
^Teman atau Musuh
Kuliah Politik di Asia Selatan kali ini bicara tentang peran kasta dalam politik di India. Vira dan teman sekelas menonton film dokumenter yang berjudul India Untouched yang mengisahkan bagaimana manusia terkotak-kotak dalam stratifikasi sosial yang rigid dalam masyarakat yang bernama kasta.
Dalam film itu digambarkan bagaimana orang hidup, sekolah, menikah dan bekerja apa sudah ditentukan oleh kastanya. Tidak bisa seorang dengan kasta rendah bisa naik level menjadi kasta atas meskipun sudah berusaha dengan kerja keras.
Mungkin bila dibandingkan dengan Indonesia, mungkin stratifikasi sosial yang kaku hanya sedikit dan lebih fleksibel. Misalnya saja orang kaya akan cenderung menikah sesama orang kaya, orang dengan etnis atau suku tertentu akan menikah dengan etnis dan suku yang sama. Tapi itu hanya kebanyakan, tidak harus. Banyak orang yang tadinya miskin bisa kaya raya karena kerja keras. Perpindahan stratifikasi sosial banyak terjadi dan tidak ada sanksi sosial yang diberikan masyarakat atas perubahan yang terjadi.
Tugas yang diberikan Mba Evi, dosennya itu sangat mudah. Hanya membuat resensi dengan tambahan bahan jurnal yang bahkan sudah diberikan. Tenggat waktu yang diberikan untuk menulis resensinya sekitar tiga hari dan melalui sistem e-learning. Jadi Vira tidak perlu tergesa-gesa mengerjakannya, tinggal buka laptop dan kirim melalui internet.
Setidaknya mengerjakan proposal untuk mata kuliah Seminar Pilihan Masalah dan mengerjakan tugas resensi bisa menghilangkan kesepiannya ditinggal Kosa penelitian.
Kamis ini Vira bisa datang ke Senayan agak siang sekitar jam setengah sembilan pagi. Tidak perlu mengejar kereta dengan berdesak-desakan dengan para pejuang rupiah di pagi hari. Pak Herman sejak senin lalu bersama Komisi 3 lainnya pergi studi banding ke Belanda dan Inggris terkait revisi KUHAP dan KUHP. Pak Faisal dan Bu Ruth, istri Pak Herman juga ikut serta.
“Bu Fatmah, itu mahasiswa yang dari IISIP yang magang juga sama Pak Herman koq gak kelihatan?” tanya Vira ketika didapatinya hanya berdua saja di kantor.
“Kemarin datang hari senin pagi Mba Elvira, sempat ketemu sama Pak Herman dan Pak Faisal sebelum terbang ke Belanda. Pesawatnya kan malam hari jadi paginya Bapak masuk dulu buat urus berkas keberangkatan,” jawab Bu Fatmah.
“Bu Fatmah gak ikutan?”
“Waah, saya ini staf administrasi Mba Elvira, kerjaannya surat menyurat. Bapak kalau dinas ke luar negeri selalu ngajak Pak Faisal sama Mba Putu, tapi karena Mba Putunya lagi cuti diganti sama Ibu Ruth.”
“Siapa namanya Bu, mahasiswa magang dari IISIP itu? Jadual magangnya gak bareng saya ya Bu?”
“Namanya Asep, Asep Sodikin. Datangnya sih kemarin itu senin selasa Mba Elvira. Gak pas sama jadualnya Mba Elvira ya?!”
“Sepi ya Bu di sini. Temen saya di Komisi 1 itu staf ahlinya itu sampai 4 orang loh Bu trus mahasiswa magangnya juga banyak!”
“Bapak gak terlalu suka ramai Mba Elvira sekarang sejak kena stroke. Makanya Bapak gak mau lagi jadi Ketua Komisi, gak mau terlalu ramai, dan makanannya dijaga sama Bu Ruth.”
“Bapak kena stroke kenapa Bu Fatmah?” tanya Vira penasaran.
“Mba Elvira jangan kasih tau siapa-siapa ya. Janji ya Mba! Saya gak enak mau ceritain kehidupan pribadinya Bapak.”
“Eeh jangan Bu Fatmah, gak usah diceritain aja. Saya jadi gak enak sudah tanya sama Bu Fatmah.”
“Gak apa-apa, sini saya ceritain. Tapi jangan diungkit-ungkit di depan Pak Faisal aja, nanti saya diomelin. Saya tau koq Mba Elvira bisa jaga rahasia.”
Vira terdiam duduk di mejanya, memperhatikan sepertinya Bu Fatmah begitu bersemangat ingin menceritakan ke Vira.
“Bapak itu tuh kena stroke gara-gara suaminya Mba Lydia, anak pertamanya yang bikin ulah Mba Elvira. Suaminya itu sudah ngebunuh orang Mba,” ucap Bu Fatmah bersemangat.
Vira terkejut bukan main. “Apa Bu? Ngebunuh orang? Ah yang benar?”
“Benar Mba Elvira. Bapak itu kan punya banyak perusahaan. Yang ngurus itu Mba Lydia sama suaminya. Ada masalah waktu pembebasan lahan warga buat proyek perusahaannya, eeh Ibu sih gak tau banyak ceritanya, tapi katanya sih suaminya Mba Lydia itu nyewa orang buat ngebunuh aktivis yang belain warga sana Mba Elvira.”
“Beneran Bu? Koq yah seram banget sih!”
“Gara-gara itu Bapak trus kena stroke ringan sampai cuti dua bulan.”
“Suaminya Mba Lydia bebas apa ditangkap Bu?” tanya Vira.
“Ditangkap Mba Elvira, tapi dipenjaranya cuma sebentar. Mba Lydia lalu minta cerai.”
__ADS_1
“Pak Hermannya gak kenapa-kenapa kan ya Bu? Maksudnya gak disangkutpautin sama kasusnya?” tanya Vira
“Ya enggak Mba Elvira. Tapi pernah ada LSM dari mana itu yang bilang kalau Bapak sebagai pemilik perusahaan harus bertanggung jawab, tapi ya cuma sebentar aja, gak rame.”
Vira terdiam. Termenung memikirkannya karena sekelebatan terbayang olehnya wajah Ganindra yang teduh dan Mba Lydia, perempuan cantik mandiri yang dikenalkannya saat di Plaza Festival jumat lalu.
“Mba Elvira janji ya jangan kasih tau siapa-siapa, saya gak mau kena omel Bapak.”
“Hahaha… siap Bu. Vira janji!”
Tidak banyak yang dikerjakan Vira di kantor hari ini. Daftar yang harus dikerjakan dari Pak Faisal juga tidak terlalu banyak. Dilihatnya Bu Fatmah sibuk mengecek surat-surat yang masuk dan memberikan label dengan warna berbeda di setiap suratnya.
Diperiksanya pesan chat di ponselnya. Tidak ada dari Kosa, tampaknya penelitian dengan Matsuoka Sensei ini membuat Kosa sangat sibuk. Dilihatnya ada beberapa pesan grup dan dari seseorang yang sengaja tidak dibuka untuk dibaca.
“Bu Fatmah nanti keluar makan jam berapa?” tanya Vira memecah kesunyiaan di ruang yang hanya ada dua orang ini. Tampak jam dinding analog sudah menunjukkan pukul sebelas lewat lima menit.
“Saya gak makan di Kantin Mba Elvira. Bu Retno, Staf adminnya Pak Ismail dari Komisi 7 ulang tahun, bawa nasi kuning banyak. Saya nanti ke sana. Tapi maaf Mba Elvira, saya gak ngajak ya soalnya terbatas.”
“Eh, gak apa-apa Bu Fatmah. Saya biasa makan sendirian koq Bu!” sahut Vira yang kemudian membiarkan dirinya tenggelam di depan komputer.
Tiba-tiba ada bunyi pintu diketuk dan kemudian tampak di hadapan Vira dan Bu Fatmah, sosok perempuan tinggi dan cantik yang barusan menjadi bahan obrolan mereka.
“Eeeh, ada Mba Lydia. Koq ke sini Mba? Bapak kan lagi dinas keluar sama Ibu dan Pak Faisal,” sapa Bu Fatmah yang terkejut melihat kehadiran sosok ini.
Lydia tersenyum. Dihampirinya Bu Fatmah dan kemudian dipeluknya perempuan itu dengan ciuman pipi kanan dan kiri.
“I miss you a lot Bu Fatmah [aku kangen kamu Bu Fatmah]!” ucap Lydia dengan nada sumringah.
“This is for you, blueberry cheesecake, your favourite. Not much, just one slice for your dessert after lunch [Ini bluberi cheesecake kesukaan ibu, gak banyak sih cuma sepotong buat penutup makan siang Ibu],” lanjutnya sembari memberikan paperbag berwarna putih glossy ukuran kecil.
“Ah, don’t mention it [gak usah dipikirin Bu]!”
“Mba Lydia mau ngambil barang Bapak yang ketinggalan? Bapak gak pesan apa-apa ke saya Mba!” ujar Bu Fatmah.
“I just wanna take her out for lunch, is it okay [Saya cuma mau ngajak dia, gak apa-apa ya]?” tanya Lydia sambil menunjuk ke arah Vira.
Perkataan Lydia nembuat Vira yang dari tadi hanya melihat menjadi kaget. Koq ya bisa begitu. Entah alasan apa yang membuat Lydia mengajaknya makan siang tanpa ada angin ataupun hujan.
“Boleh Mba Lydia. Silakan! Mba Elvira gak banyak kerjaannya juga koq! Iya kan Mb Elvira?” tanya Bu Fatmah kepada Vira yang sedari tadi bengong.
“Eh, iya Bu Fatmah. Saya bisa koq Mba Lydia,” jawab Vira yang tak kuasa menolak permintaan Lydia.
“I will wait until your work over [saya tunggu sampai kerja kamu selesai].”
“Gak apa-apa Mba, saya bisa pergi sekarang, ya kan Bu Fatmah?” tanya Vira yang dijawab dengan anggukan Bu Fatmah.
“Okay, let’s go then [Baiklah, ayo berangkat]!” ajak Lydia yang berdiri dengan membawa tas kecilnya berwarna hitam dengan corak kulit buaya.
Vira tak bertanya kemana Lydia akan membawanya makan siang. Dirinya hanya mengikuti saja. Lydia yang menyetir sendiri mobil sport mewahnya. Cara Lydia menyetir mobil membuat Vira kagum. Perempuan mandiri dan kuat, mengingatkan Vira pada Natha kakaknya. Dirinya melengos sendiri ketika mem⅕bandingkan dengan dirinya yang tidak punya nyali menyetir mobil dan bahkan membuat SIM sendiri.
Lydia mengajak Vira ke Plaza Senayan. Diajaknya Vira ke lantai empat, menuju restoran Jepang Korea yang menyajikan menu yakiniku, daging panggang. Tampaknya Lydia sudah reservasi tempat ini karena sekarang sudah masuk jam makan siang dimana nyaris semua restoran penuh, Lydia dengan mudahnya mendapatkan meja di ruang privat.
“Do you like barbecue? This place serves good wagyu. I also like their tofu and kimchi [Kamu suka barbekyu? Tempat ini menyediakan daging wagyu yang enak. Tahu dan kimchinya juga enak],” terang Lydia.
__ADS_1
Vira mengangguk. Tak masalah dirinya makan dimana. Dalam pikirannya hanya ada rasa penasaran mengapa Lydia mengajaknya makan siang. Lydia bertanya menu apa yang dipilihnya dan entah mengapa nafsu makannya menurun drastis ketika melihat daftar menu. Akhirnya Vira hanya memesan sup tahu dengan citarasa pedas ala Korea saja yang harganya sama dengan sekilo daging sapi di supermarket.
Vira tidak tahu apa yang dipesan oleh Lydia. Dilihatnya ada dua orang staf restoran menyajikan beberapa piring di hadapan mereka yang berisi potongan daging dengan semburat lemak yang menyebar dengan proporsi yang sama. Ada tiga piring yang berisi daging dengan potongan dan ketebalan yang berbeda. Tersedia juga piring berisi salad, kimchi dan sup tahu pedas yang dipesannya. Staf itu membantu menyalakan alat panggangan agar siap digunakan.
Lydia tersenyum padanya dan mempersilahkan Vira makan. Diambilnya sup tahu pedas dan rasanya cukup enak. Lydia mulai membolak-balikkan daging panggangannya dan kemudian memberikan potongan daging matang pertama kepada Vira. Ini membuat Vira kikuk. Dirinya hanya bisa tersenyum sebagai tanda ucapan terima kasih.
“I have no sister and maybe this is how it feels to have lil sister [gue gak punya adik perempuan dan mungkin begini rasanya punya adik perempuan],” ucap Lydia dengan senyuman tulus.
“Mba Lydia kenapa ajak saya makan siang? Mb Lydia butuh sesuatu untuk saya kerjakan?” akhirnya Vira memberanikan diri untuk bertanya.
Lydia tertawa renyah. “I just want to get to know you better [Cuma pengen tau kamu lebih banyak],” jawab Lydia santai.
Vira tak habis pikir dengan jawaban Lydia. Teringat pertemuan pertamanya di Plaza Festival, Lydia bersikap dengan pandangan yang aneh dan menyelidik. Sedangkan hari ini penuh keramahan dan katanya mau mengenal Vira lebih baik. Entah apa maksud dan tujuannya. Mana ada di dunia ini, ada orang yang tiba-tiba mengajak makan enak dan mahal cuma biar bisa kenal saja. Aneh.
“You must be thinking that I am weird or something like that [Kamu pasti mikirnya gue aneh],” seolah Lydia bisa membaca pikiran Vira.
Sungguh awalnya memang begitu kaku bicara dengan Lydia yang selalu menggunakan bahasa Inggris. Terkadang membutuhkan waktu panjang untuk menjawab karena kesulitan mengartikan kata-katanya. Tapi sepanjang acara makan, Lydia terus mengajak Vira bicara berbagai hal dan membuatnya merasa nyaman.
“Are you dating someone [apakah kamu sedang berkencan saat ini]?” tanya Lydia tiba-tiba.
Pertanyaan yang membuat Vira nyaris tersedak. Buru-buru diambilnya gelas yang berisi teh hijaunya yang hangat untuk diminum.
Lydia memandangnya seolah menunggu jawaban darinya.
Vira mengangguk. “Iya, saya sedang menjalin hubungan dengan seseorang.”
“Is he your classmate [sama teman sekelas]?”
“Sama senior di jurusan,” jawab Vira jujur.
“Maaf Mba Lydia, saya pikir pertanyaannya tidak perlu diteruskan jika menyangkut urusan pribadi saya. Saya merasa tidak nyaman membicarakan hal itu,” ujar Vira berterus terang.
Tak disangka Vira justru ucapannya membuat Lydia tertawa. “I am sorry Vira, so sorry to make you feel uncomfortable [Maaf Vira membuat kamu tidak nyaman].”
Lydia sepertinya dengan mudah membuat suasana cair kembali. Dilihatnya sesekali Lydia mengecek ponselnya seperti ada yang ditunggu.
“Mba Lydia lagi sibuk ya?” tanya Vira.
“No…no… actually I asked Gani to come here. He had a meeting at morning near here. Is it okay for you? [oh gak koq, sebenarnya tadi gue ajak Gani ke sini soalnya dia sejak pagi ada pertemuan di sekitar sini, gak apa-apa kan?]”
“Gak apa-apa koq Mba,” jawab Vira yang sampai sekarang masih tidak mengerti mengapa dirinya harus berurusan dengan kedua anak Pak Herman Sasongko ini.
Tak lama kemudian pintu ruang makan privat dibuka dan tampak Gani dengan setelan kemeja dan jas hitam masuk ke dalam ruangan. Tampak rapi.
Awalnya Gani tersenyum kepada Lydia namun agak sedikit terkejut ketika memandang Vira.
“Ada Vira di sini?” tanya Gani retoris yang tidak perlu dijawab.
“I feel sorry for her to stay at Dad’s office alone [kasihan Vira sendirian di kantor].”
“Gak sendirian koq Gan, sama Bu Fatmah.”
Lydia tertawa mendengar bantahan Vira. “You know what Vira? I like you. We can be good friend [Kamu tau Vira, gue suka elu dan mungkin kita bisa jadi teman baik].”
__ADS_1
Lydia lalu menatap Gani dan Vira bergantian. “I am sorry to leave you both because I have a meeting this afternoon. Is it okay? [Maafin gue harus pergi ya karena ada rapat, gak apa-apa kan?]”
Baik Vira dan Gani sama-sama terkejut mendengarnya dan hanya bisa melihat Lydia melangkah keluar dari ruang makan privat dengan tas kulit buayanya. Mereka saling memandang dengan kikuk dengan situasi yang baru saja terjadi.