
Vira
Bangun tidur Vira mendapati ranjang Mas Cokro sudah kosong dan rapi. Sementara yang lain masih tertidur.
Vira tetap diam di ranjangnya, membereskan semuanya dan entah melakukan apa. Hanya takut jika keluar dari kamar ini akan bertemu dengan Mas Cokro.
Bagaimanapun juga pendakian ini selalu mempertemukan mereka dan selama ini pun mereka jarang bicara. Vira meyakinkan dirinya bahwa yang terjadi semalam bukanlah apa-apa. Sometimes shit happens [kadang hal buruk terjadi].
Disentuh bibirnya pelan dengan ujung telunjuk. Rasa tembakau masih tersisa dan tercium samar. Teringat kembali ciuman dari Mas Cokro semalam. Ciuman yang lembut.
Aarrgg, dipukulnya kepalanya dengan kepalan jari yang tertekuk. Bodoh, batin Vira. Mengapa bisa dirinya membiarkan Mas Cokro menciumnya. Bisa saja dia mengatakan tidak. Tapi mengapa kata itu tidak keluar dari mulutnya?
--------------------------
Tjokro Adjie Pambudi
Perempuan itu sejak di Suvarnabhumi memang terlihat pendiam, tidak banyak bicara. Entah apa yang dipikirkannya sampai bisa ikut dalam rombongan pendaki ke Annapurna Base Camp. Entah apa pula yang dipikirkan Runello, sahabatnya sampai mengajak perempuan itu ikut dalam pendakian ini.
Selama perjalanan perempuan itu sudah mulai membuka diri. Tampaknya lebih suka berjalan dengan Bobby yang seumuran. Selama pendakian seperti yang sudah diduga dirinya pasti selalu sampai paling terakhir. Bagusnya dia tidak menyusahkan tim.
Perempuan itu sepertinya tidak suka berdandan. Wajahnya yang sawo matang terkadang dibiarkan penuh dengan peluh dan berkilap basah ketika diterpa sinar matahari. Dipikirnya akan repot mendaki bersama perempuan, ternyata tidak juga.
Cokro heran mendapati perempuan itu suka sekali makan. Porsinya besar dan sama sekali tidak peduli dengan berat badannya.
Terkadang perempuan itu suka berperilaku manja. Mengeluarkan kata-kata yang merajuk. Atau pura-pura marah. Tapi tampaknya Runello dan Bobby tidak menganggapnya genit. Perempuan itu tidak pernah mengajaknya bicara. Mungkin karena dia takut pada dirinya.
Masih teringat ketika perempuan itu tersesat. ada rasa takut yang muncul dalam dirinya. Ingin mengajak Une kembali untuk mencarinya tapi Sandeep mengatakan bahwa jalur menuju Chhomrong ini aman. Ada banyak penduduk lokal yang akan membantu menunjukkan jalan. Tak sadar dirinya bernapas lega ketika perempuan itu akhirnya tiba di lodge dengan selamat.
Ketika Sandeep memotret mereka saat menuju Deurali, perempuan itu terlihat bahagia, bahkan tidak canggung ketika harus berdekatan dengannya. Seketika, perempuan itu terlihat begitu cantik di matanya.
Bahkan wajahnya terlihat semakin cantik ketika tanpa sengaja mendapatinya tidak memakai jilbab. Rambutnya yang basah sebahu terlihat serasi dengan bentuk wajahnya yang bulat telur.
Entah apa yang dilakukannya malam itu. Ketika perempuan itu bolak-balik saja di kasur. Gerakan yang menimbulkan suara derit dipan kayu membangunkannya. Tidak bisa tidur katanya padahal Cokro tidak mendengkur.
Ketika wajah perempuan itu menghadap wajahnya, ada binar yang keluar dari sorot mata yang menatapnya lembut. Seketika itu juga, entah apa yang merasukinya, dirinya begitu ingin mencium bibir perempuan itu. Memagutnya perlahan dan membasahinya. Tidak ada penolakan.
Baru pertama kali ini dirinya mencium seorang perempuan selain Rahayu. Perempuan dengan usia yang sama dengan Rahayu saat mereka berpacaran dulu.
__ADS_1
Cokro keluar dari kamar, meninggalkan yang lain yang masih tertidur. Dinyalakannya sebatang rokok filter dan dihisapnya dalam-dalam sambil memandang jejeran gunung Macchapuccre yang menjulang tepat di depannya.
-------------------------
Perjalanan kali ini langsung ke menuju Annapurna Base Camp dan singgah di Macchapuccre Base Camp untuk makan siang. Sandeep wanti-wanti agar berjalan cepat karena kemungkinan besar akan turun hujan menjelang sore.
Vira sengaja melambatkan dirinya karena dilihat berulang kali Mas Une dan Mas Cokro sengaja berhenti menunggu dirinya. Mas Dody sudah tidak terlihat lagi, berjalan melesat ke depan.
“Vir, elu lelet banget deh,” dengus Bobby yang tampak kesal dengan Vira yang suka istirahat lama dibanding jalannya.
“Perasaan kemarin gak gini-gini amat,” lanjutnya.
“Vira lagi demotivasi kayaknya Bi,” sahut Mas Une.
“Koq bisa? Kan elu semalem udah telponan sama laki lu, mana tidurnya duluan, lama banget pula. Gak mungkin elu demotivasi,” tukas Bobby memandang dengan raut wajah aneh ke Vira.
“Mas Uneeee, kalian duluan aja, biar Vira sama Sandeep belakangan jalannya.”
Mas Une mengangguk setuju. Tampak Mas Cokro memandangi wajahnya lama. Terlihat sorot mata yang tidak dipahami Vira. Namun kemudian Mas Cokro mengikuti langkah Mas Une yang berjalan meninggalkannya.
Akhirnya seperti pendakian sebelumnya Bobby lah yang menemani Vira. Jalur menuju Macchapuccre banyak menyusuri sungai jernih yang membelah jajaran pegunungan Macchapuccre dengan Annapurna. Tidak terlalu sulit namun jalan yang berbatu membuatnya harus ekstra hati-hati agar tidak tersandung.
Di Macchapuccre Base Camp, sudah banyak pendaki asing yang duduk untuk makan siang di meja-meja yang disediakan di luar restoran dan lodge.
Bobby mengajak Vira masuk ke dalam restoran yang diikuti Sandeep. Sepertinya sinar matahari yang begitu benderang akan membuat Vira bertambah lesu, pikir Bobby.
Kali ini Vira hanya memesan Momo saja. Perutnya tidak terlalu lapar. Lagipula perjalanan menuju Annapurna Base Camp katanya hanya memakan waktu sekitar dua jam saja.
“Vir, koq elu hari ini pendiem banget sih?” tanya Bobby sambil mengunyah Dal Bhat.
Vira memandang Bobby dan tersenyum.
“Elu gak sakit kan?”
“Gak koq.”
“Yakin?” tanya Bobby gak percaya.
__ADS_1
“Baru kali ini gue liat elu makan dikit banget.”
“Lagi males makan.”
“Gila luh! Mana ada orang daki Himalaya males makan? Lu kira naik Bukit Teletubbies?” ucap Bobby dongkol.
Vira diam. Sepertinya dirinya tidak semangat membalas perkataan Bobby.
-----------------
Prediksi Sandeep bahwa akan turun hujan ternyata benar. Bahkan lebih cepat dari perkiraan.
Matahari yang masih menderang di Macchapuccre ternyata menghilang dalam kabut. Udara menjadi dingin. Luar biasa dingin
Hujannya bukan hujan es, hanya hujan rintik dengan kabut yang membatasi jarak pandang.
Angin yang berhembus terasa menusuk kulit Vira yang hanya dibalut oleh outer layer anti-angin dan anti-air yang tipis.
“Bi, Obi …….. elu dimana?” panggil Vira kencang.
Tidak ada jawaban, sepertinya suaranya hilang tertelan angin yang berhembus.
“Obiiiiiiii ………………….”
Perpaduan udara dingin dan rintik hujan yang disertai angin membuat tubuhnya menjadi lemas.
Angin semakin kencang. Namun Vira tidak lagi merasa terlalu takut karena ada beberapa pendaki asing yang kemudian melewatinya. Hanya sebentar dan kemudian menghilang lagi ditelan kabut.
Vira begitu menyesal, kenapa tadi hanya makan siang dengan dimsum saja. Karena tiba-tiba perutnya keroncongan dan badannya menggigil.
Padahal sepertinya baru berjalan kurang dari dua jam saja. Persediaan cokelat, wafer granola dan kacangnya sudah habis. Hanya menyisakan beberapa butir permen manis rasa karamel saja.
Vira melanjutkan pendakian dengan langkah terseok. Menyusuri jalan setapak di sisi aliran sungai kecil dengan jarak pandang kurang dari lima meter. Perutnya kembali berbunyi dan badannya masih menggigil. Tidak terlihat Bobby dan Sandeep.
“Abang, Vira takut. Abang temenin Vira ya, jangan biarin Vira sendirian di sini,” racau Vira kepada dirinya sendiri.
Vira teringat dengan Kosa, dengan senyumnya Kosa, dengan pelukan hangatnya saat melepas Vira di Bandara Soetta. Dan tetiba bibir rasa tembakau itu pun menyelinap masuk dalam ingatannya.
__ADS_1