Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Off the Hook


__ADS_3

*Lepas dari Kesulitan


Berulang kali Vira meminta maaf kepada Gani selama perjalanan menuju Depok. Memberikan alasan tidak masuk akal yang tidak diperdebatkan sama sekali oleh Gani mengapa Vira langsung meminta Gani mengantarkannya ke rumah kost. Sekali Gani memandangnya dengan tatapan yang meminta jawaban, namun matanya melunak. Hanya tersenyum setiap kali Vira berkata maaf.


Sesampainya di depan rumah kost, suasana masih ramai. Depok yang dipenuhi oleh mahasiswa yang berkumpul mencari makan di malam hari. Atau yang keluar sekedar menikmati hembusan angin malam yang menyejukkan. Beberapa mata memandang Vira yang keluar dari mobil mewah yang jarang ditemukan di jalan kecil pemukiman mahasiswa.


“Makasih banyak ya Mas Gani, maaf merepotkan,” ujar Vira ketika Gani mengantarkannya sampai ke depan pintu masuk kost.


Gani tersenyum. “Mas pulang dulu ya Vir.”


“Mas mau makan dulu? Warung samping masih buka kayaknya!” ajak Vira yang merasa tidak enak karena membuat Gani melewatkan jam makan malam.


“Tidak usah Vir. Sudah malam. Mas pulang saja!” Gani menolak halus ajakannya. Dirinya menghormati Vira yang sebaiknya beristirahat setelah beraktivitas seharian penuh. Gani juga menyadari ada sesuatu yang dipikirkan Vira atas kejadian tadi dan sepertinya perlu waktu untuk itu.


Vira mengangguk dan matanya tetap menatap ke arah Gani yang kembali ke mobilnya sampai menghilang dari pandangannya.


Dengan lunglai Vira masuk ke dalam kamarnya. Menghempaskan tubuh penatnya ke kasur dan membiarkan angin sepoi-sepoi dari putaran kipas yang tertempel di dinding kamarnya meniup kulit tubuhnya.


Vira mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan membiarkannya tergeletak di atas kasur. Ada rasa takut membuka kunci ponselnya. Entah ada berapa pesan yang belum dibacanya. Entah ada berapa panggilan yang masuk dan tida0k terjawab karena moda sunyi yang biasa Vira gunakan. Vira sama sekali tidak ingin mengetahuinya.


Dilepasnya jilbab dan seluruh pakaian yang melekat pada tubuhnya. Vira segera menyegarkan diri dengan basuhan air dingin di sekujur tubuh. Menggosok kulitnya dengan sabun cair beraroma bunga mawar, menyikat punggungnya dan juga kuku-kuku kakinya. Setelahnya Vira memijat kulit kepalanya dengan krim rambut lidah buaya untuk menghilangkan penat.


Tubuhnya kini kembali segar. Pikirannya juga tidak lagi kusut. Namun bunyi teriakan lapar yang terdengar dari perutnya memaksa Vira mencari-cari makanan di kamarnya. Hanya ada satu bars granola bercampur kacang dan kismis yang pastinya tidak mengenyangkan.


Vira kemudian mengambil celana training, kaus panjang dan jilbab kaus yang tergantung di belakang lemari dan mengenakannya. Dilihat jam digitalnya menunjukkan angka 23 titik dua 15. Belum jam 12 malam. Jam segini masih banyak abang penjual makanan yang menjajakan dagangannya.


Vira bergegas keluar. Sebisa mungkin harus kembali tidak lewat dari jam 12 malam karena sesuai peraturan rumah kost yang ia tempati, lewat dari waktu itu pintu pagar dan pintu depan rumah akan digembok. Vira berjalan cepat ke arah Masjid besar. Ada warung tenda tempat jualan pecel ayam yang masih terang dan di sebelahnya masih ada abang ketoprak yang mangkal.


“Cak, pesan nasi uduk pecel ayam satu ya, tambahannya tempe tahu,” ucap Vira ketika masuk ke dalam warung tenda putih bergambar ayam, ikan, dan bebek.


“Nasi uduknya habis Mbak'e.”


“Nasi putih aja gak apa-apa Cak.”


Vira lalu mengambil kursi di dekat etalase makanan untuk menunggu dan tak disangka ada yang memanggilnya.


“Vir, sini,” panggil sesosok laki-laki yang duduk bersama dua perempuan yang wajahnya familiar. Entah dimana Vira pernah bertemu dengannya.


“Eh, Danu. Koq di sini? Tumben?” Vira lalu mengambil duduk di sebelahnya dan tersenyum kepada dua sosok perempuan itu.


“Elu kali yang tumben ke sini. Gak pernah gue lihat elu keluar semalem ini. Eh, ini kenalin junior kita. Udah kenal belom?”


“Sudah pernah ketemu sih, cuma belum pernah kenalan!” jawab perempuan berkacamata.


“Eh iya, pernah ketemu kayaknya kita dimana gitu,” ujar Vira mencoba mengingat-ingat.


“Di Café Gerimis Kak, waktu ada Kak Kosa,” sahut perempuan berkacamata itu lagi.


“Oh iya benar. Kalian anak politik juga ya? Iya, iya gue inget sekarang, Kosa pernah cerita. Siapa namanya?"

__ADS_1


“Trisha,” jawab perempuan berkacamata dengan rambut sebahu lebih.


“Niken, saya anak komunikasi Kak,” jawab perempuan berambut panjang dan berkulit kuning langsat meralat pernyataan Vira.


“Kayaknya kemarin itu bertiga ya? Yang satu kemana?” tanya Vira lagi.


“Udah pulang duluan tadi, gak ikutan makan malam dia, teler, gak kuat begadang,” jawab Danu sekenanya.


“Eh, Vir, Kosa belom balik dari Serang ya? Elu masih sama Kosa kan?” tanya Danu.


“Belom, katanya sih minggu sore. Gue masih sama Kosa. Kenapa emangnya?” tanya Vira penasaran.


“Gak kenapa-napa koq, tadi kita bertiga liat elu pulang dianterin sama cowok pake mobil be-em-we. Yakali udah ganti sama yang tajiran,’ sahut Danu lagi sambil cengengesan.


“Eh, bukan itu. Itu anak teknik UI yang baru lulus, kenalan gue Dan, kebetulan aja tadi ada urusan sama dia, trus orangnya baik mau nganterin gue ke Depok,” kilah Vira beralasan.


“Biasa aja kali Vir jawabnya, gue cuma nebak doang. Tapi kayaknya si Trisha kenal deh sama mobilnya. Katanya itu milik anggota Dewan, dari tadi diliatin terus mobilnya,” ujar Danu.


“Eh, iya itu memang mobilnya Pak Herman Sasongko Komisi Tiga. Gue lagi magang di kantornya. Yang tadi nganterin gue itu ya anaknya,” jelas Vira.


“Buseeet, keren juga sampe bisa naik mobil Pak Dewan lu Vir,” decak Danu kagum.


“Eh gue duluan ya Dan, gue makan di kamar kost aja. Takut digembok kalo lewat jam 12 malem,” pamit Vira setelah menerima satu plastik berisi bungkusan nasi pecel ayam. Vira lalu menganggukkan kepala ke arah Trisha dan Niken yang disambut dengan senyuman tipis.


Vira tiba-tiba diliputi perasaan tidak nyaman. Vira menyadari bahwa Danu adalah sahabat Kosa dan Danu begitu akrab dengan Kosa. Entah apakah Danu akan menceritakan dirinya yang diantar pulang oleh Gani atau tidak kepada Kosa. Hanya saja Vira tidak ingin Kosa nanti salah paham dan bisa menimbulkan konflik lagi dalam hubungan mereka.


Vira datang pukul sembilan jumat pagi ini ke Senayan. Pak Herman, Ibu Ruth, dan Pak Faisal baru akan kembali dari studi banding besok malam. Meskipun demikian, kerjaan hari ini tidak sesantai biasanya. Pak Faisal melalui pesan chat memintanya untuk mengkompilasi berbagai data mengenai laporan pelanggaran HAM dari berbagai daerah yang masuk ke Komisi Tiga.


Vira kaget mendapati pesan chat dari Pak Faisal yang bertanya tentang dirinya yang diantar pulang oleh Gani kemarin dan Vira langsung bertanya kepada Bu Fatmah.


“Saya yang lapor Pak Faisal Mba Elvira,” sahut Bu Fatmah sambil tersenyum.


“Eh, iya Bu Fatmah. Kemarin itu Mas Gani itu mau antar saya pulang padahal saya biasa naik commuter line. Saya jadi gak enak sendiri!”


“Mba Elvira itu koq bisa dekat sama Mas Gani? Kenal baik?” tanya Bu Fatmah. Namun demikian, Vira merasa sedang diselidiki oleh perempuan yang seolah kaki tangan bosnya.


“Sama-sama anak perpus dan suka ke Masjid Bu,” jawab Vira cengengesan.


“Oh gitu. Mas Gani itu minggu depan pindah ke Riau. Mbak Elvira sudah tau?” tanya Bu Fatmah lagi.


“Kalau ke Riau kayaknya Mas Gani sudah cerita tapi gak tau kapan,” jawab Vira jujur.


“Saya sebenarnya heran koq Mba Elvira bisa dekat dengan Mba Lydia? Soalnya Mba Lydia itu orangnya memang baik tapi gak pernah sampe ngajak orang keluar makan gitu Mba Elvira. Bukan orang yang suka berteman. Kayak perempuan karir yang apa-apa sendiri gitu Mba,” cerocos Bu Fatmah tiba-tiba.


“Saya gak dekat sama Mba Lydia koq Bu, saya aja kaget koq bisa Mba Lydia ngajak makan saya.”


“Tapi koq yang ngajak makan Mba Lydia tapi pulangnya sama Mas Gani sih Mba Elvira?”


“Mas Gani juga diajak makan siang bareng Bu Fatmah, cuma kemarin Mba Lydia pulang duluan karena ada rapat, jadi tinggal berdua sama Mas Gani. Kayaknya Mas Gani orangnya gak tegaan pas tau saya pulangnya naik kereta,” jelas Vira.

__ADS_1


“Padahal saya juga mau diajak makan sama Mba Lydia juga,” ujar Bu Fatmah malu-malu.


“Hehehe, Bu Fatmah kan kemarin katanya makan-makan ulang tahunnya Mba Retno yang di Komisi Tujuh.”


“Tapi kalau diajak sama Mba Lydia, saya mah pasti ikut. Soalnya makanannya pasti enak dan mahal.”


Vira tertawa lebar mendengar pengakuan Bu Fatmah yang jujur. Padahal kemarin Vira sempat ketar-ketir ketika Lydia meninggalkan dirinya dengan Gani tanpa sedikit pun membicarakan soal berapa yang harus ia keluarkan untuk makan siang.


Pekerjaan kompilasi data ini cukup menyita waktu. Ternyata data yang masuk ke Komisi Tiga cukup banyak dalam satu tahun terakhir. Paling banyak memang pelanggaran HAM yang dilakukan oleh aparat negara di wilayah pertambangan. Masyarakat yang melakukan penolakan banyak yang diperlakukan tidak adil dan aparat negara bahkan menjadi beking dari para pengusaha dan pemilik modal. Vira mencoba mengklasifikasikan data pelanggaran dengan matriks yang indikatornya dia dapatkan dari kuliah dulu.


“Mba Vira nanti saya pulangnya jam tiga ya! Saya gak mau kesorean di jalan, penuh banget nanti kereta. Kalau kerjaan Mba Vira sudah selesai langsung pulang juga gak apa-apa koq. Laporannya langsung di e-mail ke Pak Faisal aja,” ucap Bu Fatmah.


“Siap Bu!” jawab Vira dengan tetap sibuk mengerjakan laporannya.


Vira bahkan tak sempat turun untuk makan siang, hanya mengandalkan crackers yang selalu dibawa dalam tas rajutnya. Vira berjanji memberikan laporannya kepada Pak Faisal sore ini.


Vira menyelesaikan laporannya lebih cepat sepuluh menit dari waktu pulangnya Bu Fatmah dan seketika itu ada panggilan yang masuk ke ponselnya. Tertera nama Bobby Annapurna.


V: “Obiiiii, apa kabar? Gila udah lama banget gak denger suara lo!”


O: “Vir, koq pesan chat gue gak dibales sih? Parah lu, chat gue kagak dibaca.”


V: “Hahaha, maaf lagi riweuh Bi, kebanyakan pesan masuk tapi kepala cenat cenut mulu bawaannya.”


O: “Makanya kawin ama gue, bahagia deh lo gue jamin.”


V: “Hahaha, Obi reseeeeeh.”


O: “Dateng ya Vir, gue tunggu!”


V: “Dateng kemana Bi? Kapan?”


O: “Ih beneran gak dibaca nih anak. Bandar Djakarta Ancol, gue udah pesen tempat nih! Buruan dateng!”


V: “Ih ngapain Bi jauh amat ke sana, capek gue abis magang nih! Tadi bikin laporan bejibun.”


O: “Tega lo Vir, gue kan mo ke Jepang dan gue harus liat muka lo dulu sebelum pergi.”


V: “Eh, beneran jadi ke Jepang Bi? Kapan?”


O: “Besok. Makanya buruan dateng, Gue tunggu.”


V: “Traktir kan? Gue gak mau kalo suruh bayar sendiri, tanggal tua soalnya.”


O: “Pasti lah, kalau perut lu kuat, elu boleh pesen seluruh menu di sana, gue yang bayar.”


V: “Yaudin gue ke sana, ntar gue kabarin kalau udah sampe.”


Setelah memutuskan percakapan dengan Bobby segera Vira memesan taksi online menuju Bandar Djakarta. Diingatnya kembali masa-masa pendakian Annapurna bersama empat orang Mas-mas Pendaki, hanya dirinya yang perempuan. Bobby yang selalu menemaninya dan memberikan semangat. Yang selalu bicara tentang apapun dengan dirinya. Membangun ikatan pertemanan dalam momen yang luar biasa. Untuk itulah Vira merasa harus memenuhi permintaan Bobby sebelum berangkat ke Jepang.

__ADS_1


__ADS_2