Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Day in the Sun


__ADS_3

^Mendapat Perhatian


Tjokro Adjie Pambudi


Meskipun tetap tersenyum, acara makan-makan di rumah Kelapa Gading membuat kalut pikiran Cokro. Sesekali dilihatnya jam tangan dan Bapak Ibu yang tertawa renyah dalam obrolan mereka dengan keluarga Sasongko.


“It looks like you are too busy [Kamu ada acara]?” tanya Lydia yang memperhatikan gelagat Cokro.


“With ur girlfriend, maybe [Sama pacar kamu]?” tanya Lydia kembali dengan nada datar


“Bukan,” jawab Cokro pendek.


“We should talk about this [Kita perlu ketemu berdua dan ngomong banyak tentang semua ini],” saran Lydia.


“Sekarang saja,” jawab Cokro.


“Not now. I can’t speak with him around [Gak bisa, gue gak bisa ngomong dekat Bokap]!” sahut Lydia yang dijawab dengan anggukan pelan dari Cokro tanpa menyebut waktu yang diperlukan.


Selesai acara makan-makan dengan keluarga Sasongko, Cokro langsung mengambil kunci mobilnya dan bergegas ke garasi. “Mungkin masih sempat,” pikir Cokro.


Namun Ibu menghadangnya, meminta Cokro untuk menemani Ibu sebentar. Ada yang ingin ibu bicarakan. Dan kini mereka duduk saing berhadapan di sofa bench kamar Ibu.


“Bu, apa bisa ngobrolnya nanti saja?” tanya Cokro pelan.


“Pesawatmu jam berapa Djie?” tanya Ibu


“Yang paling malam Bu, jam sepuluh!” jawab Cokro


“Kamu mau ke Bekasi? Sepertinya dari tadi kamu gelisah.”


Cokro terdiam. Cokro merasa Ibu sudah mengetahuinya.


“Pak Manto cerita kalau kemarin kamu ke rumah perempuan di Bekasi. Mbok Darmi juga cerita kalau kamu pernah ke Bekasi juga sebelum acara dengan Pak Sasongko yang pertama. Apa kamu punya pacar?” tanya Ibu pelan.


Cokro terdiam lagi.


“Ibu itu dulu ndak setuju kamu menikah dengan Rahayu. Perasaan Ibu ndak enak tapi kamu bersikeras. Eh, kejadian. Ibu itu ndak mau kamu sedih Djie. Ibu ingin melihat kamu bahagia,” tutur Ibu.


“Bapak kamu itu sahabat baik Pak Sasongko. Kamu juga sudah dewasa, sudah paham. Jangan mengecewakan banyak orang yang sudah punya niat baik untuk kamu.”


“Tapi Bu,” sela Cokro pelan namun tak kuasa dilanjutkan ketika Ibu meneruskan pembicaraannya.


“Ibu mengerti kamu dan Lydia baru bertemu dua kali. Belum ada cinta, tapi seiring kalian bertemu, cinta itu bisa hadir. Di usia kamu ini, tidak lagi cinta seperti anak kuliahan ketika sama Rahayu dulu. Kamu harus bisa membedakan Djie.”


“Ibu………”


“Kamu ngobrol sana sama Bapakmu dan Bagas! Setiap kamu ke sini ndak pernah ibu lihat kamu dekat sama Bapakmu. Ndak perlu kemana-mana dulu hari ini,” lanjut Ibu kemudian beranjak meninggalkan Cokro yang terdiam dalam kekalutan pikiran yang tak menemukan akhirnya.


-------------------------------


Elvira Kinanti


“Elu udah mikir mateng-mateng Vir mau ngekos?” tanya Natha ketika Vira sudah kembali ke rumah.


“Masa cuma gara-gara menghindar dari Cokro sampe segitunya? Ini sih lebay,” lanjut Natha dengan nada tak percaya.


“Nath, gue gak bisa mikir kalau dekat Mas Cokro. Gue takut Nath. Mending gak usah ketemu lagi deh! Lagian semester ini gue ada magang dan kayaknya bakalan ribet kalo bolak-balik Senayan, Depok, Bekasi.”


“Emang elu udah diapain aja sama si Cokro?” tanya Natha tanpa tedeng aling-aling.

__ADS_1


“Iiih Nath, emang gue cewek apaan? Gila lu nanyanya!” ujar Vira yang tampak kesal dengan pertanyaan yang disampaikan Natha.


“Ya abisnya reaksi elu segitunya, kirain aja!” cetus Natha.


“Memangnya elu gak bisa ngomong berdua sama si Cokro. Bilang gitu kalo elu udah punya pacar!”


“Yah Nath, kemarin waktu Mas Cokro itu datang ke sini pas ada Kosa. Mereka udah saling kenal koq! Kebayang banget kan lu posisi gue gimana? Kejepit Nath.”


“Oh, pantes gara-gara itu elu gak ketemuan sama Kosa lama. Kalau gue jadi Kosa ya marah lah!”


“Nath, please deh, jangan bikin gue tambah pusing!”


“Data skripsi gue dikit lagi selesai. Sebenarnya elu bisa aja nerusin kamar kos gue. Biar gue ngerjain skripsinya di rumah aja. Mirna juga selesai OBM bakal balik ke rumah.”


“Gue tadi pagi sih udah nyari-nyari sama Kosa Nath, belum ada yang cocok sih!”


“Eh, sebentar Vir. Mama kayaknya manggil deh!” tukas Natha ketika terdengar sayup-sayup suara manggil dari lantai bawah.


Vira mengangguk dan membiarkan Natha yang memenuhi panggilan Mama dari lantai bawah.


Namun tak lama kemudian Natha justru memanggil Vira untuk turun ke bawah.


“Vir, turun cepat. Itu ada yang nunggu di bawah,” teriak Natha kencang yang membuat jantung Vira berdetak lebih cepat.


Vira mengira Mas Cokro yang datang kembali menemuinya. Rasa enggan menerpanya. Berat kaki untuk melangkah ke bawah. Membiarkan langkahnya lamban menyeret tubuhnya yang mulai mengeluarkan keringat dingin.


“Siapa Nath? Mas Cokro?” tanya Vira


“Lihat aja sendiri di luar!” jawab Natha dengan cueknya, seolah tidak terlalu peduli.


Vira mendapati seorang lelaki muda dengan seragam ekspedisi di teras rumahnya. Di tangannya terdapat boks yang cukup besar dan satu buket bunga mawar merah. Meski heran namun Vira bersyukur setidaknya bukan Mas Cokro yang datang ke rumahnya saat ini.


“Iya Mas, cari saya?” tanya Vira.


“Iya, benar dengan saya sendiri. Kenapa Mas?”


“Ini ada kiriman buat Mba Vira. Maaf ya Mba, tapi pengirimnya minta yang menerima itu harus Mba Vira dan minta bukti foto,”


“Dari siapa Mas?” tanya Vira menerima boks besar dan buket mawar merah dari lelaki muda itu.


Lelaki muda itu menunjuk ke kartu ucapan yang tersemat di atas boks besar dan kemudian mengeluarkan ponselnya untuk memotret Vira yang tersenyum dalam kebingungan.


Dibawanya kedua barang dengan dua tangannya dan meletakkan itu di meja ruang keluarga.


“Dari siapa Vir? Mas-nya gak mau gue yang nerima, maunya elu. Sama aja padahal,” dengus Natha.


Vira mengangkat kedua bahunya lalu bergegas menuju dapur. Diambilnya vas bunga bening untuk diisi air dan dimasukkannya puluhan tangkai mawar merah berdaun ke dalamnya. Diletakkannya di atas meja ruang keluarga. Vira tersenyum melihat bunga yang begitu cantik.


Vira membuka amplop kecil berwarna merah jambu. Tertulis Makan yang banyak biar sehat. TAP. Tulisan yang membuat Vira tertawa karena pasti pengirimnya mengetahui pasti bahwa dirinya suka makan.


Namun kemudian, Vira mengernyit karena sama sekali tidak mengenal identitas orang yang mengirimkan hadiah padanya. Diingatnya siapa teman atau kenalannya yang berinisial TAP ini namun tak kunjung menemukannya.


Dibukanya boks tersebut. Tampak cake coklat berukuran kotak yang cukup besar. Membuat mata Vira membelalak.


“Wah, enak nih Vir, opera cake kayaknya ya?” sahut Natha yang sedari tadi memperhatikan Vira.


“Potong Vir, gue ambil piring sama garpunya dulu!”


“Eh Nath, gue gak tau ini dari siapa. Namanya cuma inisial aja.”

__ADS_1


“Udah sih Vir, dikasih sama siapa keq, yang penting kan udah jelas ini buat elu.”


“Gue cek dulu bentar ya Nath, ponsel gue di kamar. Siapa tau pengirimnya kirim pesan,” ucap Vira lalu bergegas ke arah anak tangga menuju kamarnya.


Dibukanya ponselnya dan ternyata benar, ada notifikasi dari Mas Cokro yang menanyakan apakah Vira menyukai bunga dan kuenya. Membuat Vira merasa bingung untuk menjawabnya.


“Vir, ini kuenya enak banget. Pas perpaduan kopi dan cokelatnya. Yang ngirim seleranya jempolan nih!” puji Natha yang sudah mengambil satu potongan besar di piringnya.


“Mas Cokro yang kirim Nath,” ucap Vira pelan.


Natha menghentikan suapan ke mulutnya. “Trus gimana Vir? Mau dibalikin? Udah gue potong kayak gini, gimana dong?”


“Gue gak tau alamat rumahnya juga,” ujar Vira dengan wajah pias.


“Tapi ya Vir, menurut gue sih kalau hadiah kayak bunga dan kue gini sih gak sopan kalau dibalikin lagi. Terima aja, lagian harganya gak mahal-mahal banget sih, bisa lah kita beli sendiri. Nah, kalau elu dikasih cincin baru deh dibalikin!”


Vira terdiam lalu kembali ke kamarnya untuk mengambil sesuatu.


“Mas Cokro ngasih gue ini juga!” Vira menyodorkan kotak kecil yang dilapisi kain satin ke Natha.


Mata Natha membulat ketika melihat sebuah cincin dengan motif sehelai daun dan sebutir berlian yang ada dalam kotak itu. “Ini sih yang ngasih udah gila.”


“Takut gue Nath, gue gak ngerti lagi deh. Kalau gue biarin Mas Cokro gini yang ada gue malah nanti gak bisa ngontrol diri gue sendiri.”


“Maksud lo?” tanya Natha tak mengerti.


“Mas Cokro udah nyium gue Nath. Dua kali. Dan bodohnya, gue bales ciumannya. Gue tuh udah kayak kerbau yang dicucuk hidungnya kalau di depan Mas Cokro.”


“Ah Vir, elu ternyata sama gilanya sama si Cokro,” tukas Natha dengan wajah tak habis pikir.


“Kalau begini sih, elu jahat sama Cokro dan juga sama Kosa,” sambung Natha.


“Iya, makanya Nath. Gue juga bingung kali mau gimana. Makanya gue mending kos aja lah biar Mas Cokro gak perlu ketemu gue lagi. Ntar juga lama-lama lupa.”


“Tapi Vir, ini kuenya asli enak banget. Elu boleh ngejauhin si Cokro, tapi elu rugi kalau gak makan ini kue!” sahut Natha yang kemudian mengambil potongan kedua yang lebih besar dari sebelumnya.


Vira menggigit potongan pertama kue kiriman Mas Cokro. Rasa manis ganache cokelat bagian atasnya bercampur dengan krim kopi yang lembut dengan sedikit jejak rasa pahit di setiap lapisannya. Rasa yang bisa membuatnya candu. Rasa yang melenakan. Rasa yang mengingatkan Vira pada sensasi yang diberikan oleh pengirimnya. Rasa yang ingin ia lepaskan saat ini.


--------------------------------


Malam hari, Vira mendapati mama yang asyik menyantap opera cake dengan ditemani secangkir kopi hangat. Natha lebih memilih segelas cokelat susu hangat. Tampak mereka sedang menonton drama Korea yang akan akan segera habis masa tayangnya. Sedangkan Vira sepertinya tidak terlalu berselera menyantap kue yang masih tersisa cukup banyak.


“Sini Vir, duduk sebelah Mama!”


“Kuenya enak sekali. Jangan lupa bilang terima kasih sama yang kirim!” ucap Mama lagi.


Vira tersenyum dan mengangguk meskipun sampai sekarang dirinya tak kunjung membalas pesan dari Mas Cokro.


“Muka kamu kenapa begitu? Ada yang kirim kue dan bunga itu harusnya bahagia!” tegur Mama.


Vira terdiam, bingung akan menjawab apa. Dipandangnya Natha yang sibuk makan kue sambil menatap ke arah televisi. Vira mengetahui pasti bahwa tadi Natha memasang wajah yang meledeknya.


“Ini dari cowok yang waktu itu datang jemput kamu ya?” tanya Mama yang dibalas dengan anggukan Vira.


“Dia suka kamu?” tanya Mama sekali lagi yang juga dijawab dengan anggukan pelan.


“Kalau Vira sendiri bagaimana?”


Vira diam tak menjawab.

__ADS_1


“Anak Mama sudah besar. Mama tidak mau ikut campur urusan kalian. Mama hanya ingin kalian bisa bersikap dewasa. Jangan sampai menyakiti hati orang lain hanya karena ego kita. Mengkhianati bukan sikap yang baik. Pun dikhianati akan menimbulkan sakit di hati. Tapi perasaan manusia tidak bisa berdusta. Selesaikan urusan kalian dengan baik. Jangan berlarut-larut karena rasa yang bertumpuk akan semakin sulit untuk hilangkan,” tutur Mama dengan bijak.


Ada bulir air mata yang turun untuk ke sekian kali dari sudut mata Vira untuk masalah yang tak kunjung selesai ini.


__ADS_2