Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Yang Terlupa di Kathmandu


__ADS_3

Perjalanan dari Jakarta ke Suvarnabhumi, Thailand memakan waktu tiga jam dengan menggunakan pesawat dari negeri gajah putih. Meskipun lama, namun pelayanan dalam pesawat luar biasa memuaskan.


Vira masih teringat Kosa yang memeluknya untuk sesaat di Bandara Soetta. Kosa yang memaksa untuk mengantarnya. Menjemput dari rumah dengan mobil pinjaman milik Mas Andri. Berulangkali Kosa berpesan agar Vira menjaga kesehatannya, agar Vira bisa menjaga diri karena dia satu-satunya perempuan yang ikut dalam pendakian ke Annapurna Base Camp ini.


Setiba di Suvarnabhumi pukul sepuluh malam. Mas Une langsung memesan taksi menuju motel. Di sana Mas Cokro dan Mas Bobby sudah menunggu. Pesawat dari Surabaya datang lebih dulu, sejak sore tadi. Pesawat menuju Kathmandu berangkat besok pagi.


Tadinya Mas Une sebagai ketua tim memilih bermalam di Bandara agar tidak perlu repot bolak-balik bandara tapi tim Surabaya bersikeras untuk memilih motel karena waktu transit yang dianggap terlalu lama.


Vira mencatat perjalanan kecil ini dalam notes di ponselnya.




Hotel murah di Distrik Bang Kapi 150 ribu per kamar, harus pesan dari Indonesia karena lebih murah.




Makanan di Suvarnabhumi lumayan mahal. Mas Une bilang kalau ingin makan pad thai bisa beli di motel yang buka 24 jam, harganya setara 20 ribu rupiah.




Harga Mango Sticky Rice 300 baht, sebaiknya ditunda pas pulang saja karena harga makanan di lodge selama pendakian bisa menguras kantong.




Pesawat mendarat di Bandara Tribhuvan dengan lancar sekitar pukul sebelas siang. Vira sedikit takut karena landasan bandara utama di Nepal ini terkenal pendek. Mas Dody yang duduk di sampingnya tertawa kecil memperhatikan Vira tak henti berdoa dengan mata terpejam.


Selesai mengurus visa on arrival untuk stay 15 hari sebesar 25 dolar Amerika, Vira segera mengurus bagasinya. Tidak terlalu lama karena memang bukan Bandara besar.

__ADS_1


Di pintu keluar Tribhuvan, ada lelaki berwajah India memegang papan nama yang bertuliskan Une Indonesia. Segera Vira mengikuti Mas Une dan rombongan menuju ke arahnya.


Lelaki itu mengenalkan diri dengan nama Ashok, perwakilan dari motel di Thamel, tempat mereka menginap. Ashok membawa lima untaian kalung dari bunga marigold berwarna jingga yang kemudian dikalungkan ke semua anggota tim pendakian ini.


Ashok membawa kami melintasi pusat kota Kathmandu menuju Thamel yang terkenal sebagai kawasan singgah para pendaki Himalaya dengan jeep tuanya.


Motel di Thamel lumayan bersih. Dilepaskannya untaian marigold dan jilbabnya sebelum merebahkan diri di kasur busa yang tidak terlalu empuk.


Duduk selama hampir empat jam membuat punggungnya terasa cukup pegal. Ditambah ransel berukuran 60-liter yang membuat punggungnya tetap tegak. Tidak terlalu berat karena selain sudah terbiasa, Vira membawa pakaian khusus mendaki yang ringan, baik base layer maupun outer layer yang anti-angin.


Mas Dody dan Mas Une sudah mewanti-wanti agar tidak perlu membawa down jacket dan thermal sleeping bag dari bulu angsa karena akan merepotkan. Lebih baik menyewa harian barang-barang tersebut dari toko-toko di sepanjang Thamel. Selain murah, tidak perlu repot membawa pulang ke Indonesia karena tidak akan terpakai. Terlalu panas untuk ukuran suhu dingin di Indonesia.


Dinyalakannya ponsel berwarna biru muda yang sudah dimatikan sejak dari Suvarnabhumi. Setelah memasukkan kata kunci wifi, Vira langsung membuka aplikasi layanan pesan berwarna hijau muda. Ada beberapa pesan yang belum terbaca. Lima pesan dari Kosa.


[Sudah sampai Kathmandu? Kangen]


[Jangan lupa makan]


[I’m waiting 4 ur story at fb]


[Miss u so bad]


Ingin segera Vira membalasnya. Namun begitu ia memejamkan matanya, membayangkan wajah Kosa, Natha, Mirna, Mama, dan Papa, rasa malas mulai menyerang. Dibiarkan ponselnya terletak begitu saja di samping tubuhnya. Bunyi kipas angin yang sedikit berderit tidak cukup mengganggu dirinya bermalas-malasan.


Pintu kamarnya diketuk berkali-kali. Terdengar suara Mas Dody yang memanggil pelan. Segera Vira mengenakan jilbab yang sama dengan yang dipakainya tadi.


“Iya sebentar Mas, tunggu.”


Dibukanya pintu dan tampak Mas Dody sudah berganti pakaian dengan celana pendek dan kaus tipis yang dipadu dengan outlayer berwarna navy.


“Une, Cokro, sama Bobby udah nunggu di lobby. Mau cari makan sekalian ambil duit rupee dari atm, nilai tukarnya lebih murah daripada dari hotel. Dolarnya simpen aja Vir, sayang soalnya. Yuk buruan!” ajak Mas Dody.


“Siap Mas!” ujar Vira cepat. Disambarnya tas selempang kecil berbahan kanvas yang berisi dompet dan paspor.


Sepanjang jalan Thamel dipenuhi penginapan dan toko yang menjual berbagai kebutuhan pendakian. Restoran dengan berbagai rasa juga hadir berdampingan. Thamel ini meskipun kecil tapi seperti kota metropolis yang diisi oleh berbagai ras manusia.

__ADS_1


Mas Cokro memilih restoran India di sebelah motel, tempat singgah semalam. Malas katanya mencari tempat makan terlalu jauh karena tepat di depan restoran terdapat dua bilik atm dengan logo visa dan mastercard. Mereka duduk berlima dan mengambil meja di balkon lantai dua.


Vira tidak terlalu kenal dengan Mas Cokro dan Mas Bobby. Cuma dengar dari Mas Une kalau Mas Cokro itu pengusaha dan Mas Bobby baru saja lulus kuliah. Mas Une kenal mereka karena tahun lalu barengan naik Carstensz.


“Semester berapa Vir?” tanya Mas Bobby memecah keheningan.


Mas Une dan Mas Dody sibuk dengan gadgetnya sedangkan Mas Cokro lagi merokok dengan mata memandang ke arah sekitarnya.


“Eh, lulus semester enam Mas,” jawab Vira


“Panggil gue Obi aja Vir, kayaknya elu sama gue cuma beda setahun.”


“Baik Mas. Eeh, maaf Bi.”


“Udah lama ikut sama Mas Une ya?”


“Lumayan Bi. Cuma kemarin pas ke Carstensz gak boleh sama Bokap, takut, masih konflik soalnya, Biayanya juga mahal banget.”


“Keren Vir. Untung banget gue kenal sama Mas Une, wartawan senior dia, jaringannya kuat di sana. Lama juga itu izinnya, ribet,” cerita Bobby


“Ntar kalo ada proyek di sana lagi, gue ajak elu Vir,” sahut Mas Une ikut nimbrung.


“Hahaha… siap Mas!”


Setelah makan, mereka berjalan ke seberang menuju atm. Setidaknya Vira mengambil sekitar 40 ribu rupee untuk uang makan selama mendaki.


Biaya hotel, lodge, transportasi lokal, administrasi pendakian, dan pemandu selama di Nepal sekitar 700 dolar AS per orang yang sudah dibayar langsung ke biro travel-nya.


Mereka mulai berkeliling menyusuri Thamel dan Thamel Marg. Mencuci mata dengan souvenir khas Nepal dan perlengkapan outdoor berbagai merk. Vira langsung teringat pesanan Natha yang ingin dibelikan sweater berbahan cashmere asli bulu domba. Ditaksirnya juga outer buat Kosa dengan warna monokrom abu muda dan hitam.


Mas Une mengajak ke toko penyewaan yang terletak persis di depan motel, tempat mereka menginap. Ada beberapa perlengkapan seperti thermal sleeping bag dari bulu angsa yang tahan sampai minus lima derajat dan jaket tebal yang disewa.


Tidak terlalu mahal. Vira hanya mengeluarkan sekitar hampir 30 dolar AS. Nanti Vira juga harus patungan 100 dolar untuk biaya porter. Ditambah dengan cemilan granola dan permen madu himalaya, uang Vira berkurang sekitar 500 rupee.


Sesampainya di kamar, Vira langsung merebahkan dirinya. Membiarkan semuanya kalah oleh rasa lelah yang telah terakumulasi.

__ADS_1


__ADS_2