Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Berubah Pikiran


__ADS_3

Sudah tiga hari ini Vira tidak memberikan kabar apapun. Ada gelisah yang amat sangat terasa memenuhi relung hatinya. Perasaan yang sama ketika awal-awal proses pendekatan ke Vira.


Kosa membayangkan Vira bersama empat orang lelaki selama pendakian. Apakah Vira dijaga dengan baik oleh mereka? Apakah Vira bisa menjaga dirinya dengan baik.


Ada berbagai pemikiran tak layak yang bermunculan di kepalanya. Kosa berharap Vira tetap menjaga hatinya untuk dirinya seorang.


Dibaca kembali pesan terakhir Vira.


[Abang kemana? Vira vcall tidak dijawab?]


[Kangen banget sama abang]


[Hari ini pendakian pertama ke Ulleri. Naik 10 rb anak tangga Bang, capeeeek]


[Foto-fotonya ada di fesbuk ya Bang]


[Abaaaaaang]


[Vira gak bisa lama-lama Bang, internetnya mati jam 10, bentar lagi]


Kosa merasa begitu menyesal. Teringat dirinya malam itu sedang keluar kost untuk memesan nasi goreng yang bunyi tek-teknya terdengar begitu nyaring sampai ke kamarnya.


Ketika sedang nasi gorengnya dibuatkan, ternyata Danu bersama dua orang temennya lewat depan rumah kost-nya.


“Dan, elu koq nyampe ke sini? Jauh aja mainnya? Kagak balik kampung lu?” tanya Kosa.


“Emak gue lagi umroh ama Babe. Males gue di rumah sendirian, mending di kost,” jawab Danu lalu memperkenalkan dua temen ceweknya.


Ternyata Danu sedang mengantar dua temannya ke tempat kostnya yang tidak jauh dari rumah kost Kosa.


Tadinya Kosa akan makan nasi gorengnya di kamar tapi ternyata Danu ikut memesan nasi goreng juga ketika dua teman perempuannya tersebut bersikeras akan kembali ke kostnya dan membiarkan Danu bersama Kosa.


“Si Vira beneran itu daki Himalaya? Gak nyangka gue?” tanya Danu.


“Bener, gue aja kagak nyangka,” timpal Kosa


“Elu kagak ikut?”

__ADS_1


“Kagak, lu kira Himalaya di Cirebon, main ikut-ikut aja.”


“Anaknya cungkring gitu, pantes item, suka naik gunung,” ucap Danu.


“Iih elu body shaming gitu,” ucap Kosa dengan nada menunjukkan rasa tidak suka.


“Kagak, gue kagak body shaming, Gue demen ama tuh anak cuma emang kagak mirip sama cewek-cewek yang biasa deket ama elu, yang hobinya ke salon,” kilah Danu membela diri.


“Si Vira selalu bikin gue penasaran. Gue tuh bawaannya pengen deket dia mulu, pengen liat dia senyum,” ucap Kosa lalu menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


“Pake susuk kali. Atau dia melet elu.”


“Anjrit, sembarangan lu ngomong,” teriak Kosa.


Danu tertawa lalu mengacungkan dua jarinya yang membentuk huruf V tanda perdamaian.


Tak disangka, selesai makan nasi goreng dan berbincang dengan Danu, sekembalinya ke kamar didapatinya notifikasi video call dan beberapa chat dari Vira.


Ada rasa penyesalan luar biasa kenapa bisa-bisanya dia tidak membawa ponsel bersamanya tadi dan membiarkan tergeletak dalam posisi silent di mejanya.


[Abang kangen sama Vira]


[Maaf Abang tadi keluar makan nasi goreng trus ngobrol sama Danu, lupa bawa hape]


[Vira jaga kesehatan ya, kakinya rajin diolesi krim anti-pegal]


[Besok pagi kalo ada internet telpon Abang]


[Abang malam juga ada, janji gak lupa bawa hape]


[Tidur nyenyak ya, mimpiin Abang]


Ternyata, esoknya dan sampai tiga hari ini pesan terakhir Kosa hanya centang satu dan berwarna abu-abu. Artinya pesan sama sekali belum dibaca Vira. Kemungkinan besar adalah Vira tidak bisa mendapatkan sinyal internet.


Kemungkinan itu dimentahkan lagi, karena seingat Kosa, Vira menceritakan kalau di setiap penginapan selalu ada sinyal internet. Bisa jadi ponsel Viraa hilang atau malah Vira yang hilang.


Dibukanya kembali fesbuk yang selama ini sudah tidak lagi disentuhnya. Dirinya hanya membuka demi postingan Vira. Postingan terakhir di fesbuk tercatat di waktu yang sama dengan pesan chat yang diterima Kosa. Tiga hari yang lalu.

__ADS_1


_______________________


Penelitian di Pusat Kajian sudah rampung. Penjajakan kerjasama dari beberapa politisi partai hanya tinggal menunggu deal saja. Biasanya dari pengalaman kemarin jaraknya tidak terlalu jauh dengan jadual pilkada.


Sejak Vira ke Nepal, Kosa memutuskan kembali ke kost karena lebih nyaman. Mas Andri terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya dan dirinya malas sendirian di sana. Sedikit merepotkan kalau harus bolak balik Bekasi Depok jika ada urusan penelitian di pusat kajian.


Sedangkan dirinya juga gak mungkin ke rumah Nyokap meski ada Rosma di sana. Dirinya terlalu malas bertemu dengan bapak sambungnya. Ke rumah Bokap juga malas karena tidak ada urusan penting ke sana.


Musim liburan seperti ini banyak kost-kostan yang ditinggalkan penghuninya mudik. Bahkan bisa sampai tiga bulan kosong. Suasana akan kembali ramai ketika semester baru dimulai.


Kosa tidak ada kerjaan sama sekali. Tidak adanya Vira menyebabkan dirinya bingung akan melakukan apa. Padahal biasanya Kosa bisa menghabiskan berjam-jam waktu untuk belajar atau main game seharian.


Setelah menimbang dan memikirkan banyak hal, Kosa memutuskan untuk melakukan penelitian skripsinya lebih awal.


Tadinya Kosa berencana ke Yogyakarta sepulang Vira dari Nepal. Setidaknya bertemu dulu dengan Vira. Tapi, suasana kosong seperti ini membuatnya tidak betah. Sebaiknya memang dia harus mengerjakan penelitian untuk data skripsinya lebih cepat.


Kosa berpikir jika ambil data di Bantul, Yogya makan waktu sekitar sepuluh hari, setidaknya ketika Vira pulang maka mereka tidak harus terpisah lagi.


Ditelponnya Joko, teman Kosa di Bantul sesama mahasiswa yang kerap dijadikan staf lokal oleh pusat kajian jika ada penelitian di Yogyakarta. Kosa menanyakan apakah Joko siap membantunya lusa untuk mencari data dan bertemu narasumber. Ternyata bisa. Joko yang juga mahasiswa di salah satu PTN di Yogya mengatakan dirinya yang baru mulai libur belum punya rencana selain membantu penelitian skripsi Kosa. Surat penelitian dari PPAA Kampus juga sudah dipegangnya sejak akhir semester lalu.


Tiket kereta api yang dipesannya untuk besok masih tersedia. Hanya saja untuk kelas eksekutif. Ini berarti Kosa harus mengeluarkan dana ekstra karena kelas bisnis atau ekonomi sudah dipastikan habis. Untuk penginapan, Joko sudah memberikan alamat dan nomor telpon yang bisa disewa mingguan.


Ternyata ada yang menyewakan seharga lima ratus ribu rupiah per 10 hari dengan fasilitas kipas angin di dalamnya.


Dilihatnya kembali pesan chat yang dikirimkan ke Vira. Masih centang satu. Berarti pesan belum diterima. Kembali ditulisnya pesan untuk gadis dengan senyuman termanis miliknya.


[Vira sayang, Abang kangen]


[Besok Abang ke Yogya, ambil data buat skripsi]


[Doain supaya narsumnya bisa ketemu semua. Biar Vira pulang dari Nepal bisa ketemu Abang]


[Nanti kita jalan berdua]


[Jaga kesehatan ya sayang, makan yang banyak]


Dikemasnya pakaian, alat mandi, dan berkas dokumennya yang sudah disiapkan. Voucher tiket kereta Argo Lawu yang berangkat jam delapan malam dari Gambir sudah di tangan. Lusa Kosa sudah ada di Yogyakarta.

__ADS_1


__ADS_2