
^Mengambil resiko yang sudah diperhitungkan
Vira memahami situasi yang akan dihadapi ketika mengatakan semuanya kepada Kosa. Tidak lah mungkin ketika ada badai yang menghantam namun berharap semuanya akan baik-baik saja, kembali seperti semula.
Mereka duduk berdua di kursi bambu, berdampingan. Menatap langit sore yang teduh. Membiarkan sinar matahari dari arah barat menyeruak di antara rimbunnya pohon rambutan dan menerima sinarnya di wajah mereka
“Semester ini jadual Abang padat Vir!” ucap Kosa membuka percakapan.
“Abang dikasih kerjaan sama Prof. Ibrahim di Pusat Kajian Jepang. Matsuoka Sensei butuh asisten untuk penelitiannya di sini. Kontraknya empat bulan,” lanjut Kosa.
“Mungkin nanti gak bisa sering-sering ketemu!”
Vira mengangguk pelan. Namun demikian, entah mengapa pemberitahuan Kosa ini seperti sebuah isyarat bahwa Kosa akan menjaga jarak dari Vira.
“Iya, Vira mengerti. Semester ini Vira juga sibuk. Ada seminar pilihan masalah dan magang. Mungkin Vira gak sering ke kampus juga Bang!”
“Sudah dibagi tempat magangnya sama Prodi?”
“Belum.”
“Vira mintanya di mana? Ada kenalan?” tanya Kosa
“Masih bingung. Kemarin pas pengajuan lewat e-mail, Vira mintanya di Komisi 1 atau Komisi 3 DPR. Tapi gak tau juga nanti dapatnya dimana,” jawab Vira.
“Seminar nanti mau ngebahas apa? Disesuaikan saja komisinya dengan paper Vira biar perspektifnya jadi luas!” saran Kosa.
“Mau membahas relasi sipil militer tapi mau dikaitkan juga sama pelanggaran hak asasi," ucap Vira.
“Oh, ya benar itu Vir. Cocok di Komisi 1 atau Komisi 3.”
Vira tersenyum. Lalu kemudian mereka terdiam lagi. Entah apa yang dipikirkan. Mencari bahan obrolan yang bisa melenturkan suasana yang kaku. Mencoba menghangatkan kedua hati dari rasa sesak yang tersisa.
“Nanti pulang ke Bekasi?” tanya Kosa yang dijawab dengan anggukan Vira.
“Mau Abang antar?” tanya Kosa lagi.
“Pulang sama Natha pakai mobil Papa,” jawab Vira pendek.
“Jam berapa?”
“Abang mau Vira pulang sekarang?” Vira balik bertanya.
“Abang gak ngomong begitu.”
__ADS_1
“Tapi Abang nanyanya soal pulang terus! Sepertinya pikiran Abang itu gak ingin Vira di sini.”
“Bukan, bukan itu yang ada di pikiran Abang sekarang.”
“Jadi apa?” tanya Vira bingung.
“Abang cuma ingin bawa Vira ke kamar dan menghapus semua jejak lelaki itu,” ucap Kosa pelan dan memandang Vira dengan tatapan tajam.
“Abang,” ucap Vira lirih dan rasa bersalahnya muncul kembali. Matanya kembali pedih dan berkaca-kaca mendengarnya.
Raut wajah Kosa berubah melunak lalu memeluk Vira. Mendekapkan kepala Vira ke dadanya.
“Jangan menangis! Abang gak akan melakukan itu. Abang salah. Abang seharusnya gak ngomong ini ke Vira. Maafin Abang ya!” ucap Kosa lalu mengelus lembut kepala Vira.
Kosa tidak mengantar Vira ke rumah kos Natha dengan Vespanya. Sengaja berjalan kaki lagi menyusuri jalan yang sama dengan tadi saat menuju rumah kos-nya meski jauh. Jalan yang temaram tanpa lampu penerang. Hanya mengandalkan lampu kecil teras dari rumah-rumah kos di sepanjang mereka melangkah. Namun, ada rembulan yang berbaik hati mengikuti jejak Vira dan Kosa.
Vira mendapati mobil SUV hitam metalik milik Papa terparkir di depan rumah kos bercat putih ini. Tampaknya Natha sudah kembali dari rumah singgah. Ini berarti Vira akan pulang ke Bekasi.
“Abang pulang dulu ya Vir! Jangan tidur terlalu malam. Istirahat yang cukup,” pesan Kosa. Tangan Kosa menyentuh samping kiri kepala Vira yang terbalut jilbab berwarna violet.
Vira tersenyum dan mengangguk. Ditatapnya Kosa yang mulai berjalan menjauh darinya. Sampai sosok itu tak terkejar oleh matanya, Vira masuk ke dalam menuju kamar kos Natha.
“Gila lu ya Vir, sampe pegel gue hubungin elu, gak diangkat-angkat,” sembur Natha ketika Vira membuka pintu kamar kos kakaknya ini.
“Gue telpon, Mama juga telpon, ya diangkat Vir, jangan dibiarin aja. Kebiasaan lu itu jelek banget tau gak sih!”
“Maaf Nath, gue tadi ngobrol sama Kosa, gak kepikiran sama ponsel. Maaf,” ucap Vira dengan nada menyesal.
“Selingkuhan lu yang namanya Cokro itu sekarang ada di rumah. Nungguin elu Vir dari sore!”
“Whaaaaaat?” Vira bukan main terkejut mendengar ucapan Natha.
“Lu gak ngeliat pesan chat-nya apa? Mama berulang kali hubungi gue supaya ngasih tau ke elu. Kasihan orangnya udah nunggu kelamaan,” ucap Natha dengan nada kesal.
Sekonyong tubuh Vira lunglai tak bertenaga mendengar itu. Ada beban berat yang seolah menghimpit tubuhnya. Membuat sesak dadanya. Keringat dingin mulai keluar dari kulit sawo matangnya.
“Nath, tolongin gue ya Nath. Gue gak mau pulang. Bilang aja gue nginep di rumah temen. Please!”
“Jangan suruh gue bohong Vir. Elu selesaikan masalah yang elu mulai, jangan menghindar.”
“Lagian Kak Vira pakai selingkuh segala sih! Kak Kosa secakep itu masih kurang apa lagi coba?” tiba-tiba Mirna ikut menyela pembicaraan.
__ADS_1
“Please deh Mir. Gue gak selingkuh, gak pernah ada niat untuk itu. Dan semua terjadi begitu saja. Gue juga gak tau kenapa bisa. Nath, tolongin gue, please!” pinta Vira dengan wajah kalut.
“Oke…oke. Gini aja. Elu kirim pesan ke Cokro dan bilang elu gak pulang ke Bekasi. Elu harus ngomong ke dia Vir biar gak nungguin elu. Soal nanti kita pikirin besok aja!” saran Natha.
Vira langsung membuka ponselnya. Tak disadarinya sejak siang ternyata ada banyak pesan chat yang masuk dan juga panggilan telpon. Vira langsung membuka pesan chat dari Mas Cokro.
[Vira, Mas ke Jakarta siang ini. 12:03]
[Bisa ketemu? 12:03]
[Mas ada di rumah Vira. 17:15]
[Vira ada dimana 17:16]
[Mas tunggu. 17:16]
Vira segera membalas pesan Mas Cokro
[Mas, Vira minta maaf. Vira lagi di Depok dan belum bisa pulang ke Bekasi karena ada banyak yang harus dikerjakan. 19:08]
Pesan Vira langsung centang dua berwarna biru, tanda Mas Cokro sudah membacanya. Namun sepertinya Mas Cokro tidak membalas pesan chat dari Vira.
Tjokro Adjie Pambudi
Sekembalinya dari Jakarta, Cokro dihadapkan dengan kesibukan luar biasa dari bisnisnya. Nyaris sebulan lamanya ia meninggalkan pekerjaannya untuk pendakian Annapurna. Meskipun teman-temannya bisa mengurusnya namun perlu pemikiran langsung dari Cokro terutama bisnis start-up yang dirintisnya sejak setahun lalu.
Sejak ciumannya di parkir basement, Cokro menyadari perasaannya menjadi begitu kuat dengan Vira. Namun dirinya sadar bahwa Vira pasti membutuhkan waktu untuk menerima perasaannya. Ia membiarkan Vira untuk memikirkannya selagi ia mengurus bisnisnya di Surabaya.
Sampai Ibu menyuruhnya kembali ke Jakarta. Ibu ingin melanjutkan pertemuan lagi dengan keluarga Sasongko. Kali ini Ibu yang mengundang mereka untuk makan siang di rumah Kelapa Gading. Cokro tidak bisa menolak. Cokro meyakini bahwa hubungannya dengan Lydia nanti akan berakhir pada pertemanan biasa saja.
Cokro berangkat sehari sebelumnya. Setelah rapat dengan klien, dirinya langsung menuju Bandara. Mengabarkan kepada Vira bahwa ia akan ke Jakarta dan ingin bertemu. Hanya saja, sampai dengan kedatangannya di Bandara Soetta, tidak ada jawaban dari Vira. Pesannya meskipun centang dua tapi belum dibaca sama sekali oleh Vira.
Cokro memutuskan untuk mengunjungi rumah Vira di Bekasi. Menembus kemacetan luar biasa hanya untuk bertemu Vira. Berharap kedatangannya akan mempertegas maksudnya dan Vira mengetahui hal itu. Berharap ada cara yang bisa mereka lakukan untuk mempersatukan hati ini. Jantungnya berdetak lebih cepat menyadari bahwa ia akan bertemu dengan perempuannya ini.
Tapi ternyata Vira tidak di rumah. Mama mengatakan bahwa Vira pergi ke Depok sejak pagi bersama saudaranya. Mungkin akan balik pada sore atau malam hari. Cokro mencoba menghubungi Vira namun sama sekali tidak diangkat. Pesannya bahkan masih belum juga dibaca Vira. Tapi Cokro tetap setia menunggu. Meyakini bahwa wajah yang harus dilihatnya saat kembali ke Jakarta adalah wajah Vira.
Sampai akhirnya Vira membalas pesannya yang mengatakan bahwa tidak akan pulang ke Bekasi malam ini, membuatnya kecewa. Ada rasa sedih menggelayut di hati. Membiarkan dinginnya malam menemaninya sendiri. Cokro pamit pulang kepada Mama Vira.
“Pulang sekarang Den?” tanya Pak Manto yang sedari tadi menunggu di luar rumah Vira.
“Iya Pak, kita pulang sekarang.”
__ADS_1
“Ibu tadi tanya kenapa belum sampai di rumah. Saya bilang Aden ke rumah teman di Bekasi.”
Cokro tersenyum dan mengangguk pelan.