Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
The Ship has Sailed Part 2


__ADS_3

Gani tidak memahami apa yang sedang terjadi dengan Vira. Perempuan itu terus menunduk dengan napas agak tersengal-sengal. Gani mengira Vira mengalami sesak napas tapi isyarat tangan Vira menunjukkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tidak hanya Gani, Bagas pun hanya bisa memandang dengan cemas.


Gani menatap ke arah kakaknya yang sedang duduk membelakangi mejanya bersama Mas Adjie. Menatap ke arah Papa dan Mama yang sedang berdiri di depan memberi sambutan. Wajah sumringah keduanya yang melontarkan candaan memancing tawa para tamu. Semua tampak gembira, hanya Vira yang menunduk seperti menahan rasa sakit.


“Vir, mau istirahat di kamar tamu saja?” tanya Gani pelan.


Vira terdiam dan tidak menjawab. Vira teringat dengan cara mengatur napas dengan ritme yang diajarkan oleh Sandeep, guide-nya saat di Annapurna. Ternyata cukup membantu. Vira mengangkat kepalanya dan tersenyum memandang Gani dan Bagas. Diteguknya air putih dalam gelas dan kemudian mengatur kembali napasnya.


“Sudah baikan?” tanya Gani yang dijawab dengan anggukan Vira.


Vira kemudian melayangkan pandangan ke arah depan, untuk melihat sambutan dari Pak Sasongko dan Bu Ruth. Ini berarti Vira mau tak mau juga memandang punggung lelaki yang baru semalam menghabiskan waktu dengannya. Punggung lelaki yang dengan sengaja ia sentuh ketika tubuh mereka begitu erat untuk sebuah ciuman. Punggung lelaki yang sesaat pernah ia harapkan untuk melindunginya.


Aaah, Vira merasa begitu bodoh. Sepertinya ia merasa diperdaya oleh semua orang di sini, seperti pecundang yang sengaja diundang untuk ditertawakan. Vira menjadi kasihan pada dirinya sendiri. Sudah diperdaya, emosinya bergolak dan kini menyesali apa yang terjadi. Seperti perempuan lemah saja. Hah!


Tapi, untuk apa pula dirinya harus bersedih, toh dirinya tidak menjalin hubungan apa-apa dengan lelaki itu. Kenapa juga harus menyesal. Kenapa juga harus sakit hati. Selama ini pun ia merasa tidak kehilangan apa pun. Kalau dipikir-pikir Mas Cokro tidak pernah menjanjikan apapun untuknya. Mengapa dirinya menjadi begitu sedih.


“Vir, kamu yakin gak apa-apa kan?” tanya Gani sekali lagi untuk sekedar memastikan. Gani merasa ada sesuatu yang aneh dalam diri Vira malam ini dan dirinya tidak tau apa penyebabnya.


Vira memaksakan diri untuk tersenyum. Dilihatnya wajah lelaki teduh ini. Lelaki yang akan menjadi adik iparnya Mas Cokro. Lelaki yang pernah melamarnya. Sungguh sangat kebetulan.


“Gan, gue ke sana dulu ya, nengokin keponakan. Kasian Mbak Adjeng, kayaknya mau makan,” ijin Bagas sambil menunjuk meja di ujung depan. Gani tersenyum mengangguk.


Gani tidak banyak mengajak Vira bicara, sepertinya canggung. Biasanya selalu Vira yang memulai pembicaraan tapi Vira masih sedih dan tak bersemangat. Mereka lebih banyak terdiam.


Tak lama kemudian kursi di sebelah Vira ditarik dan kemudian perempuan paruh baya dengan kecantikan yang tidak pudar dimakan usia duduk di sampingnya dan kemudian menyapa.


“Ini temannya Gani ya?” sapa Ibu Ruth sambil tersenyum hangat kepada Vira.


Suara lembut perempuan ini sontak mengalihkan pikiran Vira yang masih kalut. Tatapan lembut yang diberikan membuat Vira menjadi sedikit lebih tenang. Vira tersenyum mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan yang diberikan.


“Waah, Gani itu tidak pernah mengajak teman main ke rumah apalagi perempuan. Kalian satu kampus?”


“Saya juniornya tapi beda Fakultas Tante,” jawab Vira.


“Siapa namanya?” tanya Ibu Ruth.


“Vira, Tante.”


Oh, kamu itu yang magang di kantor Bapak juga ya? Faisal pernah cerita, cuma Tante belum pernah ketemu anaknya. Itu kamu kan?”


“Iya Tante, itu memang saya.”


“Terima kasih sudah datang ya, dan terima kasih sudah menjadi teman Gani. Tante mau menyapa tamu yang lain. Ada Pak Soedharman dan istrinya, sudah lama tidak bertemu.”


Vira mengangguk dan tersenyum. Tanpa sadar dirinya begitu terpana dengan rupa Ibu Ruth, kulitnya yang putih pucat hanya disapu dengan riasan yang tipis, rambutnya disanggul cepol, dan tubuhnya yang semampai menunjukkan perawatan yang eksklusif.


Pak Sasongko tampak masih sibuk bicara dengan calon besannya. Sepertinya juga tidak menyadari kehadiran Vira. Bahkan Vira menduga pasti bahwa Pak Sasongko tidak akan mengenali dirinya sebagai mahasiswa magang di kantornya. Selama ini Vira lebih sering berhubungan dengan Pak Faisal, staf ahlinya. Bahkan Vira tidak juga melihat kehadiran Pak Faisal di pesta kebun ini. Sepertinya memang terbatas untuk undangan tertentu saja.


Vira memandang sekeliling. Mas Cokro masih menatap lurus ke depan, hanya diam dan tidak bicara. Sedangkan Lydia sibuk sibuk bercengkerama dengan beberapa orang yang tampak sebaya.


Vira mulai menguasai emosinya. Meski rasa sakit masih sedikit menelusup di dadanya, namun Vira menyadari benar bahwa dirinya dan Mas Cokro memang tidak memiliki hubungan apapun. Vira mengira, apa yang terjadi hanyalah semacam nostalgia romantisme di Annapurna. Saat di gunung, bertemu orang baru, lawan jenis, dan suasana berdua saat di Deurali menimbulkan semacam sindrom untuk mengulangi perasaan yang pernah ada. Dan itu bukan cinta. Vira merasa begitu naif mengartikannya lebih.


Vira tidak terlalu memahami pesta kebun semacam ini. Sepertinya tidak terlalu protokoler yang rigid dengan aturan. Setiap orang bercengkerama, saling mendatangi meja, dan bertegur sapa. Pemandu acaranya justru terlihat sibuk dengan piring yang berisi makanan. Hanya ada penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu lembut diiringi lembut petikan gitar. Acara sederhana namun penuh keakraban.


Beberapa staf katering menyajikan beberapa makanan di piring-piring yang tersaji di setiap meja. Tinggal memesan menginginkan apa, bisa langsung diambilkan. Selera Vira juga tiba-tiba menurun drastis. Bukan hanya karena Mas Cokro tapi tetiba ada rasa sungkan yang mendera, bahwa Vira merasa seharusnya tidak hadir dalam acara keluarga ini.

__ADS_1


“Kamu tidak makan Vir? Mas ambilin ya? Makan berat atau ringan?” tanya Gani menawarkan.


Vira tersenyum namun sungguh merasa tidak enak. Anak pemilik rumah menawarkan diri untuk mengambilkan makanan untuknya. “Jangan Mas Gani, biar nanti diambilin mas-mas staf-nya saja.”


Vira memakan dengan pelan snack basah yang berikan oleh staf katering dan melirik ke arah meja di depannya. Tampak Mas Cokro hanya diam memainkan ponselnya. Tidak banyak yang dilakukan dari tadi. Hanya sesekali bicara dengan Pak Sasongko, perempuan paruh baya seperti ibunya, dan suami dari kakak perempuannya. Bahkan Mas Cokro tidak sedikit pun menoleh ke belakang meskipun Lydia sedang bercengkerama dengan para sahabatnya.


Sepertinya Lydia mulai menyadari keberadaan Vira dan berjalan menuju ke mejanya.


“Hi Vira, nice to see you here [Hai Vira, senang ketemu kamu di sini]! How is the food? Do you like it? [bagaimana makanannya? Kamu suka?]”. Terlihat mata Lydia mengerling kepada Gani, adiknya.


Vira tersenyum. “Selamat ya Kak Lydia, semoga lancar sampai ke pernikahan.”


“Wow I haven’t think about it yet [Wow, kayaknya belum kepikiran sampe sana deh!],” sahut Lydia.


“Let me introduce to my fiancée [Saya kenalin dengan tunangan saya ya]!” ucap Lydia yang kemudian menghampiri Mas Cokro dan menepuk pundaknya dari belakang.


Vira terhenyak lalu menarik napas panjang. Tenang Vir, tenang, batinnya. Biasa saja. Jangan terlihat seperti orang patah hati. Tenang, tenang, Mas Cokro bukan siapa-siapa, jadi biasa saja. Berulang kali batin Vira berusaha menenangkan dirinya agar tidak berbuat sesuatu yang bodoh.


Vira tersenyum ketika Lydia menarik tangan Cokro menuju mejanya. Cokro mengikuti persis di belakang Lydia dan seketika Vira mendapati mata Mas Cokro yang begitu terkejut menatap dirinya.


“Mas Adjie, let me introduce Vira, Gani’s girl friend [kenalin Vira Mas, ceweknya Gani],” ucap Lydia dengan sumringah.


“Vir,” gumam Mas Cokro dengan nada terkejut. Gumaman yang membuat Lydia menoleh ke arah Cokro dan kemudian menatap Vira. Gumaman yang membuat Gani mendongak menatap Cokro. Gumaman yang membuat Vira tersenyum meringis.


“Wow, I see you are no strangers to one another [Waah, kayaknya kalian sudah saling kenal ya]!” seru Lydia dengan nada heran.


“So, how long you two known each other [Jadi, sudah kenal sejak kapan]?” tanya Lydia.


“Itu Kak, itu, Mas Cokro itu pernah naik gunung bareng sama Vira,” jawab Vira memecah kekakuan karena sedari tadi pandangan Cokro seolah menyiratkan ingin memberikan penjelasan kepada Vira.


“Bukan Kak, satu rombongan. Naik Annapurna kemarin. Ada lima pendaki,” Vira berusaha menjelaskan dengan nada biasa saja.


“Vir, bisa kita bicara sebentar?” tanya Mas Cokro tajam membuat Lydia menoleh heran. Gani pun merasa demikian. Vira sendiri merasa udara mulai terasa panas di sekelilingnya.


“Iya Mas, bicara saja, silahkan Mas Cokro,” jawab Vira santai dan sopan.


“Maksud Mas, kita bicara berdua saja,” sahut Mas Cokro tajam tanpa memperdulikan kehadiran Lydia dan Gani.


“Oh okay, seems something very important you need to talk about [oh baiklah, sepertinya ada yang perlu kalian bicarakan],” gumam Lydia pelan dan kemudian memberikan tanda kepada Gani untuk mengikutinya.


Setelah Lydia dan Gani menjauh, Cokro mengambil kursi di sebelah Vira.


“Vir, kamu kenapa ada di sini?” tanya Cokro


“Diundang sama Mas Gani dan Kak Lydia,” jawab Vira jujur.


“Mas gak bisa ceritain di sini. Tapi Mas ingin Vira percaya bahwa ini bukan seperti yang Vira lihat.”


“Mas, nanti saja jelasinnya. Di sini banyak orang, tamu dekat keluarga Mas Gani dan Kak Lydia, gak enak dilihat kalau Mas Cokro ngobrol berdua sama Vira. Nanti saja ya Mas!” sergah Vira dengan nada suara pelan dan sambil tersenyum seolah tidak ada emosi yang keluar.


Cokro menghela napasnya dan terdiam sesaat sebelum berdiri kembali menuju mejanya tanpa berkata sepatah kata pun kepada Vira. Vira juga berdiri berjalan menuju buffet makanan. Perutnya tiba-tiba menjadi lapar. Rasanya lega ketika Mas Cokro akhirnya mengetahui Vira ada di sini. Lega ketika Vira tidak menunjukkan emosi ketika bicara dengan Mas Cokro. Rasa lega yang kemudian membuatnya lapar.


Tampak di hadapan Vira berjejer makanan oriental dan western cuisine. Sepertinya hanya rasa malu kepada Gani yang membuatnya hanya mengambil porsi secukupnya. Dua iris tebal salmon wellington. Salmon berselimut kulit pastry dengan bayam kukus dan saus keju di dalamnya. Vira menambahkan sedikit kentang tumbuk kasar dan saus krim dengan sedikit sensasi lada bubuk dan wasabi. Rasa yang baru di lidahnya tapi cocok untuk dipadukan dengan kentang tumbuk.


“Masih lapar Vir?” tanya Gani yang hadir tiba-tiba tanpa Vira mengetahuinya.

__ADS_1


“Hahaha, bikin kaget aja sih Mas. Iya nih, koq ya jadi lapar gini, padahal tadi biasa aja. Ini tuh salmonnya enak banget Mas. Perbaikan gizi buat mahasiswa yang jajanannya di kantin mulu,” gurau Vira.


Mereka berdua tidak kembali ke meja, menghabiskan makanan di kursi yang tersedia di dekat kolam renang.


“Makan di sini saja ya Mas Gani, jadi kalau masih lapar bolak-baliknya gak kejauhan,” ucap Vira yang membuat Gani tertawa.


Vira sengaja menjauh dan tidak kembali ke meja karena entah mengapa tiba-tiba ada banyak mata yang memperhatikan dirinya. Semua bermula dari Mas Cokro yang meminta bicara berdua. Banyak mata yang mungkin merasa heran mengapa tunangan Kak Lydia yang luar biasa pendiam tiba-tiba bicara dengan perempuan yang mereka tidak kenal. Mencoba mengalihkan sesaat dari pandangan orang agar mereka lupa.


Kali ini Vira begitu bersemangat bicara dengan Gani. Segala macam diceritakan yang bisa membuat Gani tertawa. Segala macam yang diceritakan agar dirinya melupakan apa yang baru saja terjadi. Ditatapnya sosok lelaki teduh yang duduk di sampingnya. Tidak ada satu pun kata yang terucap untuk menanyakan hubungannya dengan Mas Cokro. Tidak pernah sekalipun menanyakan menanyakan masalah yang membuat dirinya tersudut. Sungguh lelaki yang baik hati.


Vira merasa sudah terlalu lama di pesta kebun ini. Namun, orang-orang masih sibuk saling bicara dan tertawa. Tampak begitu menikmati acara. Staf katering lalu lalang menyajikan makanan dan minuman. Mengambil piring kotor dan menuang minuman di gelas-gelas yang mulai kosong. Dilihatnya jam digitalnya menunjukkan angka 9.15. Ternyata baru dua jam lebih sedikit pesta berlangsung. Teringat olehnya Gani mengatakan kemungkinan pesta akan usai pukul sepuluh atau sebelas malam.


“Kenapa Vir? Mau balik ke kost?” tanya Gani yang melihat gelagat Vira.


“Hahaha, ketauan ya Mas? Besok ada kuliah pagi sih, jam delapan, tapi gak apa-apa koq. Gak ada tugas soalnya."


“Tidak apa-apa koq kalau mau pulang sekarang. Izin pulang ke Mamah, Papah, dan Kak Lydia dulu ya!”


Seperti yang Vira duga, bahkan Pak Sasongko tidak menyadari bahwa dirinya adalah mahasiswa magang di kantornya. Hanya tersenyum ketika Gani minta izin mengantarkan Vira pulang. Pak Sasongko sepertinya masih sibuk bicara dengan calon besan dan lelaki paruh baya lainnya yang disebut dengan Pak Soedharman. Begitu pula dengan Ibu Ruth yang juga nyaman berbincang dengan ibu dari Mas Cokro dan perempuan yang tadi disebut sebagai Ibu Soedharman. Ibu Ruth tersenyum pada Vira dan hanya memberi pesan hati-hati di jalan.


Sedang Kak Lydia memeluk Vira begitu erat. Bahkan Kak Lydia tidak menanyakan sedikit pun tentang apa yang dibicarakan Mas Cokro dengannya. Sama sekali tidak menyinggung Mas Cokro sedikit pun. Membuat Vira lega.


“Be safe ya [hati-hati ya]!” ucap Lydia.


Vira tersenyum dan mengangguk lalu mengikuti Gani yang melangkah masuk menuju rumah.


“Tunggu sebentar ya Vir, Mas ganti baju dulu, sekalian ambil dompet di kamar!” ucap Gani.


Vira mengangguk lalu dirinya menunggu di kursi ruang keluarga. Namun sesaat ia berdiri, terlalu nyaman tampaknya, takut nanti tertidur. Vira berjalan menuju dapur bersih. Ada kursi bar di sana. Sepertinya lebih enak jika duduk di sana, dekat juga dengan pintu yang menghubungkan dengan garasi di samping.


“Mau pulang sekarang?” tanya seseorang di belakang Vira, suara yang selama ini dikenalnya dengan baik. Suara yang membuatnya menahan napas.


Vira membalikkan tubuhnya, menghadap ke sosok lelaki matang di yang berdiri di depannya. “Iya Mas, sudah malam. Nanti orang rumah khawatir,” jawab Vira dengan setenang mungkin.


“Mamah sudah pulang? Bagaimana? Baik-baik saja kah?” tanya Mas Cokro.


“Alhamdulillah baik, Mas!”


“Nanti setelah acara ini selesai, Mas ke rumah Vira. Tunggu Mas nanti Mas akan jelasin semuanya!” pinta Cokro dengan wajah serius.


“Jangan sekarang Mas, sudah malam, gak enak sama semua orang,” elak Vira menolak apa yang diucapkan Mas Cokro.


“Besok Mas datang ya, Vira janji jangan kemana-mana,” pinta Mas Cokro.


Vira mencoba tersenyum tanpa menjawabnya. Di belakang Cokro tampak Gani yang sedang menuju ke arahnya. Gani sudah berganti bahan dengan celana bahan katung dan kaos, lebih kasual.


“Mau pulang sekarang Vir?” tanya Gani yang membuat Cokro membalikkan tubuhnya dan menatap sosok lelaki seusia Vira ini.


Gani tersenyum dan mengangguk ke arah Mas Cokro. “Saya antar Vira pulang Mas!”


Cokro mengangguk dan dengan mata nanar menatap keduanya berjalan menuju arah pintu yang terdapat di sisi kiri dapur bersih dan kemudian menghilang dari pandangannya. Cokro menghela napas panjang. Masalahnya bertambah rumit, entah bagaimana nanti menjelaskannya kepada Vira. Hal yang tidak diduganya sama sekali bahwa Vira mengenal baik Gani dan Lydia.


Ketika Cokro berbalik hendak kembali ke pesta kebunnya, tampak Bagas sudah berdiri di depannya. Sepertinya sudah cukup lama di sana.


“Mas Adjie dipanggil Ibu,” ujar Bagas pendek lalu pergi meninggalkan Cokro terlebih dahulu kembali ke pesta.

__ADS_1


__ADS_2