
Elvira Kinanti
Dirinya terkejut bukan main ketika lelaki yang keluar dari sedan mewah yang menepi di belakang mobil Kosa adalah Mas Cokro.
Vira meyakini bahwa apa yang terjadi malam itu di Deurali hanyalah kenangan yang tertinggal. Hanya ciuman biasa saja. Memastikan bahwa alasan mengapa dirinya selalu mengingat bibir rasa tembakau itu hanya karena itu ciuman pertama. Ya, hanya itu.
Karenanya, Vira mencoba bersikap biasa saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hubungannya dengan Mas Cokro pun setelah insiden itu pun juga biasa saja.
Tapi, kedatangan Mas Cokro ke rumah Vira pagi ini dan bertemu saat Kosa bersamanya adalah sesuatu yang membuatnya gugup dan juga takut. Ini di luar perkiraannya. Tidak pernah ia duga sebelumnya.
Dirinya bisa bersikap biasa jika hanya ada Mas Cokro saja atau bersama mas-mas pendaki lainnya. Tapi tidak jika ada Kosa. Ini menakutkan.
Kini tangannnya memegang dua buah tas dari dua lelaki yang berbeda. Dan kedua lelaki itu ada di hadapannya di ruang tamu. Vira seperti menunggu hari penghakiman.
“Mas, Vira ke belakang dulu sebentar,” pamitnya kepada Mas Cokro, melewati Kosa yang duduk di sampingnya.
Dengan langkah cepat Vira menuju dapur. Berdiam diri sebentar di sana. Menarik napas panjang-panjang untuk menetralisir jantungnya yang berdetak cepat.
Diambilnya cangkir keramik putih dan kopi bubuk serta dripper dan kertas penyaringnya. Vira ingat selama di Nepal Mas Cokro selalu minum kopi pahit setiap sarapan.
Vira terlalu gugup untuk membuat secangkir kopi. Pikirannya tidak fokus. Terkadang terdiam sebentar dan berpikir apa yang sedang dibicarakan Kosa dengan Mas Cokro di ruang tamu. Apakah akan menyinggung insiden di Deurali? Apakah video dirinya mabuk juga nanti akan diceritakan ke Kosa?
Kosa tetiba datang menghampiri Vira di dapur dan menanyakan apakah dirinya baik-baik saja. Kosa mungkin melihat betapa gugupnya dia saat membuat secangkir kopi.
Setelah tetesan terakhir yang keluar dari dripper berhenti, Vira mengantarkan kopi ini ke ruang tamu.
“Mas, maaf lama. Diminum ya Mas,” ujar Vira lalu duduk di kursi seberang Mas Cokro.
Vira menoleh ke arah ruang keluarga, Kosa ternyata tidak ada. Tidak mengikutinya kembali ke ruang tamu Mungkin masih berada di dapur, pikir Vira. Kini Vira hanya berdua dengan Mas Cokro
“Terima kasih,” ujarnya lalu menyesap perlahan kopi pahitnya.
“Kopinya enak.”
Vira tersenyum.
“Koq tiba-tiba datangnya Mas, gak kasih kabar dulu? Koq bisa tau alamat Vira?”
“Sekalian lewat aja. Mau kasih barang yang dibeli di Pokhara. Gak sempat kasih kemarin.”
“Dapat alamat Vira dari mana Mas? Mas Dody?” tanya Vira sekali lagi.
“Ada di grup,” jawab Mas Cokro pendek.
Vira baru menyadari bahwa Mas Une sebagai ketua tim pernah meminta semua pendaki mengirimkan biodata singkat untuk keperluan administrasi pendakian. Termasuk alamat rumah, sebagai antisipasi jika terjadi masalah yang tidak diinginkan.
“Pacar kamu tinggal di sini?”
“Eh, apa Mas? Maksudnya?”
“Lupakan,” sahut Mas Cokro pendek lalu menyesap kembali kopi pahitnya. Kali ini sampai habis.
“Mas pulang dulu ya Vir. Terima kasih kopinya.”
“Loh, masih hujan Mas di luar.”
__ADS_1
Cokro tersenyum. “Gak apa-apa.”
“Sebentar Mas, Vira ambil payung dulu. Vira antar ke mobil.”
Dengan payung besar, Vira mengantar Mas Cokro berjalan menuju mobilnya. Mas Cokro yang memegang gagang payungnya. Mereka berjalan begitu lambat. Membiarkan percikan air hujan membasahi ujung kaki mereka. Membiarkan dingin menyelimuti hati mereka.
“Vira.”
“Iya Mas.”
“Maaf ya!”
“Untuk apa?”
“Mas datang di saat yang tidak tepat.”
Vira terdiam, tak menjawab. Tangan kanan Mas Cokro menggenggam erat tangannya sesaat sebelum melepaskan dan menyerahkan payung besar itu.
Vira masih berdiri menatap Mas Cokro yang mengemudikan mundur mobilnya lalu berbelok dan perlahan menghilang dari pandangannya.
Kosa memandangi Vira dan lelaki itu dari pintu teras. Dirinya tidak sepenuhnya dapat melihat apa yang terjadi di sana karena terhalang mobil SUV putih milik Mas Andri yang dipinjamnya. Ada rasa sakit di hatinya yang muncul tiba-tiba melihat lelaki itu satu payung bersama Vira.
Ketika Vira kembali, Kosa menyambutnya di ruang tamu.
“Mas Cokro sudang pulang Vir?”
“Sudah,” jawab Vira pendek.
“Masih hujan padahal. Mungkin buru-buru.”
“Vir, sini duduk di sebelah abang!” pinta Kosa.
Vira menurut.
“Vira mau cerita sesuatu sama abang?”
“Cerita apa?”
“Tentang Mas Cokro mungkin.”
“Maksud abang?” Vira berusaha menghindar dari arah pembicaraan.
“Vira mau cerita apa yang terjadi dengan Mas Cokro di Annapurna?” Kosa bertanya dengan hati-hati agar Vira tidak merasa tersudut.
Vira menghela napasnya lalu terdiam sebentar.
“Abang percaya Vira?”
“Maksudnya?” tanya Kosa tak mengerti.
“Kalau abang sayang Vira, abang harus percaya Vira.”
“Abang sayang sama Vira. Abang cuma ingin Vira bicara jujur.”
__ADS_1
“Tidak ada apa-apa antara Vira dan Mas Cokro. Abang boleh tanya Mas Dody dan Mas Une. Cuma itu yang Vira bisa kasih tau ke abang.”
Kosa tersenyum lalu merengkuh kepala Vira agar bersandar di bahunya.
“Abang percaya Vira. Jangan gugup lagi ya!” ucap Kosa pelan.
Kosa pulang dari rumah selepas hujan berhenti. Vira langsung kembali ke kamarnya. Merebahkan tubuhnya yang terasa berat karena beban rasa yang menggelayuti.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.” Vira berteriak dengan kencang, mencoba melepaskan sedikit beban rasa ini.
Vira merutuki dirinya sendiri mengapa dirinya begitu bodoh. Ingatannya mengulang kembali insiden di Deurali sampai dengan kejadian tadi. Vira berpikir bahwa Kosa menyadari apa yang terjadi atau jangan-jangan Mas Cokro sudah memberitahunya. Ah, tidak mungkin. Dibuangnya jauh-jauh pikiran itu.
Vira mengambil handuknya dan mandi. Air dingin pagi ini bisa menetralkan tubuhnya yang menghangat sejak kedatangan Mas Cokro tadi. Setelah mandi dipakainya baju kesayangannya, celana katun pendek dan kaos yukensi. Sudah dua puluh hari dirinya terus-menerus memakai baju panjang yang menutupi semua tubuhnya. Vira merasa perlu udara yang membelai kulitnya.
“Vir, Vira, buka sayang pintunya,” ucap Mama sambil mengetuk pintu kamar.
“Iya ma, sebentar.”
Vira mendapati mama membawa dua buah paper bag dan tas duffel hitamnya ke kamarnya.
“Koq mama yang bawain sih? Biar Vira aja ma, ini berat tau!”
“Itu tadi siapa yang datang Vir? Ada cangkir kopi di ruang tamu.”
Vira kaget, dirinya lupa meletakkan cangkir kopi kembali ke dapur. “Nanti Vira bawa ke dapur cangkirnya ma!”
“Sudah sama mama. Tapi tamunya itu siapa? Koq mama gak dipanggil?”
“Teman Vira ma, cuma main sebentar koq!”
Mama mengangguk lalu turun ke bawah.
Vira melihat dua buah paper bag di hadapannya. Satu berwarna coklat dari Kosa dan satunya berwarna merah muda dari Mas Cokro.
Vira membuka paper bag dari Kosa terlebih dahulu. Didapatinya tas rajut berwarna coklat tua, salah satu warna kesukaannya. Tasnya cukup besar, sepertinya bisa dipakai untuk kuliah karena dapat memuat banyak barang. Tali tasnya terbuat dari kulit yang bagus dan kokoh. Vira benar-benar menyukainya.
Segera Vira mengambil tas berbahan kanvas yang biasa dipakainya. Dikeluarkan isinya dan dipindahkan ke tas rajut hadiah dari Kosa. Dirinya mematut di depan cermin dengan tas rajut yang disampirkan di pundaknya. Bergaya dengan posisi miring ke arah kanan dan kiri untuk memastikan tas itu pas untuknya. Senyum Vira mengembang puas dengan hadiah dari Kosa.
Tadinya Vira ingin membiarkan saja paper bag berwarna merah muda itu. Tak ingin membukanya. Namun dirinya tak tahan untuk mengetahui apa yang diberikan Mas Cokro untuknya.
Dibukanya tas berbahan art paper itu. Ada plastik bening yang membungkus sesuatu. Sepertinya baju berwarna abu-abu muda. Ketika dibuka ternyata ini adalah cashmere pullover, semacam sweater dengan kerah tinggi yang dapat digulung. Vira mengelus permukaan pullover-nya. Halus dan lembut.
Vira paham hadiah dari Mas Cokro itu mahal karena kemarin Vira hanya sanggup membeli untuk Natha. Model pullover selalu membuatnya pemakainya merasa elegan dan berkelas. Dan ini dibuat dari bahan cashmere asli.
Vira kira Mas Cokro hanya memberi pullover yang indah saja. Tapi ternyata tidak. Mata Vira mendapati ada kotak kecil di dalam paper bag merah muda ini. Diraihnya dan dibuka kotak itu. Ada sinar gemerlap yang menyeruak dari kotak berwarna hitam yang terbuat dari bahan satin hitam. Sebuah cincin berwarna putih dengan motif sehelai daun dan satu butir kristal yang indah.
Vira begitu terpana dengan isi kotak itu. Tidak menyangka ada benda yang begitu indah di dalamnya. Ini bukan sekedar kristal biasa. Pendaran kilaunya begitu indah. Vira mencoba memasang cincin itu dijarinya. Pas sekali.
Berulang kali Vira menggerakkan tangannya hanya sekedar melihat bahwa cincin itu pantas di jarinya. Mengapa bisa pas di jemarinya? Tak pernah sebelumnya sampai hari ini Mas Cokro memegang tangannya atau bertanya berapa ukuran lingkar jari manisnya. Vira masih terpana dan kagum melihatnya.
Namun perasaan itu berganti menjadi perasaan yang bersalah. Tak sepatutnya Vira memakai cincin ini. Ini terlalu mahal untuk dikatakan sebagai hadiah dari orang yang tidak dekat dengannya. Dari orang yang hanya menciumnya sebentar saja. Vira melepaskan cincin itu dan mengembalikannya ke dalam kotak lalu menyimpan rapat di laci meja riasnya.
Ada notifikasi pesan yang berbunyi di ponsel Vira. Dari nomor yang tidak dikenalnya.
__ADS_1
[Vira, apakah kita bisa bertemu di suatu tempat?]
[Semoga cincinnya pas di jari Vira]