Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Gloomy Saturday Night


__ADS_3

^Malam Minggu Kelabu


Entah apa yang membuat mereka berhenti, tidak ada yang tau. Deru napas yang membara dari keduanya kini berangsur normal. Cokro memeluk Vira begitu lembut, membenamkan kepala Vira di dadanya. Suara televisi kini terdengar jelas. Indera pendengaran mereka yang tadi didominasi oleh indera perasa dan peraba kini pulih.


Namun mereka tetap terdiam. Tidak ada yang beranjak dari posisi mereka. Hanya menyisakan ingatan-ingatan di benak mereka akan peristiwa yang baru saja terjadi.


Vira melihat angka di jam analog menunjukkan angka sepuluh. Tetiba dirinya merasa cemas.


“Kenapa Vir?” tanya Mas Cokro.


“Mamah belum pulang Mas. Vira ambil ponsel dulu,” ucap Vira lalu melepaskan diri dari pelukan Cokro.


Cokro mengikuti langkah Vira menuju kamar. Dilihatnya Vira sedang sibuk mencari-cari ponselnya.


“Terakhir buka ponsel kapan?” tanya Cokro sambil melihat-lihat isi kamar Vira. Mata Cokro tertumbuk pada foto Vira berdua dengan Kosa yang terletak di nakas sebelah tempat tidur.


“Oh, ya ampun. Kemarin malam, setelah nelpon Natha dari Ancol, Vira gak buka ponsel lagi Mas,” seru Vira sambil menepuk keningnya.


Vira langsung mencari tas rajut coklatnya dan menemukan ponselnya yang ternyata sudah mati karena habis baterai. Vira langsung saja menyambungkan ponselnya dengan charger. Menunggunya beberapa saat terlebih dahulu baru dinyalakan.


Vira melihat Mas Cokro masih menatap foto dirinya dengan Kosa. Ada rasa tak nyaman yang tiba-tiba bergelayut di hatinya. Vira lalu berjalan menuju nakas dan segera mengambil foto dengan bingkai kayu sederhana itu. Dimasukkannya foto itu ke dalam laci meja riasnya.


Dan kini Cokro melihat perempuan manisnya ini terdiam. Cokro merasa ada pergulatan batin yang sedang dirasakan Vira. Dilingkarkannya kedua tangan Cokro melingkupi tubuh Vira. Memeluknya dari belakang. Mencoba meyakinkan Vira bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dirinya ingin mengatakan bahwa hari ini adalah permulaan yang baik bagi mereka berdua.


“Vira,” terdengar suara tegas yang memanggil dirinya. Ternyata Natha yang sudah pulang dan kini berada di dalam kamar Vira yang sedari tadi pintunya terbuka.


Cokro melepaskan pelukannya dan mengangguk ke arah Natha.


“Mas tunggu di bawah ya!” bisik Cokro pelan.


Raut wajah Natha terlihat begitu tegas dan menakutkan. Seolah siap untuk mengeluarkan amarah yang membuncah.


“Gila lo ya Vir, sendirian di rumah dan bawa masuk cowok ke kamar lo, benar-benar keterlaluan!” damprat Natha dengan suara yang menggelegar.


“Nath, Nath… dengerin gue dulu. Ini gak seperti yang lo liat. Gue baru masuk kamar Nath, nyari ponsel gue, mau nelpon Mamah. Gue sama Mas Cokro gak ngapa-ngapain di kamar. Gue berani sumpah Nath!”


“Suruh pulang si Cokro itu sekarang,” perintah Natha keras yang membuat Vira langsung menuju ke bawah untuk menemui Mas Cokro.


Cokro sepertinya paham dengan apa yang terjadi di lantai atas karena suara Natha terdengar cukup jelas di telinganya. Cokro ingin menjelaskan semuanya kepada Natha, namun dirasa waktu kurang tepat. Hanya akan menambah kerumitan masalah.


“Maaf,” ucap Vira lirih. Sungguh Vira merasa tidak enak hati dengan keadaan ini.


Cokro meraih tangan Vira dan menggenggamnya.


“Mas pulang dulu ya! Mas sayang Vira,” ucap Cokro pelan. Ingin rasanya memeluk Vira dan mengecup keningnya namun Cokro merasa Vira mungkin akan menolaknya karena rasa takut terhadap Natha.


-------------------------------------


Raut wajah Natha tidak berubah meski Cokro sudah pulang. Wajah kesal dan penuh amarah membuat Vira yakin bahwa Natha akan menghakiminya atas apa telah dilihatnya.


“Nath, jangan marah. Gue itu beneran gak ngapa-ngapain dengan Mas Cokro di kamar.”


Natha menghela napas panjang. “Mata gue masih normal Vir. Dan kalau gue gak pulang cepat, gue gak bisa bayangin kalian akan melakukan apa.”


“Nath, koq gitu sih ngomongnya. Gue jujur sama elu Nath, kalau gue mau bisa aja dari sebelum elu pulang Nath. Mas Cokro itu datang ke rumah jam tujuh.”


“Gila lu Vir, jangan sampe kejadian deh.” Natha mulai mengatur napasnya. Tampak Natha berusaha mengurangi ketegangan yang terpancar dari wajahnya.


“Pas gue liat Cokro meluk elu dari belakang gitu, gue udah gak bisa mikir lagi Vir. Tadi tuh, gue pengen lempar Cokro pakai ponsel gue.”


“Jangan Nath! Beneran koq dia gak ngapa-ngapain gue.”


“Beneran? Lu itu ya Vir, suka ngasih fakta secuil-secuil. Terus terang saja deh tadi Cokro ngapain aja?” tanya Natha dengan nada ketus.


Vira terdiam sesaat. Mencoba mencari kata-kata dan meramunya agar tidak terlalu buruk didengar Natha. Terasa sukar untuknya menggambarkan ciuman dirinya dengan Mas Cokro yang saling berbalas dengan kata-kata.


“Hhmm, itu.. Mas Cokro datang sekitar jam tujuh malam, jam tujuh kurang sepuluh kayaknya. Trus gue bikinin kopi, Mas Cokro masak dada ayam dibikin steak pakai saus jamur sama kentang yang dipanggang pakai keju mozzarella. Trus gue bantuin nuang jus apel di gelas, cuci perabotan sama piring kotor. Abis itu nonton tivi, gue cium Mas Cokro dan Mas Cokro bales nyium, trus gue masuk kamar nyari ponsel, Mas Cokro meluk gue, dan elu dateng Nath. Itu aja, gue gak bohong Nath.”


Natha menggelangkan kepalanya, sepertinya ada yang salah dengan pendengarannya.

__ADS_1


“Apa Vir tadi elu ngomong? Elu nyium duluan trus dibales sama Cokro?” tanya Natha seperti ingin memastikan kebenarannya.


“Iya,” jawab Vira lirih dengan suara yang amat pelan, nyaris tak terdengar.


“Hah,” teriak Natha. “Koq bisa? Bukannya elu takut sama Cokro. Capek-capek elu hindarin tuh orang sampe ngekost di Depok dan sekarang tiba-tiba elu udah berani nyium duluan? Issh, gak ngerti gue. Lu emang udah gila.”


Vira meringis dengan wajah pias menahan malu.


“Gue juga gak ngerti kenapa. Udah ah Nath, jangan diomongin lagi. Gue juga malu ingetnya.”


“Nath, Mamah belum pulang Nath, tadi gue mau nelpon Mamah sama Tante Hana tapi elu keburu dateng. Telponin Mamah Nath, udah sampe mana. Koq, udah malem banget belum pulang,” ucap Vira terdengar panik karena tiba-tiba teringat Mamah yang belum pulang.


Natha melengos kesal. “Salah satu yang bikin kesel dari elu itu adalah elu gak pernah angkat ponsel Lu! Mamah nelpon elu kagak nyambung, pesan chat centang satu, gue telpon elu juga sama. Gue periksa notif pesan chat elu terakhir dibuka kemarin jam satu malem. Yang benar aja Vir!”


“Mamah nelpon elu Nath? Jadi apa katanya?” tanya Vira.


“Si Bimo ngajakin Mamah sama Tante Hana ke Puncak. Katanya tadi lagi makan Soto Mie di parkiran Masjid Atta’Awun. Gak tau deh pulang jam berapa nanti, wong supirnya cuma si Bimo, mana baru punya SIM tuh anak. Gue bilang aja gak apa-apa pulangnya besok, suruh si Bimo istirahat dulu. Cari hotel aja di sana. Eeh, si Mamah malah nanya Papah udah pulang apa belum, kesel gue dengernya. Susah aja si Mamah hepi-hepi gak pake inget Papah.”


“Bagus lah Nath, gue khawatir banget. Ponsel gue mati ternyata, baru aja tadi dicas.”


“Elu gak kepikiran sama Kosa? Gak nungguin telpon atau chat dari dia? Aneh!”


Vira terdiam. Ada sebagian dirinya yang tidak ingin memikirkan Kosa terutama setelah apa yang terjadi malam ini. Namun sebagian lagi dirinya dipenuhi rasa penyesalan yang selalu datang setelah kehadiran Mas Cokro.


“Gue gak tau Nath, gue jadi bingung sama perasaan gue sendiri”


“Jangan lama-lama bingungnya. Lo gak boleh mempermainkan perasaan orang. Kalau lo suka Cokro, bicara terus terang sama Kosa dan putusin. Atau sebaliknya. Kalau lo masih sayang Kosa, tinggalin Cokro. Gak ada yang suka diduakan cintanya.”


“Kalau gini namanya gue selingkuh ya Nath? Benar kata Mirna. Gue berasa kaya Papah, Nath. Gue marah banget pas tau Papah punya keluarga lain. Gak setia sama Mamah dan ternyata gue sama aja. Awalnya gue gak mau begini Nath, tapi gue gak tau kenapa hari ini koq malah kebawa perasaan.”


“Yaudah sih, sudah kejadian kayak gini, mau diapain lagi. Perasaan kan gak bisa dibohongi. Tapi ya Vir, beneran deh, kisah cinta lo ribet banget,” dengus Natha.


“Hah, elu yang cuma liat aja bilang ribet, gimana gue yang rasain? Udah ah Nath, gue mau tidur. Nanti kalau Mamah pulang, elu aja yang bukain pintu ya!”


Vira beranjak menuju kamar. Setelah mengenakan piyama dan membersihkan wajahnya dengan susu pembersih, direbahkan tubuhnya di atas kasur, melemaskan otot-otot yang kaku, dan menenangkan mata yang lelah. Tampak ponselnya yang terletak di atas nakas dan masih tersambung dengan kabel charger berkedap-kedip. Sepertinya ada banyak notifikasi yang masuk, membuat Vira semakin enggan membukanya. Tanpa memeriksa notifikasi, Vira langsung mematikan ponselnya.


-----------------------------


Awalnya Kosa tidak terlalu khawatir mengapa Vira tidak kunjung membalas pesan chat darinya. Kebiasaan Vira yang jarang membuka ponsel dan mengecek notifikasi sejak awal pendekatan selalu dianggap lumrah oleh Kosa. Namun kali ini Kosa merasa ada sesuatu yang dirasakan berbeda. Pesan chat yang tidak dibalas, ponsel Vira yang ada di luar jangkauan, dan panggilan yang tidak dijawab, membuat Kosa bertanya-tanya dalam hati apa gerangan yang sedang terjadi dengan perempuannya itu.


Dipandanginya deburan ombak di malam hari. Air laut yang pasang namun belum menghapus seluruh bibir pantai. Beberapa anak muda bermain gitar dan bernyanyi di area taman yang menghadap pantai. Setelah menikmati seafood bakar dan minum bir, Matsuoka Sensei memilih istirahat di kamarnya, begitu juga Pak Hamid. Tinggal Kosa yang merasa belum mengantuk. Pikirannya hanya tertuju kepada Vira yang tak kunjung memberi kabar.


Mungkin saja tugas magang yang diberikan padanya terlalu berat atau bisa jadi Vira berkumpul bersama teman-temannya. Namun Kosa mengkoreksi pemikirannya. Vira termasuk tipe yang cepat menyelesaikan tugasnya dan bahkan nyaris tidak pernah berkumpul dengan teman-temannya. Kosa mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.


Ditulisnya pesan chat ke Mirna, adik Vira yang kemudian mengabarkan kalau Vira sedang ada di rumah Bekasi sendirian. Mirna meminta maaf tidak bisa memberitahu Vira karena sedang berada di rumah teman dan ponsel Vira memang tidak bisa dihubungi. Setidaknya kabar dari Mirna sedikit membuat Kosa bisa bernapas lega, tidak terlalu khawatir meskipun rasa rindunya telah memuncak.


Dilihatnya sorot redup lampu nelayan yang sedang melaut. Kerlip lemahnya dan redup cahaya rembulan yang tertutup awan hitam memberikan suasana kelabu. Kosa lalu mengambil foto deburan ombak dan diposting di status aplikasi pesan chat-nya, tanpa ada deskripsi sedikit pun. Seolah foto itu sedang menggambaran suasana hatinya.


Sekejap beberapa pesan chat masuk. Semua dari teman kampusnya yang menanyakan dirinya sedang berada di mana. Termasuk dari Danu.


Danu: [Sa, elu dimana? Udah balik dari Serang?]


Kosa: [Lagi di Anyer, nemenin Matsuoka Sensei]


Danu: [Ditanyain sama Pak Irsyam dan Mas Syahran, katanya elu susah banget dihubungi. Mereka mau ajak rapat penelitian Pilkada]


Kosa: [Iya, ntar gue hubungi mereka, besok balik]


Danu: [eh, OOT, elu masih sama Vira kan?]


Kosa: [Masih, kenapa?]


Danu: [Ooh, gpp]


Kosa tidak lagi membalas pesan chatnya dan memutuskan langsung menelpon Danu, sahabatnya hanya untuk mengetahui apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Dirinya ingin mendengar langsung semua hal yang terkait Vira.


Danu: “Eh Sa, pake telpon segala. Segitunya kalau soal Vira.”


Kosa: “Koq elu ngomong gitu, emang kenapa?”

__ADS_1


Danu: “Kagak, gue kemarin itu jalan sama Trisha dan Niken, lewat depan kost si Vira. Kebetulan banget dia lagi turun dari mobil, dianterin sama cowok, buseeet deh Sa, tuh mobilnya cakep bener.”


Mendadak pikiran Kosa langsung melayang kepada sosok lelaki matang yang selama ini mengejar Vira, yang juga memiliki mobil mewah. Apakah lelaki itu yang mengantarkan Vira pulang ke rumah kost? Mengapa Vira mengajaknya ke sana? Bukan kah Vira justru tinggal di tempat kost karena ingin menghindari lelaki itu? Ada banyak pertanyaan yang bergumul dalam benaknya.


Danu: “Sa, koq diem sih?”


Kosa: “Eh, kagak. Temennya Vira kali Nu. Gosip aja lu bisanya."


Danu: “Kagak gosip gue. Abis itu, gue ketemu si Vira di Cak Wit, dia beli pecel ayam. Gue tanya aja itu siapa. Katanya sih anak bosnya di kantor magang. Cuma si Vira buru-buru gitu, katanya takut digembok pagar kost-nya.”


Kosa; “Ooh.”


Danu: “Wakakaka, gue tau elu cembokur Sa. Niat gue ngomong gini biar elu kesel. Ngaku aja lo!”


Kosa: “Ngomong apa sih lu, udah ah!”


Danu: “Jangan lupa Senin ke kampus Sa, ntar ketemuan juga sama si Kimmy dan Bokep.”


Kosa: “Sipp.”


Diusapnya ikon telpon merah dan seketika pembicaraan dengan Danu terhenti. Namun kepalanya tak berhenti untuk memikirkan siapa lelaki yang mengantarkan Vira pulang ke kamar kost. Anak bos di kantor magang Vira? Anak Pak Herman Sasongko? Siapa? Kenapa Vira bisa kenal? Kenapa Vira bisa sampai diantarkan lelaki itu? Kepalanya mulai berdenyut.


Kosa hanya ingin mendengar suara Vira. Suara yang memanggil Abang pada dirinya. Suara yang marah dan penuh manja. Suara yang bisa meredakan segala kegelisahan di hatinya.


“Sa, sendirian aja,” tegur Pak Hamid yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya.


“Eh, Mas. Kirain sudah tidur duluan.”


“Tadi sih niatnya mau tidur duluan, tapi susah juga ternyata. Biasa tidur di samping istri, dengerin curhatnya dulu baru deh bisa pules. Ini sendirian di kamar malah bengong.”


Kosa tertawa lebar. Seringkali dirinya mendengar jokes tentang hubungan suami istri semacam ini.


“Mikirin siapa Sa? Sudah punya pacar?” tanya Pak Hamid.


“Eh iya Mas, dari kemarin gak bisa dihubungi. Saya jadi khawatir,” ucap Kosa.


“Siapa? Pacar kamu?”


“Iya, Mas.”


“Santai aja. Seumuran kamu itu memang lagi kangen-kangennya Sa. Kalau bisa tiap hari dilihat, ditemplokin terus.”


Kosa tertawa mendengar kata ditemplokin dan sejujurnya memang demikian. Buatnya, sentuhan fisik dengan Vira seperti candu yang susah ia lepaskan dan kadang dirinya ingin melakukan lebih namun tidak bisa.


“Tapi ada triknya Sa, biar cewek itu ingat kita terus. Gak usah terlalu posesif. Jangan banyak nuntut apalagi kalau pacaran sama anak kuliahan. Pacar kamu anak mana?”


“Adik kelas Mas, sama-sama anak Politik,” jawab Kosa.


“Wiih apalagi cewek Politik Sa, anak FISIP itu, jangan macam-macam sama mereka. Mereka itu suka kebebasan, gak suka dikekang, dan selalu merasa benar. Mereka belajar gender, emansipasi, whatever itulah.”


“Koq Mas Hamid bisa tau gitu?”


“Istri saya anak FISIP juga, teman seangkatan malah,” ujar Pak Hamid lugu.


Kosa tertawa terbahak-bahak. Teringat olehnya kenangan-kenangan bersama Vira yang menunjukkan semua itu dan membuatnya tersenyum.


“Santai aja Sa, kamu kan baru pisah seminggu. Harus latihan sabar. Saya itu dulu waktu kuliah di Jepang, istri saya malah kuliah master di Inggris juga. Pisah dua tahun, ketemunya cuma pas liburan dan mahal ongkosnya,” kenang Pak Hamid mengingat masa lalunya.


“Pas kuliah doktor, pisah juga Mas?” tanya Kosa.


“Nah, itu Sa. Salut saya sama istri. Dia ngelepasin kerjaannya buat nemenin saya full selama kuliah di Jepang. Jadi Ibu rumah tangga, ngurusin saya dan anak-anak saya yang sekolah di sana tok. Padahal tadi dia kerja di Lembaga donor yang gajinya tiga kali lipat dari saya.”


“Waah, istrinya Mas Hamid luar biasa.”


“Hahaha, dulu itu waktu saya pacaran sama dia, lumayan gak tenang Sa, banyak yang suka soalnya. Cuma saya itu yakin dia yang akan jadi ibu dari anak-anak saya. Jadi gak pernah saya lepasin. Gak masalah dia dekat sama cowok siapa pun. Namanya juga mahasiswi, aktivis pula. Kalau saya posesif, dia bakalan ninggalin saya. Yang siap gantiin saya pasti banyak. Saya kasih kepercayaan yang luar biasa besar meski suka sakit hati lihat dia sama cowok lain. Tapi akhirnya dia jadi milik saya.”


Kosa tertegun mendengarnya. Ada pembelajaran baru untuknya mengenai relasi perempuan dan laki-laki. Rasa percaya, komitmen, dukungan, dan keyakinan.


“Kamu kan dibimbing sama Prof. Ibrahim. Rajin main ke rumahnya Sa, ketemu sama Ibu Ibrahim, ceritanya lebih seru lagi Sa. Itu Prof. Ibrahim sampai digebukin sama orang sekampung pas lagi pe-de-ka-te,” sahut Pak Hamid yang kemudian tertawa lepas sendirian.

__ADS_1


Kosa tersenyum. Deburan ombak malam hari menggulung kian besar dan terhempas membasahi ujung kedua kakinya. Dua lelaki beda generasi ini menatap lurus ke arah laut, membiarkan hembusan angin malam membelai rambut dan tengkuk mereka, menggantikan belaian dari perempuan yang mereka sayangi malam ini.


__ADS_2