
^Menerima dengan lapang dada
Akhir pekan Metropolitan Mall selalu dipadati pengunjung. Sudah lama dirinya tidak menjejakkan kaki di salah satu pusat hiburan di Kota Bekasi ini. Vira masih setia duduk di boncengan Vespa abu tua milik Kosa, menyusuri jalan masuk di basement untuk mencari parkir yang kosong.
Ketika sampai di depan restoran tempat pertemuan dengan anak-anak Papah, Kosa berbisik pelan “Abang ke toko buku ya, nanti kalau sudah selesai, chat Abang aja ada dimana, biar Abang yang samperin Vira.”
Vira mengangguk tanpa menjawab. Dirinya masih sungkan untuk bermanja dengan Kosa karena peristiwa tadi. Vira masuk melangkah ke dalam tanpa memandang lagi ke arah Kosa.
Tatapan Vira mengarah ke meja persegi yang terdiri dari enam kursi di pojok yang berbatasan dengan partisi berwarna coklat kayu. Ada Papah, Natha, Mirna, dan dua anak laki-laki yang sudah menunggu.
Dengan tersenyum, Papah melambaikan tangan agar Vira segera menuju ke sana.
Diciumnya punggung tangan lelaki paruh baya dengan sedikit kumis dan janggut yang berwarna putih kelabu. Uban di rambutnya juga tampak merata hadir di sela-sela rambut hitamnya yang memudar.
“Maaf terlambat Pah, tadi lama cari parkirnya.”
“Bohong Pah, tadi berantem dulu sama pacarnya,” Mirna menyela sambil memanyunkan bibirnya.
“Issh apaan sih Mir, diam deh!” tukas Vira kesal.
Vira mengambil kursi kosong yang tersedia di barisan Natha dan Mirna. Tepat di hadapannya, duduk remaja laki-laki bertubuh tinggi dengan garis wajah Papah terutama saat muda. Garis wajah yang juga tercetak pada ketiga anak perempuannya. Di sebelah kanan sepertinya si anak bungsu. Anak lelaki itu sepertinya masih duduk di bangku sekolah lanjutan pertama. Wajahnya tidak terlalu mirip Papah, mungkin lebih banyak mengambil gen ibunya.
Papah memperkenalkan anak lelakinya yang besar dengan nama Raditya yang duduk kelas satu sekolah menengah atas dan si bungsu Reza yang masih kelas satu sekolah lanjutan pertama. Baik Natha, Vira, maupun Mirna tampak tidak terlalu antusias dengan perkenalan ini. Kedua anak lelaki Papah juga tampak sama, lebih banyak diam dan sesekali melihat ke ponselnya.
“Papah ingin kalian bisa saling mengenal. Kalian bersaudara, kelak nanti bisa saling membantu.”
“Kenapa Papah baru kenalinnya sekarang sih? Sudah sebesar ini juga. Berapa kamu umurnya eh, tadi siapa namanya?” tanya Natha menatap ke arah Raditya. Suara Natha terdengan sedikit meninggi namun tetap tenang.
“Radit, Kak!”
“Kamu tujuh belas tahun kan?” tanya Natha kembali.
“Enam belas Kak!” jawab Raditya cepat menanggapi pertanyaan Natha.
“Ya ampun deh, selama itu Papah menyembunyikan anak Papah dari kita. Bedanya cuma berapa tahun sih Pah dari Mirna? Tiga tahun loh Pah!” ucap Natha dengan sedikit intonasi yang ditinggikan.
Papah tersenyum. Sepertinya sudah siap jika anak-anak perempuannya akan bertanya banyak hal terkait masalah ini.
“Pah, kenapa kalau kita pulang ke rumah, Papah selalu tidak ada. Sekalinya ketemu malah begini. Ketemu orang tua sendiri koq pakai janjian segala,” sergah Mirna.
Belum sempat lelaki yang disebut itu Papah menjawab, dua orang pramusaji berseragam coklat datang membawakan berbagai makanan dan menghidangkan di atas meja.
“Kita makan dulu ya, baru nanti kita ngobrol tentang semuanya. Papah janji akan menjawab semua yang kalian tanyakan!”
Lelaki paruh baya itu menyadari benar bahwa seluruh anaknya begitu suka makan. Istri pertamanya memang memanjakan keluarga dengan masakannya. Tak heran jika anak-anak perempuannya terbiasa makan enak dengan porsi besar. Sedangkan istri keduanya tidak pandai memasak, namun ada asisten yang memasak untuk kedua anak lelakinya yang sedang tumbuh besar. Lelaki itu memandang semua anaknya dengan penuh senyum.
Suasana dalam pertemuan ini memang tidak seperti yang diharapkan, meskipun tidak pula seperti yang dirinya takutkan. Tidak ada satu pun dari semua anak-anaknya yang antusias untuk saling berkenalan. Namun setidaknya, lelaki paruh baya ini bersyukur anak-anaknya masih mau untuk datang dan bertemu. Rasa takut yang menghampiri hampir delapan belas tahun lamanya perlahan mulai terkikis. Ibu dari anak-anak perempuannya sudah mengetahui dan menerima situasi ini. Anak-anaknya pun tidak menolak untuk bertemu. Dirinya berharap semua akan lebih baik di masa mendatang.
“Mir, itu ayam saus wijennya pindahin ke sini Mir. Ini Pokchoynya sudah habis, disingkirin aja piringnya. Papah mau ayamnya gak? Radit sama Reza?” tawar Vira ketika menyadari sepertinya semua begitu lahap menyantap sajian oriental yang terhidang di meja ini.
__ADS_1
“Kak Vira gak apa-apa makan sebanyak ini? Nanti gak makan lagi sama Kak Kosa?” tiba-tiba Mirna mengingatkan.
“Tenang aja Mir, Vira tuh perutnya seluas Samudera Hindia,” timpal Natha dengan mulut penuh.
“Kayak elu enggak aja Nath, kita semua keturunan yang sama. Sama-sama doyan dan kuat makan,” balas Vira.
“Radit sama Reza suka makanan oriental kayak gini?” tanya Vira memecah kebisuan dari kedua anak lelaki Papah.
“Eh, iya Kak,” jawab Radit pendek. Reza sang adik hanya mengangguk.
“Mamah kalian suka masak kayak gini juga,” tanya Vira lagi mencoba mencari-cari cara memperpanjang percakapan agar tidak bosan.
“Hhmm, tidak pernah Kak, Bunda gak suka masak tapi Ayah sering ajak kita makan di luar,” jawab Radit.
“Ooh panggilannya Ayah Bunda ya? Bukan Papah Mamah?” tanya Mirna.
“Eh, iya Kak,” jawab Radit lagi dengan pelan yang membuat Vira merasa bahwa kedua adik lelaki beda ibu ini adalah tipe lelaki pemalu.
“Rez, koq gak ada suaranya? Jangan takut sama kakak-kakak perempuan kamu. Mereka terlihat galak tapi sebenarnya baik hati,” ucap Papah kepada anak lelaki bungsunya yang hanya mengangguk sebagai jawabannya.
Hanya pembicaraan basa-basi yang saling diucapkan sepanjang mereka menyantap hidangan. Baik Natha, Vira, maupun Mirna sama-sama mengerti bahwa bertemu dengan adik-adik tirinya ini bukan untuk saling menyerang, menyindir, atau membuat tidak nyaman di antara mereka. Ketiganya menyadari bahwa kedua adik lelaki ini tampak begitu rentan dan tidak percaya diri menghadapi mereka. Mereka hanya anak-anak yang terpaksa menerima keadaan atas situasi yang terjadi pada orang tuanya.
Natha, Vira, dan Mirna bahkan sama sekali tidak menanyakan alasan mengapa Papah menikah lagi. Padahal pertanyaan itu yang sudah mereka rencanakan untuk ditanya tepat dihadapan kedua adik tirinya.
Mamah memang pernah memberitahu bahwa alasan Papah menikah lagi adalah karena menginginkan keturunan laki-laki. Sebagai lelaki Suku Minang yang menikah dengan perempuan bukan Minang tentu tidak bisa meneruskan nama keluarga tetapi sebagai penganut dari agamanya saat ini, tentu saja keturunan laki-laki lah yang akan meneruskan nama keluarga. Alasan patriarkis seperti itu memang menjadi momok menakutkan bagi perempuan untuk menikah meskipun zaman sudah modern seperti ini.
Tidak ada satu pun dari mereka yang berinisiatif untuk bertukar nomor ponsel agar silaturahmi di antara anak-anak Papah tetap berlanjut. Tidak ada juga yang mengucapkan kata-kata sampai berjumpa lagi saat mereka berpisah. Hanya Natha yang kemudian menghampiri Papah dan kemudian bicara dengan nada pelan. “Pah, Natha mau ketemu sama Istri kedua Papah. Kita bertiga saja tapi gak sama Papah.”
--------------------------
Natha dan Mirna memutuskan pergi ke supermarket untuk membeli buah dan beberapa pesanan Mamah sebelum kembali pulang ke rumah.
“Nath, gue nitip beliin semangka kuning ya! Kosa ngajak nonton, kayaknya kelar nonton jam sebelas malam. Jadi gak mungkin balik ke Depok, pasti kost-an gue sudah digembok sama si Bibi. Jadi jangan dikunciin ya! Kosa juga bakalan nginep di rumah. Gak apa-apa ya Nath, tidurnya di sofa depan tivi koq!”
“Ya gak apa-apa sih, asal jangan dibawa masuk ke kamar kayak yang kemarin,” ujar Natha setengah menyindir.
“Eh, siapa Kak yang dibawa Kak Vira masuk ke kamarnya?” tukas Mirna penasaran.
“Apaan sih kalian berdua, udah deh ah!” elak Vira.
“Beneran Kak Vira masukin cowok ke kamarnya? Issh bener-bener deh Kak Vira, parah banget kelakuannya!” ucap Mirna yang membuat Vira semakin kesal.
Natha langsung memberikan kode ke arah Mirna. “Sudah Mir, ntar gue ceritain di rumah aja! Jangan cari ribut di sini.”
Vira menghela napas dengan kesal. Entah kenapa hari ini dirinya mudah sekali terancing emosi. Rasanya ingin mencubit Mirna yang memandangnya dengan tatapan aneh.
“Kapan balik ke Depok?” tanya Natha.
“Besok Nath. Mungkin agak siangan soalnya sekalian mau packing baju-baju. Mulai Senin kan sudah masuk pekan UTS, dan gue ada ujian Asia Selatan sebelum ke Jogja,” jelas Vira.
__ADS_1
“Yaudah sana. Janjian sama Kosa dimana? Toko buku? Kasihan tuh anak, belum makan kayaknya, udah mau lewat jam makan siang.”
Vira mengangguk dan kemudian berjalan cepat menuju eskalator menuju ke lantai tiga tempat toko buku itu berada.
Vira mendapati Kosa yang begitu khusuk membaca buku otobiografi Mahatma Gandhi di lorong buku-buku sosial politik. Tidak tega rasanya membiarkan Kosa tanpa kabar dan pastinya dalam keadaan lapar karena Kosa sudah berjanji akan makan siang bersama Vira.
“Abang,” panggil Vira pelan agar tidak mengagetkan orang-orang sekitarnya yang begitu terlena dengan buku di tangannya.
“Eh Vir, sudah selesai? Bagaimana pertemuannya? Kalian sudah saling kenal? Vira sudah kenyang atau masih lapar?” tanya Kosa beruntun dengan nada lembut.
Entah mengapa rasa kesal dan marah yang semula tersisa kini lenyap sudah. Rasa sayangnya kepada lelaki ini muncul kembali. Lelaki yang setia menunggunya. Lelaki yang bertanya keadaan Vira lebih dulu daripada dirinya sendiri. Vira tersenyum dengan tatapan penuh kasih kepada Kosa.
“Abang lapar? Yuk, kita makan. Vira traktir ya! Abang mau makan apa?”
“Apa saja terserah Vira. Berarti masih lapar dong?” tanya Kosa sambil tertawa. Disentuhnya ujung hidung Vira dengan telunjuk kanannya yang membuat Vira mengernyit.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga, sudah melewati jam makan siang. Tidak terlalu susah untuk mendapatkan kursi kosong di restoran yang mereka tuju. Restoran yang menyajikan pasta dan pizza menjadi pilihan Kosa dan Vira. Dipesannya pizza regular dengan topping untuk pecinta daging dan keju, satu porsi lasagna, bruschetta, salad, dan cola. Tidak terlalu banyak, cukup untuk dimakan berdua. Namun tidak banyak untuk Vira justru sebaliknya untuk Kosa. Lelaki muda itu selalu tidak habis pikir dengan nafsu makan Vira yang sungguh sangat berbeda dengan kebanyakan gadis yang diikenalnya.
“Jadi bagaimana tadi? Senang dong punya adik lagi. Umurnya berapa Vir?” tanya Kosa sambil menggigit potongan bruschetta dengan topping daging sapi cincang dan jagung yang menyatu dengan lelehan keju mozzarella.
“Kalau gak salah yang besar itu namanya Raditya, umurnya masih enam belas tahun dan yang bungsu itu Reza, masih kelas satu SMP, berarti umurnya tiga belas.”
“Berarti usianya jauh juga di bawah Mirna ya? Berapa umurnya Mirna Vir? Delapan belas ya?”
“Iya. Kenapa Abang tanya umur Mirna?”
“Abang gak bermaksud sok tau tentang masalah ini, tapi mungkin alasan Papah Vira menikah lagi karena memang ingin memiliki keturunan laki-laki. Setidaknya menikah lagi setelah Mirna lahir,” ucap Kosa.
“Eh, tebakan Abang lumayan juga. Mamah juga bilang alasannya gitu. Pas Mirna lahir, Mamah bilang gak mau punya anak lagi, jadi langsung ambil keputusan sendiri untuk disteril. Papah gak setuju dan marah tapi ya gitu, ternyata malah menikah lagi. Heran, kenapa sih laki-laki ingin banget punya anak laki-laki. Gak ngerti!” ujar Vira.
“Ya gimana Vir, mungkin ini budaya yang melekat di masyarakat. Laki-laki itu punya ego yang besar. Merasa dirinya kuat, punya peran sebagai pelindung buat keluarganya, pencari nafkah, penerus nama keluarga. Jadi kalau punya anak laki-laki, si Bapak merasa tenang dan aman karena ada yang meneruskan fungsi dan perannya itu.”
“Abang sendiri bagaimana?” tanya Vira yang sontak membuat Kosa menghentikan kunyahan dan kemudian memaksa tenggorokannya menelan cacahan pizza yang belum terlalu halus ke dalam lambungnya.
“Eh, maksudnya Vir?” Tiba-tiba Kosa merasa bahwa pertanyaan Vira seakan menjebak dirinya.
“Kalau Abang menikah apa harus punya anak laki-laki? Kalau anaknya perempuan semua? Atau bagaimana kalau istri abang gak bisa punya anak? Apa Abang akan selingkuh atau menikah lagi?” tanya Vira dengan tendensius.
“Pertanyaan Vira itu seolah mengasumsikan bahwa Abang akan melakukan hal seperti itu. Jangan karena Abang laki-laki lalu Vira anggap sikap dan perilakunya sama dengan Papah Vira.”
“Vira gak nuduh Abang koq! Vira cuma mau tanya. Koq Abang gitu sih jawabnya,” sungut Vira dengan nada kesal.
“Vir, kita makan dulu saja ya? Vira jangan marah. Kalau lagi makan jangan kesal begitu, nanti hasilnya gak bagus ke tubuh. Vir, tau gak? Rahasia orang Prancis badannya bagus meskipun mereka makannya banyak itu karena mereka selalu bahagia pas makan,” bujuk Kosa.
“Maksud Abang, badan Vira gak bagus karena suka marah pas makan? Abang genit banget sih sampe mikirin badan cewek Prancis segitunya,” ucap Vira semakin menunjukkan kekesalannya.
Kosa menghela napasnya panjang. Entah ada apa dengan Vira hari ini, begitu sensitive. Apa yang Kosa ucapkan menjadi bumerang yang menukik kembali ke arahnya. Serba salah.
“Vir, Abang pastiin kalau kita menikah, mau anak kita perempuan semua atau tidak punya anak sekalipun, Abang gak akan menduakan Vira dengan siapapun. Titik!” cetus Kosa tegas. Ini membuat beberapa pengunjung mengalihkan perhatiannya ke arah mereka.
__ADS_1
Kini Vira terdiam setelah mendengar ucapan Kosa yang tidak disangkanya. Kenapa juga mengatakan soal pernikahan. Wajahnya jadi memerah seperti udang yang berubah warna ketika dipanaskan.