Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Bamboo - Perempuan Nakal


__ADS_3

Seharusnya Vira berjalan gontai, kembali lagi menuju persimpangan yang jaraknya satu jam lebih. Tapi ini tidak. Dirinya begitu bahagia. Selamat dari kemungkinan bahaya. Bahaya longsor salju dan bahaya Mas Cokro. Tak mengapa harus berjalan lagi sejauh apapun.


Jalur di sisian Macchapuccre meski konturnya berbukit-bukit tapi tidak terlalu melelahkan kaki. Hanya saja jalan setapak terlalu sempit, tidak bisa dilalui oleh dua pendaki apalagi lebih secara bersamaan. Jadi harus satu per satu. Jika ada pendaki yang ingin melintas dari arah berlawanan, terpaksa Vira berhenti dan kemudian memiringkan tubuhnya agar tidak bersentuhan. Mas Cokro berada selalu di belakangnya.


Jalur keluarnya sisian Macchapuccre ini juga ternyata tidak jauh dari lodge di Deurali, tempat mereka menginap. Hanya saja, jalur keluarnya berupa jembatan besi yang sudah mulai berkarat dan sedikit bergoyang ketika Vira melewatinya.


Tak disangka, ternyata semua tim sudah hadir di restoran. Mereka menunggu dirinya dan Mas Cokro untuk makan siang bersama.


“Buset, lama amat kalian. Kemana aja? Koq bisa gak ketemuan?” tanya Mas Une.


Mas Cokro hanya tertawa.


“Kalian ada affair [hubungan] ya?” tanya Bobby curiga.


“Apaan sih lu Bi, ngaco banget,” sergah Vira


“Gue tau elu pasti elu lewat jalur kemarin. Ada longsoran salju kenapa masih nekat lewat sana?” tanya Mas Une sekali lagi.


“Tanya aja Vira,” sahut Mas Cokro enteng.


“Koq Vira sih? Kan Mas Cokro sendiri yang maksa lewat jalan itu.”


Mas Cokro tertawa menggeleng-gelengkan kepala. Ditempatkan ransel kecil miliknya di samping Mas Une dan kemudian mulai melihat-lihat menu makanan.


“Koq bisa sih elu jalan sama Mas Coky Vir? Kenapa gak nunggu gue aja?” tanya Bobby yang sepertinya masih penasaran.


“Tanya aja sama Mas Une,” jawab Vira enteng.


Sekarang giliran Mas Une yang tertawa menggeleng-gelengkan kepalanya.


Entah ada angin apa, tiba-tiba makan siang di Deurali semuanya dibayarkan Mas Cokro. Wajahnya sumringah padahal uang yang harus dikeluarkan sekitar lima puluh dollar. Dan Vira lebih sumringah lagi karena dirinya makan dua kali lipat lebih banyak dari biasanya.


Semua senang, hanya Bobby yang masih menyimpan rasa curiga.


“Mas Coky aneh. Kayak bukan Mas Coky aja,” gumam Bobby.


“Bersyukur Bi, ada yang traktir, bisa makan enak gak pake bayar,” sahut Vira.

__ADS_1


------------------------------


Tjokro Adjie Pambudi


Tepat hari ini, saat perempuan itu membangunkannya untuk melihat terbitnya matahari pagi di Annapurna, Cokro meyakini ini adalah perubahan baru untuknya.


Hari ini tepat lima tahun lalu, Rahayu meninggalkan Cokro seotang diri setelah kanker sel epitel pada ovariumnya sudah menggerogoti tubuh kurusnya. Rahayu, istrinya adalah kekasih hidupnya sejak masih duduk di bangku kuliah salah satu universitas negeri di Surabaya.


Kematian yang membawa luka. Duka yang dipendamnya selama lima tahun, harus dilepaskan. Duka yang membelenggu harus ditinggalkan.


Pagi ini, setelah melihat sunrise, dan setelah melihat perempuan itu di tugu penanda ketinggian Annapurna Base Camp, Cokro kembali ke restoran. Dikeluarkannya selembar kecil foto perempuan dari dalam dompetnya. Dioleskan belakang foto itu dengan lem yang ada di dekat meja kasir restoran dan kemudian menempelkan foto itu di dinding restoran yang penuh dengan foto-foto pendaki yang pernah singgah di sana.


“Ayu, baik-baik ya, di sini. Doakan Mas agar bisa melanjutkan hidup ini dengan bahagia,” gumam Cokro sambil menatap foto kecil yang kini sudah menempel erat di dinding restoran.


Dilihatnya perempuan itu merengek manja kepada Runello untuk berangkat ke Macchapuccre lebih dulu. Entah mengapa dirinya tergerak untuk menemaninya. Berjanji kepada Runello, dan juga berjanji di depan foto Ayu yang terpasang di restoran untuk menjaganya.


Perempuan yang pernah ia kecup bibirnya, yang ia oleskan minyak angin ke perut dan punggungnya tampak terkejut dan menolak. Apakah masih marah dengan apa yang pernah dilakukannya? Tidak juga. Mungkin terkejut tapi tidak marah.


Sepanjang perjalanan, saat menceritakan burung dan mitosnya, tampak perempuan itu antusias mendengarkan. Bahkan di Macchapuccre saat melihat puncaknya didapati perempuan itu juga memandang dirinya. Tidak ada rasa takut dan marah yang terpancar dari wajah yang memiliki senyuman manis itu.


Ketika perempuan itu memaksa untuk melewati jalur dan kemudian wajah takutnya akan longsor salju dan menginginkan pindah jalur membuatnya seperti lelaki yang berbeda. Lelaki yang disandarkan hidupnya oleh perempuan selain Rahayu. Meski ini hanya perasaan subyektif semata.


-----------------------------------


Perjalanan menuju Bamboo untuk tempat istirahat melewati Dovan, tempat mereka menginap tiga hari lalu.


Kali ini ketinggiannya hanya sekitar 2310 Mdpl. Udara tidak terlalu dingin. Kata Mas Une, kalau tubuh kita sudah pernah dan terbiasa dengan suhu yang jauh lebih dingin, maka suhu dingin yang biasa-biasa saja menjadi tidak terlalu terasa.


Vira teringat ketika dari Dovan menuju Deurali, mereka mendaki bersama-sama sebagai satu tim. Dan kali ini, dari Deurali menuju Bamboo pun juga seperti itu. Bersama-sama. Tidak terburu-buru. Santai.


Jalur turun tidak terlalu berat karena hanya sesekali naik saja. Mereka bahkan membiarkan banyak pendaki melewati mereka dan lebih banyak bercanda. Bobby memang yang paling aktif melontarkan jokes atau lelucon garing yang membuat suasana hidup. Dan bahkan berulang kali menyanyikan puisi khas para pendaki Himalaya.


Dal Bhat super power [Kekuatan super makanan Dal Bhat]


Twenty four hours [Bertahan 24 jam]


No sex no shower [Tanpa **** dan tanpa mandi]

__ADS_1


And your smell like flowers [Dan wangi tubuhmu seperti aroma bunga]


----------------------------


Sesampainya di Bamboo, kembali Sandeep mengatakan bahwa Vira terpaksa harus berada satu kamar dengan mas-mas pendaki. Semua kamar di lodge ini berukuran besar dan tidak ada ukuran personal. Vira memang sudah hilang harapan. Kemewahan kamar untuknya sepertinya hanya akan ada di Pokhara dan Kathmandu saja. Masih dua hari lagi.


Kali ini Vira yang memilih sendiri letak ranjangnya. Dia tidak mau tidur di pojok yang membuatnya seperti merasa terhimpit. Dan justru memilih ranjang yang terletak di dekat pintu keluar masuk. Mas Une wanti-wanti karena posisi ranjang yang dipilih Vira itu cenderung lebih dingin dan kemungkinan orang keluar masuk akan sering. Bisa mengganggu kualitas tidur. Vira tidak peduli. Dirinya hanya tidak ingin kejadian yang lalu menimpa dirinya kembali.


Selesai mandi air hangat dan keramas, Vira langsung bergabung dengan mas-mas pendaki ke restoran karena di sana sudah dinyalakan pemanas ruangan.


Semua pendaki sudah banyak yang berkumpul. Bahkan satu meja panjang dipenuhi oleh pendaki asal Korea Selatan yang sudah paruh baya, seusia Papa Vira. Semuanya laki-laki. Ini mengingatkannya kembali dengan Mr. Kim yang mereka temui saat perjalanan menuju Chhomrong, sesaat sebelum dirinya tersesat.


Sembari menunggu makanan datang, Vira membayar internet sebesar dua dolar. Seketika itu juga suara notifikasi bertubi-tubi membuat dirinya langsung mengusapkan jarinya ke ikon aplikasi pesan chat yang tertulis angka tiga digit. Menunjukkan sejumlah pesan yang belum dibacanya.


Vira membaca dan membalas pesan dari Kosa yang menceritakan penelitiannya di Bantul. Wawancara dengan beberapa Kepala Desa dan masyarakat diambil menjadi dua plot besar. Isu yang diambil cukup sensitif terkait politik uang, jadi Kosa terpaksa mengaburkannya dengan isu partisipasi politik.


Vira minta maaf tidak bisa menelpon ataupun video call karena lodge yang mereka pilih memiliki restoran yang tidak terlalu besar dan suasananya sedang ramai karena semua pendaki sedang sibuk mengobrol dengan suara keras. Vira kesulitan mencari posisi enak. Dan tidak nyaman rasanya menelpon di luar restoran karena suhu di luar saat malam hari masih terasa menusuk tulang.


“Vir, buka dong pesan dari grup!” pinta Bobby.


“Ntar aja, yang penting-penting dulu,” sahut Vira.


“Itu penting banget,” ucap Bobby meyakinkan Vira


“Kenapa pakai buka pesan grup sih? Kalian kan bisa langsung ngomong sama Vira.”


“Itu susah diomongin, harus ditonton,” ucap Bobby kembali.


Dengan enggan Vira membuka pesan chat dari grup Annapurna. Ada beberapa foto bersama yang dikirimkan dan sebuah video. Disentuhnya tanda anak panah yang terletak di tengah file dan kemudian tak lama video itu memutar dengan sendirinya.


Tampak dalam video itu, dirinya yang seperti orang mabuk, bergelendot manja di bahu Bobby. Memainkan ujung outer layer lelaki yang seusia Kosa dan sesekali memainkan jemari lelaki yang sering mendampinginya selama pendakian itu. Dan yang lebih memalukan, berulangkali dirinya mengajak Bobby untuk tidur bersama sampai akhirnya dia sendiri yang jatuh tertidur dengan dengkuran yang keras. Semua terekam dalam video dengan durasi kurang dari 10 menit.


Wajah Vira langsung memucat. Ini video apa? Kapan diambilnya? mengapa diriya bisa berprilaku seperti itu? Seperti prilaku perempuan nakal yang sering dilihatnya dalam film-film Hollywood.


Mas Une, Mas Dody dan Bobby tertawa. Mas Cokro tersenyum memandang pias di wajah Vira.


“Bi…Bi…hapus Bi videonya. Tolong Bi, pokoknya hapus, hapus…..hapuuss,” pinta Vira. Ada rasa sedih, marah, dan malu yang bercampur aduk dan terpancar dari raut wajahnya.

__ADS_1


“Traktir makan malam ya buat kita semua?” jawab Bobby enteng dengan senyum yang belum pernah dilihat Vira sebelumnya.


__ADS_2