
Kosara Dwinanta
Kosa pulang ke rumah Mas Andri dalam keadaan mood yang tidak bagus. Perasaannya berkecamuk dan pikiraannya dipenuhi oleh kejadian tadi pagi di rumah Vira.
Mas Andri marah karena Kosa tidak pulang kemarin sehingga terpaksa dirinya harus menggunakan taksi online. Belum lagi didapati mobil SUV putihnya kini penuh dengan noda-noda kotor bekas cipratan air hujan.
Selesai mencuci mobil, Kosa izin kembali ke Depok. Sepertinya Kosa harus menjauh dulu dari Vira. Membiarkan Vira istirahat barang sejenak untuk menetralisir keadaannya.
Meskipun mereka tidak bertengkar tapi Kosa yakin saat ini Vira membutuhkan waktu sendiri. Dan jika memang saatnya tiba, Vira akan menceritakan semua pada Kosa.
Dengan vespa-nya, Kosa menyusuri jalan Kalimalang yang masih basah karena terguyur hujan tadi pagi. Melintasi Cawang dan belok kiri ke jalan Dewi Sartika. Setelah melewati Kalibata, Kosa mengambil jalan lurus Pasar Minggu menuju Depok. Perjalanan yang begitu panjang dan melelahkan. Padahal selama ini bersama Vira, rute Bekasi Depok sepertinya tidaklah seberapa jauh.
Suasana rumah kos sangat sepi, masih ditinggal penghuninya pulang kampung. Kamarnya sudah lama ditinggalkan sejak ke Yogya nyaris dua minggu. Agak sedikit berbau apek.
Ada beberapa pakaian kotor yang lupa ia cuci sebelum turun lapangan dan ditambah setelah pulang dari Yogya. Jumlahnya cukup banyak, hanya menyisakan setengah pakaian bersih yang ada di lemarinya.
Kosa segera meletakkan pakaian kotor ke dalam plastik besar untuk dibawa ke laundry yang jaraknya hanya 100 meter dari rumah kos. Biayanya hanya enam ribu rupiah per kilogram, lumayan murah tidak terlalu menguras kantongnya. Sisa uang penelitian masih cukup untuk membayar kamar kos-nya dan makan sehari-hari untuk beberapa bulan ke depan.
Kosa teringat dengan lelaki yang disebut dengan Mas Cokro oleh Vira. Lelaki perlente yang sepertinya masuk kategori kelas atas. Mobilnya saja mungkin berharga di atas satu milyar. Jas kasual yang dipakainya juga dari bahan yang berbeda. Apakah Vira tertarik dengan lelaki itu karena kekayaannya? Apa yang sudah Vira lakukan yang membuat lelaki itu datang ke rumahnya. Pikiran Kosa mulai dipenuhi prasangka.
Kosa mulai membandingkan dengan dirinya yang harus bekerja sambilan dan berhemat untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Untung saja ia mendapatkan beasiswa untuk membayar biaya kuliahnya sehingga waktunya tidak habis untuk mencari uang. Karenanya, Kosa hanya bisa mengajak Vira jalan dengan motor vespa atau mobil pinjaman Mas Andri.
Dari tempat laundry, Kosa mampir ke mini market terdekat. Ia membeli pengharum ruangan, beberapa snack untuk menemaninya mengerjakan data skripsi, pasta gigi, dan obat sakit kepala. Kosa juga membeli mie instan dengan jumlah cukup banyak. Tampaknya ia akan menghabiskan waktu lebih banyak di kamar kos-nya dan tidak keluar bersama Vira.
Elvira Kinanti
Vira berulang kali membaca pesan dari nomor Mas Cokro. Berulang kali pula dirinya mencoba membalas namun menghapusnya kembali. Ada keraguan besar untuk merespon pesan itu. Dirinya tak ingin memperpanjang urusan dengan Mas Cokro. Cukup sampai di sini saja.
Perasaan Vira terhadap Kosa sungguh tak enak. Sepertinya Kosa menyadari benar apa yang sudah terjadi antara dirinya dengan Mas Cokro. Meski ia menganggap insiden itu sudah berlalu tapi ternyata tidak semudah yang ia bayangkan untuk melupakan semuanya. Vira yakin bahwa kehadiran Mas Cokro pagi ini mulai memberikan kepingan puzzle pertama yang akan disusun Kosa.
Vira ingin menjelaskan semuanya ke Kosa, tapi tidak bisa. Tidak sampai hati dirinya untuk mengatakan apa yang terjadi meski ciuman itu terjadi bukan atas kehendak dirinya. Ia hanya meminta Kosa percaya padanya bahwa memang tidak terjadi apa-apa.
Tapi sepertinya Vira juga harus memastikan bahwa memang tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Mas Cokro. Akhirnya Vira memutuskan untuk membalas pesannya. Ia juga harus mengembalikan cincin itu. Tak elok ia menerimanya begitu saja.
Diketiknya balasan untuk Mas Cokro. Hanya dua kalimat cukup pendek.
[Mas Cokro saja yang menentukan kapan dan dimana. Nanti Vira datang]
__ADS_1
Pesan Vira langsung centang dua dan berwarna biru, tanda langsung dibaca. Mas Cokro langsung mengetik balasannya.
[Mas jemput saja, lusa pagi]
Tjokro Adjie Pambudi
Cokro merasa dirinya datang di saat yang tidak tepat. Kehadirannya hanya membuat Vira gugup di depan lelaki yang menjadi pacarnya itu. Padahal kedatangannya hanya ingin memberikan sweater cashmere yang dibelinya di Pokhara. Yang tidak bisa dia berikan langsung di hadapan teman-teman pendakinya.
Cokro mengakui bahwa Vira memberikan perasaan baru yang muncul di hatinya. Tapi apakah ini cinta? Ia belum mengetahuinya pasti. Cokro hanya ingin berterima kasih dengan memberikan hadiah-hadiah yang ia yakini akan disukai Vira.
Ketika Cokro menggenggam erat tangan Vira sebelum masuk mobil, dirinya hanya ingin mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi ternyata tidak semudah itu mengatakannya. Karena ada lelaki itu yang membuat Vira gugup dan dirinya tidak bisa berkata-kata.
Cokro merasa harus bertemu Vira sekali lagi. Vira menyanggupi. Lusa pagi dirinya akan menjemput Vira.
Usia Cokro baru menginjak dua puluh tiga tahun ketika menikah dengan Rahayu, mahasiswi yang dipacarinya sejak masuk bangku kuliah. Menikah saat lulus kuliah dari Fakultas Teknik salah satu Universitas Negeri di Surabaya. Hanya dua tahun Ayu kemudian meninggal karena kanker ovarium. Begitu cepat. Meninggalkan Cokro seorang diri.
Lima tahun sudah Cokro menduda. Bahkan usianya kini masih muda. Baru tiga puluh tahun. Selama lima tahun itu pula Cokro disibukkan dengan bisnis bersama teman-temannya. Bisnis start-up dan mengembangkan anak perusahaan milik Bapak di Surabaya.
Tidak ada satu perempuan pun yang bisa menarik hati Cokro karena ingatannya tentang Ayu begitu kuat. Ada ketakutan besar yang menyergapnya yang membuat dirinya enggan berhubungan dengan perempuan.
Hari ini adalah kesekian kalinya Ibu dan Bapak mencoba mengenalkan Cokro dengan perempuan dari keluarga yang mereka anggap sederajat. Anak pertama dari keluarga Sasongko yang sudah bercerai juga. Cerai hidup. Entah apa penyebabnya. Pertemuan ini sudah direncanakan sejak lama. Hanya Cokro mengulur waktu dan baru bisa memenuhi sepulang dari Annapurna.
Bapak dan Ibu memperkenalkan dirinya, kakak perempuannya Sitoresmi Adjeng, dan adik lelakinya Sambara Bagas kepada keluarga Sasongko. Keluarga pengusaha sekaligus politisi yang diperkenalkan pun menyambutnya dengan balik memperkenalkan anak perempuan dan anak lelakinya.
“Maafkan kami, anak kami yang kedua sedang mengambil masternya di Birmingham, Inggris. Jadi tidak bisa ikut dalam pertemuan ini,” ucap pria kacamata dan berambut putih. Sosok politisi senior yang seringkali masuk dalam surat kabar.
Setelah perkenalan, pertemuan keluarga berubah menjadi kelompok-kelompok kecil meninggalkan Cokro dengan Lydia Sasongko, perempuan yang ingin dijodohkan dengannya. Berdua saja.
Mereka terdiam lama dan tidak saling memandang.
“Actually, I just don’t get it why we are here [sebenarnya gue gak ngerti kenapa kita di sini],” ucap perempuan itu pelan, seolah takut terdengar.
“I’m tired of all this. They think we couldn’t find a way to get life partner by ourself [Capek gue, Mereka pikir kita gak bisa apa cari sendiri pasangan hidup],” sambungnya pelan.
Cokro memandangnya dan tersenyum getir. Perempuan ini punya perasaan yang sama dengannya.
__ADS_1
“Ikuti saja keinginan mereka sebentar. Jangan terlalu cepat memutuskan,” sahut Cokro pendek.
“Why should I [kenapa harus begitu]?” tanya perempuan itu lagi.
“Semakin cepat kita memutuskan maka semakin cepat mereka akan menjodohkan kita lagi dengan yang lain,” jelas Cokro.
“Oh, I see [oh, gue ngerti]!”
“Kamu gak ikut ke Senayan?” tanya Cokro
“Nope, I don’t like politics, i just want to do business [gak, gue gak suka politik, bisnis aja lah]!”
“Keluar yuk!” ucap perempuan itu lalu berdiri menuju ke arah kolam renang. Cokro mengikutinya.
Ibu merasa puas dengan pertemuan di kediaman keluarga Sasongko. Teman bisnis suaminya yang juga politisi salah satu partai terkuat di Indonesia.
“Anaknya cantik, tidak terlihat seperti janda. Cocok buat kamu!” ucap Ibu.
Cokro tersenyum pendek.
“Ibu sih asal cantik, semua cocok buat Mas Adjie,” seloroh Sambara yang duduk di samping Cokro.
“Anaknya juga sehat dan dari tadi ibu lihat juga selalu ngajak Adjie ngobrol. Bagus kan?”
“Bagas, kamu sendiri kapan nikahnya?” tanya Ibu yang membuat Cokro tertawa geli.
“Koq jadi aku sih Bu yang ditanya nikahnya? Ini kan acaranya Mas Adjie,” elak Sambara.
“Umurku juga masih 28, masih muda,” sambung Sambara dengan nada agak kesal.
“Djie, kapan kamu kembali ke Surabaya? Besok?” tanya Ibu ke Cokro.
“Diundur Bu, lusa pagi!”
“Loh, katamu langsung pulang setelah pertemuan keluarga Sasongko?” tanya Ibu.
“Iya Bu, ternyata besok ada acara sama teman seharian,” jawab Cokro.
__ADS_1
“Ibu sama Bapak mau ke rumah Adjeng lagi besok, mau lihat cucu. Nanti kamu ke Bandaranya biar diantar Pak Manto!”
Cokro mengangguk pelan.