Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Kamis Bahagia Part 3


__ADS_3

“Enak kan, Vir? Piringnya sampai licin gitu, hahaha.” Kosa mengomentari Vira yang cukup cepat menghabiskan porsi besar ayam penyet pesanannya


“Beneran enak banget Kak. Tapi Vira tuh kalau makan memang licin kayak gini Kak, kebiasaan soalnya. Dari kecil pas makan sama nenek selalu diingatkan kalau sebutir nasi itu berharga karena ada kerja keras petani untuk menumbuhkannya.”


“Keren filosofinya Vir,” puji Kosa tulus.


“Eh Kak, soal penelitian yang di Karawang apa sudah ditentukan harinya? Vira mau nyusun jadual juga soalnya.”


“Bikin jadual acara elu dulu Vir, nanti kita sesuaikan soalnya gue udah ngomong sama Melati dan Handoko. Kalian bertiga kan yang urus Karawang. Kalau Rizki sama Widodo mereka udah fix jadualnya di Kabupaten Bekasi, soalnya Rizki kan sekalian mudik. Kebetulan pas dua bulan yang dikasih Pak Irsyam dan Mas Syahran buat ambil data itu, jadual resesnya DPRD sana juga gak ada," jelas Kosa.


"Jadi kita masih santai lah karena mereka ada di tempat. Staf ahli mereka juga beberapa lulusan sini juga koq jadi aman. Nah, tinggal elu bikin matriks data kayak kemarin. Dipuji sama Pak Irsyam tuh, katanya pasti MPS elu nilainya A,” seloroh Kosa yang disambut dengan tawa kecil Vira.


“Ah, Kak Kosa bisa aja. Vira tertawa malu. Paling lambat nentuin jadualnya kapan Kak?” tanya Vira kembali.


“Sebisa mungkin pas ujian akhir selesai ya! Tapi tenang, Melati sama Handoko katanya gak mau pas minggu pertama liburan. Bilangnya sih mau istirahat ngademin otak dulu.”


“Oh, baik Kak. Bisa koq.” Vira mengangguk dengan yakin.


Sesaat Vira dan Kosa terdiam saling memandang. Alunan suara Once Mekel kembali menggetarkan hati mereka. Entah apa yang dirasakan Vira tapi lagu-lagu yang diputar menggambarkan perasaan Kosa yang sesungguhnya.


aku mau mendampingi dirimu

__ADS_1


aku mau cintai kekuranganmu


selalu bersedia bahagiakanmu, apapun terjadi


ku janjikan aku ada


kau boleh jauhi diriku


namun ku percaya


kau kan mencintaiku


“Vir," panggil Kosa pelan.


Ditatapnya mata Vira dengan lembut. Ingin mencari sebuah jawaban yang dinanti selama ini. Tak peduli apa nanti reaksi Vira kepadanya. Tapi rasa ini tidak bisa berdusta. Rasa ini harus diucapkan kepada pemilik hatinya.


"Jadi pacar gue ya!” ucap Kosa penuh harap.


Vira tersenyum. Senyuman termanis yang pernah Kosa lihat dari bibir Vira. Tidak ada kemarahan atau ketakutan yang muncul dari raut wajah Vira, yang selama ini dikhawatirkannya.


Tatapan matanya lembut dan memandang Kosa dengan hangat.

__ADS_1


“Boleh, kita jalani hubungan ini dengan baik ya!” jawab Vira dengan penuh keyakinan.


Kosa diam. Wajahnya tidak bereaksi. Sepertinya Kosa tidak mendengar jawaban Vira. Ah, tidak, Kosa mendengarnya tapi seperti tidak yakin. Vira barusan tadi menjawab apa sepertinya Kosa tidak terlalu paham. Ditatapnya wajah Vira dalam-dalam. Kosa menggelang satu kali, dua kali, tiga kali.


Vira masih menyunggingkan senyum manisnya. Tiba-tiba Vira tertawa kecil.


“Yuk ah, udahan Kak. Antar Vira ke stasiun ya, mau ngejar kereta sore yang jam lima Kak,” pinta Vira memecah kebingungan yang dialami Kosa.


“Ah, jangan naik kereta ya, sergah Kosa. Gue antar sampai rumah aja ya Vir!”


“Gak ah Kak, kayaknya Kak Kosa lagi bingung deh, nanti kenapa-kenapa lagi. Bekasi kan jauh Kak.”


“Gak apa-apa koq. Gue antar ya! Besok kan jumat gak ada kuliah. Gue sekalian mau ke rumah Mas Andri, dia tinggal di Bekasi juga.” Kosa kembali meyakinkan Vira.


“Siapa Mas Andri?” tanya Vira.


“Kakak gue Vir.”


“Oh, oke Kak. Sholat ashar dulu ya, baru kita balik ke Bekasi.”


Kosa mengangguk pasti dan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2