
Vira sudah menghabiskan piring kedua dari pecel ayam yang disantapnya dengan nasi uduk. Kosa hanya memandanginya dengan senyum lebar. Tak percaya dengan postur tubuh yang kurus seperti Vira mampu menyantap makanan begitu banyak.
“Abang kenapa senyum-senyum sendiri gitu?” tanya Vira yang justru membuat Kosa tertawa.
“Ih ditanya malah ketawa. Aneh!” imbuh Vira.
“Vir, jumat ini Abang sidang proposal skripsi. Mau datang?” tanya Kosa.
“Yah Abang, Vira tadi janji sama Pak Faisal datangnya hari kamis dan jumat. Dimajuin aja jadi rabu bagaimana?” pinta Vira.
“Hahaha, emangnya Abang yang punya kampus bisa nentuin hari? Dasar kamu!”
“Yakali aja Bang, Prof. Ibrahim mau dengar. Kan orangnya baik banget!”
“Gak sopan ah Vir ngatur Profesor gitu. Kalau Vira gak bisa datang ya gak apa-apa. Cuma sidang proposal doang koq!” sergah Kosa.
“Abang hari senin sampai jumat minggu depan ke Serang ya Vir! Lima hari mungkin kita gak ketemu. Jadi nanti Abang gak bisa jemput Vira di Stasiun pulang magang.”
“Abang ngapain ke Serang?” tanya Vira penasaran sambil mengaduk es yang tersisa agar menjadi cair di gelasnya.
“Kan Abang pernah bilang kalau Abang diminta bantuin jadi asistennya Matsuoka Sensei di Pusat Kajian Jepang, Tadi meeting pertama dan senin depan beliau sudah terjun lapangan.”
“Lama banget, ngapain aja?”
“Ya lama lah kalau penelitian kualitatif. Wawancara sana sini, apalagi sama perangkat desa. Perjalanan ke setiap desa yang jadi sampelnya itu yang lama Vir! Kamu aja waktu penelitian di Karawang lima hari juga kan? Itu di Kota loh apalagi ini di desa.”
“Abang yang ngurusin semuanya?”
“Ya gak lah. Yang ngurusin birokrasi desa sampelnya ada dosen dari Untirta sana. Yang wawancara juga Matsuoka Sensei. Abang cuma kebagian ngurusin printilan yang dibutuhin selama di sana. Lumayan Vir. Honornya besar dan Abang juga bisa belajar banyak.”
Hari berlalu dan hari kamis ini adalah hari pertama Vira secara resmi magang di kantor anggota dewan Pak Herman Sasongko. Lelaki paruh baya berkacamata dan rambut yang nyaris dipenuhi uban menyambut gembira dirinya ketika bertemu.
“Selamat datang Elvira Kinanti. Nama yang bagus. Saya suka dengan mahasiswi magang dari almamater saya. Selalu rajin dan kerjanya luar biasa,” ujar Pak Herman dengan gaya flamboyan yang membuat Vira tersenyum.
“Mohon bimbingannya Pak Herman,” pinta Vira dengan badan setengah membungkuk sebagai bentuk penghormatan.
“Nanti kamu bisa tanya-tanya sama Faisal saja tentang kerjaan yang harus dilakukan. Kadang saya juga akan minta bantuan langsung ke kamu dan kamu harus siap. Bisa?”
“Siap Pak, saya bisa!” ucap Vira dengan suara lantang.
“Bagus kalau begitu, saya ke dalam dulu” sahut Pak Herman lalu meninggalkan Vira menuju ruangannya.
“Elvira, Bapak nanti jam dua ada rapat komisi tentang kasus pelanggaran HAM terhadap buruh. Kamu ikut jadi pendengar ya! Kerjaannya ya dengar dan catet-catet yang penting aja. Tapi nanti jam 12 siang ada orang yang antar makanan Bapak dari Ibu Ruth. Nanti kamu pindahin makanannya ke piring dan mangkuk porselen putih yang ada di ruang Bapak. Ngerti ya tugasnya?” perintah Pak Faisal.
“Siap Pak!”
“Nanti sama saya ya Mba Elvira mindahin makanannya. Saya ajarin,” sahut Bu Fatmah.
__ADS_1
Vira mengangguk meski dalam hatinya bertanya mengapa memindahkan makanan saja butuh diajarkan segala. Tugas yang aneh dan tidak ada dalam deskripsi kerja magangnya.
Pak Faisal dan Bu Fatmah izin keluar makan jam sebelas siang. Ini kebiasaan mereka karena nanti ketika Pak Herman makan siang, mereka tetap ada di tempat. Kantor tidak ditinggalkan kosong begitu saja. Sedangkan mahasiswa magang makan siangnya yang paling akhir setelah Pak Herman selesai makan.
Pintu kantor diketuk lalu dibuka oleh seorang lelaki muda dengan wajah bersih dan sedikit berjanggut. Vira bangun dari duduknya dan menghampiri lelaki itu.
“Oh, ini Mas yang antar makanan untuk Pak Herman ya?” tanya Vira.
Lelaki muda dengan sedikit janggut itu menatapnya dan agak sedikit terkejut. Dirinya mengangguk dan mengucapkan salam. Lalu bergegas menuju ruang Pak Herman. Terdengar suara Pak Herman yang gembira menyambutnya.
Vira meyakini bahwa lelaki tersebut bukanlah kurir biasa dan sudah mengenal Pak Herman dengan baik. Tapi kenapa lelaki itu agak terkejut saat melihatnya, pikir Vira tidak mengerti. Vira sama sekali tidak mengenalnya sebelum ini.
Tak lama kemudian Pak Faisal dan Bu Fatmah masuk ke dalam ruangan dengan tertawa. Sepertinya mereka puas dengan makan siangnya.
“Mba Elvira, makanan Bapak sudah datang?” tanya Bu Fatmah.
“Sudah Bu, tapi kurirnya masuk ke ruangan Bapak dan belum keluar sampai sekarang,” jawab Vira.
“Oh anaknya cakep ya? Itu anak bungsunya Pak Herman. Biarin aja. Biar dia yang urus makanan Bapak,” tukas Bu Fatmah.
“Mba Elvira mau makan sekarang? Nanti biar urusan Bapak saya yang tangani.”
Vira memandang Pak Faisal yang kemudian ditanggapi dengan anggukan. Vira lalu mengambil tas rajut coklatnya dan keluar untuk makan siang.
Dengan langkah santai Vira menuju elevator. Hari ini perutnya tidak terlalu lapar karena Vira sudah mengantisipasinya dengan membeli roti dan onigiri di mini market dekat stasiun. Meskipun demikian, Vira ingin mencoba beberapa makanan yang tampaknya enak di Kantin Pujasera tempatnya makan kemarin.
“Vira tunggu sebentar.” Terdengar suara lelaki yang membuatnya menoleh dan terkejut saat melihat siapa yang memanggilnya itu.
“Iya benar. Saya temani ke bawah ya!”
“Mas koq tau nama saya?” tanya Vira merasa heran.
“Eh, itu.. tadi dikasih tau sama Bu Fatmah,” jawabnya dengan sedikit canggung.
“Kamu anak FISIP UI ya?” tanya lelaki itu.
“Iya, koq Mas tau?” mata Vira mengernyit kembali.
“Dikasih tau sama Bu Fatmah juga. Mau makan siang bareng di bawah?”
“Eh, bukannya tadi sudah makan sama Pak Herman? Maksud saya sama Bapak?”
“Belum, tadi cuma antar masakan Mama. Papa makanannya harus dijaga, maklum sudah berumur.”
“Eh Mas, saya belum tau namanya. Anak UI juga kan ya?” Tiba-tiba Vira teringat dengan informasi yang dijelaskan Pak Faisal kemarin lalu.
“Oh, maaf, iya benar. Saya Ganindra, baru aja lulus dari Fakultas Teknik.”
“Waah senior, keren dong! Teknik kan susah," ujar Vira dengan nada takjub yang membuat Ganindra tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
Awalnya Vira merasa aneh, karena seolah-olah Ganindra seperti sudah mengenalnya padahal Vira sama sekali sebaliknya. Tak sekali pun Vira pernah bertemu dengan Ganindra meskipun kampusnya hanya berjarak sekian ratus meter saja.
Namun seiring percakapan mereka sepanjang langkah kaki menuju kantin, rasa canggung menjadi berkurang. Vira merasa ada sesuatu yang membuatnya terhubung dengan sosok lelaki yang menyimpan garis wajah yang sama dengan Pak Herman, anggota dewan yang menjadi bosnya sekarang. Hanya saja terkadang Vira merasa bahwa tatapan Ganindra lebih sering mengarah ke bawah daripada menatap matanya secara langsung
Vira memesan makanan yang sama dengan Ganindra, gado-gado yang katanya paling laris di Kantin Pujasera. Tampak kantin penuh karena memang jam makan siang. Banyak suara yang saling beradu di udara yang membuat mereka lebih banyak diam dan menyantap makanan yang tersaji.
Ganindra mengantarkan Vira kembali sampai ke Lobby. Wajahnya terlihat sumringah. Vira merasa Ganindra menganggapnya sebagai teman lama yang baru kembali bertemu. Padahal terus terang Vira masih menganggap kebersamaannya yang sekejap dengan Ganindra adalah sesuatu yang aneh, di luar nalarnya.
Rapat terkait pelanggaran HAM terhadap buruh berlangsung sekitar dua jam. Ternyata rapat ini adalah rapat dengar pendapat umum dengan perwakilan buruh tambang. Ada banyak hak-hak buruh tambang yang dibiarkan oleh pihak perusahaan yang bahkan mengancam jiwa buruh. Mereka meminta perubahan undang-undang ketenagakerjaan khususnya sektor pertambangan.
Vira mendengarkan dengan seksama dan mencatat poin-poin penting seperti yang diminta Pak Faisal. Hatinya terenyuh mendengar penuturan perwakilan buruh tambang ini. Selama ini Vira hanya mengikuti dalam berita-berita di koran dan online saja. Pengalaman kali ini adalah hal baru baginya. Lebih berharga menurutnya dari sekedar baca buku yang biasa ia lakoni.
“Vir, besok setelah sholat jumat Bapak ada rapat di Kemenhukham Kuningan. Kamu mau ikut?” tanya Pak Faisal setelah Vira menyerahkan notulen rapat tadi.
“Eh, beneran Pak?”
“Ya benar lah, kamu pikir ajakan saya pura-pura?”
“Eh bukan itu Pak maksudnya. Itu….itu…saya bisa ikut Pak!” Vira jadi gelagapan sendiri.
“Kamu gak usah ke Kantor tapi langsung ke sana saja. Nanti saya share location.”
“Siap Pak!”
Pulang magang, Vira bertemu Melati di Stasiun Palmerah yang letaknya lebih dekat dari Gedung Parlemen meski rutenya menuju Depok lebih jauh.
Berdua saling jingkrak kegirangan karena berada dalam peron yang sama. Peron yang dipenuhi dengan jejalan para pekerja kantor berkerah dengan mata yang terus menatap ke arah ponselnya.
“Gila, bisa ketemuan di sini, padahal kita magang di gedung yang sama. Ajiiiib!” seru Vira yang disambut gelak Melati.
“Jadi ke Senayan setiap hari apa Vir?” tanya Melati.
“Biar bisa pulang pergi bareng kita,” ucap Melati lagi dengan wajah begitu senang.
“Kamis jumat tapi kadang rabu juga kalau dibutuhkan. Ya suka-suka yang kasih kerjaan lah!” jawab Vira.
“Yaaaah, gue selasa kamis. Tapi lumayan lah kamis bisa barengan. Tapi kerjaan gue santai banget Vir. Lah itu Staf Ahlinya Bu Muthia sampai empat orang ditambah satf administrasi dan mahasiswa magang dua orang. Kebayang kan itu kantor isinya penuh kalau datang semua. Untung aja Staf Ahlinya digilir masuknya. Tapi Bu Muthia itu baik banget, kerjaannya rapat, makan, ngobrol aja,” curhat Melati.
“Mel, geser ke sinian Mel biar dapet gerbong perempuan,” ajak Vira menarik lengan Melati agak kepinggir agar tidak terbawa arus penumpang yang memadati peron.
“Bos gue sama Staf ahli gue baik banget. Gue dikasih kerjaan yang bikin gue pinter Mel. Keren lah! Gue pikir bakalan stress berat sama nih magang tapi ternyata lumayan keren, bikin gue senang."
Pintu kereta commuter line mulai terbuka, Vira dan Melati masuk dengan begitu cepat ke dalam gerbong akibat dorongan dari belakang. Tanpa ada perencanaan, tubuh mereka sudah terdesak masuk ke bagian tengah yang lebih lengang.
“Yang kayak gini ini nih Vir, yang bikin gue stress. Kalau gini ceritanya Vir, gue cuma pengen punya pacar kaya raya yang bisa antar jemput gue pakai mobil mewah. Terjamin lah hidup gue, seloroh Melati sambil tertawa.
Vira tertawa. Tetiba pikirannya melayang pada mobil sedan berwarna hitam metalik yang pernah ditumpanginya. Membayangkan kenyamanan yang pernah dirasakannya dan juga sensasi yang diberikan pemiliknya. Membuat tubuhnya tetiba menghangat.
__ADS_1
Dengan cepat digeleng-gelengkan kepalanya. Aaaah, jangan ingat, jangan ingat, jangan ingat, rutuknya dalam hati, mencoba melupakannya.
Vira mengecek ponselnya. Bermaksud untuk mengabarkan kepada Kosa bahwa dirinya akan sampai sekitar satu jam lagi jika tidak ada gangguan. Namun matanya tak sengaja melihat notifikasi dari nomor Mas Cokro. Ada lebih dari dua puluh pesan yang belum dibacanya sejak Mas Cokro terakhir kali ke rumah Bekasi.