Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Rendezvous


__ADS_3

Kosa mendatangi kampus Fahutan, kampus paling utara Universitas negeri ternama di Yogyakarta, tempat kuliahnya dulu. Dirinya mengamati arboretum, hutan kecil yang terletak di depan kampusnya. Pohon-pohon besar dan taman botani yang menjadi lokus praktikum di semester-semester awal menjadi surganya para burung. Suara kicau burung terdengar harmoni di telinganya.


Kampus terlihat sepi karena masuk musim liburan. Hanya ada beberapa saja yang tampak seperti mahasiswa yang masih lalu lalang di kampus. Sisanya hanya pegawai dengan kemeja yang rapih dan celana bahan. Kosa tersenyum dan menganggukkan kepala ketika bertatapan dengan mereka.


Kosa berjalan menuju arah sungai kecil untuk menuju warung gudeg favoritnya. Mereka tampak sudah buka. Memang cukup mahal untuk ukuran mahasiswa tapi kadang sesekali tidak mengapa karena ingat dulu dirinya seringkali menghemat uang. Terkadang makan gratis di masjid-masjid atau acara kepanitian kampus.


Dipesannya nasi gudeg sambal krecek dengan tambahan telur rebus yang berwarna kecoklatan. Campuran rasa pedas dan manis cocok sekali dipadukan dengan segelas teh tawar hangat. Ini adalah menu favorit almarhum Nenek yang dulu pertama kali mengantarnya ke Yogya.


Meskipun dirasa sudah lama mengelilingi kampus dan makan gudeg, namun waktu berjalan sangat lambat. Tidak ada target yang harus dikerjakan. Bahkan waktu belum menunjukkan pukul 12 siang.


Dari koridor 4A, Kosa naik bis menuju Malioboro. Tadinya mau jalan kaki saja karena jaraknya pun tak lebih dari lima kilometer, hitung-hitung menyusuri kenangan saat dirinya dan teman satu kos olahraga minggu pagi. Ternyata, sinar matahari yang begitu terik menyurutkan niatnya.


Jalanan lengang dan hanya 15 menit saja bis sudah sampai mengantarkannya di depan Tugu Malioboro. Kosa sengaja memilih turun di sana karena tidak jauh terdapat toko yang menjual tas rajut yang ingin dibelikannya untuk Vira.


Toko tas rajut itu ternyata tutup istirahat makan siang dan buka kembali pukul setengah dua. Kosa berjalan menyusuri trotoar menuju Malioboro.


Tampaknya berjalan-jalan sejenak di Mall saat siang terik seperti ini adalah ide bagus. Kosa langsung menuju lower ground, ke toko buku yang menjadi favoritnya dulu semasa menjadi mahasiswa di sini.


Tidak terlalu ramai jika siang apalagi dalam kondisi sekolah libur. Malam hari Malioboro baru ramai terutama oleh wisatawan domestik.


Kosa menuju bagian depan kasir yang memajang buku-buku best seller. Kebanyakan buku-buku agama, motivasi, dan novel romantis. Kosa merasa tidak ingin membaca tema itu.


Ia melangkahkan kakinya menuju tempat komik yang letaknya agak di belakang. Sudah ada beberapa yang berdiri membaca komik di sana. Kosa mengambil salah satu komik yang sudah dibuka secara acak. Komik tentang olahraga bela diri. Lalu berpindah ke tema lain sesuai dengan ketersediaan komik yang sudah dibuka segel plastiknya.


Tak sengaja dirinya menyentuh tangan pembaca lain yang ingin mengambil komik yang sama.


“Maaf,” ucap Kosa lalu menoleh ke arah kiri tempat tangan itu muncul tiba-tiba.


“Saya yang minta maaf,” sahut si pemilik tangan sambil menoleh ke arah Kosa.


“Loh, kamu si kacamata?”

__ADS_1


“Eh, Kak Kating,” ujarnya kikuk lalu menunduk.


Kosa ingat betul dengan wajah calon junior di jurusannya ini yang berprilaku sedikit menyebalkan saat naik kereta kemarin lalu. Wajah yang tak ramah.


“Koq bisa kamu di sini?” tanya Kosa keheranan


“Ya bisa Kak, omahku chedak kene [rumahku deket]. Lah, Kakak bukannya lagi penelitian skripsi di Bantul?” jawab si kacamata dan bertanya kembali.


“Udah selesai,” jawab Kosa.


“Cepet banget Kak, penelitiannya bener?”


“Eh ndak sopan kamu ngomong sama Kating gitu.”


“Hehehe, maaf. Ojo nesu [jangan marah], Kak!” sahutnya tertawa.


“Minta maaf koq sambil tertawa.”


Calon juniornya yang berkacamata ini namanya Trisha. Kosa mengajaknya ngobrol di salah satu Cafe di dalam Mal. Ternyata Trisha masuk ke jurusan politik karena mengikuti jejak almarhum kakak pertamanya yang masuk politik.


"Endi [kemana], Kak?"


“Keliling Yogya.”


“Emoh [gak mau],” tolak Trisha.


“Ndak sopan nolak permintaan Kating.”


“Yogya tuh luas Kak, mahal biayanya kalo keliling gitu. Aku ora duwe dhuwit [gak punya uang]. Dibayarin juga emoh."


“Ndak sak Propinsi Yogya Tris, kotanya saja.”

__ADS_1


Kosa akhirnya bisa memaksa Trisha dengan menggunakan keistimewaannya sebagai kakak tingkat.


Ternyata baru disadari, meskipun pernah dua tahun tinggal dan kuliah di Yogya namun Kosa sama sekali belum pernah keliling Yogya selain kampusnya dan seputaran Malioboro saja. Payah.


---------------------------------------------


Kosa memeriksa pesan chat di ponselnya. Vira mengabarkan bahwa dalam empat hari ke depan mereka akan sampai di Jakarta dan pesawatnya mendarat di Terminal 2D. Sayang sekali ketika Kosa ingin menelpon Vira, tidak tersambung. Ponselnya tidak aktif. Mungkin Vira lagi keluar.


Kosa lalu membalas pesannya. Mengabarkan kalau nanti Kosa akan meminjam mobil Mas Andri untuk menjemput Vira di Bandara. Jadi Vira tidak perlu naik taksi.


Kosa sudah membelikan Vira tas rajut berwarna coklat. Sepertinya warna ini akan serasi dengan warna jilbab coklat susu yang sering dipakai Vira ke kampus. Trisha yang membantu memilihkan warnanya kemarin sore setelah pertemuan di toko buku, Mal Malioboro.


Esoknya Kosa sudah menunggu di depan Mal Malioboro karena penginapannya dekat di Sosrokusuman. Kosa janjian dengan Trisha jam sembilan pagi. Ternyata Trisha membawa dua orang temannya yang kemarin juga bertemu Kosa di Kereta Argo Lawu.


“Kak, ini aku ajak Niken sama Fransiska ya biar rame. Nek dhewekan yo wedhi [kalo sendirian takut],” ucap Trisha sambil mengacungkan dua jarinya membentuk tanda victory.


“Hahaha,” Kosa tertawa mendengar jawaban Trisha. Benar-benar maba yang berani.


“Ini Niken yang kemarin baju merah kan?” tanya Kosa yang disambut dengan anggukan dari pemilik wajah manis kemayu.


“Berarti ini Siska ya? Koq sampeyan namanya mirip sama mantanku,” goda Kosa yang membuat Trisha memanyunkan bibirnya.


“Ih modus banget sih Kak!” ucap Trisha yang kembali membuatnya tertawa.


Mereka berjalan melewati Pasar Beringharjo menuju Museum Benteng Vredeburg sebagai tempat singgah pertama. Setelah itu mereka ke Museum Sonobudoyo dan baru masuk ke area Keraton dan Museum kereta yang terletak di seberangnya.


Para calon maba ini ternyata tidak mau ditraktir selama perjalanan. Katanya sekalian karena selama tinggal di Yogya mereka juga jarang jalan ke seputaran Keraton dan Museum. Kosa menjadi tidak enak hati.


Setelah sholat dzuhur di Masjid Gedhe Kauman, mereka pergi ke Taman Sari. Trisha, Niken, dan Fransiska sepertinya senang berlama-lama di sini. Mereka sibuk berselfia ria dan membiarkan Kosa sendirian.


“Piye iki [bagaimana ini], koq malah aku yang jadi guide buat sampeyan,” keluh Kosa.

__ADS_1


Besoknya Trisha, Niken, dan Siska mengajak Kosa menyusuri tempat anak muda dan kuliner ala Yogya. Sayang sekali mereka seringkali tidak ikutan makan bersama Kosa. Tidak terlalu lapar dan diet menjadi alasan klasik perempuan menolak makanan yang ditawarkan. Hanya memesan minuman saja.


Kosa jadi teringat dengan Vira yang suka sekali dengan makan. Dan saat itu pula Kosa semakin merindukannya.


__ADS_2