Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
It hurts to let go but sometimes it hurts more to hold on


__ADS_3

^ Memang menyakitkan untuk melepasnya tapi lebih menyakitkan jika tetap mempertahankannya


“Is that ur fiancée [Bukan kah itu tunanganmu]?” tanya Shanti dengan telunjuk mengarah ke tempat dimana Vira dan Cokro berdiri.


“Are you okay, Hun [Kamu gak apa-apa kan]?” tanya Shanti sekali lagi dengan menatap Lydia yang masih berdiri di sampingnya.


“Yeaah, I’m okay [gw gak apa-apa koq]!” sahut Lydia cepat meskipun awalnya sedikit terkejut namun dengan cepat Lydia menetralisir keadaan.


Dilihatnya kembali Cokro yang mulai melepas dekapannya terhadap Vira secara perlahan dan kemudian berjalan ke arah boarding gate. Lydia mempercepat jalannya menuju Cokro dengan membawa map berwarna putih.


“Cokro, hold on [tunggu],” panggil Lydia dengan langkah bergegas.


Entah apa yang dibicarakan tapi baik Cokro maupun Lydia kemudian berjalan ke arah restoran terdekat.


Vira yang masih berdiri terpaku tampak begitu pucat. Ada banyak hal yang berkecamuk di dalam dadanya. Mas Cokro memeluk dirinya dimana Kosa dan Lydia melihatnya. Betapa bodoh dirinya memutuskan untuk bicara di tempat terbuka. Vira mengira dengan Kosa melihatnya maka tidak akan terjadi apa-apa. Vira tidak ingin menyembunyikan apapun dari Kosa. Tapi ternyata, bukan seperti ini yang Vira kira akan terjadi.


Kosa yang tadi hanya terdiam memperhatikan, kini menyadari keadaan Vira yang seolah berdiri membeku di sana. Kosa mempercepat langkahnya untuk menghampiri. Diraihnya jemari Vira yang dingin.


“Vira gak apa-apa?” tanya Kosa lembut.


Dengan mata nanar, Vira menatap Kosa. Mencari sesuatu yang berbeda dari sorot mata yang dipancarkan Kosa namun tidak pula ditemukan. Hanya tatapan hangat bercampur kekhawatiran yang Vira dapatkan dari lelaki di hadapannya itu.


“Kita pulang yuk!” ajak Kosa.


Vira mengangguk pelan. Kosa mengapit lengan Vira dan menuntunnya dengan langkah pelan. Namun beberapa langkah mereka berjalan, terdengar panggilan yang menghentikan mereka.


“Sa, Kosa, tunggu!”


Sontak Kosa menengok ke arah panggilan itu berasal. Perempuan berkulit sawo matang dan berambut ikal sebahu berjalan cepat ke arahnya. Kosa memicingkan mata dan mencoba untuk mengenalinya.


“Hey Sa, ini gue, Ican, eh, Shanti. Masa lupa sama Kakak lo sendiri,” sahut Shanti dengan napas tersengal lalu menepuk pundak Kosa dengan santai.


Kosa membelalakan matanya. “Ya ampun Kak Shanti, koq bisa ada di sini?"

__ADS_1


“Pas gue lihat elo tadi, gue tuh mikir, nih anak mirip siapa gitu. Lupa gue ternyata gue punya adik. Ya gini nih kalau ketemunya setahun sekali,” ucap Shanti yang membuat Kosa tertawa.


“Mau terbang ke mana Kak?” tanya Kosa ketika melihat Shanti yang membawa tas ransel dan koper ukuran kecil.


“Eh Kak, ini kenalin pacar aku, Vira. Vir, ini Kak Shanti.”


Shanti tersenyum pendek ke arah Vira namun tidak menyambut uluran tangannya. Tatapan mata Shanti tidak terlalu bersahabat meski tidak ada sorot kebencian di dalamnya. Sepertinya Shanti tidak ingin berinteraksi lebih dari sekedar senyum kepada Vira.


“Gue mo jalan ke Turki dan Shanghai bareng teman, biasa lah ada bisnis. As usual gue yang urus dokumennya. Lo ngapain Sa ke sini? Masih kuliah kan lo?" tanya Shanti.


“Eh, masih Kak, lagi skripsi. Tadi nganterin teman saja ,” jawab Kosa.


“Gila juga ya, ternyata gue masih inget sama elo. Muka lo kayak gini aja sih, gak berubah. Eh, gimana Andri? Masih suka ikut pameran?”


“Eh, Mas Andri baik, masih tinggal di Bekasi, kadang-kadang saja ikut pameran. Kayaknya sih lebih banyak terima pesanan lukisan repro,” jawab Kosa lagi.


“Sorry cuma sebentar ya Sa ngobrolnya. Pesawat gue jam delapan tapi mau ke spa dulu, pegal banget nih badan. Maklum tadi masih ngantor juga soalnya. Salam buat Andri ya!” ucap Shanti tersenyum dan kemudian melirik Vira dan menganggukkan kepala tanpa perlu mengajaknya bicara.


“Hati-hati Kak Ican. Safe flight ya!”


 


Ternyata ada beberapa berkas dokumen yang perlu ditandatangani sebelum keberangkatannya. Sekretarisnya membutuhkan tanda tangan basah untuk dokumen perjanjian kerjasama dengan perusahaan lokal yang baru disisipkan tadi. Ada beberapa cheque yang membutuhkan tanda tangan basah dan cap pribadinya.


Lydia bersyukur dirinya dibantu oleh sekretaris yang cekatan yang tak ragu menemuinya dalam keadaan darurat sekalipun. Urusan bagasi pun sudah dikerjakan oleh Pak Yadi, supir keluarga mereka.


Shanti, lawyer dari Sasongko and Soedharman Law Firm ternyata juga datang lebih cepat dua jam dari jadwal check-in. Ingin menikmati spa dulu katanya dan tak ingin terjebak macet khas Jakarta jika berangkat bersamaan dengan jam pulang kantor.


Shanti memang anak rekan kerja Papah namun pada awalnya Lydia tidak terlalu akrab. Meskipun spesialisnya di perdagangan internasional tapi Shanti lah yang mengurus perceraian Lydia dengan David, mantan suaminya. Sejak saat itu, Shanti menjadi menjadi orang terdekatnya, seperti kedua orangtua mereka, Herman Sasongko dan Soedharman.


Sebenarnya Lydia tidak terlalu terkejut ketika mendapati tunangannya Cokro hanya bicara berdua dengan Vira di dekat boarding gate. Toh Lydia mengetahui bahwa Cokro dan Vira ternyata pernah mendaki gunung bersama. Namun demikian, ketika matanya mendapati Cokro memeluk Vira, itu sudah cukup membuat dirinya mengambil kesimpulan bahwa ada lebih dari sekedar hubungan teman sependakian di antara mereka.


Lydia tidak mau berlama-lama memikirkan hal itu. Sadar bahwa pertunangan yang baru berlangsung beberapa hari lalu hanya sekedar formalitas kedua keluarga untuk bisnis semata dan bukan karena cinta. Baik Lydia maupun Cokro sama sekali tidak mempunyai hak untuk ikut campur urusan pribadi. Namun tetiba dirinya teringat dengan Gani, adik bungsunya yang menyukai Vira dan juga lelaki yang duduk di sampingnya saat di restoran sushi tadi.

__ADS_1


Ketika Cokro melepaskan pelukannya, segera Lydia menghampirinya. Ada perjanjian yang harus mereka sepakati bersama terkait pertunangan kemarin. Seharusnya bisa diselesaikan sehari setelah pesta pertunangan, tapi dirinya disibukkan dengan urusan bisnis ke Shanghai dan Turki. Pun Cokro sepertinya tidak terlalu peduli dengan pertunangan ini seperti dirinya.


Lydia mengajak Cokro ke restoran terdekat dan tanpa disadarinya mengabaikan Vira yang masih berdiri kaku. Tanpa menyapanya sama sekali. Berhadapan dengan Cokro dengan beberapa lembar surat perjanjian bermaterai sepertinya bukan hal yang susah. Tidak ada penolakan atau adu argumen sama sekali.


Lydia menjelaskan bahwa ada beberapa klausul perjanjian yang harus disepakati bersama. Misalnya tidak mencampuri urusan pribadi dan jika sebelum pernikahan dilakukan dan salah satu di antara mereka bertemu dengan seorang yang dicintai maka pertunangan bisa dibatalkan dengan alasan yang dibuat bersama agar tidak mengejutkan kedua pihak keluarga.


Salah satu klausul penting adalah kerjasama bisnis di awal meliputi tambang pasir Kali Progo, nikel di Morowali, dan start-up portal berita anak muda. Bisnis yang sudah berjalan selama masa pertunangan tidak bisa ditarik begitu saja jika pertunangan batal. Bisnis harus diselesaikan dalam satu periode berjalan dan akan ditinjau kembali pada periode berikutnya jika dianggap menguntungkan. Prosentase investasi berbeda di setiap bisnis menyesuaikan kepemimpinan. Ganti rugi jika ada salah satu pihak yang menyebabkan kerugian dalam bisnis ini juga tertera dalam klausul terakhir.


Cokro menatap wajah perempuan di hadapannya ini. Sepertinya Lydia memang pebisnis handal yang selalu memikirkan untung rugi dalam setiap tindakannya. Tidak pernah Cokro mendapati perjodohan dengan urusan bisnis yang serius seperti ini. Mungkin karena perjodohannya selalu kandas sebelum pertunangan dimulai.


Ditandatanganinya lembar terakhir yang yang bermaterai dengan bolpoin hitam di atas namanya. Lydia sudah menandatanganinya terlebih dahulu. Surat ini nanti akan dibawa ke notaris yang notabene memakai jasa Sasongko and Soedharman Law Firm untuk mengesahkan perjanjian agar memiliki kekuatan hukum. Lydia terseyum dan kemudian menawarkan untuk berjabat tangan.


“I’ll send you a copy as soon as it becomes [Akan gue kirim salinannya kalau sudah beres semua]”, ucap Lydia lalu segera membereskan berkasnya dan melangkah pergi.


 


Kosa menuntun Vira perlahan menuju exit gate. Tangan Vira masih terasa dingin dan sejak tadi tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Vira.


“Vira mau naik taksi atau bus Damri?” tanya Kosa menyentakkan lamunan Vira.


Vira menatap wajah Kosa dengan mata sayu dan sorot mata yang lemah.


“Naik taksi saja ya? Biar gak usah repot ke kost,” saran Kosa.


Vira mengangguk pelan.


Setelah beberapa saat taksi berjalan, Vira mulai memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.


“Abang, Vira minta maaf ya! Vira gak bermaksud demikian. Vira juga gak tau kenapa Mas Cokro begitu,” ucap Vira dengan netra yang mulai berbulir air.


“Sssst, gak usah dibahas. Sini Abang peluk!” Kosa lalu merengkuh Vira dan membiarkan pundaknya menjadi tempat Vira menumpahkan semua isi hati.


Suasana dalam taksi biru terasa semakin dingin dengan suara isakan Vira. Kosa membiarkannya dengan pikiran yang berkelana. Ada berbagai rasa dalam dada yang mendesak ingin keluar. Ingin rasanya Kosa memukul sesuatu untuk melampiaskan energi negatif yang merasukinya sejak tadi. Tapi sungguh, rasa sayang Kosa kepada Vira yang membuatnya jadi lunak.

__ADS_1


Kosa menarik napas panjang. Teka-teki di kepalanya tak kunjung terpecahkan. Ada hubungan apa antara Vira, lelaki yang dipanggil Gani dan Kakaknya Lydia, dan juga Cokro. Isi amplop yang diberikan Gani, hubungan Lydia dengan Cokro, dan mengapa Vira tampak begitu sedih. Apakah karena Gani atau kah karena Cokro? Kosa juga tak sampai hati untuk menanyakan langsung ke Vira yang menurutnya hanya akan menambah beban saja.


Terdengar suara dengkuran halus. Ternyata Vira tertidur. Perlahan Kosa membalikkan tubuh Vira agar wajah yang tersuruk di pundaknya itu terbebas dan bisa bernapas lega. Tampak wajah Vira yang lelah dengan tetesan air mata yang mengering. Kosa menatap Vira lembut dan memberikan sedikit kecupan di kepala yang terbalut kain itu. Kosa mengarahkan pandangan ke arah jalan tol menuju Depok. Hanya terlihat mobil-mobil yang lewat dan rintik hujan yang turun pelan, menambah dinginnya suasana dalam taksi biru.


__ADS_2