Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
A Little Bird Told Me


__ADS_3

Kosa baru menyadari karakter hubungannya yang baru berjalan beberapa minggu ini dengan Vira.


Perbedaan Vira saat jauh dan saat di dekatnya. Kosa merasa begitu jauh dengan Vira ketika tidak bertemu. Telpon yang tidak pernah diangkat dan pesan yang sering tak dibalas.


Dan itu berbeda ketika Kosa bertemu langsung dengan Vira. Hangat dan begitu menyenangkan.


Kadang dalam seminggu Kosa hanya bisa bertemu Vira sekali saja saat kuliah bersama di hari kamis.


Seminggu berlalu hanya dengan kabar-kabar pendek dari Vira. Itupun karena menjawab pertanyaan Kosa, bukan mengabarkan diri. Menelpon pun jarang diangkat atau Vira lebih banyak diam. Maka itu, kamis menjadi hari yang begitu penting bagi Kosa.


Kosa tidak bisa memaksa Vira harus bersikap layaknya pasangan kekasih meski keinginan untuk menatap senyumnya selalu menggebu. Keinginan untuk mendengarkan suaranya selalu ada. Keinginan untuk melakukan banyak hal berdua ada dalam rencananya.


 


Ujian akhir semester sudah di depan mata. Model ujian anak tingkat akhir biasanya membuat artikel atau paper. Kosa sudah terbiasa, apalagi kredit yang diambilnya tidak terlalu banyak karena hanya penghabisan.


Namun Kosa khawatir dengan Vira karena anak tingkat tiga biasanya overload dengan sks dan tugas yang menumpuk. Berulang kali Kosa menawarkan bantuan untuk membantu tugasnya karena mereka satu jurusan tapi Vira tidak pernah menanggapi.


Berkas penelitian di Karawang dan Kabupaten Bekasi sudah disiapkan oleh Kimmy dan Danu. Tanggal penelitian pengumpul data lapangan sudah ditetapkan dan disesuaikan dengan jadual para anggota Dewan. Surat administrasi dan akomodasi juga sudah siap. Hanya menunggu dana yang baru cair menjelang turun lapangan. Semua sudah oke. Kosa menandai catatannya di ponsel.


Dilihatnya foto Vira dan dirinya di layar ponsel. Senyum Vira yang begitu manis membuatnya selalu ingin bertemu dan bertemu lagi.


Drrrtttt…..dddrrrrrttt……dddrrrrtttt……………..


Kosa tersentak kaget. Nama My Vira tertera di layar ponselnya. Baru sekali dalam hidupnya Vira menelpon dirinya. Diusapnya layar ponsel ke atas.


“Halo sayang, ada apa?” suara Kosa terdengar begitu sumringah dengan kejutan ini.


“Bang, jalan yuk!”


“Eh, kemana Vir?” Kosa masih sedikit terkejut. Vira memang perempuan yang susah diprediksi.

__ADS_1


“Abang lagi dimana? Nanti Vira ke sana.”


“Vir, kamu lagi dimana? Biar nanti abang yang jemput ya!”


“Di kereta. Vira nanti turun di Pocin ya Bang.” Vira langsung mematikan pembicaraan dengan Kosa tanpa menunggu jawaban dari Kosa.


Bergegas Kosa menjemput Vira dengan vespanya. Masuk ke arah kampus dan mengambil jalur melewati rumah sakit pendidikan milik kampus dan putar di dekat Masjid Salam lalu keluar ke arah stasiun.


Ditatapnya wajah Vira saat mereka bertemu. Tampak mata Vira sembab seperti habis menangis. Vira langsung duduk di boncengan vespa Kosa.


“Ayo Bang, ajak Vira kemana aja.”


“Mau ke perpus pusat?” tanya Kosa


“Ke tempat lain aja.”


“Keliling kampus?”


“Gak mau.”


“Mau.”


 


Kosa takjub. Dilihatnya Vira makan dengan lahap. Semangkuk udon dengan kuah kari daging sapi ditambah dengan kakiage [bakwan jepang berbentuk bulat] dan tempura udang nyaris tandas. Gelas lemon tea pun sudah diisi ulang dua kali.


“Kayaknya kamu laper banget ya Vir?”


“Iya," jawab Vira pendek.


Vira menghabiskan makanannya dengan cepat tanpa bicara lagi. Mangkuknya licin hanya tersisa kuah kari yang menempel tipis. Kosa tertawa melihatnya.

__ADS_1


Vira tersadar bahwa Kosa tertawa karena dirinya.


“Vira kalau lagi banyak pikiran larinya ya makan, Bang!”


“Ah, lagi gak mikir juga kamu makannya banyak,” celetuk Kosa.


“Hahahaha…..” Vira tertawa lepas.


Namun, suara tawa Vira dari yang renyah tiba-tiba berubah pelan dan terdiam. Matanya mulai memancar kesedihan.


“Papa punya istri lain dan anaknya sudah ada dua,” ucap Vira pelan.


“Mamah nangis dan Vira bingung mau gimana,” lanjutnya.


“Oooh.” Kosa lalu terdiam sesaat. Ditatapnya mata Vira yang masih menyimpan kesedihan.


“Kamu mau nambah lagi?” tanya Kosa dengan nada bercanda.


“Hahaha, abang ah. Vira udah gak stres lagi. Udah ketemu Abang dan udah makan.”


“Abis ini mau ngapain?” tanya Kosa kembali.


“Mau jalan-jalan aja sama Abang. Males pulang. Ada Papa di rumah, Mama mungkin masih sedih. Natha balik ke tempas kosnya. Mirna sibuk belajar, mau ujian buat kelulusan.”


“Kenapa kamu gak nemenin Mama, Vir?”


“Ada Papa. Tadi Vira teriak ke Mama buat cerai aja dari Papa. Abis gak tahan lihat Mama nangis.”


“Abis teriak, kamu kabur?” tanya Kosa.


“Iya, hehehe,” jawab Vira nyengir.

__ADS_1


Tiba-tiba cengiran Vira berubah menjadi isakan tangis dengan cucuran air mata.


Kosa diam dan membiarkannya sampai Vira puas menumpahkan apa isi hatinya. Tak peduli orang lain melihat dan berprasangka seperti apa.


__ADS_2