanya. Nayra diam tidak memberi jawaban apapun, gadis itu hanya menatapnya.


"Nay, kenapa kamu hanya diam, bukankah seharusnya kamu mengatakan sesuatu" sambil melepaskan tangan Nayra dari genggamannya. "Aku mengumpulkan banyak keberanian untuk bisa mengatakan ini, jadi tolong katakanlah sesuatu, apa kamu mau menikah dengan ku? " ucapnya lirih.


Nayra kembali menarik nafasnya dalam-dalam.


"Baiklah kalau mau mendengar jawaban ku"


"Kamu akan menjawabnya" mulai tersenyum. "Tapi kamu tidak akan menolakku kan?" panik sendiri dengan jawaban yang bahkan belum keluar dari mulut Nayra. "Kalau mau menolakku, sebaiknya jangan katakan sekarang, itu akan sangat memalukan, aku tidak siap untuk itu" keluhnya.


"Kamu maunya apa sih?" dengan geram memukul kepala Nando.


"Astaga, kepala ku" rintih Nando sambil menyentuh kepalanya.


"Kalau tidak mau dengar aku pulang saja" ancam Nayra.


"Tidak Nay, kumohon jangan pulang dulu" menahan Nayra yang ingin beranjak. "Baiklah aku akan mendengarkannya, apapun itu"


Hening sesaat, Nayra menatap Nando yang menundukkan kepalanya.


"Aku tidak mau menikah dengan mu" jawab Nayra dengan tegas. Nando yang mendengarnya langsung lemas dikursinya. "Tapi.... " sengaja menggantung kalimatnya. Nando mulai mengangkat wajahnya. "Tapi aku akan berubah pikiran kalau pengunjung yang datang ke Cafe ini mencapai100 orang setiap hari selama seminggu kedepan".


"Nay, apa aku tidak salah dengar?" seolah tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Nayra menggelengkan kepalanya. "Apa itu artinya aku punya kesempatan ?" lanjutnya dengan wajah berbinar.


Nayra mengangguk.


"Kita akan sama-sama berusaha mewujudkannya" sambung Nayra.

__ADS_1


"Aku akan berusaha semaksimal mungkin" jawab Nando dengan semangat.


__ADS_2