Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Good Things Come to Those Who Wait


__ADS_3

^Hal baik datang untuk orang yang sabar


Hanya Vira, Kosa, dan Cokro yang menyantap sajian sushi yang tersedia di meja. Sepertinya Gani dan Mba Lydia sudah lebih dulu makan sebelum mereka datang.


Lydia sedari tadi sibuk dengan gadgetnya. Wajahnya menunjukkan ekspresi serius sehingga Vira tidak berani untuk membuka percakapan. Hanya sesekali Lydia bertanya kepada Kosa dan Kosa sepertinya senang untuk menanggapinya.


“I’m sorry I left you all. My staff is over there. Pardon [maaf ya ditinggal, ada staf kantor lagi nunggu di luar. Maaf sekali lagi],” ucap Lydia seraya menunjuk ke arah luar. Kosa refleks berdiri dan kemudian memberikan jalan kepada Lydia untuk keluar dari tempat duduknya.


Kini hanya tinggal Vira dengan tiga lelaki yang mengelilinginya. Vira yang diapit oleh Gani dan Cokro berhadapan dengan Kosa. Entah mengapa Vira merasa situasi ini seperti ruang sidang yang siap menghakiminya. Rona pucat di wajah Vira pun tak kunjung memudar.


Tiba-tiba Gani membuka tas ranselnya yang berwarna biru tua. Ada amplop besar khusus dokumen berwarna coklat muda yang dikeluarkan.


“Vir, ini….” Gani menyodorkan amplop besar itu ke Vira.


“Eh, iya Mas. Ini buat Vira? Maksudnya, ini benar buat Vira?” tanya Vira yang agak sedikit terkejut.


Gani mengangguk. “Bukanya nanti saja kalau Mas sudah naik pesawat.”


Vira mengangguk dan terdiam. Dimasukkannya amplop coklat itu ke dalam tas ranselnya. Situasi dan pemberian Gani ini membuat semua rasa yang berkelindan di hatinya menjadi tak tentu. Suasana menjadi aneh dan sedikit kelabu.


“Mas Gani sudah mau masuk area boarding?” tanya Vira.


Gani melirik jam tangan analog yang melingkari lengan kirinya.


“Sudah waktunya,” gumam Gani pelan.


“Mas Gani gak nunggu Mb Lydia dulu?” tanya Vira.


“Gak apa-apa. Santai saja. Kak Lydia jadwalnya padat, biarkan saja,” ucap Gani dengan nada bijak.


Gani kemudian berdiri, memasangkan ranselnya dan menaruh ponselnya di saku depan celana bahan yang berwarna khaki.


Vira ikut berdiri dan juga memakai ranselnya.


“Mas Cokro, Kosa, saya izin duluan. Tidak perlu repot ikut mengantarkan ke boarding gate,” ucap Gani sambil tersenyum dengan tubuh sedikit membungkuk.


Gani kemudian berjalan ke arah pintu keluar dan diikuti oleh Vira. Baik Kosa maupun Mas Cokro tidak beranjak dari kursinya. Kedua lelaki ini paham, meskipun mereka tidak mengetahui hubungan apa yang terjadi antara Gani dan Vira, namun untuk saat seperti ini Gani membutuhkan waktu untuk bicara dengan Vira secara privat, hanya mereka berdua.


Gani berjalan berdua dengan Vira dengan pelan, beriringan. Ada rasa berat yang menggelayuti kaki Gani untuk melangkah. Tak ada suara yang keluar di antara mereka berdua.


Meski banyak orang lalu lalang, suara pengumuman, tangisan anak, dan suara berisik lainnya di sekitar mereka, tapi Gani merasakan suasana menjadi begitu sunyi. Waktu seperti lambat bergerak. Mungkin memang ini yang dinginkan untuk saat ini.


Tidak pernah sekali pun Gani menyentuh dirinya. Bahkan ketika Gani menatapnya, selalu dengan sorot mata yang sopan, penuh pengharapan yang berbaur dengan kepasrahan. Lelaki yang begitu baik yang pernah dikenalnya.


Sungguh Vira terkejut, ketika di depan boarding gate, tangan Gani mengambil jemarinya dan menggenggamnya dengan penuh kelembutan. Tangan yang halus dan agak dingin.


“Mungkin Vira mau membaca dan mempertimbangkan lagi proposal yang Mas ajukan,” pinta Gani dengan tatapan lembut.


Hanya sekejap, tanpa menunggu jawaban, Gani melepaskan genggaman tangannya dan kemudian berjalan menuju pintu masuk boarding gate. Dikeluarkannya ponsel untuk menunjukkan e-tiket kepada penjaga lalu berjalan lurus tanpa melihat lagi ke arah Vira.


 

__ADS_1


Hanya Kosa dan Mas Cokro yang tertinggal di meja itu. Ditemani piring dan gelas yang sudah kosong dengan sumpit bambu dengan noda saus kecap asin yang tertinggal.


Bahkan Lydia tidak meninggalkan barang pribadinya yang menjadi alasan bagi Kosa untuk tetap menunggu di sana. Kosa menyadari benar sosok lelaki yang ada dihadapannya ini. Sosok yang pernah dia temui di Bandara dahulu saat menjemput Vira sepulang dari Annapurna dan yang bertamu ke rumah Vira. Sosok yang pernah membuat amarah di dadanya bergolak.


Kosa menyadari adalah hal yang wajar untuk mencintai seseorang. Cinta itu hadir dan tidak bisa dipaksakan. Seperti dirinya yang mencintai Vira. Seperti itu juga lah lelaki yang saat ini ada dihadapannya, yang menurut Kosa juga menaruh hati kepada Vira, ataupun sosok lelaki yang bernama Gani tadi yang juga menurutnya memiliki perasaan yang sama.


Kosa memahami mungkin dalam situasi seperti ini Vira lah yang paling menderita. Tetiba Kosa berpikir apakah memang situasi ini yang membuat Vira menangis dan bersedih kemarin. Entahlah. Hanya saja saat ini Kosa bersyukur bahwa dirinya lah yang menjadi pemilik cinta Vira dan berharap bahwa memang dirinya lah yang pantas untuk mendapatkan cinta itu.


Tampaknya Kosa tidak perlu berlama-lama berdua dengan lelaki ini. Suasana suram dan sunyi dan tidak ada seorang pun yang bicara.


“Mas, saya keluar dulu ya!” pamit Kosa sambil mengenakan ranselnya.


Kosa langsung berjalan tanpa perlu mendengar jawaban dari Cokro. Meninggalkan Cokro seorang diri.


 


Bertemu dengan Vira hari ini di Bandara adalah suatu hal yang membahagiakan. Meski Vira tampak sedikit pucat, Cokro menganggap itu adalah hal yang wajar karena situasi ini menghadirkan lelaki yang masih menjadi pacar Vira, Gani, dan Lydia.


Sejak pertemuan terakhir mereka di acara pertunangan Cokro, Vira sama sekali sulit dihubungi. Tidak ada satu pun pesan chat dari Cokro yang dibalas, puluhan panggilan yang tidak terjawab, dan bahkan ketika Cokro datang ke rumah Bekasi, tidak ada tanda-tanda kehadiran Vira di sana.


Seharian Cokro menunggu di Bekasi tanpa rasa malu hanya untuk mendapatkan kabar dari Vira tapi tak seorang pun yang mau memberikan kabar ataupun alamat kost Vira di Depok. Tidak Mama, Natha, ataupun adiknya Vira, Mirna.


Keputusan Cokro untuk memutuskan pertunangan yang baru berlangsung beberapa jam itu ditentang Bapak dan Ibu. Rasa malu dan nama baik keluarga menjadi alasan Ibu yang mengancam akan bunuh diri jika Cokro melakukannya. Bapak hanya diam seperti biasa namun dari sorot matanya menunjukkan kekecewaan yang luar biasa. Cokro hanya bisa terdiam.


Ada banyak yang ingin Cokro jelaskan kepada Vira dan berharap Vira mau mendengar atau memahami situasi apa yang sedang mereka hadapi. Tapi tampaknya tidak mudah. Ketika dilihatnya Gani memberikan amplop besar kepada Vira, sungguh itu mengusik hatinya. Apa hubungan antara Gani dengan Vira? Mengapa Vira bisa hadir dan duduk bersama Gani di acara pesta itu? Kini Vira mengikuti Gani menuju boarding gate, meninggalkannya tanpa sepatah kata pun.


Cokro sedikit menoleh ke arah Kosa. Tampak lelaki itu terlihat biasa saja dan sibuk memainkan ponselnya. Raut dan ekspresi wajah yang ditampilkan terlihat berbeda dari pertemuan terakhir mereka. Terlihat lebih dewasa dan percaya diri. Entah apa yang dipikirkan lelaki itu. Apakah dia sudah mengetahui hubungannya dengan Vira? Apakah Vira menceritakan peristiwa yang terjadi kemarin ini? Cokro hanya terdiam ketika lelaki itu meninggalkannya sendiri di meja ini.


 


Entah apa yang Vira lakukan, mengapa begitu banyak lelaki yang tidak biasa menurutnya bisa menyukai Vira. Kosa paham bahwa dirinya pun begitu sayang dengan Vira, dengan kepribadian Vira, dengan pemikiran Vira, dengan kepandaiannya, dengan perilakunya, dengan sifatnya. Apakah Vira menunjukkan itu semua kepada semua laki-laki yang dikenalnya?


Kosa menghela napas panjang. Tak ingin dirinya larut dalam kecemasan dan kecurigaan. Tak pantas pula bagi dirinya untuk meminta penjelasan atas semua ini kepada Vira. Meskipun ada rasa sakit dalam hatinya, namun Kosa tetap harus meyakini bahwa dirinya adalah tempat Vira melabuhkan hati.


Ketika Gani sudah melangkah masuk ke boarding gate, Kosa menghampiri dan menggenggam jemari Vira. Vira menatapnya dengan senyum. Kosa melihat ada rona kesedihan dari sorot mata yang dipancarkan Vira, hanya itu dan tidak lebih. Ini membuat Kosa lega.


“Vira mau pulang?” tanya Kosa lembut.


Vira tersenyum dan mengangguk.


“Abang, tadi ketemu sama Mb Lydia gak di dalam?” tanya Vira karena tiba-tiba teringat Kakaknya Gani tersebut.


“Vira gak enak kalau gak pamit sama Mb Lydia. Jadi bagaimana ya Bang? Apa kita tunggu saja ya?” tanya Vira lagi.


“Kamu hubungi saja pakai telpon, takut orangnya malah sudah pulang,” ujar Kosa.


“Yaaah, Vira gak punya nomornya,” seru Vira menyesal.


“Yasudah, gak apa-apa. Nanti kalau ada kesempatan bertemu lagi, Vira bisa minta maaf kalau pulang duluan tanpa pamit,” ucap Kosa dengan nada bijak.


Namun tetiba suasana berubah ketika sosok lelaki yang ditinggalkan Kosa sendiri itu hadir di depan mereka.

__ADS_1


“Vir, apakah Mas boleh bicara sebentar?” pinta Cokro.


Sungguh Kosa menyadari keterkejutan Vira atas kehadiran lelaki itu di depan mereka. Sorot mata Vira memancarkan rasa takut dan cemas yang melebur menjadi satu. Matanya menyiratkan permohonan agar Kosa segera membawa Vira keluar dari suasana ini.


“Sebentar saja Vir, Mas cuma mau bicara sebentar saja. Mas janji!” pinta Cokro dengan penuh permohonan.


Entah apa yang membuatnya demikian, Kosa mendekat seolah memeluk Vira dan berbisik lembut di telinganya yang berbalut kain. “Gak apa-apa, bicara saja, Abang tunggu di sana ya!” ucap Kosa.


Kosa berjalan sedikit menjauh dan memberikan kebebasan kepada Vira untuk bicara dengan lelaki itu . Meski rasa cemburu dalam dirinya begitu besar dan perasaan tidak suka menyelimuti hati, tapi Kosa merasa bahwa Vira harus bisa menyelesaikan masalahnya dengan lelaki itu. Kosa pura-pura bermain dengan ponselnya, meski pikirannya berkelana tanpa arah.


 


Vira terdiam. Digigitnya bibir bawah yang sedikit kering tanpa lapisan pelembab atau pewarna apapun. Ada kecemasan yang tidak mau pergi dari dirinya ketika berhadapan dengan Mas Cokro.


“Kita bicara di dalam saja,” ajak Cokro seraya menarik tangan Vira menuju salah satu restoran terdekat.


Vira mengelak dan menghentakkan tangannya pelan agar terlepas dari genggaman Cokro.


“Di sini saja Mas. Kalau Mas maksa di dalam, Vira gak mau bicara sama Mas Cokro,” ucap Vira dengan nada sedikit keras.


Sungguh Vira takut jika hanya berdua dengan Mas Cokro dan jauh dari Kosa maka pertahanan dirinya akan hancur. Vira yakin bahwa Mas Cokro akan mudah untuk mempengaruhinya dan membolak-balikkan perasaan Vira menjadi kian tak menentu.


Cokro terdiam lalu menarik napas panjang. Tampak terlihat Cokro mulai menyusun kata-kata yang ingin disampaikan.


“Vir, baca pesan dari Mas. Mas sudah jelaskan panjang lebar di sana. Mas memang salah, tapi Mas minta Vira mengerti. Ini tidak seperti yang Vira kira. Mas tidak pernah memainkan perasaan Vira. Sungguh Mas tulus mencintai Vira.”


Cokro kembali menghela napasnya. Dilihatnya wajah Vira yang penuh dan kekecewaan dan enggan menatap wajahnya. Cokro melihat situasi ini sungguh tidak menguntungkan dirinya.


“Vir, percaya sama Mas ya! Mas yakin nanti kita bisa menemukan jalan keluarnya asal Vira percaya sama Mas. Jangan pergi. Jangan tinggalin Mas ya!”


Vira tetap terdiam dan bingung untuk mengatakan apa. Dirinya begitu sulit untuk mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Mas Cokro.


“Tidak ada yang salah dari perasaan kita berdua. Hanya saja memang waktunya tidak tepat. Mas yakin kita akan menemukan jalan keluarnya. Vir, Vira harus dengar Mas ya, harus percaya!” ucap Cokro dengan penuh pengharapan.


Ada ketakutan dalam setiap kata yang diucapkan Cokro kepada Vira. Ketakutan bahwa Vira tidak lagi memedulikannya.


Kini Vira yang menghela napas. Tak ingin ia berpanjang lebar karena memang seluruh bagian dirinya ingin segera menjauh dari lelaki ini.


“Mas, Vira gak tau harus jawab apa. Buat Vira semuanya cukup jelas. Dari awal memang sudah salah. Vira cuma berharap Mas Cokro dan Mba Lydia bahagia dan Vira juga sudah bahagia saat ini. Mas Cokro gak perlu cari jalan keluar. Jika memang ternyata kita memang ditakdirkan bersama maka selalu akan ada jalan yang mempertemukan kita.”


Vira terdiam sebentar dan mengatur napasnya dengan baik.


“Vira bersyukur pernah bertemu dengan Mas Cokro yang baik, yang memberikan begitu banyak rasa dalam kehidupan Vira. Meskipun jika hanya sampai di sini, maka itu memang yang terbaik untuk Vira dan Mas Cokro. Vira harap Mas Cokro menghargai apa yang jadi keinginan Vira juga dan tidak memaksakan kehendak Mas ke Vira.”


Baik Vira maupun Mas Cokro kini terdiam. Tidak ada satupun kata-kata yang ingin disampaikan lagi. Seolah apa yang dikatakan Vira menjadi penutup dari kisah mereka.


Cokro tersenyum namun penuh kepahitan. Bukan seperti ini akhir dari kisahnya bersama perempuan manis yang berdiri di depannya. Situasi di tengah keramaian dan waktu yang pendek ini mempersempit ruang Cokro untuk meyakinkan Vira.


Cokro berharap selepas ini, dirinya masih bisa berhubungan dengan Vira walaupun dengan cara yang berbeda. Sulit untuk Cokro membiarkan Vira lepas dari dirinya.


Vira begitu terkejut ketika Cokro menarik tubuhnya dan mendekap dengan begitu erat. Dekapan yang menandakan perasaan takut kehilangan.

__ADS_1


“Sebentar saja Vir, sebentar saja Mas memeluk Vira. Sebentar saja!” bisik Cokro pelan dan lembut.


__ADS_2