Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Kamis Bahagia Part 1


__ADS_3

Sejak pertemuannya di Café Gerimis kamis lalu, Kosa tidak lagi bertemu dengan Vira sampai saat ini.


Sukar sekali menemukan Vira di Kampus berlambang makara jingga ini. Padahal esoknya Kosa sengaja menunggu di perpustakaan pusat karena ia tahu bahwa itu adalah rutinitas Vira setiap jumat pagi karena tidak ada jadual kuliah. Siangnya Vira mengaji dengan beberapa teman termasuk Melati, teman Vira yang menjadi informannya. Ternyata Vira tidak ada.


Hari sabtu dan minggu terasa sepi, semua tugas terutama proposal skripsinya sudah dikerjakan.


Kosa menahan diri untuk tidak menghubungi Vira meskipun dirinya bisa saja menggunakan penelitian di Karawang untuk jadi bahan obrolan. Ada rasa takut dari Kosa jika dirinya terlalu agresif mendekati malah membuat Vira takut dan menjauhinya lagi. Vira sepertinya bukan tipe perempuan yang mudah didekati.


Hari senin pun tidak ada. Kosa pernah melihat Vira menyusuri lorong gedung F depan PPAA. kantor pelayanan administrasi dan akademik dari arah gedung A menuju gedung E untuk kuliah. Dirinya sengaja duduk di bangku yang disediakan kampus untuk mahasiswa dengan mata yang jeli ke arah gedung A untuk memastikan kedatangan Vira. Ternyata Vira tidak terlihat sampai jadual waktu masuk kuliah sudah lewat.


Setelah dipanggil menghadap Pak Irsyam dan Mas Syahran untuk koordinasi penelitian di Kabupaten Bekasi dan Karawang, Kosa harus menemani Prof. Djabir masuk kelas sebagai asistennya. Setelah kuliah tatap muka, Kosa biasanya membantu Prof. Djabir untuk diskusi dan tutorial kelas. Tidak ada kesempatan untuk mencari Vira.

__ADS_1


Hari selasa pun Kosa tidak menemukan Vira padahal kelas seminarnya hanya berjarak dua ruangan dari kelasnya Vira di lantai empat gedung H. Ketika keluar kelas dirinya berharap bertemu tapi ternyata Vira tidak ada dan Pak Irsyam yang dosen seminar meminta dirinya membantu membawa berkas paper dan daftar absen untuk dikembalikan ke PPAA. Sekali lagi, tidak ada kesempatan mengintip ke kelasnya Vira.


Hari rabu pun demikian, Vira sulit ditemukan. Seolah tidak ada jejak Vira di kampus jingga ini Akhirnya Kosa memberanikan diri menghubungi ponsel Vira. Tidak diangkat padahal ini bukan jam kuliah. Kosa mengingatkan dirinya untuk memberi jeda agar terlihat tidak terlalu membutuhkan Vira. Setelah selesai sholat Isya, Kosa kembali menelpon dan ternyata tidak diangkat kembali. Sedih dan kecewa.


Hari kamis adalah satu-satunya waktu yang bisa dipastikan Kosa akan bertemu Vira karena mereka mengambil mata kuliah yang sama. Sejak pagi dirinya cengar-cengir sendirian dan sadar mengapa demikian. Sembari berharap tidak ada hal buruk yang terjadi, Kosa berjalan menuju kelas.


Sengaja dia menunggu Vira masuk terlebih dahulu agar dia bisa duduk di samping Vira. Karena berdasarkan pengalaman, Vira tidak pernah sekalipun mengambil kursi dekat dengan dirinya. Semua berjalan sesuai rencananya.


“Vir, di sini gak ada orangnya kan?” tanya Kosa menunjuk kursi kosong di samping Vira.


“Eh Vir, kemarin gue telpon koq gak diangkat sih?” Iseng Kosa menanyakan.

__ADS_1


“Oh maaf Kak, kemarin itu lagi di Perpustakaan, jadi ponselnya disilent. Pas malamnya aku sudah tertidur Kak, capek banget. Maaf banget. Apa ada yang penting Kak?”


Penting banget Vir, kangen sama wajah kamu, sama suara kamu, sama senyum kamu, batin Kosa dalam hati.


Seandainya bisa ngomong seperti itu ke Vira. Seandainya Vira bersikap seperti perempuan lain yang selalu manis, lemah lembut dan menunjukkan kekaguman di depannya, pasti Kosa mudah mengatakan ini kepadanya.


“Gak ada koq Vir, cuma masalah penelitian aja, buat koordinasi. Masih agak lama sih tapi gak ada salahnya dibicarakan sekarang.”


"Oh kebetulan Kak, ada yang mau Vira bicarain juga soal waktu penelitian ini. Mungkin bisa ketemuan lagi setelah kuliah selesai dan sholat dzuhur ya Kak.”


“Boleh, mau dimana ketemuannya? Takor atau Café Gerimis?” tanya Kosa memberikan pilihan.

__ADS_1


“Café Gerimis aja Kak. Vira suka di sana. Tempatnya adem bikin nyaman.”


“Oke, sip.” Kosa tersenyum simpul seolah biasa saja padahal hatinya membuncah penuh kebahagiaan.


__ADS_2