
Hari pertama turun gunung adalah menuju Bamboo. Jalurnya agak sedikit berbeda, Tapi mereka akan menuju Deurali dulu untuk makan siang. Deurali, tempat menginap dua hari lalu karena terhadang hujan es. Karena turun, perjalanan akan memangkas setengah waktu perjalanan.
Sandeep mengatakan meski cepat karena turun gunung, ritme harus dijaga. Tidak boleh terlalu cepat karena bisa membahayakan lutut dan jari-jari kaki.
“Mas Une, kayaknya kelamaan deh kalau jalan jam sepuluh,” ujar Vira gak sabar.
“Gue mau liat-liat dulu Vir. Itu pendaki Korea lagi siap-siap daki puncak Annapurna. Keren itu, gak boleh dilewatin,” sahut Mas Une.
“Dody sama Obi juga pengen liat Vir,” sambungnya seraya menunjuk ke arah Mas Dody dan Bobby yang berada di luar bersama beberapa pendaki yang berkumpul. Mereka berdiri mengelilingi pendaki asal Korea yang tiba kemarin siang naik helikopter. Mereka bermaksud mendaki puncak Annapurna dan sedang berlatih aklimatisasi.
“Lagian ngapain juga buru-buru. Kan, sudah sampai tujuan.”
“Vira udah puas liat-liat Annapurna mas, pengen balik lagi ke Macchapuccre. Kemarin tuh di sana cuma sebentar banget, gak sempet foto-foto.”
“Berangkat sekarang atau jam sepuluh, kan sama-sama lewat sana juga.”
Vira merengut dan terdiam. Tak mungkin baginya membantah Mas Une.
Mas Cokro menatapnya lalu berdiri menghampiri Mas Une.
“Ne, biar Vira jalan sama gue. Lu di sini aja sama Dody dan Obi.”
“Kemarin gue juga belum liat detailnya Macchapuccre. Biar sekalian sama Vira. Gue jagain dia biar gak kesasar lagi.”
Vira terkejut mendengar ucapan Mas Cokro.
“Jangan Mas, gak usah. Vira gak jadi koq. Nanti aja barengan sama semuanya,” tolak Vira halus. Dirinya merasa tidak enak sekaligus takut.
“Gak apa-apa, santai aja. Ranselnya udah siap koq, tinggal dibawa Satya,” sahut Mas Cokro.
“Tumben.”
“Maksudnya?” tanya Mas Cokro yang menatapnya dengan wajah bingung.
“Tumben, Mas Cokro ngobrol sama Vira,” jawabnya pelan.
_______________
Mas Une akhirnya mengizinkan Mas Cokro dan Vira untuk turun ke Macchapuccre duluan. Bahkan Mas Cokro mengatakan bertemunya makan siang saja di Deurali. Tempat yang sama dua hari yang lalu saat mereka terpaksa menginap karena hujan es yang tak kunjung berhenti.
Vira tertegun mendengarnya. Pikirannya melayang kembali. Tempat itu adalah tempat dirinya merasakan ciuman pertamanya. Dari orang yang sama sekali tidak dekat dengannya. Dan sekarang, Vira bersama orang itu menuju ke sana. Berdua.
Sekali lagi Vira diam. Tidak ada penolakan.
Perjalanan turun memang lebih mudah. Tidak terlalu melelahkan karena secara otomatis kaki selalu mengajak untuk jalan bahkan setengah berlari.
Mas Cokro tidak banyak bicara dan mengimbangi langkah kaki Vira. Tak disangkanya, Vira cukup cepat dalam perjalanan turun gunung ini.
“Vir, tunggu,” ucap Mas Cokro yang menghentikan langkah kaki Vira yang tergesa.
“Iya, Mas. Kenapa?” tanya Vira.
__ADS_1
“Itu ada burung, bagus,” tunjuk Mas Cokro ke arah rerumputan dekat sungai kecil yang mengalir.
“Oh, ya ampun. Lucu banget burungnya. Koq bisa sih Mas ngeliat burung sekecil ini.”
Diambilnya kamera dan Vira mulai memotret burung dengan warna biru di bagian dada dengan beberapa kali shoot.
“Ada mitos tentang burung itu Vir. Elu cuma bisa liat di jalur menuju Annapurna Base Camp aja.”
“Masa sih Mas? Mitos apaan?” tanya Vira
“Katanya burung itu jelmaan dari Dewi yang akan menuntun pendaki untuk menemukan jalurnya dan memberikan keberuntungan,” terang Mas Cokro.
“Mas Cokro bisa aja. Ini kan memang jalurnya.”
“Kemarin Sandeep cerita, soalnya gue sama Une juga nemuin burung ini. Warnanya hitam campur merah marun.”
“Pas kabut turun kemarin?” tanya Vira lagi.
“Iya, makanya kemarin sampainya juga cepat di lodge.”
“Vira gak nemu burungnya Mas kemarin. Gak keliatan, kabut semua. Vira pikir bakal tersesat lagi. Mau pingsan rasanya.”
“Tapi sekarang kan ketemu,” ucap Mas Cokro.
“Waaah, bakalan beruntung dong kita berdua Mas?” sahut Vira girang.
Mas Cokro tersenyum dan tidak menjawab.
Macchapuccre atau disebut juga dengan fish tail [ekor ikan] berdiri begitu megah di hadapan Mas Cokro dan Vira. Membentang sampai ke Deurali.
Begitu menyesalnya Vira tidak menyadarinya kemarin lalu karena suasana hatinya yang buruk. Justru saat kembali ke sini, Vira malah bersama orang yang kemarin dihindarinya.
Vira menikmati minuman hangat bersama Mas Cokro di meja-meja yang tersusun di depan restoran. Meja-meja yang dulu dipenuhi pendaki asing saat pertama kali ke sini. Menyesap lemon madu jahe perlahan sambil memandang tebing-tebing yang tersusun mencapai puncak. Terlihat gagah perkasa.
Awalnya bersama Mas Cokro memang terasa canggung. Ingatannya selalu melayang pada ciuman hangat rasa tembakau yang diusapkan bibir Mas Cokro. Vira mencoba melupakannya meski sulit. Ini yang pertama baginya.
Tapi Vira tidak ingin membawa perasaannya lebih jauh. Marah kepada Mas Cokro adalah hal yang ingin dihindarinya. Mendendam pun bukan dirinya. Hanya akan menimbun tumpukan rasa bersalah saja. Terutama kepada Kosa.
“Masih mau di sini apa jalan ke Deurali?” tanya Mas Cokro memecah kesunyian
“Mas Cokro mau duluan?”
“Gak lah. Kan janji sama Une jagain Vira. Kalau udah puas di sini, baru kita ke sana. Take it easy [santai saja].”
Dilihatnya kembali wajah Mas Cokro yang sudah dipenuhi bulu-bulu hitam dan jambang yang sudah memanjang. Kepulan asap keluar dari hidungnya. Wajah yang matang, sangat dewasa. Mengingatkan Vira pada aktor Indonesia yang pernah berperan sebagai bapak bangsa.
“Kenapa ngeliatin terus dari tadi? Ada yang aneh?” tanya Mas Cokro.
“Eh, eeh, enggak koq Mas.” Vira gelagapan. Malu ternyata Mas Cokro menyadari perhatiannya.
__ADS_1
Mas Cokro tertawa lalu kembali menghisap rokoknya dalam-dalam.
Perjalanan ke Deurali untuk makan siang seperti mengulang perjalanan dua hari lalu karena memang rutenya sama. Mereka jalan berdua. Beriringan. Tidak saling mendahului. Tidak saling memperlambat.
Sebenarnya ada dua arah saling bersisian yang dipisahkan oleh sungai besar menuju Deurali. Sisi Annapurna dan sisi Macchapuccre. Kedua jalur dibuka.
Namun sisi Macchapuccre harus turun naik bukit, Ini berbeda dengan sisi Annapurna yang lebih landai. Karenanya, Vira memilih jalur yang sama, di sisi Annapurna yang bikin kaki tidak terlalu pegal.
“Mumpung di sini, harusnya kita coba sisi yang lain Vir,” ajak Mas Cokro saat di persimpangan jalan.
“Kayaknya para pendaki lain juga mengambil jalur itu,” lanjutnya.
“Ih Mas. Kalau bisa yang gampang kenapa juga mesti repot ngambil jalan yang susah sih?” tolaknya.
Mas Cokro tidak membantah. Membiarkan Vira yang mengambil keputusan.
Perjalanan dengan Mas Cokro memang relatif sepi. Berbeda dengan Bobby yang selalu bisa membuat dirinya semangat. Bisa membuatnya saling menanggapi setiap obrolan yang dilontarkan. Situasi ini membuat Vira merasa gatal mulut ingin memulai pembicaraan.
“Mas, kenapa mesti ada dua jalur sih menuju Deurali?” tanya Vira.
“Biasanya saat musim semi, salju di puncak Himalaya mencair dan suka terjadi avalanche [longsor salju],” jawab Mas Cokro.
“Masa sih? Koq bisa? Bukannya salju abadi?”
“Ya bisa lah. Cuma sedikit, gak semuanya.”
“Kapan Mas? Eeh bukannya sekarang masih masuk musim semi?” Vira tiba-tiba merasa takut.
Mas Cokro tersenyum. “Biasanya paling sering bulan Maret dan April.”
Langkah Vira terhenti sejenak. Ada perasaan takut yang datang menghantui. Bagaimana jika dirinya dan Mas Cokro lewat dan terjadi longsor salju? Bagaimana jika mereka berdua terperangkap dalam timbunan salju? Vira sama sekali tidak bisa membayangkan kelanjutannya.
“Koq berhenti?”
“Mas, balik aja yuk, lewat jalur sisi Macchapuccre aja,” ajak Vira tiba-tiba.
“Kenapa?”
“Takut Mas, takut kena longsor.”
“Santai, ini udah setengah jalan. Sebentar lagi sampai Deurali.”
Mas Cokro kemudian berjalan meninggalkan Vira yang masih berhenti. Tidak mungkin dirinya meninggalkan Mas Cokro untuk kembali ke persimpangan jalur yang sudah dilaluinya sejak satu jam lalu.
“Mas…. Mas Cokro, tungguin Vira Mas!”
Sekitar setengah jam mereka berjalan tetiba langkah keduanya kembali terhenti. Tampak jalan di depan mereka tertutup oleh timbunan salju bercampur bebatuan. Timbunannya cukup tebal. Tidak ada celah yang bisa dilalui. Sepertinya longsor salju sudah dari beberapa jam yang lalu.
Vira dan Mas Cokro saling berpandangan dan tertawa seperti mendapatkan kabar gembira.
__ADS_1
Vira lega. Padahal Vira membayangkan kemungkinan buruk yang paling ditakutinya jika terjebak longsor berdua dengan Mas Cokro. Terperangkap hanya berdua dan Mas Cokro memeluknya hangat. Atau bahkan Mas Cokro bisa saja menciumnya sekali lagi.