
^Sebuah Rahasia
“Lo tau gak Vir, tadi Kosa itu belum cuci tangan pas nyamperin elu. Secepat kilat tuh anak ninggalin Cak Wit gak pake bayar pula. Coba lo cium tangannya Kosa, jangan-jangan masih bau ayam,” ucap Danu sambil tertawa mengiringi langkah Vira dan Kosa menuju tempat kost Trisha.
“Betewe, kalian sudah baikan kan? Gila aja lo Sa, ngajakin Vira kemana sih memangnya sampai dikunciin segala? Diapain aja lo Vir? Lupa waktu melampiaskan rindu?” tanya Danu yang membuat Vira merasa sedikit malu.
“Apaan sih lo Nu, cerewet, kepo aja urusan orang,” balas Kosa.
Tampak wajah Kosa tersenyum cengengesan menandakan hati yang sedang bersuka cita. Kosa tidak lagi peduli apa yang membuat Vira bersedih hati. Tak ingin dirinya memaksa Vira untuk mengatakan hal-hal yang hanya membuat Vira terluka. Baginya hubungan dengan Vira sudah kembali normal itu adalah yang utama. Menurut Kosa, pasangan yang putus nyambung adalah hal yang biasa dan wajar.
Trisha sengaja menyambut kedatangan para seniornya ini di depan pintu pagar rumah kost-nya. Tidak ada larangan keluar malam karena masing-masing penghuni memiliki kunci gembok pagar depan. Namun seperti halnya rumah kost perempuan lainnya di daerah Kukusan Teknik ini tidak diperkenankan membawa lelaki masuk ke dalam kamar.
“Titip Vira ya Trish,” pinta Kosa dengan mata yang memandang ke arah Vira. Ingin rasanya memeluk Vira dan mengecup puncak kepala Vira dan mengatakan mimpi indah tapi apalah daya, tidak mungkin dilakukannya di depan Trisha dan Danu karena pasti akan terkesan berlebihan.
Vira membuka jilbab kausnya di kamar Trisha. Rambutnya masih terasa lembab karena sisa-sisa keramas yang belum kering benar. Trisha berbaik hati memberikan sikat gigi baru kepada Vira sehingga dirinya bisa menggosok giginya. Kebiasaan baik yang dilakukan Vira sebelum tidur.
Dari interior kamar kost dan perlengkapannya, Vira memastikan bahwa Trisha berasal dari keluarga kelas menengah ke atas.
“Ini Kak, mungkin Kak Vira mau minum air sebelum tidur,” ucap Trisha menyodorkan sebotol air mineral kepada Vira.
“Makasih ya Trish, koq bisa kamu kepikiran kalau aku minum air sebelum tidur?” tanya Vira.
“Soalnya aku juga gitu Kak, sebelum tidur harus minum air mineral dulu. Meskipun pas lagi tidur terpaksa bangun buat buang air kecil tapi paginya itu pencernaanku lancar. Pokoknya manjur banget deh,” jawab Trisha.
“Ya ampun Trish, koq samaan gitu sih sama aku,” ucap Vira dengan suara yang sudah mulai menunjukkan keakraban. Trisha seperti tersenyum lega mendengar ucapan Vira.
“Aku kira Kak Vira sombong, hahaha, maaf ya Kak. Soalnya beberapa kali ketemu cuma senyum aja, ndak pernah ngajak ngobrol. Di kampus juga cuma lewat-lewat aja, ndak pernah ikut kegiatan bareng mahasiswa baru.”
“Eh gitu ya Trish? Maaf ya, aku gak sadar soalnya semester ini ada magang di DPR dan memang jarang ke kampus makanya nyaris gak ketemu sama maba. Lagi pula aku tuh bukan anak yang ekstrovert gitu di kampus, jadinya juga jarang berbaur.”
“Tapi Kak Vira kan pacarnya Kak Kosa ya?” tanya Trisha.
“Hahaha… ya gitu deh Trish,” jawab Vira dengan tersenyum lemah. Sepertinya memang tidak ada yang yakin bahwa Kosa bisa-bisanya memiliki pacar seperti dirinya.
“Eh, maaf Kak, bukan itu maksud aku. Soalnya aku beberapa kali lihat Kak Vira diantar oleh pulang sama cowok lain dan bukan Kak Kosa. Cuma takut salah saja,” ucap Trisha.
“Oh, itu yang pakai mobil be em we? Bukan Trish, itu teman aku lulusan Teknik kebetulan dia anak dari anggota DPR tempat aku magang. Jadi ya gitu deh, anaknya baik jadi suka nganterin pulang,” jelas Vira.
Trisha terdiam sesaat lalu menghela napasnya.
“Bapaknya teman Kak Vira yang lulusan Teknik itu Pak Herman Sasongko bukan?” tanya Trisha dengan nada hati-hati.
“Eh, koq kamu bisa tau Trish? Kamu kenal?” tanya Vira kaget
Trisha terdiam lagi. Wajahnya menyiratkan sesuatu yang disembunyikan dan tak ingin dikatakan. Raut wajah yang membuat Vira bingung dan ingin mengetahui apa yang terjadi.
“Trish, are you okay? [kamu gak apa-apa kan]?” tanya Vira sekali lagi.
Suasana berubah menjadi tidak nyaman dan membuat Vira merasa tidak enak hati.
Trisha masih terdiam dan ada buliran air mata yang turun di sudut matanya. Ini membuat Vira terkejut. Dengan sekejap, Trisha menyeka air mata yang turun dengan punggung tangannya.
“Maaf Kak, pasti Kak Vira bingung lihat aku begini. Maaf ya Kak,” ujar Trisha lirih.
“Jangan gitu Trish, aku yang harusnya minta maaf. Sepertinya aku salah ngomong ya sama kamu.”
“Bukan Kak, bukan salah Kak Vira. Cuma aku tiba-tiba teringat Mas aku, Mas Sigit yang sudah meninggal empat tahun lalu. Jadinya sedih deh,” ucap Trisha mencoba menetralisir suasana.
“Oh, Mas kamu itu mirip sama teman aku yang anak Teknik itu ya makanya kamu jadi sedih gini?” tanya Vira mencoba mengaitkan dengan pembicaraan sebelumnya.
“Hmm... hmm… itu Kak. Mas Sigit meninggal dibunuh sama orang dari perusahaannya Pak Herman Sasongko, Direkturnya itu mungkin Kakaknya teman Kak Vira yang anak Teknik itu,” ucap Trisha pelan.
__ADS_1
“Wait… what?” teriak Vira dengan rasa kaget yang luar biasa.
--------------------
Vira tidak cukup tidur karena sejak semalam pikirannya berkelana mencari-cari jawaban. Keingintahuannya begitu besar untuk sebuah penjelasan namun Vira tak kuasa untuk memintanya dari Trisha karena tiba-tiba saja Trisha membalikkan badannya dan kemudian tidak lagi bergerak dan tanpa suara. Vira menganggap Trisha tidur karena memang tidak ingin menceritakan lebih lanjut perihal meninggalnya Mas Sigit, kakaknya.
Pagi-pagi sekali Kosa datang ke rumah kost Trisha dan tampak Vira sudah menunggu di depan.
“Bagaimana tidurnya? Enak? Nyenyak?” tanya Kosa.
“Ya gitu deh, pengen tidur lagi di kamar Kos. Pokoknya yang lama biar puas.”
“Kenapa? Trisha ngorok? Masa sih?” tanya Kosa keheranan dengan asumsinya sendiri.
“Iiih yang suka ngorok sih Abang, gak mungkin lah Trisha ngorok. Apaan sih!” tukas Vira sedikit kesal.
“Yaudah, Vira mau cerita ke Abang kenapa gak bisa tidur di sana? Berantem?” tanya Kosa dengan asumsinya sekali lagi.
“Apaan sih Abang. Koq main tebak-tebakan gitu sih. Mana mungkin Vira cari ribut apalagi Vira jadi tamu yang numpang tidur. Sebel ah!”
“Yaudah sarapan dulu yuk! Mau makan dimana? tanya Kosa. Mau bubur ayam atau nasi kuning? Hari ini libur kan? Vira mau jalan sama Abang?”
Vira terdiam. Teringat olehnya rentetan peristiwa rumit sebelumnya yang menyesakkan hati dan membuat kepalanya pening. Ingin rasanya Vira kabur dan menikmati suasana baru yang untuk menenangkan diri.
“Koq diam? Vira mikirin apa?” tanya Kosa menyentakkan lamunan Vira.
“Eh, Abang ngomong apa barusan?”
“Mau pulang dulu ke kost atau sarapan dulu?” tanya Kosa lagi.
“Mau makan dulu. Makan bubur ayam di persimpangan jalan ke arah kost-an Abang yuk! Itu enak banget, Vira suka. Ada irisannya cakwenya dan pakai emping. Sukaaaa!!” ajak Vira.
“Padahal kemarin Abang bawain loh pagi-pagi ke kost-an Vira, eh Vira malah sudah berangkat ke kampus. Dicariin ke kampus gak ketemu, yaudah buburnya Abang kasih ke orang saja.”
“Iya, sejak kapan Abang pernah bohong ke Vira?”
Vira kembali terdiam. Rasa bersalah kembali menusuk dirinya. Lelaki sebaik Kosa yang selalu ada untuknya, yang selalu memperhatikan dirinya memang tidak layak diperlakukan demikian. Tapi, apakah salah jika Vira tetap ingin bersama lelaki itu karena Kosa pun juga ingin tetap mempertahankannya.
“Yuk ah, jangan banyak bengong, masih pagi, nanti buburnya keburu habis diserbu orang,” ajak Kosa sembari mengusap lembut kepala Vira.
Vira mengangguk. Entah apakah ini membuat Vira merasa menjadi perempuan jahat dan tidak punya harga diri, Vira bersyukur Kosa selalu ada menemaninya meskipun berkali-kali Vira melakukan hal buruk di belakang Kosa.
---------------------------------
Hari ini Vira berjanji akan menghabiskan hari bersama Kosa. Melupakan bahkan menghapuskan beberapa memori buruk yang menimpanya dan mengganti kebersamaan mereka yang pernah hilang sesaat.
“Abang kenapa gak ngerjainnya di kost-an Abang aja sih?” tanya Vira ketika mereka sampai di lantai 5 Gedung Crystal of Knowledge Perpustakaan Pusat UI.
“Gak bisa konsentrasi kalau di sana,” jawab Kosa
“Kenapa? Sempit? Bukunya gak ada?” tanya Vira lagi.
“Karena ada Vira,” jawab Kosa pelan.
“Maksudnya? Sekarang juga ada Vira tapi bisa konsentrasi kan?”
Kosa menggeserkan kursinya dekat ke arah Vira. Lalu berbisik di telinga Vira yang tertutup kain berwarna coklat susu. “Kalau di kamar Abang pasti sebentar lagi kita ke KUA. Vira mau?”
Vira menoleh dan mengernyitkan dahinya. Dengan sinis Vira menatap Kosa. “Dasar mesum.”
Kosa tertawa kecil.
__ADS_1
Vira mulai mengerjakan bagian pembahasan untuk mata kuliah seminar pilihan masalahnya. Memasukkan beberapa data yang didapatnya secara sembarang karena belum membuat kategorisasinya dan sesekali mencari data di j-stor yang merupakan perpustakaan digital yang dilanggan UI untuk kebutuhan mahasiswanya. Vira mengambil kasus relasi sipil militer di Pakistan yang menurutnya menarik untuk dijadikan skripsi. Entah mengapa memang Vira sudah menargetkan bahwa Mba Evi yang merupakan Dosen Asia Selatan itu yang nanti akan menjadi pembimbing skripsinya.
“Abang sampai dimana progressnya?” tanya Vira tiba-tiba ketika melihat Kosa terlalu khusuk mengerjakan skripsinya.
“Hhm… iya sayang. Kenapa?” tanya Kosa menoleh ke arah Vira.
“Sudah sampai mana?” tanya Vira menegaskan kembali.
“Sudah bab tiga, setengah jalan dan mau selesai,” ucap Kosa santai.
“Sudah dapat berapa halaman?” tanya Vira lagi.
“Delapan puluh lebih kayaknya.”
“Iiiih, koq banyak banget sih. Koq bisa Abang nulisnya cepat gitu?” tanya Vira terheran-heran karena menurutnya Kosa sudah sangat sibuk dengan penelitiannya namun mengapa masih bisa mengerjakan skripsinya.
“Vira sudah sampai mana?” Kosa balik bertanya.
“Baru bikin bab tiga proposal, datanya juga masih acak belum ada kategorinya. Dua belas halaman,” ucap Vira cengengesan.
Kosa tertawa dan Vira merasa Kosa mengejeknya.
“Sombongnya, huh!” sungut Vira kesal.
“Vira, mau Abang bantu?” Kosa menawarkan diri.
“Gak perlu,” tukas Vira dengan nada kesal.
Kosa tertawa lalu menjentikkan jarinya ke ujung hidung Vira. “Dasar cewek belagu.”
------------------------------------
Vira mulai terasa bosan, jam di laptopnya baru menunjukkan angka 11.15 dan itu berarti sudah sekitar tiga jam mereka mengerjakan tugas di Perpustakaan Pusat ini. Sinar matahari menyeruak lebih tajam menyinari ruang dengan banyak jendela ini.
Namun apa dikata, perut Vira mulai menunjukkan tanda-tanda lapar. Ingin rasanya mengajak Kosa untuk ke kantin hanya saja Vira merasa tak enak melihat Kosa yang begitu tenggelam di depan komputernya. Vira sadar menulis bukan hal yang mudah sehingga tak sampai hati menghentikan Kosa dari itu
Vira mengambil ponselnya. Ada beberapa notifikasi pesan di aplikasi chat dan surat elektroniknya. Sebenarnya Vira begitu malas membukanya. Isi surelnya lebih banyak iklan daripada pesan untuknya. Pesan chat pun hanya berita tidak terlalu penting.
Pesan chat dari Natha dibuka dan isinya meminta agar Vira bisa meluangkan waktu di akhir bulan. Papa mengajak anak-anak perempuannya untuk bertemu dengan anak-anak dari istri keduanya. Natha bilang tidak perlu khawatir karena istri kedua Papa tidak akan ikut. Vira hanya menjawab singkat saja, oke tanpa tambahan emoji apapun.
Vira melewati pesan dari Mas Cokro yang jumlahnya puluhan. Sama sekali tidak ingin membukanya namun Vira sepertinya juga tak kuasa untuk menghapus nama pemilik pesan dari aplikasi chatnya itu.
Vira membuka pesan dari Kosa. Hanya dibuka lalu ditutup kembali. Diliriknya lelaki yang persis duduk di sampingnya itu dan Vira tersenyum. Tidak perlu dibaca karena sungguh apa yang terjadi saat ini adalah yang terpenting dari sebelumnya.
Mirna menulis pesan bahwa hari ini dirinya ke kampus dan balik ke kost tapi tidak membawa oleh-oleh Mama dari Puncak, Bogor karena lupa. Vira merasa sama sekali tidak perlu membalasnya.
Ada pesan dari Melati yang mengajaknya janjian bertemu di Senayan dan teman satu kelompok di mata kuliah Politik di Asia Selatan yang memberikan tautan google drive untuk membuat makalah yang akan dipresentasikan dua minggu lagi.
Vira kemudian membuka pesan dari Gani. Ternyata Gani akan pergi sore ini ke Riau. Gani memintanya untuk datang dan bertemu di Terminal 3 sebelum pesawatnya lepas landas. Dilihat ternyata Gani mengirim pesan sejak semalam.
Teringat Gani yang sopan dan sudah begitu baik terhadap dirinya, tak elok rasanya jika Vira mengabaikan begitu saja.
Vira bergegas untuk membereskan laptop, beberapa printilan untuk dimasukkan ke dalam tas ranselnya.
Kosa menoleh ke arah Vira. “Kenapa Vir? Mau makan? Tunggu, bareng sama Abang saja,” ucap Kosa.
“Abang, Vira mau ke Bandara sekarang, nanti terlambat. Ada janji!” ucap Vira dengan terburu-buru.
Kosa secara refleks memegang lengan Vira untuk menahannya pergi. “Tunggu sebentar. Mau apa ke Vira ke Bandara? Janji sama siapa?” tanya Kosa.
“Sama teman,” jawab Vira pendek tanpa menatap Kosa.
__ADS_1
“Pergi sama Abang. Kita ke Bandara sama-sama,” ucap Kosa dengan nada tegas.
Vira terdiam lalu mengangguk dengan wajah sedikit memucat. Diperhatikannya lelaki itu memasukkan semua berkas ke dalam tas ransel dengan cepat. Lalu menggandeng tangan Vira menuju pintu lift yang terletak di sisi kanan Gedung Perpustakaan.