Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Back to Drawing Board


__ADS_3

^Merevisi Rencana Semula


Minggu pagi yang cerah memaksa Vira untuk segera bangun dari kasurnya. Tidak lagi bisa bermalas-malasan karena sinar mentari yang terik menerobos celah-celah gordennya membuat silau mata. Padahal masih jam setengah tujuh pagi.


Diraihnya ponsel yang sudah terisi seratus persen dayanya dan kemudian mencabut chargernya. Dinyalakannya ponsel meski tidak juga dilihat karena rasa malas dan enggan yang menerpanya.


Ketika turun ke lantai bawah, didapatinya Natha masih meringkuk di sofa hijau dengan mengenakan daster tidurnya. Sepertinya Natha sejak semalam menunggu Mamah yang tak kunjung pulang. Diambilnya ponsel Natha yang nyaris terjatuh dari pinggiran sofa dan diletakkan di atas meja. Dipandangi sekeliling yang tampak sepi. Terasa ada yang janggal karena biasanya hari minggu pagi, semua keluarganya duduk bersama, sarapan pagi bersama dan saling bercerita namun kini hanya kesunyian yang hadir.


Vira mulai merasa lapar dan mulai memikirkan makanan apa untuk sarapan. Memikirkan dirinya yang sudah terlalu sering makan di luar membuatnya enggan untuk memesan makanan online. Makanan sederhana di pagi hari tanpa perlu banyak bumbu sepertinya menjadi pilihan Vira.


Di dapur, Vira mulai menakar beras yang akan digunakan untuk membuat bubur. Cukup satu gelas takar saja karena hanya ada dirinya dan Natha. Setelah dicuci dan diberi air dengan rasio satu banding sepuluh, Vira memasukkan satu batang sereh yang sudah digeprek, dan selembar daun salam agar buburnya wangi. Memasak bubur memang cukup lama terutama ketika sudah menyusut airnya harus rajin diaduk agar tidak menggumpal di bagian bawahnya dan membuatnya berkerak yang akhirnya menyebabkan gosong. Ketika sudah hampir jadi, diberinya garam untuk menambah rasa dan baru lah api kompor dimatikan.


Untuk topping Vira membuat telur sunny side atau telur mata sapi dengan kuning telur yang setengah matang, ditaburi kecap manis, sedikit kecap asin, dan irisan seledri serta bawang goreng. Sepertinya Mamah juga masih menyimpan satu toples kentang mustofa, kentang goreng garing pedas campur teri medan yang cocok untuk ditambahkan sebagai topping.


“Nath, bangun Nath, sarapan dulu!”


Natha hanya menggumam tak jelas dan tampak malas membuka matanya.


“Bangun Nath, nanti buburnya keburu dingin, gak enak rasanya!”


“Apaan sih Vir, gue ngantuk tau, semalaman gue nungguin Mamah. Gak ngasih kabar mereka jadi nginep atau balik,” sungut Natha dengan mata yang masih terpejam.


“Makan dulu Nath, gue udah bikin bubur nih. Abis makan sambung lagi tidurnya!”


Natha bangun dengan malasnya, meregangkan tubuhnya dan langsung mengambil mangkuk bubur dan menyantapnya.


“Ih jorok banget sih Nath, gak pake gosok gigi dulu, at least kumur-kumur keq!”


“Asal lu tau ya Vir, air liur setelah bangun tidur manfaatnya banyak banget. Salah satunya bikin makanan lebih sedap,” ujar Natha sembari menyuapkan bubur ke mulutnya.


“Elu yang bikin nih Vir? Enak nih, sederhana tapi enak. Kemarin gue sama Yudha makan mulu, segala macam rasa masuk ke mulut gue sampe begah gue.”


“Mas Yudha suka makan kayak elu Nath?” tanya Vira.


“Iih banget. Kayaknya kalau gue terusin sama dia, bisa-bisa gue gendut deh!” jawab Natha sambil menyuapkan sendok berisi bubur ke dalam mulutnya.


“Kayaknya itu yang bikin Mas Yudha berubah ya Nath? Perasaan dulu kurus banget, sekarang malah berisi gitu. Bagus dong Nath! Lagian kenapa nyalahin Mas Yudha? Kalau elu nanti gendut sih karena emang elu makannya banyak. Dari dulu juga elu makannya banyak.”


“Tapi ya Vir, kayaknya Yudha manjain gue banget deh, gue jadi gak enak. Maksud gue, kan ini baru jalan yang pertama, belum tentu juga gue jadian sama dia. Takutnya sih dia berharap dan gue gak sreg, kan kasihan.”


“Mas Yudha ngajak elu aja itu namanya sudah berharap kali Nath. Lagian elu ngapain kasihan kalau gak suka sih ya gak suka aja. Tumben elu mikir rasa kasihan, biasanya kalo nasehatin gue sadis gitu.”


Natha mendengus. Ditekannya remote lalu dipilihnya salah satu saluran televisi berbayar. Sepertinya Natha ingin melanjutkan serial horor yang ditontonnya kemarin.


“Lumayan kemarin dapet empat episode. Kemarin tuh Vir, gue nonton film keluarga gitu karena Yudha gak suka nonton horror. Gue pikir dia ngajak nonton malam gitu biar suasana spooky-nya dapet, eeh gak taunya. Ya sudah lah! Udah lama juga gue gak ke bioskop, hitung-hitung liburan gratis.”

__ADS_1


“Vir, mangkuknya taro di belakang trus sekalian bikinin teh hangat ya, gulanya setengah. Eeh Vir, jangan lupa nanti siram tanaman Mamah, ajak ngomong sekalian tanamannya biar mereka bahagia,” pinta Natha.


“Koq gue sih Nath? Kan udah gue bikini bubur, masa nyiram tanaman juga?” protes Vira.


“Kan elu yang bilang kalau gue bisa tidur lagi abis makan buburnya. Lagian gue males kalau gue yang nyiram ntar Yudha pasti muncul dan nyamperin gue.”


“Oooh, yaudah.”


Dan ternyata dugaan Natha benar. Ketika Vira sedang menyiram tanaman, Mas Yudha muncul menghampiri.


“Koq Vira yang nyiram? Natha mana Vir?” tanya Mas Yudha.


“Masih tidur Mas, kemarin semalaman begadang nungguin Mamah,” jawab Vira berbohong karena yang sebenarnya Natha sibuk meneruskan serial horornya dan tak tidur lagi.


“Mamah belum pulang juga?”


“Belum Mas, belum ada kabar juga.”


“Mungkin siang atau sore Vir pulangnya. Sistem buka tutup Puncak dan jalanan macet karena pada pulang liburan.”


“Kayaknya begitu ya Mas, agak khawatir sih soalnya Mamah belum pernah pergi tanpa keluarganya selama ini.”


“Gak apa-apa Vir. Biar Mamah senang-senang, lagipula kalian anak-anaknya sudah pada besar semua. Eh, Vir, pacar kamu kemarin itu yang mana sih? Yang datang siang dan malam kayaknya beda. Sudah ganti ya? Mobilnya keren-keren Vir, pinter kamu milihnya!”


“Mas Yudha, Vira masuk dulu ya!” Dimatikannya air kran dan kemudian digulungnya selang air lalu meninggalkan Mas Yudha yang memandangnya dengan heran.


-----------------------------------------------------


Suasana pagi di ruang makan keluarga Pambudi kali ini sedikit lebih ramai dari biasanya. Ada Bapak, Ibu, Bagas adiknya, dan dirinya duduk bersama menikmati sarapan. Setiap bertandang ke rumah di Kelapa Gading ini, Cokro terbiasa makan sendiri.


“Semalam kamu dari mana Djie?” tanya Ibu sembari mengoleskan krim mentega tawar ke roti gandum.


“Dua hari berturut-turut kamu pulang malam. Sebelumnya malah pulang pagi,” lanjut Ibu.


“Ada urusan sama teman Bu,” jawab Cokro.


“Teman kamu yang tinggal di Bekasi?”


Sepertinya Ibu sedang memancing sebuah penjelasan darinya. Cokro diam tidak menjawab. Disesapnya kopi hitam pahit. Entah mengapa rasanya berbeda, tidak seperti yang dibuatkan Vira kemarin. Rasanya lebih hambar, hanya terasa pahit saja, tidak ada rasa lain yang tercecap di lidahnya.


Ibu meletakkan roti gandum krim mentega di piring milik bapak yang telah berisi dua telur sunny side dan potongan tomat. Ibu sendiri hanya mengkonsumsi satu mangkuk buah segar dan segelas teh hijau.


“Jangan lupa, acaranya nanti malam jam tujuh. Kamu tidak usah ke Bekasi lagi. Jangan cari masalah Djie. Ini bukan lagi urusan kamu saja. Ini urusan keluarga yang harus kamu hormati,” ucap Ibu.


“Bagas, coba nanti kamu tanya ke Mbakyu-mu Adjeng mau berangkatnya dari sini atau dari Sunter?” pinta Ibu yang dibalas dengan anggukan dari anaknya nomor tiga.

__ADS_1


“Pak, tomatnya jangan lupa dihabiskan. Kalau makan jangan sambil lihat ponsel. Fokus sama sarapan,” tegur Ibu.


Tidak ada yang bersuara kecuali Ibu. Betapa Ibu menjadi satu-satunya pengatur di rumah ini. Cokro menyadari benar pengaruh besar Ibu di keluarga ini. Apa yang ibu katakan selalu dianggap benar dan harus diikuti. Teringat betapa sering dulu Cokro membantah dan melawan setiap perkataan Ibu. Tapi selalu Ibu yang membereskan setiap masalahnya.


Tidak mungkin Cokro menyelesaikan masalah ini dengan Ibu. Berkali-kali dirinya menolak perjodohan yang diinisiasi oleh Ibu. Pertemuan dengan keluarga kolega Bapak dan Ibu selalu berakhir sia-sia. Pihak keluarga perempuan yang pada akhirnya memutuskan hubungan dengan berbagai alasan. Polanya selalu seperti itu. Oleh karena itu, Cokro sama sekali tidak perlu membantah setiap permintaan Ibu, dan cukup menunggu waktu saja. Pada akhirnya sikap diamnya membuat calon yang dijodohkan menjadi enggan untuk melanjutkan hubungan.


Bagi Cokro, Lydia Sasongko kemungkinan akan seperti perempuan-perempuan lain yang pernah dijodohkan dengannya. Mereka akan bosan dengan sendirinya dan menganggap kehidupan akan jauh lebih menarik jika tidak bersama. Toh, sejak awal Lydia juga tidak menyukai perjodohan semacam ini. Jadi dirinya tidak perlu bersusah payah memasang strategi untuk membuat Lydia menolaknya. Semua akan berjalan seperti yang dikira semula.


Hari ini adalah hari pertunangan Cokro dengan Lydia. Waktu yang sengaja dipilih setelah Pak Sasongko dan Ibu Ruth kembali dari Belanda dan sebelum Gani berangkat ke Riau. Hanya pesta kebun biasa yang dihadiri oleh keluarga dari kedua belah pihak. Tidak banyak yang hadir. Tidak masalah dengan Cokro. Pertunangan ini mungkin hanya untuk menjadi pengikat kerjasama bisnis dua keluarga saja. Memperluas bidang usaha dan pasar serta suntikan modal. Cokro memperkirakan mungkin sekitar tiga bulan saja dan Lydia akan memutuskan untuk mengakhirinya.


Hanya ada satu ganjalan dalam pikirannya. Sepertinya ibu sudah mengetahui hubungannya dengan Vira. Entah seberapa banyak yang Ibu tau tapi mungkin akan menakutkan bila Ibu sudah bertindak. Teringat dulu, ketika Cokro bersikeras menikahi Rahayu, Ibu tidak tinggal diam. Tapi tetap tak bisa menghentikan Cokro. Hanya saja, meski menentangnya, Ibu datang membantunya mengurus Rahayu yang sakit dan bahkan membiayai pengobatan Rahayu.


Cokro tidak bisa untuk bilang tidak kepada Ibu untuk perjodohannya dengan Lydia Tapi kehadiran Vira sungguh di luar dari apa yang direncanakan dalam hidupnya. Perempuan itu membuatnya memikirkan lebih dari sekedar bisnis dalam kehidupan ini. Memberikan sebuah tujuan baru, membangun sebuah keluarga yang selama ini terlupakan sepeninggal Rahayu. Hanya saja, ternyata awalnya memang tidak mudah menaklukan hati Vira.


Namun dengan kejadia semalam, Cokro sama sekali tidak menyangka penerimaan Vira dan mulai memikirkan kembali apa yang harus dilakukan. Cokro tidak bisa mengandalkan pola lama yang harus menunggu meski dirinya tidak juga berniat menentang Ibu. Hanya ingin mempercepat prosesnya saja. Cokro juga harus berterus terang kepada Lydia atas apa yang terjadi. Lydia pasti mengetahui pasti apa yang harus dilakukan.


“Kamu lagi mikirin apa, Djie?” tanya Ibu membuyarkan lamunan Cokro.


“Mas Adjie gak sabar nungguin nanti malam Bu,” sahut Bagas menimpali. Dilahapnya semangkuk oatmeal susu setelah habis menyantap roti gandumnya.


“Jangan cuma minum kopi pahit saja. Kamu itu memang harus segera berumah tangga Djie, biar nanti ada istri yang mengurus kamu. Mengurus makannya kamu,” ucap Ibu.


“Kalau nikah untuk ngurus makan Mas Adjie saja sih mending nikah sama koki restoran aja Bu,” celetuk Bagas.


“Kamu ini ya Gas, Ibu ini lagi bicara sama Mas-mu. Coba kamu pikir Mas-mu ini si Adjie sudah lama sendirian, ndak jelas di Surabaya makannya apa saja. Umur kepala tiga itu sudah harus hati-hati sama makanan. Mas-mu itu ndak pedulian, cuma kerja sama naik gunung saja yang dipikirkan.”


“Kalau nanti nikah memangnya Mba Lydia mau mengatur makanannya Mas Adjie? Kan tidak juga Bu, paling yang ngatur ya asisten rumah tangganya. Suruh aja Mas Adjie nikah sama a-er-te.”


“Kamu itu ya Gas, mulai berani melawan. Ibu ini melakukan semuanya karena menginginkan yang terbaik untuk kalian. Coba kamu lihat Mbakyu-mu, Adjeng, hidupnya bahagia sama suami, punya anak, semuanya teratur, enak dilihatnya. Ibu itu jadi tenang melihatnya.”


“Memangnya Mas Adjie tidak bahagia Bu? Bagas tidak mau melawan Ibu koq tapi Ibu aja yang lucu koq jodohin Mas Adjie cuma untuk ngurus makanan.”


“Sudah-sudah. Pagi-pagi koq sudah ribut gak jelas. Yang diributkan saja cuma diam, Makan dulu biar ada energi positif,” lerai Bapak menengahi percakapan istri dan anak bungsunya itu. Sosok lelaki paruh baya berkacamata dengan sedikit uban putih tetap melanjutkan membaca berita di ponsel pintarnya dan tidak bermaksud untuk terlibat pembicaraan terlalu dalam.


Cokro sedari tadi hanya diam mendengarkan. Berbeda dengan dirinya, Bagas adiknya adalah sosok yang bisa mengatakan banyak hal kepada siapapun, bahkan kepada Ibu. Cokro tetiba membayangkan kejadian tadi malam ketika dirinya memasak makan malam bersama Vira. Perempuannya yang suka makan itu bisa membuatkan kopi enak untuknya. Bisa diajak bekerja sama di dapur untuk menghasilkan makanan untuk disantap berdua. Hari-hari indah bersama Vira sudah terbesit dalam bayangannya dan tanpa sadar membuat Cokro tersenyum.


“Kamu mikirin siapa Djie, sampai senyum-senyum sendirian begitu?” tanya Ibu yang ternyata memperhatikannya.


“Mas Adjie cuma bisa senyum dengerin pembicaraan Ibu,” sahut Bagas sambil tertawa.


“Kamu itu ya Gas, Besok biar Ibu cariin perempuan buat kamu. Anaknya teman Ibu yang cantik itu banyak. Ibu cariin perempuan yang bisa bikin kamu tutup mulut. Heran Ibu, punya anak lelaki, yang satu jarang bicara, satunya gak bisa berhenti bicara, tapi dua-duanya sama-sama susah dekat sama perempuan.”


“Eh jangan salah Bu, teman perempuan aku banyak, cantik semua, model majalah,” elak Bagas membela diri.


“Dari dulu ngakunya seperti itu tapi ndak ada satu pun yang dibawa ke rumah. Kamu pikir Ibu ndak tau anak Ibu siapa?” ujar Ibu yang membuat Bagas tertawa tak berhenti.

__ADS_1


__ADS_2