
Semua tim semangat bangun pagi. Jam enam semua sudah berkumpul di restoran untuk sarapan dan memulai perjalanan pukul tujuh pagi.
Jalanan sepanjang perjalanan turun tidak terlalu curam namun ada beberapa titik yang melewati tepian jurang yang hanya dibatasi oleh pagar kayu seadanya.
Rumah-rumah penduduk juga sudah banyak di jalur ini. Bahkan Vira sempat memotret aktivitas penduduk di pagi hari. Para perempuan yang mulai menggelar terpal dan menjemur barley dan gabah beras basmati. Beberapa anak muda yang ditemui juga sedang mengembalakan kambing-kambing yang berwarna putih susu.
Meskipun sibuk memotret, namun langkah kaki Vira cukup cepat menyeimbangkan langkah mas-mas pendaki. Tidak tertinggal jauh di belakang seperti ketika mereka mendaki. Bahkan Sandeep memujinya.
“This is the way you should be [harusnya dari kemarin cepatnya kayak gini], ujar Sandeep.
Vira tertawa nyengir. Perjalanan jalur terakhir pendakian ini membuatnya semangat. Ada tujuan yang ingin segera dicapai dan ada di pelupuk mata. Pulang. Berada di tempat orang-orang yang disayangi.
Bukan hanya Vira, tetapi juga dengan mas-mas pendaki. Senyum sumringah menghiasi wajah mereka.
Ternyata, perjalanan sampai di pos Siwai kurang dari tiga jam. Sebelum jam 10 pagi mereka sudah sampai padahal mereka dua kali mampir di warung penduduk lokal untuk membeli minum dan kue-kue lokal dengan citarasa manis.
Ada juga yang menjual beberapa souvenir, hanya saja Vira tidak terlalu tertarik karena sepertinya harga di Thamel lebih masuk akal.
Di pos Siwai, jeep yang mereka sewa belum datang. Ternyata Sandeep meminta jeep datang jam sebelas siang karena awalnya tidak menyangka akan secepat ini akan tiba.
Sembari menunggu, mereka bertemu dengan beberapa pendaki asing yang justru baru memulai jalur pendakian menuju ke Annapurna. Para pendaki asing itu menggunakan rute terbalik dari yang digunakan Vira dan mas-mas pendaki. rute naik ke Annapurna lebih cepat namun rute turun lebih lama dan panjang.
Sandeep memberikan pilihan apakah mereka tetap menunggu jeep datang atau berjalan sebentar menuju restoran yang dikelola warga lokal yang letaknya satu kilometer. Ternyata mas-mas pendaki sepemikiran dengan Vira, berjalan menuju restoran dan akan makan siang lebih cepat di sana.
Citarasa masakan warga lokal di restoran yang mereka pilih ternyata mirip dengan citarasa yang mereka kenal. Ada bumbu lada hitam, yakiniku, dan teriyaki yang kemudian langsung dipilih oleh mereka semua.
“Ya ampun koq bisa sih ada ayam lada hitam di sini? Bosen banget dari kemarin makan Dal Bhat mulu. Semua pake bumbu kari,” ujar Bobby kaget ketika membaca menunya.
“Ntar pasti sampe Indonesia elu bakal kangen sama itu Dal Bhat. Yakin gue!” sahut Mas Une.
“Di sini gak ada daging sapi ya Mas Une?” tanya Vira sambil membolak-balikan menu.
“Hahaha….sabar Vir, di sini daging sapi masih dilarang. Ntar di Pokhara elu bisa cari restoran muslim. Ada beef steak pake saus jamur yang enak banget di sana.”
“Koq tau sih Mas? Emang pernah ke sana?” tanya Vira lagi.
“Elu kalah cepat nanyanya. Dari kemarin si Dody juga ribut pengen makan daging sapi. Udah nanya kita ke Sandeep,” sahut Mas Une.
Tepat selesai makan siang yang terlalu cepat ini, dua buah mobil jeep datang menghampiri. Sarkar dan Satya yang sudah selesai makan dari tadi langsung meletakkan ransel-ransel ke kotak kerangka besi yang terletak di atas mobil dan mengikatnya dengan tali.
Perjalanan menuju hotel di Pokhara tempat mereka menginap dulu sangat cepat, jam lima sore sudah sampai tanpa hambatan. Mas Une langsung menyelesaikan pembayaran tip untuk porter sebesar 250 dollar per orang.
Masing-masing pendaki dibebankan 100 dollar untuk tambahan uang lelah Sarkar dan Satya di luar upah yang mereka dapatkan dari biro travel pendakian yang mereka pakai di Thamel.
Sarkar dan Satya yang rumahnya di Pokhara langsung meminta izin pulang bersama jeep yang mereka tumpangi. Sandeep tetap bersama karena akan ikut mengantarkan mereka kembali pulang ke hotel di Kathmandu.
“I have client to Everest Base Camp next week. They are from Norway [Saya mendapat klien ke Everest Base Camp. Mereka dari Norwegia],” kata Sandeep.
__ADS_1
“Can you speak their language [Emang bisa bahasanya]?” tanya Vira keheranan karena sepengetahuannya Norwegia memiliki bahasa sendiri.
“They can speak French [mereka bisa bahasa Prancis],” jawab Sandeep.
“And you know Vira, they are five and all women, with long legs and fast [dan tau gak Vira, mereka berlima perempuan semua, dengan kaki panjang dan jalannya cepat],” lanjut Sandeep dengan nada menggoda dan mengerling ke arahnya.
“Oh Sandeep, shut up. But I know you like me a lot, don’t you [Oh Sandeep diem deh, tapi gue tau koq kalo elu suka gue, iya kan]?” ujar Vira tertawa renyah yang membuat Sandeep juga meresponnya dengan tawa.
Setelah beberes dan mandi. Vira dan mas-mas pendaki pergi ke laundry yang terletak tidak jauh dari hotel. Ada mesin-mesin laundry mandiri yang bisa menyelesaikan cucian langsung kering kurang dari dari satu jam.
Satu kilo pakaian kotor dihitung dua ratus rupee. Rata-rata berat pakaian kotor mereka sekitar enam kilo karena pakaian kotor cenderung basah karena terdapat sisa-sisa keringat selama pendakian. Mereka juga membeli deterjen bubuk dan pengharum pakaian yang dijual terpisah.
“Sendiri-sendiri ya! Gue gak mau dicampur sama si Obi. Apalagi ****** ********, bau banget bekas masturbasi,” sahut Mas Une dengan penuh canda.
“Yeee, masturbasinya barengan juga, pake acara nuduh gue sih Mas,” balas Bobby.
“Bau ****** ***** orang yang udah kawin beda ama yang masih perjaka kayak gue. Yang perjaka lebih harum,” sambung Bobby.
“Gila semuanya,” ucap Vira sambil geleng-geleng kepala.
Kelakuan mas-mas pendaki semakin lama semakin akrab di hadapan Vira.
Awalnya Vira kaget karena tidak pernah punya pengalaman sosialisasi dengan laki-laki karena kakak adiknya perempuan semua. Teman lelakinya yang dekat pun hanya Nugie yang kemudian menjauh karena penolakannya kepada Vira. Bersama Kosa pun tidak pernah seakrab dan nyeleneh seperti ini.
“Jadi bagaimana? Kalian mau ikut makan beef steak atau mau makan sendiri-sendiri?” tanya Mas Une setelah urusan cucian kering.
“Gue sama Vira makan beef steak, gak tau kalo yang lain!” jawab Mas Dody.
“Gue sama Mas Coky mau chinese food aja. Ya kan Mas?” tanya Bobby ke Mas Cokro yang disambut dengan anggukan kepalanya.
“Gue kangen sama babi nih. Sorry ya Vir, gue ikut sama Obi. Kalian berdua aja yang makan beef steak. Besok kita masih seharian di Pokhara, besok aja deh beef steak-nya,” ucap Mas Une.
Sandeep mengantarkan Mas Une, Mas Cokro, dan Bobby ke restoran Chinese food yang terletak ke arah barat dari danau Phewa. Setelah itu mengantarkan Mas Dody dan Vira ke restoran dengan papan nama bertuliskan huruf Arab dan logo halal. Sandeep sendiri menolak untuk diajak makan bersama dan memilih jalan-jalan seorang diri.
Perempuan berwajah India dengan baju tunik dan berkerudung datang membawakan beef steak with mushroom sauce yang sudah dipesannya.
Ternyata porsi ukurannya sangat besar. Daging panggang dengan sedikit lemak yang diguyur dengan saus jamur kental berwarna coklat dengan beberapa iris jamur kancing. Sayuran pelengkapnya pun banyak dan potongan kentang panggang dengan rasa butter yang pekat juga melimpah. Benar-benar porsi yang tepat untuk merayakan turun gunung ala Vira.
“Mantaaab ini Vir,” ujar Mas Dody ketika melihat makanan yang dihidangkan.
“Waah, rugi mereka gak ikut kita ya Mas,” sahut Vira.
“Si Cokro sama Obi kayaknya emang gak makan daging merah deh Vir. Kalo si Une baru karnivor sejati.”
__ADS_1
“Masa sih Mas?”
“Yang gue tau sih begitu.”
Mereka makan dengan lahap, tanpa banyak bicara. Menikmati setiap potongan daging sapi panggang yang lama tidak disentuhnya. Seperti bertahun-tahun lamanya.
“Besok Vira makan siang di sini lagi Mas, Kalo Mas Dody mau gabung sama yang lain gak apa-apa, Vira bisa sendiri koq!”
“Besok siang kita makan di Museum Gunung Vir. Une udah kasih jadual jalan-jalan ke mana aja. Mungkin baliknya sore. Makan malem aja ke sini lagi. Si Une juga mau kayaknya.”
Mas Cokro dan Bobby begitu semangat ketika berkunjung ke kuil Buddha besar di Pokhara. World Peace Pagoda yang merupakan sumbangan para biksu Jepang dari organisasi Japanese Nipponzan Myohoji. Ada beberapa tulisan dengan kanji yang tersemat di sana.
“Ntar elu bakalan sering liat yang kayak gini kan Bi?” tanya Mas Une ketika melihat Bobby yang begitu bersemangat membaca huruf kanji.
“Hahaha, amin Mas, amin,” jawab Bobby.
Vira kaget dan langsung memunculkan perasaan ingin taunya.
“Lu mo kuliah di Jepang Bi?” tanya Vira.
“Belum, ntar oktober gue ke sana buat belajar bahasa. Trus setahun jadi research student dulu baru deh masuk. Agak lama prosesnya,” terang Bobby santai.
“Buset, kirain baru lulus. Udah pengen kuliah lagi?”
“Emang gue baru lulus, Sidangnya bulan Mei kemaren dan udah perbaikan.”
“Iiih Obi pinter banget,” puji Vira sambil tepuk tangan.
“Cium dong Vir, ucap Bobby sambil meletakkan jari telunjuk di pipinyya.
“Ish, kelakuan bejat emang lu Bi,” ujar Vira lalu meninggalkan Bobby yang tertawa renyah.
Dari Pagoda, dengan menggunakan mobil minivan yang disewa dari hotel beserta supirnya, mereka menuju Museum Gunung. Tarif masuknya membuat kaget. Untuk penduduk lokal hanya dikenakan tarif 50 rupee saja atau setara setengah dolar tapi untuk orang asing tarifnya 500 rupee atau setara lima dolar.
Luas keseluruhan area museum ini sangat luas. Museumnya sendiri terdiri dari dua lantai luas dan berisi informasi gunung-gunung tertinggi di dunia. Betapa bangganya Mas Une ketika mendapati Puncak Jayawijaya aatau Carstensz ada dalam daftar gunung.
“Keren nih, gue udah ke sini tiga kali. Ntar yang keempat sama elu ya Vir!” ucap Mas Une ke Vira yang disambut dengan senyuman hangat.
Vira begitu tertarik dengan data-data etnografis etnis dan suku di Nepal sedangkan Bobby lebih suka ke bagian foto-foto para pendaki yang pernah menaklukan puncak-puncak Himalaya.
“Vir, kita ke puncak Himalaya yuk!” ajak Bobby.
“Mahal Bi, hampir dua milyar biayanya. Kalo mati di sana juga kudu bayar ratusan juta,” keluh Vira.
“Gue bayarin deh, asal jadi istri gue.”
__ADS_1
“Pret lu Bi,” jawab Vira yang kemudian meninggalkan Bobby yang tertawa mendengar jawaban Vira.