Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Hujan Es di Tadapani dan Alice dari Portland


__ADS_3

Menginap di Ghorepani yang di ketinggian hampir 3000 mdpl membuat Vira menggigil kedinginan.


Suhu malam mencapai lima derajat celcius. Lodge yang mereka sewa terbuat dari kayu triplek dan dirinya mendiami kamar yang sempit dengan selimut tidak cukup tebal.


Akhirnya Vira menggunakan thermal sleeping bag untuk pertama kalinya yang jauh lebih ampuh daripada selimutnya yang terasa dingin dan basah.


Awalnya susah sekali Vira memejamkan mata. Teringat dengan Kosa. Internet di restoran tadi tidak bisa dinyalakan. Sandeep bilang pemancarnya rusak sudah empat hari dan teknisinya belum datang karena jauh.


Vira sama sekali tidak tahu apakah Kosa membalas pesannya atau Kosa menelponnya. Apakah Kosa melihat status di fesbuknya atau mengomentari postingannya. Apa yang dipikirkan Kosa hari ini. Apakah Kosa memikirkan dirinya. Tanpa internet, Vira merasa seperti di dunia antah berantah.


“Oh come on Vira. It feels peaceful without internet [ayolah Vira, kan lebih tenang tanpa internet],” hibur Sandeep yang kasihan melihat kegalauan Vira yang terekam jelas diwajahnya ketika mengetahui internet di lodge tak bisa digunakan.


“Buset deh Vir, gak segitunya juga kale. Jadi pengen tau seganteng apa sih cowok lu!” seru Bobby.


“Gantengan pacarnya si Vira daripada muka lu Bi,” seloroh Mas Une.


“Yee, muka boleh gue kalah Mas, tapi kejantanan sih boleh diadu,” kilah Bobby sambil mengepalkan tangannya.


“Tuh Vir, ditantangin sama Obi, berani gak lu?” tanya Mas Dody terkekeh.


“Hahaha… apaan sih, Vira cuma kangen Mama aja koq,” dalih Vira yang terpaksa berbohong agar suasana tidak menjadi ramai.


-----------------------------------


Perjalanan menuju Tadapani masih menyusuri hutan bunga rodhodendron tapi kali ini turunan dan tanjakannya tidak terlalu rapi. Ada beberapa turunan yang masih berupa tanah dan tidak dilapisi bebatuan.


Dua kali Vira terpeleset dan nyaris terguling dengan turunan yang cukup tajam padahal Obi yang berjalan lebih dulu sudah memperingatkan agar berhati-hati.


Mereka berhenti sebentar di pinggiran sungai kecil dengan air yang jernih.


Bobby segera membasuh wajahnya. “Buset, dingin banget Vir. Gue kira udah siang gini bakalan anget nih air.”


“Vira, Bobby, can we go faster, it’s going to rain soon [bisakah kita berjalan lebih cepat karena akan segera turun hujan]?” ujar Sandeep sambil mendongak, menatap langit.

__ADS_1


“Oh, okay Sandeep, let’s go [ayo pergi], ayo Vir, buruan, jangan lelet kayak siput,” ajak Bobby.


Baru lima belas menit berjalan, hujan turun. Tuk-tuk-tuk, bunyi seperti batu yang terlempar. Ternyata hujan es batu. Butiran es sebesar batu kerikil terasa menyakitkan terkena tubuh.


Hujan es berlangsung deras. Padahal mereka sedang ada di turunan dan seketika luapan air bercampur es batu bergerak dari atas dan turun ke bawah melalui jalan setapak yang mereka lalui dengan derasnya.


Sandeep menginstruksikan agar mereka jalan naik ke tanjakan dan berteduh di bawah batu besar yang letaknya di sebelah jalan setapak dan terdapat legokan di dalamnya. Terlihat ada seseorang yang sudah lebih dulu berteduh di sana.


Meskipun menggunakan celana dan sepatu anti-air, tetap saja luapan air bercampur es masuk ke sela-sela dan membasahi kaus kaki. Dinginnya menusuk tulang. Dengan langkah berat mereka bertiga mencoba berjalan naik dengan melawan luapan air yang turun ke bawah.


Sesampainya di tempat berteduh, Vira, Bobby, dan Sandeep langsung membuka kaus kakinya, memeras agar kadar airnya berkurang dan meniriskan sepatu mereka.


Vira menoleh ke arah perempuan tambun berkulit putih dan berambut pirang.


“I’m sorry for the smell [maaf ya dengan baunya],” ucap Vira menunjuk kaus kakinya.


“Hahaha, It’s okay, don’t mind me [gak masalah koq],” ucapnya.


“Oh, I’m Alice, Alice Finnegan and you can call me Ali. I’m from Portland, United States [Oh, saya Alice, Alice Finnegan dan kamu bisa panggil saya Ali. Saya dari Portland, Amerika Serikat],” balasnya memperkenalkan diri juga.


“Waw, you are the first American I ever met in this track. Most of people I known are French, Oz, and Scandinavian [Waw, kamu adalah orang Amerika pertama yang saya temui sepanjang jalur ini. Kebanyakan yang saya kenal itu berasal dari Prancis, Australia, dan Skandinavia],” seloroh Vira.


“Now you see me [Sekarang kamu ketemu saya],” ucap Alice tertawa.


Seketika Vira merasa akrab dengan Alice sedangkan Bobby dan Sandeep hanya diam dan sesekali melirik ke arah pembicaraan.


Buset si Vira, ada bule main ajak ngobrol aja, segala politiknya Amerika diomongin, rutuk Bobby dalam hati sambil mendengarkan isi pembicaraan Vira dan Alice.


Selepas hujan es berhenti dan air tidak lagi mengalir dari tanjakan turun ke bawah, akhirnya mereka berempat melanjutkan perjalanan menuju restoran untuk makan siang.


Sandeep meminta agar izin kepada pemilik restoran untuk menjemur sepatu dan kaus kaki basah mereka di atas pagar batu selama mereka di sana. Berharap tidak ada yang komplain dengan baunya.


Vira dan Alice duduk kembali di meja yang sama. Vira yang mengajak Alice bergabung ketika mengetahui bahwa pendakian menuju Annapurna ini dilakukan oleh Alice seorang diri, tanpa teman, tanpa guide, dan tanpa porter. Luar biasa.

__ADS_1


Alice memperkenalkan dirinya sebagai asisten dokter hewan yang bekerja di rumah sakit hewan di daerah Southwest Park Way. Pacar Alice yang merupakan dosen tetiba membatalkan perjalanan karena diminta untuk mewakili kampusnya di acara konferensi. Alice tetap berangkat karena semuanya sudah direncanakan sejak lama.


“Ali, since you are American, I wanna ask you why Trump won the election. I just still don’t get it [Ali, karena kamu orang Amerika, saya cuma mau tanya koq Trump bisa menang pemilu. Sampai sekarang gak ngerti koq bisa menang]?” tanya Vira lugas. Jiwa politiknya menggelora ketika Ali juga menceritakan keterlibatannya dalam aktivitas politik women march di Portland, Oregon.


“It is simple. He won because he got electoral votes [ya gampang, dia menang karena dia dapat suara elektoral],” jawab Alice lugas.


“Hahahaha…sorry, wrong question. I mean the reason why American voted for him [maaf, salah pertanyaan. Maksud saya alasan kenapa orang Amerika memilih dia]?” tanya Vira kembali setelah menyadari kesalahan logika dalam pertanyaannya.


“I don’t know why. I didn’t vote him [Saya gak tau alasannya. Saya gak milih dia],” jawab Alice lugas.


Kali ini Bobby yang tertawa terbahak-bahak dan Sandeep tersenyum lebar. Aduuuh, Vira lupa dengan karakteristik orang Amerika yang terkenal dengan keterusterangannya. Berbeda dengan dirinya yang sok tau.


“Elu salah orang Vir, kalau elu tanya ke gue pasti gue jawab kalo orang Amerika juga percaya hoaks kayak orang Indonesia,” timpal Bobby.


“Diem deh Bi, gue kan nanya ke native-nya langsung, yakali aja jawabannya beda gitu,” kilah Vira.


Akhirnya Vira memilih topik aman. Soal isu film Hollywood, soal isu perempuan, dan soal hewan peliharaan. Alice memang teman yang menyenangkan.


Kesan Vira terhadap Alice begitu bagus berbeda dengan artikel-artikel yang sering dibacanya yang memberikan pandangan tentang orang Amerika Serikat yang arogan dan individualis.


----------------------------------------------


Sesampainya di Tadapani, Vira bergegas mandi dengan air hangat. Dibalurkannya minyak kayu putih di leher dan perutnya. Koyo ditempelkan di punggungnya dengan susah payah termasuk mengoleskan gel pereda pegal dan kram otot di seluruh area betis dan paha.


Baju lembabnya dijemur di luar kamar dan sepatunya dikeringkan di dekat tungku pemanas yang terletak di restoran.


Ternyata ada banyak sepatu basah yang berjejer dekat dengan pemanas. Semua pendaki pastilah banyak yang kehujanan sepanjang perjalanan tadi siang.


Udara sore setelah ditimpa hujan es, tambah semakin dingin. Mas Une mengajak makan lebih cepat supaya perut tidak terlalu lama kosong.


Hari ini karena hujan, pendakian dua gunung menjadi lebih berat apalagi dengan tanjakan dan turunan basah membuat langkah menjadi lebih berat dan lebih pelan. Dan ini menguras energi banyak.


Internet sama sekali tidak berfungsi. Karena hujan lebat tampaknya membuat sinyal menjadi tidak stabil. Vira tidak terlalu memikirkannya, meskipun dirinya sudah menulis banyak untuk Kosa dan postingannya di fesbuk.

__ADS_1


__ADS_2