
^Tenang
Gani menatap ponselnya sesaat. Ada jawaban pendek dari Vira yang menyatakan dirinya bisa menemui Gani di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Dilihatnya kembali map berwarna hijau yang di atas meja belajarnya. Map yang dulu pernah kembalikan Mas Fahd, senior sekaligus mentornya di Kampus yang mengajarkan banyak tentang agama. Dimasukkannya map tersebut ke dalam tas ransel yang akan dibawanya ke Riau. Tidak banyak barang yang dibawa, hanya satu koper ukuran 28 inci saja yang berisi pakaian dan sepatu serta satu tas ransel yang berisi dokumen.
Pertemuan terakhir di Kantor Pusat Perusahaan Minyak tempatnya bekerja beberapa waktu lalu menyiratkan bahwa akan ada pergantian pengelola Blok Rokan ke tangan pemerintah dalam beberapa tahun mendatang. Gani memang sengaja diminta untuk ikut terlibat dalam proses pengalihan ini. Pihak perusahaan mengatakan bahwa rekruitmen pegawai baru pada bisnis yang akan berpindah pengelolaan ini adalah investasi bagi sumber daya manusia di Perusahaan mereka. Gani tidak masalah karena memang keinginan dan tekadnya adalah bekerja di luar bayangan perusahaan keluarga. Gani ingin membangun kehidupannya sendiri dari bawah.
Ada suara ketukan pelan meskipun pintu kamar Gani setengah terbuka. Perempuan paruh baya berkulit putih pucat masuk ke kamar dengan nuansa putih.
“Sudah siap semuanya?” tanya Ibu Ruth
Gani mengangguk.
“Mau berangkat sekarang? Papa ada rapat hari ini. Mau Mama temani ke Bandara?”
Gani menggelang. “Mama istirahat saja di rumah. Pasti masih lelah pulang dari Belanda dan acara Kak Lydia kemarin.”
“Diantar Pak Yadi ya? Jangan taksi. Nanti Lydia juga langsung ke Bandara. Makan siang dulu sama Mama.”
Gani mengangguk dan tersenyum.
“Do you have time now? We need to talk [Ada waktu? Kita perlu bicara]!”
Lydia mengirimkan pesan kepada Cokro, tunangannya. Tak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan balasannya.
“Ada rapat start-up di Kominfo. Flight ke Surabaya jam 4.”
“Ok, let’s meet at the airport. I’ll be there [Ok, ketemu di Bandara].”
Lydia memang tidak terlalu bersemangat dengan pertunangan ini karena menurutnya terlalu cepat. Oleh karena itu, ada banyak hal yang harus dibicarakan dengan Cokro. Hanya saja setelah pesta kebun usai, baik Lydia maupun Cokro tidak ada satu pun dari mereka yang saling menghubungi. Mereka sama-sama mengerti bahwa pertunangan yang cepat dilakukan sebagai tanda pengikat kedua keluarga. Ada bisnis yang direncanakan bersama oleh dua keluarga besar ini.
Seminggu ini dirinya akan disibukkan dengan perjalanan bisnis. Lydia harus mengecek langsung ke Pabrik Kaca Satin dan painted glass di Manisa Turki dan Distrik Jiading, Shanghai. Salah satu perusahaannya yang bergerak di bidang jasa konstruksi mulai mengerjakan banyak proyek renovasi Gedung perkantoran lama di Jakarta. Ada banyak bahan yang memang harus disuplai dalam jumlah besar karena produksi di Indonesia belum mencukupi. Desain interior maupun eksterior Gedung kantor memerlukan material kaca yang halus dan kuat untuk menciptakan suasana kontemporer dengan pilihan warna yang lebih banyak.
Setidaknya ada beberapa poin yang harus dibicarakan dengan Cokro agar pekerjaannya ke depan tidak terganggu dengan adanya pertunangan ini.
Koper berisi pakaian untuk dua belas hari perjalanan bisnis ini sudah disiapkan termasuk jaket musim gugur. Visa ke Cina sudah didapatkan karena memang mudah mengurusnya. Kantor kedutaannya tidak terlalu jauh dari kantor salah satu perusahaannya. Begitu pula dengan visa bisnis ke Turki karena surat undangan dari perusahaan manufaktur kaca di Turki dan Shanghai sudah lengkap.
Lydia akan berangkat bersama Shanti, lawyer perdagangan internasional dari firma hukum yang dimiliki Papa dan temannya, Sasongko and Soedharman Law Firm. Mereka janjian untuk bertemu di counter check-in jam setengah enam sore.
Lydia melihat kembali rentetan jadwal yang sangat padat di ponselnya. Rapat internal dengan perusahaan jasa konstruksi bagian marketing dan bagian desain baru saja selesai. Lydia juga harus bertemu dengan Gani, adik lelakinya jam satu siang di Bandara. Ini yang terpenting karena mungkin akan lama mereka tidak bertemu apalagi bisnis keluarga Sasongko tidak merambah Pulau Sumatera, sehingga agak sulit mengatur jadwal ke sana.
Lydia juga harus menemui Cokro. Penerbangan Cokro ke Surabaya sendiri hanya selang satu jam setelah penerbangan Gani ke Riau. Tidak masalah hanya sebentar karena Lydia sudah membuat perjanjian di atas kertas yang berisi poin-poin yang harus disepakati selama pertunangan ini.
Pesawatnya sendiri berangkat jam delapan malam. Ada waktu luang yang cukup yang bisa digunakan untuk relaksasi di Spa yang terletak di Gate 7 berdua dengan Shanti.
__ADS_1
Kosa dan Vira berjalan kaki menuju Stasiun Pondok Cina. Rencananya mereka akan ke Stasiun Kota dan kemudian melanjutkannya dengan taksi menuju Bandara. Lebih cepat dan hemat. Sembari menunggu kereta datang, Kosa membeli beberapa roti manis, onigiri, dan air mineral dalam botol di mini market yang terletak di dalam Stasiun.
“Makan dulu Vir,” ucap Kosa menyodorkan roti manis ke arah Vira.
Digigitnya roti manis rasa cokelat kesukaannya. Hanya dalam beberapa gigitan sudah lenyap tertelan dan perutnya masih lapar. Kosa memberikan roti yang kedua, roti manis rasa kacang merah. Rasanya lumayan enak. Sepertinya Kosa memahami benar kesukaan Vira. Dua roti juga tidak cukup mengenyangkan dan Kosa kembali memberikan onigiri tuna mayo kepada Vira.
“Masih lapar?” tanya Kosa ketika Vira menghabiskan jatah makanan yang dibelikannya untuk makan siang ini.
Vira tertawa. “Iya, belum kenyang.”
“Nanti kita makan di Bandara ya!” ajak Kosa.
“Di sana itu mahal banget tau Bang, gak usah deh!” tolak Vira.
“Gak apa-apa buat Vira sih, kalau cuma berdua Abang masih bisa kecuali satu kampung baru Abang tekor,” ucap Kosa setengah bercanda.
Perjalanan ke Stasiun Kota memakan waktu hampir satu jam lamanya. Dan dari Stasiun Kota ke Bandara dengan menggunakan taksi sekitar tiga puluh menit. Perbedaan waktunya tidak terlalu signifikan memang tapi dari segi harga jauh lebih murah daripada menggunakan taksi sejak dari Depok UI.
Sampai di Terminal 3 waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. Vira bergegas mencari-cari salah satu restoran Jepang tempat pertemuan dengan Gani sebelum berangkat. Pesawat Gani akan berangkat jam tiga sore sehingga masih ada sedikit waktu untuk bertemu.
“Abang tunggu di luar saja ya Vir!” ucap Kosa ketika mereka sampai di depan restoran yang dituju.
“Vira saja yang masuk menemui teman kamu, Abang di luar saja, nanti malah mengganggu.”
“Abang apaan sih? Sudah capek-capek ke sini koq malah di luar. Ikut saja sama Vira ke dalam yuk!” ajak Vira yang kemudian menarik Kosa dan memaksanya untuk ikut ke dalam.
Di dalam, agak sedikit memojok, Vira melihat Gani bersama Kakaknya Lydia sedang asyik berbincang. Lydia tersenyum dan menganggukkan kepala ke arahnya dan Vira pun balas tersenyum dan melambaikan tangan ke arah mereka.
Gani agak sedikit terkejut dengan kehadiran Kosa, namun Lydia bersikap biasa.
“I bet, he’s ur boyfriend, right [gw yakin itu pacar lo kan]?” seru Lydia dan Vira tersenyum malu.
“Bang, ini kenalin Mba Lydia dan Mas Gani, anak-anaknya Pak Herman Sasongko, bos Vira di DPR,” ucap Vira.
Vira lalu mengambil tempat duduk di sebelah Gani yang menghadap ke dinding kaca. Sedangkan Kosa duduk di samping Lydia dan menghadap ke arah Vira dan Gani.
Kosa tersenyum dan menyalami Lydia dan Gani.
“Maaf ya Mas Gani, Mba Lydia kami datangnya terlambat, dari kampus soalnya. Pesan chat-nya baru dibaca jam sebelas,” ucap Vira dengan raut wajah sedikit menyesal.
“Gak apa-apa Vir. Kalian sudah makan?” tanya Gani sambil memandang Vira dan Kosa secara bergantian.
Vira mengangguk. “Sudah Mas!”
__ADS_1
“I just ordered sushi for you. Is it okay [barusan sudah dipesankan sushi buat kalian, gak apa-apa kan]?” ucap Lydia.
Vira tersenyum dan mengangguk.
“Jadi, Mas Gani berapa lama di Riau?” tanya Vira membuka percakapan.
“Mungkin sekitar tiga sampai lima tahun,” jawab Gani.
“Wah, Vira kira selamanya kerja di sana. Tapi, nanti kembali ke Jakarta lagi Mas?” tanya Vira lagi.
“Belum tau, tergantung keputusan perusahaan dan kondisi di sana bagaimana,” ucap Gani.
Vira hanya mengangguk-angguk meskipun tidak tau maksudnya apa. Dilihatnya Lydia sibuk menulis pesan di ponselnya. Matanya menatap ponsel dan sesekali mendongak ke depan seperti sedang menunggu seseorang.
Lydia melambai ke depan sepertinya seseorang yang ditunggunya sudah datang. Vira tidak ingin menengok karena takut terlihat tidak sopan karena bukan dirinya yang menunggu tamu tersebut. Namun, entah kenapa Vira melihat raut wajah Kosa berubah dan menunjukkan ekspresi yang tidak terlalu bersahabat.
“Maaf terlambat,” ucap seorang lelaki yang baru datang itu sembari menarik kursi dan duduk persis di samping Vira.
Suara yang lekat di telinga ini sungguh membuat Vira terkejut dan pucat pasi. Dan ketika wajah Vira menengok ke arah lelaki itu, bersamaan pula dengan lelaki itu menengok ke arah Vira. Sungguh, tatapan Cokro ke arah Vira bukan hanya menunjukkan keterkejutan saja namun ada binar bahagia yang menyala di dalamnya.
“Cokro, this is Vira and her boyfriend Kosa. You know Vira, right [Ini Vira dan pacarnya, kamu tau Vira kan]?’ ucap Lydia.
Cokro mengangguk dan tiba-tiba memandang ke arah Lydia dan Kosa dengan senyum simpul.
“Eh, Mas Cokro datang,” ucap Vira pelan nyaris tidak terdengar dengan wajah menunduk. Ingin rasanya Vira menyembunyikan wajahnya yang memucat ini hanya karena perasaan yang begitu bersalah kepada Kosa dan Lydia.
“Gani penerbangannya jam berapa?” tanya Cokro sambil menoleh ke arah Gani.
Vira menyadari benar tatapan ke arah Gani itu juga berarti Mas Cokro menatap dirinya. Tak seinci pun Vira berani untuk menoleh. Hanya bisa diam tak bergerak menatap meja.
“Jam tiga lima belas Mas. Masih ada waktu sekitar 30 menit,” jawab Gani.
“Mas Cokro sendiri jam berapa?” Gani balik bertanya?
“Jam empat.”
“Cokro, have you eaten lunch yet [apa kamu sudah makan siang]?” tanya Lydia.
Cokro menggelang.
Pesanan sushi Lydia sudah datang, ada sekitar empat piring yang terdiri dari nigiri dan futomaki sushi. Tidak terlalu banyak bila dibandingkan dengan ingatan ketika Vira bersama Mas Cokro makan sushi di Plaza Indonesia, Mas Cokro membelikan Vira sushi dalam porsi besar.
Suasana sedikit kikuk dan lebih banyak diam. Hanya sesekali Lydia bertanya kepada Vira dan Kosa mengenai hubungan keduanya. Tentu saja dengan menggunakan Bahasa Inggris seperti biasanya. Vira cukup terkejut ketika Kosa menjawab pertanyaan Lydia juga dengan Bahasa Inggris yang fasih.
__ADS_1