
^Kesempatan yang hilang
Gani menjemput Vira pukul empat sore. Seperti yang sudah disampaikan Gani sebelumnya kalau pesta kebun Lydia sifatnya semi formal, sehingga Vira tidak perlu bersusah payah mencari outfit yang cocok. Gani sendiri menyarankan agar menggunakan atasan batik berwarna cerah.
“Kamu cantik,” ucap Gani dengan senyum mengembang ketika mendapati Vira yang mengenakan celana bahan berwarna khaki yang dipadu blus batik tulis warna cerah.
Vira tersenyum senang, tidak sia-sia meminta Natha untuk merias wajahnya agar terlihat lebih cerah dan glowing untuk tampilan malam hari.
Sebenarnya Vira masih khawatir karena Mama belum juga pulang sejak kemarin. Nyaris saja Vira membatalkan undangan Gani dan Kak Lydia. Namun Natha dan Mirna meyakinkan Vira bahwa semua akan baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dirisaukan. Hanya saja Natha mengingatkan agar ponselnya jangan dibisukan agar mudah dihubungi.
Perjalanan minggu sore dari arah tol Bekasi Barat menuju Pondok Indah lumayan padat merayap terutama setelah melewati Jatiwarna dan Ragunan. Namun lapisan kaca hitam mobil yang dikendarai Gani seolah mengaburkan suasana kemacetan di luar. Yang tersisa hanyalah kenyamanan dan kelembutan kursi yang didudukinya. Gani tidak banyak bicara dan membiarkan alunan musik lembut membelai pendengaran mereka.
“Mas Gani waktu masih kuliah kos atau pulang balik?” tanya Vira membuka pembicaraan setelah sekian lama diam.
“Kos, di daerah Margonda,” jawab Gani singkat.
“Di mana Mas?” tanya Vira
Gani menyebutkan nama salah satu apartemen terkenal di Margonda yang ternyata diralatnya bukan tempat kost karena milik sendiri. Hanya saja setelah dirinya lulus, Gani tidak ingin menempatinya dan justru menyewakan melalui aplikasi. Bisnis kost atau apartemen memang cukup menguntungkan di Depok mengingat beberapa Universitas besar ada di sana dan jumlah mahasiswa selalu bertambah setiap tahunnya.
“Kamu sendiri kenapa kost? Kayaknya dulu pulang pergi ya?” tanya Gani
“Hahaha, ya gitu deh Mas, ada masalah, trus juga ada magang di Senayan, jadi repot banget kalau bolak balik Jakarta Depok Bekasi.”
“Kapan lulusnya Vir?”
“Kayaknya semester depan deh Mas, kepikiran juga mau selesai semester ini lewat jalur jurnal, tapi kayaknya agak repot. Mungkin paling lama semester depan.”
“Setelah lulus mau kerja jadi apa Vir?”
“Hahaha, pertanyaannya susah banget Mas. Ya gitu deh, belum tentu, sekarang paling diajakin ikut penelitian di kampus. Tapi kepikiran juga mau jadi jurnalis politik, siapa tau bisa liputan di istana,” jawab Vira.
“Kamu gak minat kerja di daerah?” tanya Gani dengan tatapan lurus ke depan.
“Dulu sih pernah kepikiran jadi guru di daerah terpencil, tapi kayaknya sekarang sudah mulai berubah, ada banyak hal menarik yang bisa dilakukan," jawab Vira.
“Mas Gani beneran pindah ke Riau? Selamanya?” tanya Vira.
Gani tersenyum. “Jakarta sudah terlalu padat Vir.”
Tidak terasa Gani membelokkan mobil ke salah satu jalan yang sepi di Kawasan Pondok Indah dan berhenti di salah satu rumah luas bertingkat dengan cat putih bersih. Lampu-lampu rumah mulai dinyalakan meskipun langit senja baru hanya mengeluarkan semburat merah dan belum gelap.
Ah, batin Vira. Rumahnya besar sekali dan itu belum termasuk halamannya yang mungkin bisa menampung sekitar 10 mobil untuk parkir. Gani bahkan mengatakan bahwa pesta kebunnya ada di belakang rumah. Vira menelan ludahnya. Tidak pernah terbayangkan olehnya dirinya akan masuk ke rumah sebesar ini, hanya sebatas melihat di televisi atau majalah saja sebelumnya. Pengusaha dan politisi, kombinasi luar biasa untuk menjadi kaya raya di Indonesia, batin Vira.
Setelah dibuka oleh satpam, Gani memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Tampak beberapa mobil berjejer rapi, dan semuanya mobil mewah. Dari garasi terdapat dua pintu menuju dalam rumah dan satunya menuju kebun belakang. Gani mengajaknya ke dalam rumah. Pintu menuju arah kebun terbuka lebar dan tampak aktivitas orang yang hilir mudik. Sepertinya mereka yang sedang mengurus pesta kebun.
“Mau maghrib Vir, sekalian sholat berjamaah ya!” ajak Gani dan Vira hanya mengangguk.
Mengikuti Gani, Vira masuk ke dalam rumah. Pintunya ternyata tersambung dengan ruang makan dan dapur bersih. Gani mempersilahkan Vira duduk di sofa ruang keluarga. Sofa kulit berwarna putih gading yang terkesan mewah dengan pendaran chandelier yang tergantung di atasnya. Sofanya luar biasa empuk, seolah menyuruh Vira untuk bermalas-malasan di atasnya.
__ADS_1
Gani izin untuk ke kamarnya yang berada di lantai atas. Meninggalkan Vira sendirian. Di depan matanya tampak dinding pembatas kaca yang dilapisi vitrase putih panjang menjuntai. Tampak bayang-bayang orang yang lalu lalang. Sepertinya itu halaman belakang yang tersambung dengan kolam renang.
Vira melihat ke arah sekeliling yang didominasi warna putih dan pendaran warna emas. Ada foto Pak Herman Sasongko dan keluarganya dengan ukuran sangat besar terpasang di dinding ruang keluarga. Ternyata ada anak laki-laki lain yang belum pernah dilihatnya. Wajahnya tegas dengan sorot mata tajam bila dibandingkan dengan Gani yang lembut dan menenangkan.
“Maaf, non ini siapa ya?” tanya perempuan paruh baya yang tiba-tiba mengagetkan Vira.
“Oh maaf. Saya Vira, temannya Mas Gani. Saya diundang Mba Lydia ke pestanya,” jawab Vira tampak sedikit sungkan.
“Non Vira mau langsung ke kebun belakang? Belum ada orang di sana, masih pegawai katering dan panitia saja. Non Lydia masih di jalan sepertinya, calon tunangannya Non Lydia dan keluarganya juga belum datang. Pak Herman dan Nyonya juga masih di kamar,” jelas perempuan paruh baya itu lagi.
“Saya nunggu Mas Gani aja Bu, mau sholat berjamaah katanya,” sahut Vira.
“Non bawa mukenanya? Di rumah ini yang sholat hanya Mas Gani. Kalau gak bawa bisa pinjam punya saya saja. Itu kalau non mau.”
“Saya pinjam punya Ibu saja kalau boleh. Mukena saya ada di mobil Mas Gani. Mohon maaf kalau merepotkan,” pinta Vira.
“Saya letakkan di kamar tamu ya Non. Nanti non bisa sholat di sana,” ujar perempuan paruh baya itu sembari menunjuk ke arah koridor menuju kamar khusus tamu.
Tampak Gani turun dari lantai dua menuju ke arahnya, membawa sajadah dan sarung. Wajah dan rambut Gani tampak sedikit basah. Sepertinya Gani sudah mengambil wudhu.
“Vir, bawa mukena?” tanya Gani.
“Sudah dipinjam sama Ibu, katanya mau ditaruh di kamar tamu,” jawab Vira.
“Oh, sudah ketemu sama Bi Yun? Nanti Vira bisa wudhu di toilet kamar tamu saja.”
Gani menjadi imam sholat untuk Vira. Mereka pernah sholat bersama sebelumnya di Mall, namun berdua hanya menjadi makmum. Kini mereka hanya berdua. Ini pertama kalinya Gani menjadi imam sholat bagi perempuan. Perempuan yang pernah dipilih untuk dipinang dirinya. Ada rasa yang hadir pertama kali dalam dirinya. Entah rasa apa, Gani tidak memahaminya, dan ini lebih dari sekedar rasa bahagia yang pernah ia rasakan sebelumnya. Jika waktu bisa berhenti di sini atau waktu yang berpihak kepadanya dan menjadikan perempuan ini miliknya. Gani hanya bisa berharap dalam doa.
Selepas sholat, Gani meninggalkan Vira sendiri di kamar tamu. Vira kembali merapikan riasannya dengan menyapu sedikit bedak padat dan menambah pemulas bibir dengan warna pink nude. Setelah memastikan rapi baru Vira kembali ke ruang tamu. Gani sedang duduk menunggu di sofa kulit ruang keluarga.
“Mau nunggu di mana Vir? Di sini atau di kebun belakang?” tanya Gani sambil tersenyum hangat.
“Di mana saja gak masalah koq Mas. Tapi di kebun juga boleh, lebih ramai. Di sini sepi, gak ada orang,” ujar Vira meringis.
“Di sini selalu sepi Vir, pas kamu datang jadi ramai,” ujar Gani dengan nada bercanda yang membuat Vira tersenyum.
Kebun belakang rumah Gani ternyata sangat luas. Bukan hanya kebun dengan rumput hijau mini yang terpangkas rapi dan tanaman hias ala taman Jepang saja, tapi juga teras yang luas yang menghadap ke arah kolam renang. Tampak pegawai katering menyusun meja-meja bundar yang sudah dilapisi kain taplak putih. Ada vas dengan bunga mawar segar dan lilin aroma di setiap mejanya.
Di bagian teras terdapat meja panjang berbentuk huruf L yang berisi aneka makanan dan minuman. Lampu-lampu taman tambahan yang terpasang di beberapa bagian taman membuat suasana menjadi romantis.
Vira mengambil meja yang paling pojok belakang, dekat dengan pintu menuju garasi. Pilihan meja ini membuat Gani menatapnya.
“Kenapa pilih di sini?” tanya Gani heran.
Vira meringis. “Maaf Mas, kayaknya undangan acaranya terbatas dan Vira sepertinya bukan kerabat atau pun tamu khusus. Jadi sebaiknya di belakang saja.”
“Setiap meja ada papan namanya. Sepertinya kita ditempatkan di depan. Jangan khawatir, kamu itu tamu khusus saya dan Kak Lydia, jadi tidak perlu merasa sungkan.” Gani kemudian mengajak Vira menuju meja di barisan depan.
Setiap meja terdiri dari empat kursi, namun di meja Vira hanya ada tiga papan nama saja. Ganindra, Elvira, dan Bagas. Gani menjelaskan bahwa Bagas adalah adik dari Mas Adjie, calon tunangan Kak Lydia. Dua meja yang menjorok ke depan dekat panggung kecil diperuntukkan bagi kedua pihak orang tua dan kedua pihak yang akan bertunangan. Meja Gani dan Vira persis berada di belakang meja Kak Lydia dan calonnya.
__ADS_1
Jam digital di lengan Vira menunjukkan angka 18.45 dan acara akan dimulai pukul tujuh malam. Lima belas menit lagi acara dimulai namun meja di kebun hanya terisi oleh Gani dan dirinya. Tamu-tamu lain belum juga tampak batang hidungnya. Vira teringat dengan Mamah, apakah sudah pulang atau belum. Segera diperiksa ponselnya dan tampak tidak ada pesan dari Natha maupun Mirna.
“Kenapa Vir? Sepertinya ada yang dipikirkan. Kamu gak kenapa-apa kan?” tanya Gani memastikan.
Vira tersenyum dan menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa dirinya baik-baik saja.
Beberapa tamu sudah mulai masuk melalui pintu teras belakang. Tampak sepasang suami istri muda dengan dua anak kecil menggemaskan masuk dan duduk di meja yang terletak persis di sebelah meja Vira. Ini berarti saudara dekat dari keluarga. Vira menebak bahwa mereka adalah kakak dari calon tunangan Kak Lydia. Benar saja, Gani langsung mendatangi mereka dan bersalaman, mengucapkan selamat datang.
Ada beberapa tamu seusia Pak Herman dan Bu Ruth yang kemungkinan adalah kerabat atau rekan bisnisnya. Tiga orang perempuan usia kepala tiga dan satu pria sebaya mungkin sahabat Kak Lydia. Satu per satu meja terpenuhi. Kecuali meja untuk orang tua dan calon yang akan bertunangan.
Vira nyaris terkejut ketika ada seorang lelaki muda tinggi besar yang menghampiri dan duduk di mejanya. Menyapa Gani dan sedikit berbasa-basi.
“Mas Bagas, ini kenalin Vira, teman baik saya dan Kak Lydia,” ujar Gani yang disambut uluran tangan Bagas ke arah Vira. Bagas menggenggam tangan Vira dengan kuat.
“Gak nyangka Gani ya, sebentar lagi menyusul,” sahut Bagas dengan nada provokatif yang dibalas dengan senyuman Gani. Vira sendiri tidak mengerti apa yang dimaksudkan.
"Vir, Mas Bagas ini adiknya Mas Adjie, calonnya Kak Lydia. Sekarang juga lagi ambil master manajemen di UI juga. Benar kan ya Mas?"
“Oh, satu kampus juga. Masih kuliah atau sudah lulus bareng Gani?” tanya Bagas kepada Vira
“Eeh, iya Mas. Saya masih kuliah,” jawab Vira pelan dengan sedikit malu-malu.
“Dimana? Sama-sama Fakultas Teknik?”
“Bukan Mas, saya anak FISIP.”
“Komunikasi atau HI?”
“Saya Politik Mas,” jawab Vira.
“Waah, cocok lah sama calon mertua ya Gan,” seloroh Bagas.
Vira merasa ada kesalahpahaman mendengar ucapan lelaki itu yang menyangka bahwa Vira adalah pacarnya Gani. Ingin rasanya mengklarifikasi tapi tampak Gani tidak merasa keberatan dan hanya tersenyum saja. Akhirnya Vira membiarkan, toh lelaki ini juga tidak ada hubungan dengan dirinya. Tidak perlu penjelasan apapun.
Vira memandang sekeliling dan tamu undangan sudah memenuhi kursi di meja yang disediakan. Tampak seorang perempuan dan laki-laki menjadi pemandu acara membuka percakapan yang menandakan acara akan segera dimulai. Tampak Pak Sasongko dan Ibu Ruth beserta sepasang suami istri paruh baya masuk secara bersamaan dan duduk di depan meja Vira. Sekilas Ibu Ruth menatap Vira dengan sorot mata lembut namun penuh rasa ingin tau. Ini membuat Vira menjadi sedikit salah tingkah.
Tiba pemandu acara menyebutkan nama yang terasa familiar di telinga Vira dan tampak ada sosok pasangan dewasa yang cantik dan ganteng memasuki ruangan. Sang perempuan menyunggingkan senyuman terbaiknya dan sang lelaki dengan wajah dan nama familiar bagi Vira hanya tersenyum simpul. Sang perempuan berjalan dengan wajah yang menyapa semua tamu yang datang sedangkan sang lelaki hanya menatap lurus ke depan.
Vira menyadari benar siapa sosok dengan nama dan wajah familiar dengan pasti ketika keduanya mendekat dan duduk di dekat mejanya. Sontak, suhu tubuhnya berubah menjadi dingin, wajahnya memucat, dan lidahnya menjadi kelu. Vira langsung menunduk. Sungguh rasanya Vira ingin lari saja dari sini namun kakinya seolah terpatri, membuatnya tidak bisa bergerak.
“Vir, Vira, kamu gak apa-apa?” tanya Gani dengan suara pelan.
“Kenapa Gan cewek lu? Sakit?” tanya Bagas yang ternyata memperhatikan.
Dengan wajah tertunduk, ditariknya napas panjang-panjang. Vira mencoba menenangkan emosi yang berkecamuk dalam dirinya. Menguraikan benang-benang yang kusut yang memusingkan dalam pikirannya.
Sekelebat kepingan wajah Mas Cokro mulai dari Annapurna sampai ciuman mereka kemarin malam mulai tersusun dan kepingan akhirnya wajah yang dirinya lihat saat ini, bertunangan dengan anak perempuan bos tempatnya magang, kakak perempuan dari lelaki yang pernah melamarnya.
Seolah apa yang terjadi di depan matanya seperti sebuah skenario yang disusun begitu jeli, sebuah karma untuk dirinya. pembalasan yang sungguh menyakitkan perasaannya yang baru saja dimulai terhadap lelaki itu. Skenario yang melibatkan orang-orang yang kini dekat dalam kehidupannya. Sungguh kehidupan seperti sedang memusuhinya saat ini.
__ADS_1