
Dalam perjalanan pulang menuju Jhinu Nada, Vira hanya diam. Dirinya melakukan gerakan tutup mulut dan tidak mau meladeni obrolan mas-mas pendaki yang ditujukan kepadanya. Ini buntut akibat Bobby menolak untuk menghapus video yang merekam dirinya saat mabuk. Bahkan Mas Une yang menjadi ketua tim juga hanya tertawa ketika Vira memohon kepadanya untuk menghapus video itu.
Mas Dody yang kerabatnya juga lepas tangan, tidak mengidahkan permintaan Vira. Mas Cokro apalagi, tidak bisa diharapkan. Sepertinya ada konspirasi di antara mereka berempat untuk mempermalukan Vira.
Jalur menuju Jhinu Nada akan curam setelah melewati Chhomrong. Itu yang dikatakan Sandeep. Seperti terjun bebas dari gunung. Kaki harus hati-hati terutama dengkul dan jari-jari kaki yang akan sering tertekuk dan menyebabkan luka.
Tapi meskipun curam, jarak tempuhnya tidak terlalu lama. Hanya lima jam perjalanan saja. Mereka akan sampai di lodge jam satu siang.
Jhinu Nada ini adalah tempat terakhir mereka menginap selama pendakian ke Annapurna ini. Kalau diteruskan maka akan menuju Siwai yang merupakan pos terakhir sekaligus titik penjemputan oleh Jeep.
Dari Siwai nanti mereka akan diantarkan langsung kembali menuju Hotel di Pokhara. Sandeep tidak menginginkan demikian karena akan memakan waktu yang panjang. Bisa sampai jam dua belas malam. Kasihan supirnya.
Tidak sekalipun sepanjang perjalanan menuju Jhinu Nada ini, Vira mau berjalan beriringan dengan mas-mas pendaki. Jika Bobby mendekat maka dirinya akan pergi menjauh. Jika Mas Une dan Mas Cokro berhenti menunggunya maka Vira pun akan berhenti. Hanya Sandeep yang diperbolehkan Vira berada dalam radius terdekatnya. Mas Dody tidak terlalu ambil peduli dengan ngambeknya Vira.
Di jalur curam setelah Chhomrong nyaris membuat Vira jatuh terguling-guling karena tidak fokus dalam menjejakkan langkah kakinya. Untung saja Sandeep berhasil meraih tangan Vira sehingga jatuhnya Vira tidak sampai parah.
Mas Une, Mas Cokro dan Bobby yang melihat bahkan tidak bisa cepat menolong karena jarak yang terlalu jauh. Sekujur tubuh Vira menjadi kotor penuh debu dan badannya mulai sakit karena sempat terantuk batu-batu kecil.
Ketika Bobby ingin berlari ke arah Vira, Mas Une sengaja menghentikannya.
“Jangan Bi, biarin aja gitu. Kalo elu ke sana nanti dia makin marah. Biarin Vira puas marahnya nanti juga baik sendiri,” tukas Mas Une.
“Ada Sandeep yang bantuin Vira,” sahut Mas Cokro pendek.
Mereka bertiga lalu melanjutkan perjalanan menuju lodge, menyusul Mas Dody yang sudah tidak terlihat lagi. Meninggalkan Vira yang masih marah, kesal, dan mulai menangis. Sandeep hanya diam melihatnya. Tak bicara satu kata pun.
-----------------------------
Lodge mereka terletak di paling ujung. Sandeep mengingatkan bahwa lokasinya dekat dengan landasan helikopter dan tidak jauh dari sana ada kolam pemandian air panas.
Vira menjadi yang terakhir sampai ke lodge bersama Sandeep. Sepertinya Sandeep berbaik hati dengan keadaannya sehingga memberikan kamar sendiri untuknya dan tidak bergabung dengan mas-mas pendaki. Kamar berukuran kecil dengan kamar mandi di dalamnya. Tapi tanpa air hangat.
Sandeep membawakan roti isi telur dan segelas teh hangat ke kamar Vira. Sandeep sadar bahwa dengan kemarahannya, Vira akan enggan makan dan berkumpul bersama tim di restoran.
“This is for you. My treats [Ini untuk kamu, saya yang traktir]!” ujar Sandeep.
“You are so messy. You better come with me to the hot spring. I’ll wait [ kamu dekil banget, mending ikut saya ke kolam air panas, saya tunggu ya]!” lanjut Sandeep.
Vira mengangguk pelan. Disantapnya roti isi telur dengan lahap. Perutnya memang sangat keroncongan. Meski tidak terlalu mengenyangkan tapi lumayan mengisi perutnya. Setidaknya menghindarkan dirinya untuk masuk angin.
Vira mandi sebentar dengan air super dingin di kamar mandi. Membersihkan debu dan wajah kotornya. Ini adalah mandi tercepat sepanjang sejarahnya. Setidaknya ketika berendam di kolam air panas, dirinya tidak mengotori air yang membuat orang lain jijik.
__ADS_1
Dengan mengenakan legging baselayer dan penutup kepala serta handuk fiber yang disampirkan ke pundaknya, Vira mengikuti Sandeep menuju arah kolam pemandian air panasnya.
Letak kolamnya ada di samping lodge mereka. Menyusuri jalan setapak yang dipenuhi rekahan mawar merah dan beberapa pohon dengan lemon berwarna kuning yang bergelantungan. Berendam air panas akan mengendurkan otot-ototnya yang sakit setelah jatuh tadi dan juga akan meredakan emosinya.
Apa daya, ternyata sesampainya di sana sudah ada mas-mas pendaki yang berendam dengan telanjang dada. Kolam yang dikiranya besar ternyata hanya bisa memuat tidak lebih dari sepuluh orang. Sudah ada enam orang di sana. Mas-mas pendaki dan dua orang perempuan asing berbikini.
Vira langsung berbalik arah. Mengambil langkah kaki untuk kembali ke lodge namun tertahan oleh Sandeep yang memegang tangannya.
“Please, Vira! Never let your emotion ruin your day [Ayolah Vira, jangan pernah membiarkan emosi kamu merusak harimu],” pinta Sandeep pelan dan sedikit memohon.
Oh, iya. Kenapa juga dia yang harus pergi? Kenapa juga dia yang harus merasa tidak enak ke mereka? batin Vira dalam hati.
Entah darimana datangnya keberanian itu, Vira lalu langsung masuk ke kolam air hangat. Menempati ruang kosong di antara Bobby dan Mas Cokro. Sedangkan Sandeep memilih dekat dengan perempuan asing berbikini.
Bobby dan Mas Cokro terdiam. Sedangkan Une sedari tadi terlibat pembicaraan dengan perempuan asing berbikini. Hhmm, dasar modus, batin Vira lagi.
Air di kolam terasa begitu panas. Meski tubuhnya tertutup rapat dengan legging baselayernya namun panasnya air mampu menusuk-nusuk kulitnya. Wajahnya mulai memerah. Dengan kulitnya yang sawo matang, Vira merasa dirinya seperti kepiting rebus.
Vira tetap bertahan di kolam. Karena tahu ini hanya fase awal saja. Sama seperti ketika turun dari Gunung Papandayan atau Cikuray di Garut pasti dirinya akan langsung menuju daerah Cipanas, menyewa motel dengan kolam air panas di dalamnya. Berendam begitu lama sampai tubuhnya bisa menyesuaikan dengan panasnya air di kolam.
Vira memejamkan matanya. Sengaja. Dirinya tidak ingin menatap mas-mas pendaki yang ada di dekatnya. Tak ingin menatap Sandeep yang sekarang mirip Mas Une, tampak bahagia berbicara dengan perempuan asing berbikini itu.
Ternyata Vira baru sadar kalau pembicaraan Mas Une dan Sandeep dengan para perempuan itu menggunakan bahasa Prancis yang sama sekali tidak dipahaminya. Pantas saja yang lain terdiam, tidak ikut modus.
Vira terdiam dan tetap terpejam. Sama sekali enggan untuk menjawab panggilan Bobby.
“Vir, maafin kita ya Vir!” pinta Bobby.
“Bi, koq pake minta maaf segala sih? Ngapain? Bego lu?” sungut Mas Dody dengan suara agak tinggi.
Vira terperanjat mendengarnya.
“Mas Dody jahat deh, kalian itu semua jahat sama Vira,” tuduh Vira. Kali ini tanpa emosi yang berlebihan dan tanpa isakan tangis.
“Koq jahat? Elu kali Vir yang jahat sama kita!” tuding Mas Dody.
“Koq Vira sih yang jahat? Kalian yang mempermalukan Vira dengan merekam video itu. Jahat tau Mas!”
“Dasar manja. Yang elu pikirin itu cuma rasa malu doang. Elu gak sadar apa kalo elu itu udah bikin kita takut dan repot?”
“Maksudnya mas?” Vira tidak mengerti perkataan Mas Dody.
__ADS_1
“Elu pikir hipotermia itu cuma menggigil doang? Bisa bikin mokat tau. Semuanya udah pada nolongin elu supaya sembuh. Mas Une yang beli rum. Elu pikir harga rum di Himalaya itu dua dollar? Gak minta ganti dia. Cokro yang ngolesin minyak angin ke badan elu terus-terusan. Si Bobby meluk elu biar gak kedinginan. Dia yang gendong elu ke kasur. Masukin elu ke sleeping bag. Gue yang nganterin elu tengah malem pipis pas udara lagi dingin-dinginnya karena takut elu pipis di celana. Dan elu enteng banget bilang kita bikin malu elu sama video itu. Asli, parah lu Vir!”
“Dan elu gak perlu marah ke semua orang, karena gue yang ngerekam itu. Buat hiburan elu setelah pulih dari hipotermia,” sahut Mas Dody tajam.
Vira terdiam.
Tiba-tiba buliran air turun dari matanya. Vira menangis, tanpa isakan.
Vira kembali mengingat apa yang terjadi. Yang dia tau hanyalah saat dirinya meminum rum. Dan saat melihat video itu, hanya ada ketakutan yang muncul bahwa betapa malunya jika video itu tersebar dan Kosa bisa melihatnya suatu saat. Dan menganggapnya perempuan nakal. Bodoh. Sungguh bodoh.
“Maaf,” ucap Vira pelan.
“Apa? Gue gak dengar!” sahut Mas Dody.
“Maafin Vira Mas Une. Maafin Vira Mas Dody. Maafin Vira Mas Cokro, Maafin Vira ya Bi. Maafin sudah menyusahkan kalian semua,” pinta Vira penuh harap.
Bobby tiba-tiba memeluk Vira. “Gue kangen sama elu Vir. Jangan marah lagi ya, muka lo gak enak diliat kalo lagi marah,” tukas Bobby dengan wajahnya yang tak berdosa itu.
“Beuuh, si Obi mah modus banget. Tau gitu mah minta maafnya gak usah ke Obi deh Vir!” sungut Mas Une.
-----------------------------
Makan malam kali ini Vira yang traktir. Sebagai ungkapan permohonan maafnya kepada mas-mas pendaki. Termasuk kepada Sandeep yang berada di sampingnya dan juga Sarkar dan Satya.
Ada satu hal yang dipelajarinya hari ini. Seperti yang dikatakan Sandeep. Jangan pernah emosi merusak hari yang kita lalui. Perjalanan panjang Annapurna yang berkesan ini tidak boleh tercoreng hanya karena keegoisan salah satu anggota tim saja. Sebagai tim kita harus solid.
Vira menghampiri Bobby dan berbisik pelan. “Bi, videonya jangan lupa dihapus ya?” bisik Vira.
“Gak bisa Vir, masternya ada di Mas Dody dan pasti juga udah kesimpen di ponselnya Mas Une dan Mas Coky. Kalo gue doang sih sudah gue hapus,” ucap Bobby pelan.
“Oh gitu ya Bi. Gak apa-apa,” sahutnya masih dengan suara pelan, setengah berbisik.
“Vir,” panggil Bobby.
“Iya Bi?”
“Gue bisa koq hapus video elu dari ponsel mereka. Asal ada syaratnya,” kata Bobby.
“Syaratnya apaan Bi? Traktir lagi?” tanya Vira
“Lu mau gue cium,” jawab Bobby pelan dengan kilatan mesum di matanya.
__ADS_1
“Brengsek lu Bi, ogaaaaah. Biarin aja tuh video di ponsel mereka sampe bulukan,” teriak Vira yang memancing semua orang menoleh ke arahnya.
Vira beranjak dari meja. Meninggalkan Bobby yang tertawa terbahak-bahak.