
Pembagian tempat tidur oleh Mas Une sepertinya bukan hal yang menyenangkan.
Awalnya Vira mengira akan bersebelahan dengan Mas Dody karena hubungan kekerabatan. Tapi Mas Dody justru meminta agar dia diberi ranjang di dekat pintu. Mas Une meminta Mas Cokro tidur di sebelah Vira karena tergolong tidak berisik saat tidur.
Waktu istirahat mereka hari ini cukup banyak, sejak jam makan siang hanya duduk dan sebentar-sebentar berdiri, melongok ke luar menatap hujan es yang tak kunjung berhenti.
Vira mempergunakan kesempatan ini untuk membersihkan tubuhnya. Sama seperti internet, mandi air hangat pun dikenakan biaya tambahan sebesar dua dolar atau 200 rupee. Harapnya jika mandi sekarang, rambutnya akan cepat kering dan tidak membuatnya pusing karena tidur dengan rambut dalam keadaan basah.
Semua orang berkumpul di restoran yang hangat karena pemanas ruangan sudah dinyalakan, kecuali Vira yang memilih kembali ke kamar. Vira izin ke Mas Une untuk mengeringkan rambutnya dan mengunci kamar supaya tidak ada yang masuk selama dirinya tidak memakai jilbab.
Cukup lama Vira berada di kamar sampai ada yang mengetuk pintu kamarnya. Segera disambarnya jilbab kaus untuk segera dikenakan. Tampak pemilik jam tangan analog klasik di hadapannya. Teringat dirinya kemarin kedapatan tak berjilbab oleh Mas Cokro.
“Oh Mas Cokro, masuk Mas.”
Mas Cokro langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Membuat Vira bingung, Rambutnya padahal masih lembab tapi berdua saja dengan Mas Cokro di kamar bukan suatu pilihan yang baik. Vira menutup kamarnya dan terpaksa menuju ke restoran.
Mas Une, Mas Dody, dan Bobby tampak asyik bermain kartu remi bersama para guide dan porter.
Vira menghampiri Sandeep dan memintanya untuk memesankan makan malam lebih cepat. Vira ingin membalas kekurangan tidurnya kemarin malam. Berharap setelah makan malam dirinya akan segera mengantuk dan tidur lebih dulu daripada mas-mas pendaki ini.
Vira memesan sup sayuran dan dimsum dengan segelas lemon madu jahe hangat. Vira makan cukup cepat hari ini.
“Tumben lu Vir, jam segini udah makan?” tanya Bobby
“Biar cepat ngantuk Bi, mau tidur duluan,” sahut Vira.
“Gue makannya ntar aja ah, kalo makan sekarang ntar malam yang ada perut gue keroncongan lagi.”
Bobby kembali ke lingkaran permainan kartu. Meninggalkan Vira yang sedang menyantap makan malamnya.
Selesai makan dan menunggu maghrib, ternyata sinyal internet sudah mulai stabil. Vira membayar dua dolar untuk mendapatkan password wifi. Setelahnya bunyi notifikasi ramai berdatangan.
Dibukanya pesan chat dengan logo telepon berwarna hijau. Ternyata ada banyak yang belum dibuka dan dibaca.
__ADS_1
Vira membuka pesan dari Kosa terlebih dahulu. Ada puluhan pesan darinya. Selain isinya tentang cinta dan kerinduan, Kosa mengabarkan bahwa jadual ke Yogyakarta untuk mencari data skripsinya dimajukan. Sehingga Kosa bisa menjemput Vira nantinya di Bandara Soetta dan setelahnya tidak terpisah lagi.
Ada beberapa foto yang dikirimkan Kosa. Foto selfie dirinya di Stasiun Kereta dan di jalan Malioboro. Foto wajahnya yang bersih, yang memperlihatkan ketampanannya. Yang membuat Vira menjadi kasmaran.
Seketika dering permintaan video call dari Kosa berbunyi. Vira langsung mengambil posisi di pojok ruangan, menyandarkan tubuhnya ke dinding untuk membuatnya merasa nyaman menerima panggilan Kosa. Suara yang begitu dirindukannya. Suara yang hangat, yang memberikan energi baru untuknya.
-------------------------------
Selesai video call dengan Kosa, Vira izin untuk tidur lebih dahulu ke Mas Une.
“Vir, elu gak apa-apa kan tidur di kamar bareng Cokro?” tanya Mas Une
“Maksudnya Mas?” Vira tidak mengerti apa yang dimaksudkan Mas Une. Sepertinya salah dengar.
“Itu tadi si Cokro juga makan malamnya duluan kayak elu, katanya mo tidur lebih awal,” Mas Une mencoba menjelaskan.
Ah, Vira baru paham alasan mengapa Mas Cokro tadi masuk kamar. Ternyata mirip dengan dirinya yang mau cepat-cepat tidur.
“Maksudnya Mas?” Muka Vira makin mengernyit ke arah Mas Une.
“Si Cokro itu duda. Abis istrinya meninggal kayaknya gak tertarik sama cewek, jadi santai aja. Ngoroknya juga gak kenceng kayak si Obi.”
Vira tertawa. Sebenarnya kalau bisa, Vira lebih memilih untuk menahan kantuknya saja yang mulai merayap perlahan ke matanya daripada tidur berdua dengan Mas Cokro di kamar. Namun dipikirnya pasti tidurnya akan lebih terganggu jika tidurnya bareng Mas Une, Mas Dody, dan Bobby.
Dibukanya perlahan pintu kamar. Hening. Lampu kamar juga dimatikan. Tampaknya Mas Cokro memang sudah terlelap. Diambilnya thermal sleeping bag. Pasca hujan es dan ketinggian Deurali yang sudah di atas 3200 Mdpl membuat suhu anjlok drastis. Pengukur suhu dip jam tangan digitalnya memperlihatkan angka tiga derajat celcius.
Jarak antara ranjangnya dengan ranjang Mas Cokro begitu dekat. Hembusan napas Mas Cokro terdengar dengan jelas dalam keheningan kamar ini. Pelan-pelan Vira masuk ke dalam pembungkus tubuh yang berisi bulu angsa ini lalu menutup risletingnya dengan baik dan dan kemudian merebahkan dirinya.
Vira memejamkan matanya, mencoba untuk tidur dalam suasana yang cukup hening ini. Namun pikirannya tidak sinkron dengan matanya. Matanya terpejam namun pikirannya berkelana.
Diubahnya posisi tidur dari terlentang menjadi miring menghadap tembok. Tapi hanya bertahan beberapa menit saja. Berhadapan dengan tembok malah membuatnya tercekik, terasa begitu sempit.
Dibalikan kembali tubuhnya menjadi terlentang. Matanya menatap langit-langit kamar. Ada sedikit cahaya berpendar di atasnya dari cahaya bulan yang masuk dari sela-sela gorden. Vira kira itu akan membuat mata dan pikirannya lelah tapi ternyata tidak.
__ADS_1
Vira membalikkan tubuhnya ke arah Mas Cokro dengan gerakan yang amat pelan. Namun, seketika itu juga matanya menangkap sepasang mata yang menatapnya tajam. Mas Cokro tidak tidur.
“Kamu gak bisa tidur?” tanya Mas Cokro pelan.
Vita terpana. Baru kali ini Mas Cokro mengajaknya bicara.
“Iya,” jawab Vira pelan dan singkat.
Mas Cokro terdiam dan tetap menatapnya. Vira jadi salah tingkah. Dipejamkan kembali matanya berusaha untuk tidur.
“Vira,” panggil Mas Cokro pelan.
“Iya Mas?” sahutnya dengan tetap memejamkan mata.
“Kamu cantik.”
Vira diam saja. Ada desir yang melintas di hatinya.
“Vira.”
Suara Mas Cokro terdengar begitu jelas dan dekat.
Vira membuka matanya. Tampak wajah Mas Cokro tepat berada di depan wajahnya. Entah bagaimana caranya.
“Mas,” ucap Vira pelan yang terdengar seperti desahan.
“Boleh ya Mas mencium Vira?” pinta Mas Cokro.
Vira diam tak menjawab. Namun dirasakan ada yang menyapu hidungnya dan nafas yang berhembus ke wajahnya.
Bibir lembut dengan rasa tembakau itu menyentuh bibir Vira yang kering. Memagutnya perlahan dan membasahinya.
Ciuman yang tidak menuntut dan hanya sebentar. Namun mampu membuatnya terbang dan kemudian jatuh dengan perasaan bersalah yang dalam.
__ADS_1