
Jalan dari Pondok Indah menuju Depok tidak terlalu lama karena ternyata Gani mengambil jalur pintas dari daerah Kebagusan menuju Kukusan. Jalanan yang tidak lebar, hanya ada dua lajur namun sepi dan masih rindang, penuh pepohonan. Tidak sampai satu jam Vira sudah ada di depan rumah kost.
“Gak usah turun Mas, biar Vira saja yang buka pintu. Sudah larut, nanti takut Mas Gani kemalaman sampai rumah,” ujar Vira lalu mengambil tas bawaannya yang berada di kursi belakang.
Gani tersenyum begitu hangat. “Baik kalau begitu Vir, Mas langsung pulang ya! Terima kasih ya sudah datang ke acara Kak Lydia.”
“Terima kasih juga ya Mas, sudah antar jemput. Mas Gani memang baik. Hati-hati Mas!”
Vira menatap mobil Gani yang kemudian hilang dari pandangan matanya dan bergegas masuk ke rumah kost namun terhalang. Ada Kosa dan Danu yang berdiri di kursi beranda rumah kost-nya. Sepertinya sudah menunggu dirinya sedari tadi.
“Abang,” ucap Vira lirih. Vira menatap Kosa lalu mengalihkan pandangannya ke atas. Menatap langit yang tiada berbintang. Dadanya mulai terasa sedikit sesak.
Kosa tersenyum sedangkan Danu tampak menggaruk-garuk kepalanya.
“Eh, Sa, gue duluan ya, ntar ketemuan di Cak Wit aja,” ujar Danu yang tampaknya menyadari situasi yang mulai terasa aneh ini.
“Vir,” ujar Danu ke Vira yang dibalas dengan anggukan dan senyuman lemah Vira.
Kini Vira berdiri dan terdiam dengan kepala menunduk ke bawah. Ingin rasanya menanyakan kabar Kosa tapi mulutnya seperti terkunci rapat. Pun rasanya Vira enggan untuk menjelaskan mengapa Gani mengantarkan pulang malam ini.
Dan Kosa pun menjadi terdiam. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan untuk dijawab Vira, namun keinginan terbesarnya adalah memeluk perempuan miliknya. Meluapkan rasa rindu yang terpendam dalam sepekan. Rindu yang tertahan di dadanya, rindu yang disampaikan namun tak berbalas. Rindu yang menyakitkan.
Kosa melihat Vira yang tertunduk, entah apa yang terjadi selama dirinya pergi. Membuat sikap perempuannya ini berbeda. Tampak Vira sedikit menjaga jarak darinya. Seolah ada tabir pembatas yang menyekat ruang antara Vira dan dirinya. Kosa sungguh menyadari memang ada yang berbeda dengan Vira.
Kosa menjulurkan tangan yang memegang tas rajut dari serat kulit pohon ke arah Vira. “Ini ada oleh-oleh dari Banten.”
Vira menerimanya dan kemudian menatap Kosa. Tiba-tiba buliran air menetes keluar dari ujung matanya satu per satu dan kemudian bertambah deras. Suara isakan mulai terdengar pelan. Vira terduduk lemas di kursi yang terletak di beranda, menunduk dan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
“Vir,………. Vir, kamu gak apa-apa kan?” tanya Kosa kebingungan. Tak pernah dirinya mendapati Vira menangis tiba-tiba kecuali saat Kosa mencium paksa Vira di kamar kost-nya.
Pertanyaan Kosa justru membuat isakan Vira bertambah kencang. Beberapa pasang mata menatap ke arah Kosa dan Vira dengan pandangan heran. Kosa merasa tatapan itu seolah menuduhnya telah menyakiti perempuannya ini. Kosa sungguh menjadi tidak enak hati.
Ingin rasanya Kosa memeluk Vira. Mendekap kepala Vira ke dadanya dan menepuk punggung seraya mengatakan agar tenang. Meminta Vira menceritakan masalahnya yang bisa membuat segala kegundahan di hatinya sirna. Tapi sungguh tangannya tertahan. Kosa tidak bisa melakukannya di saat tatapan-tatapan dari sekelilingnya itu tertuju ke arahnya.
Lama ditunggu isakan mereda dan tubuh Vira kembali tegak menghadapnya. Kosa tersenyum lirih. Diraihnya jemari kurus Vira yang berwarna kecoklatan. Jemari yang masih basah oleh air mata. Kosa menggenggam jari-jemari Vira dengan kedua tangannya yang kokoh. Memberikan kehangatan kepada rasa dingin yang sebelumnya telah menjalar ke seluruh bagian tubuh Vira.
Vira melepaskan genggaman tangan Kosa, dan kemudian mengeluarkan tisu dari dalam tasnya. Disekanya sisa-sisa air mata yang menempel di wajahnya dengan perlahan dan dengan tisu yang sama membuang air yang tertahan di hidungnya.
Kosa masih diam dan hanya berani memperhatikan saja. Ada rasa takut yang menyergap bila dirinya salah bicara akan membuat Vira menangis lagi. Entah apa yang menjadi penyebab Vira menangis masih menjadi tanda tanya di kepalanya. Apakah karena rindu padanya? Atau kah karena merasa malu karena Kosa mendapatinya pulang diantar lelaki lain. Kosa merasa bukan kedua hal itu penyebabnya.
“Abang, kapan pulang?” tanya Vira yang akhirnya bersuara.
“Eh, tadi jam 4 sore, dari Anyer setelah dzuhur tapi nganterin Matsuoka Sensei dulu ke Apartemennya di dekat Senayan.”
“Abang capek?” tanya Vira lagi.
“Gak terlalu koq, kenapa? Vira capek?” Kosa balas bertanya.
“Iya, Vira ngantuk banget. Pengen tidur. Besok ada kelas pagi. Vira masuk dulu ke dalam ya Bang!” ujar Vira lalu berdiri dan meninggalkan Kosa sendiri.
“Eh, iya Vir,” ucap Kosa kaget lalu ikut berdiri. Membiarkan Vira masuk ke rumah kost begitu saja tanpa bisa menahannya. Membiarkan dirinya terperangah tak berdaya tanpa berusaha mencegahnya. Setidaknya Kosa ingin memberikan sebait kata yang menyatakan kerinduannya.
Dilihatnya tas rajut dari serat kulit pohon tergeletak di kursi. Oleh-oleh yang Kosa berikan ternyata begitu saja terlupakan oleh Vira. Kosa mengambilnya dan kemudian beranjak ke luar.
------------------------------------
“Muka lo kenapa Sa? Kusut amat!” tanya Danu ketika Kosa mendatanginya dengan langkah gontai.
“Itu kenapa tasnya gak lo kasih ke Vira? Ditolak? Gak suka? Cewek zaman sekarang tuh demennya sama tas bermerk Sa,” cerocos Danu.
Kosa terdiam. Di kepalanya hanya ada bayangan Vira yang tadi menangis dan dirinya sama sekali tidak tahu apa sebabnya.
“Cak, pecel ayamnya satu lagi tambah hati ampela dan tahu tempe kayak tadi. Pakai nasi uduk ya!” seru Danu kepada Abang penjual kedai makanan.
__ADS_1
“Elu berantem sama Vira? Gara-gara cowok yang nganterin itu?” tanya Danu lagi dan tidak terlalu mempersoalkan diamnya Kosa.
“Vira nangis lama,” gumam Kosa pelan.
“Hah, nangis? Gila lu Sa, segitunya elu marah ke Vira cuma masalah dianterin doang.”
“Gue sama sekali gak marah Nu. Mana bisa gue marah ke Vira. Pas gue kasih ini tas, eeh Vira malah nangis. Gue jadi bingung.”
“Kalo elu udah ngasih tasnya, kenapa juga nih tas masih ada di elu? Vira nangis gara-gara ini tas? Gak suka sama modelnya kali Sa.”
“Vira gak kayak gitu orangnya Nu.”
“Yakali, keseringan diantar sama anak bos-nya pake mobil mewah seleranya jadi meningkat.”
“Elu tuh ya Nu, sembarangan aja ngomongnya,” sergah Kosa dengan nada kesal.
“Tapi Sa, jangan-jangan Vira selingkuh sama anak bos-nya dan dia nangis karena merasa bersalah sama elu,” duga Danu yang membuat Kosa terdiam.
Pembicaraan terputus ketika pecel ayam yang dipesankan Danu untuk Kosa datang. Kosa tidak terlalu lahap memakannya karena seharusnya dalam bayangannya, setelah pulang Kosa dan Vira akan makan bersama. Dirinya rela menahan lapar agar bisa makan bersama, tapi ternyata yang terjadi tidak demikian.
Pikiran Kosa mengelana memikirkan ucapan Danu. Apakah memang Vira jatuh cinta dengan lelaki yang mengantarkannya pulang. Secepat itu kah Vira berpaling ke lain hati. Kosa hanya pergi penelitian seminggu saja. Sebelum pergi, Vira masih seperti biasanya. Tapi kini, Kosa merasakan seperti ada yang berubah.
“Makan Sa, jangan bengong. Mungkin si Vira emang lagi ada masalah. Elu tanyain aja besok pas ketemu. Kayaknya tuh anak ada kelas pagi. Kelas Asselnya Mba Evi deh kalo gak salah,” ujar Danu.
“Ruangnya dimana Nu?” tanya Kosa.
“Sama kayak tahun lalu. Eh, sori. Elu ambil peminatan Indonesia ya? Lupa, gue kira anak perbandingan politik. Itu di H.504. Elu tungguin pas jam setengah sebelas aja. Mba Evi mah kalau ngajar suka kebablasan. Gak mau rugi. Keluarnya tepat waktu banget,” tukas Danu sambil menyeruput es teh manisnya.
“Waduh, Pak Irsyam sama Mas Syahran ngajak rapat jam sepuluh Nu buat penelitian Pilkada. Gue gimana ya? Masa gue telat? Mas Syahran bilang gue ditunjuk jadi koordinator lapangan sekalian cari staf lokal buat lima kabupaten.”
“Ah gila, banyak amat kerjaan lo. Yang sama Matsuoka Sensei udah kelar?” tanya Danu dengan wajah sedikit terkejut
“Yang di Banten ini pertama, tinggal ngerjain transkrip wawancaranya. Nanti ada dua Propinsi lagi, tapi masih lama. Mungkin selang waktunya sebulan-sebulan. Sensei mau bikin tulisan buat masukin ke jurnal internasional dulu kayaknya,” jawab Kosa.
“Kira-kira nama elu masuk gak ya Sa di jurnalnya si Sensei?”
“Ya udah sih, ketemuan sama Viranya siang atau sore juga gak apa-apa. Mungkin cewek kalo ada masalah biarin aja sendirian dulu, biar tenang. Sayang kalau elu ninggalin rapat penting begitu.”
Kosa terdiam. Hanya saja perasaannya begitu tidak enak mengenai Vira. Tidak pernah dirinya mendapati Vira seperti ini. Kosa mempercepat makannya meski tak lagi berselera. Namun tetap harus dihabiskan, teringat olehnya Vira yang mengajarkan demikian. Jangan pernah membuang makanan dan selalu menghabiskan makanan yang sudah dipesan.
Kosa mencuci tangannya dalam kobokan yang disediakan bersama sepotong kecil jeruk nipis. Dikeringkan tangannya dengan tisu dan segera membuka ponselnya. Lalu mulai mengetik pesan kepada perempuannya itu.
Vira sayang bagaimana sekarang? Sudah baikan? Abang mau ajak Vira makan siang besok. Tapi sebelumnya Abang ada rapat dulu sama Pak Irsyam dan Mas Syahran. Abang jemput dimana? Di kampus atau kost?
Kosa mengirim pesan itu ke Vira segera. Dilihatnya tanda centang dua berwarna abu-abu. Namun tertera di keterangannya bahwa Vira sedang online. Artinya Vira tidak tidur. Kosa sabar menunggu balasan, berharap tanda centang itu berubah menjadi warna biru. Namun ternyata tidak. Dan Vira tetap dengan status online-nya. Kosa menghela napasnya panjang-panjang.
“Kenapa Sa? Kagak dibales?” tanya Danu
“Apaan sih lo, kepo!”
“Udah sih tunggu besok, gak sabaran amat. Dibilang kalo cewek ngambek mah biarin aja sampe kelar ngambeknya, gak percayaan juga. Buruan deh bayar. Tadi gue nambah es teh manisnya. Ada kan lo duitnya?”
“Yaela segini doang sih ada lah Nu. Sekalian bawa cewek lo yang segambreng sih, gue masih sanggup.”
“Ah, belagu lo Sa!” tukas Danu dengan seringai wajah yang menunjukkan rasa puas karena kenyang.
-------------------------------------
Setelah meninggalkan Kosa di beranda, Vira langsung merebahkan dirinya di atas kasur. Mengusap wajahnya yang masih lengket dengan sisa-sisa air mata yang belum mengering. Bercampur dengan riasan dan minyak alami yang keluar dari wajahnya. Dihembuskannya napas panjang-panjang untuk menenangkan hatinya yang kalut dan pikirannya yang kusut masai.
Ketika melihat Kosa menunggunya di beranda rumah kost, sungguh Vira merasa begitu bersalah. Lelaki itu tampak begitu sumringah melihatnya. Tidak ada rasa marah bahkan ketika pesan-pesannya yang tidak pernah dibalas oleh Vira sejak jumat lalu. Tidak merasa marah ketika mendapati Vira diantar pulang oleh lelaki lain dan bahkan tersenyum menyapanya. Dan ketika Kosa menyerahkan tas etnik sebagai buah tangannya, Vira tak kuasa melepaskan tangisannya. Vira merasa menjadi perempuan yang tidak punya hati.
Dilihatnya ponsel dengan casing biru mudanya. Ada puluhan notifikasi dari salah satu aplikasi pesan popular. Ada beberapa pesan dari Mas Cokro dan juga panggilan tak terjawab. Pesan dari Gani juga ada, padahal baru saja mengantar dirinya pulang. Pesan Kosa yang menumpuk pun tak kunjung dibacanya.
__ADS_1
Hanya satu yang ingin Vira lakukan saat ini. Vira menelpon dengan video call ke Natha. Sepertinya hanya Natha yang bisa menjadi tempat keluh kesahnya.
Natha: “Eh, Vir. Kenapa? Mamah udah pulang jam tujuh tadi. Senang banget kayaknya.”
Vira: “Alhamdulillah. Gak kenapa-kenapa kan? Gue mau ngomong sama Mamah Nath!”
Natha: “Udah tidur dari tadi Vir. Pas Papah pulang aja, tetap tidur, gak bangun, kayaknya capek banget deh Mamah. Ada oleh-oleh nih, besok dibawain sama Mirna, dia berangkat besok pagi. Kuliahnya jam sebelas siang kayaknya tuh anak.”
Vira: “Mamah beli apaan Nath?”
Natha: “Gak tau tuh, kayaknya sama Tante Hana jadi gila belanja. Semua dibeli. Ada wortel segala, bengkuang, keripik pisang, keripik bayam lah. Lupa si Mamah kalau di rumah anaknya cuma tinggal gue doang.”
Vira: “Gue mau bengkuang Nath sama keripik pisang, lumayan buat ganjel perut kalo malem-malem lapar.”
Natha: “Eh gimana pestanya Gani? Tunangan kakaknya gimana? Ganteng gak? Pasti kaya raya ya Vir secara orang tajir ya carinya yang tajir juga.”
Vira terdiam mendengar kata-kata Natha barusan. Langsung air matanya mengalir deras dan suara isakan tangisnya terdengar keras.
Natha: “Eh Vir, elu nangis ya? Gue salah ngomong ya? Tadi emangnya gue ngomong apa? Vir, ah elo Vir koq jadi nangis sih”
Vira menangis sesegukan dan membuat Natha menjadi bingung.
Natha: “Vir, terus terang ya gue males kalo cuma nonton elu nangis, udah kayak artis ajta sih! Ntar elu telpon gue lagi kalau udah selesai nangisnya.”
Vira: “Tunggu Nath, huhuhu…. Gue mau cerita. Gue sedih banget Nath. Elu tau gak kalau ternyata, huhuhu…. Kalau ternyata tunangannya Kakaknya Gani itu ya Mas Cokro, huhuhu….”
Natha: “Wait, what? Ah gila aja. Beneran Vir? Loh koq bisa sih? Emangnya elu gak ngecek apa di surat undangan atau setidaknya elu nanya gitu sama Gani sebelum ke pesta. Ah, masa sih?”
Vira: (Dengan suara sesegukan) “Gue emang bego Nath. Tau gak, pas di sana, pas gue liat Mas Cokro di samping Mba Lydia, gue tuh kayak ditampar bolak-balik gitu. Gue berasa kayak selingkuhannya Mas Cokro. Gue tuh berasa kayak pelakor tau gak Nath.”
Natha: “Si Cokro tau gak kalo elu ke sana? Elu gak ngumpet kan?”
Vira: “Tau Nath, dia mukanya juga kaget gitu pas lihat gue. Mas Cokro bilang besok mau datang ke rumah buat jelasin semuanya ke gue. Apaan coba Nath? Ngapain juga dia bilang gitu. Memangnya dia kira gue gak bisa lihat semuanya apa. Dia pikir gue tuh apaan coba? Anak kecil yang bisa dimainin? Dia kejar-kejar gue gak taunya malah tunangan. Gue beneran kayak orang bego Nath. Gue jadi jijik sama diri gue sendiri.”
Natha: “Vir, elu gak kenapa-apa kan sekarang? Maksud gue, beneran gak apa-apa? Elu gak punya niat bunuh diri kan?”
Vira: “Apaan sih Nath, gue sedih banget tapi gak segitunya juga. Emang siapa dia, hidup gue terlalu berharga dikorbankan untuk cowok macam dia.”
Natha: “Ya baguslah, gue cuma mau mastiin aja. Kasihan ntar rumah kost-nya kalau elu bunuh diri di sana. Ntar elu gentayangan dan gak ada yang mau kost di sana. Bikin rugi Ibu kost aja!”
Vira: “Hahaha, ngaco lu Nath, sebel ah!”
Natha: “Ya udah besok gimana? Lo mau balik ke rumah nemuin Cokro?”
Vira: “Hahaha, yang benar aja Nath. Lu mau gue dengar permintaan maaf dia? Atau jangan-jangan dia bilang sebenarnya kalau dia terpaksa bertunangan dan dia cinta sama gue. Dia mau gue nungguin dia gitu? Dari awal juga gue udah menjauh dari dia, dan entah kenapa bisa ketemu lagi. Gue ….gue…gue…. huhuhu (kembali menangis sesegukan).
Natha: “Iiih Vir, udah sih ah, gak worth [berharga] banget ah nangis gara-gara cowok kayak gitu. Pacar bukan, masih mending lah kalau elu nangis gara-gara Kosa.”
Vira: “Whuaa, huhuhuhu….. [tangisannya semakin deras].
Natha: “Si Kosa udah tau? Ya ampun kasihan amat sih dia. Trus, elu diputusin sama Kosa?”
Vira: “Huhuhu… apaan sih lo Nath. Kosa, hiks… Kosa gak tau tapi pas gue pulang dianter sama Gani, Kosa udah ada di tempat kost gue. Nungguin gitu sambil bawa oleh-oleh. Gue itu kayak cewek brengsek Nath. Abis khianatin Kosa, eeh sesaat gue berpikir ketika Mas Cokro tunangan, gue beruntung masih punya Kosa. Jahat kan gue? Huhuhu…”
Natha: “Elu mau gue datang ke sana? Gue belum ada jadwal ketemu dosen pembimbing gue di kampus sih. Masih nunggu tanggal sidang. Tapi gak apa-apa demi elo. Nanti gue bawain es krim milo dan makan-makan biar stress elu hilang.”
Vira: “Gak usah Nath, gue gak apa-apa koq, cuma pengen curhat aja dan gue udah lega sekarang.”
Natha: “Ya udah, besok gue suruh Mirna ke kost-an elu buat antar bengkuang dan keripiknya. Elu mau es krim milo-nya gak?”
Vira: “Kamar kost gue gak kayak elu Nath, gak ada kulkasnya. Eh Nath, bilang sama Mamah ya kalau gue tuh sayang banget sama Mamah. Gue ngantuk Nath, udahan dulu ya!”
Natha: “Baik-baik Vir, jangan lupa sholat. Pokoknya jangan sampai bunuh diri.”
__ADS_1
Vira: “Hahaha….apaan sih Nath.”
Mata Vira sepertinya sudah ingin terpejam. Sisa air mata yang menempel di bulu matanya semakin berat. Ada kelegaan di hati Vira seusai bicara dengan Natha, kakak sekaligus sahabatnya. Dilihatnya notifikasi pesan yang masuk dari Kosa. Tak sanggup untuk membukanya, Vira membiarkan udara yang keluar dari putaran kipas anginnya mengantarkannya terlelap.