
^Semuanya akan menjadi lebih baik
Sudah tiga minggu ini Vira tidak menghubungi Kosa. Sejak pertemuan terakhirnya dengan Mas Cokro, hati Vira mulai menyusun kembali rasa-rasa yang berserak agar dapat menjadi utuh kembali meski itu tidak mudah.
Belum pernah Vira memiliki rasa yang bercabang sebelumnya. Mengira bahwa hatinya akan selalu dijaga untuk satu orang saja. Mengira bahwa tidak ada celah bagi rasa lain untuk hadir dan berkembang. Sampai ingatannya kembali pada perpisahan dirinya dengan Mas Cokro.
Mas Cokro mengantarkan Vira pulang dalam diam. Tidak sepatah kata pun diucapkan oleh keduanya. Membiarkan lamunan berkelana mencari cara atas peristiwa yang baru terjadi.
Teringat oleh Vira perkataan Mas Cokro bahwa ciuman terakhir ini adalah ciuman perpisahan yang dilakukan hanya untuk memastikan dan bukan untuk melanjutkan rasa.
“Tumben Vir, perasaan gue koq Kosa gak pernah main lagi ke sini ya? Udah putus?” tanya Natha tiba-tiba ketika mereka berkumpul membantu Mirna yang akan pindah sementara ke rumah kos-nya karena orientasi mahasiswa baru akan segera dimulai.
“Eh, apa Nath? Barusan ngomong apa?” Vira sepertinya sedang tidak fokus.
“Elu diputusin sama Kosa ya?” tanya Natha menampakkan rasa curiga.
“Gak koq!” jawab Vira pendek sambil menelan salivanya.
“Diputusin tau Kak! Mana ada cowok yang suka diselingkuhin,” celetuk Mirna tiba-tiba.
“Apaan sih Mir? Ikut-ikutan aja urusan orang,” ucap Vira kesal.
“Sama cowok yang namanya Cokro itu? Mama cerita sih tapi ya cuma sekilas!” sahut Natha sambil mengecek daftar kelengkapan yang harus dibawa Mirna.
“Mir, ini jangan lupa bawa kemeja. Ini koq bajunya kaos semua sih?” tanya Natha ke Mirna yang sibuk memilah barangnya
“Jadi yang mutusin elu apa Kosa?” tanya Natha ke Vira.
“Eeh, jangan kebanyakan Mir bawanya, elu kan cuma numpang sebentar di kos gue!”
“Gue masih sama Kosa koq Nath, tapi ya gitu!”
“Gitu apanya?” tanya Natha dengan nada menyelidik.
“Kosa belum menghubungi gue lagi,” ucap Vira pelan.
“Ya elu duluan aja yang hubungi dia, susah amat!”
“Malu kali Kak, soalnya Kak Vira yang selingkuhin Kak Kosa,” celetuk Mirna.
“Iiih nyebelin banget sih lu Mir, ntar biar gue hubungin temen gue yang jadi kating biar lu dihabisin pas OBM,” ancam Vira saking kesalnya.
“Yee, kayak Kak Vira gaul aja sih, temennya kan cuma anak gunung,” kilah Mirna.
“Eh Vir, mau ikut ke kampus gak? Gue bawa mobil Papa, jadi sekalian gue drop kalian berdua. Gue mau mampir lagi ke rumah singgah.”
“Kapan? “
“Besok pagi.”
-------------------------------------
Kosara Dwinanta
Kosa tidak mengira bahwa penantiannya tak kunjung berakhir. Dirinya mengira bahwa Vira akan cepat menghubungi Kosa dan keadaan kembali normal seperti sediakala. Tapi ini tidak.
Setiap hari Kosa selalu melongok ponselnya hanya untuk sekedar mengecek pesan yang mungkin saja dari Vira namun hanya harapan yang tak berbalas. Pada satu titik Kosa merasa apakah kisahnya bersama Vira akan berakhir seperti ini. Tertelan dalam lubang hitam tanpa ada kejelasan dan tanpa ada alasan yang harus diketahuinya.
Selama tiga minggu penantian, Kosa hanya bisa menerka apa yang Vira rasakan dan apa yang Vira alami bersama laki-laki yang bernama Cokro itu. Tanpa sedikit pun berkeinginan menanyakan langsung kepada Vira.
__ADS_1
Prof. Ibrahim yang ditunjuk sebagai pembimbingnya sejak akhir semester lalu sudah memberikan persetujuannya. Bahkan menawari Kosa untuk membantunya di Pusat Kajian Jepang yang terletak persis di sebelah kampus. Beliau meminta Kosa sebagai asisten untuk penelitian mengenai politik desa yang dikerjakan bersama dengan salah satu Profesor dari Kyoto, Jepang.
Kosa menerima tawaran itu dengan senang karena membuatnya bisa sekaligus bimbingan skripsi dengan intensif selain memperoleh uang tambahan.
Penelitian dengan Pak Irsyam dan Mas Syahran sepertinya juga akan jalan beberapa bulan ke depan menjelang pemilukada. Kosa bisa relatif santai dengan pemasukannya, tidak perlu terlalu berhemat lagi.
Karenanya dirinya tak menolak ketika Trisha mengajaknya makan di luar. Kemarin, mahasiswa baru di jurusannya itu menelpon. Trisha, Niken, dan Fransiska sudah kembali ke tempat kos karena lusa orientasi untuk mahasiswa baru sudah dimulai.
“Kak, konconi aku njaluk barang [temenin aku cari barang],” ajak Trisha.
“Mau kemana?” tanya Kosa.
“Chedak kene [sekitar sini aja],” ucap Trisha.
“Arep tuku opo [mau beli apaan sih?],” tanya Kosa lagi.
“Wakeh [banyak], Kak!”
Jam sembilan tepat esok hari Kosa bertemu Trisha, Niken, dan Fransiska di Kukusan Teknik, dekat kedai penjual kue pukis di depan pintu kampus bagian belakang. Ketiga mahasiswa baru tampak tersenyum ketika Kosa datang menghampiri.
“Kalian mau kemana? Gramedia?” tanya Kosa menanyakan tujuan mereka pergi hari ini.
“Kalau ke sana sih sendiri aja Kak, sudah sering!” sahut Trisha sambil senyum melebar yang diikuti oleh Niken dan Fransiska.
“Jadi rencana kalian bagaimana hari ini?”
“Mau jalan-jalan seputaran kampus aja sih Kak! Sekalian rekomendasiin tempat-tempat enak!”
“Loh, persiapan buat OBM besok gimana?” tanya Kosa heran karena mengira Trisha dan teman-temannya akan belanja untuk kebutuhan esok.
“Itu sih sudah siap Kak, bawaannya juga gak macem-macem koq!”
“Oh, jadi cuma pengen jalan-jalan ditemani bodyguard aja?” tukas Kosa akhirnya paham maksud mereka yang membuat senyum ketiganya semakin melebar.
Dari pintu Kukusan Teknik mereka jalan ke arah belakang, melewati masjid besar dan deretan rumah kos yang jumlahnya tak terhitung. Ada beberapa rumah makan ala mahasiswa dengan harga bersahabat dan juga kedai sayuran.
Banyak mahasiswa yang memasak sendiri makanannya atau bahkan gabungan dengan sesama teman kos untuk menghemat biaya makan sehari-hari.
Kosa sendiri lebih suka membeli makanan siap saji di rumah makan di sebelah rumah kos atau abang-abang yang lewat. Hanya kalau jadualnya terlalu padat atau keuangan menipis barulah ia memasak mie instan di dapur bersama rumah kos-nya.
Mereka menuju pertigaan jalan besar di belakang kampus dimana sudah ada angkutan umum yang beroperasi. Kosa menunjukkan beberapa minimarket yang berdampingan, toko peralatan tulis, alat kecantikan, toko buah, toko roti, dan beberapa rumah makan besar di ruko-ruko yang bangunannya lebih kokoh.
“Nah, kalian bisa belanja dan makan enak di sini kalau duitnya banyak. Di toko itu roti ayamnya enak banget, pasti kalian suka!” tutur Kosa menjelaskan.
“Mau ke supermarket yang lebih komplet lagi gak di sini?” tanya Kosa
“Jauh ndak Kak?” tanya Niken.
“Lumayan sih, tapi kalau naik angkot cuma bayar tiga ribu lah. Berempat bisa sepuluh ribuan!”
“Di sana jual daging segar, ikan, sayur dan buah. Lengkap lah pokoknya!” terang Kosa.
Di supermarket yang cukup besar ternyata membuat ketiga perempuan itu tertawa gembira. Suasana toko yang masih sepi karena baru buka membuat mereka leluasa mencari berbagai barang yang dibutuhkan.
“Wah Kak, ndak usah repot-repot ke Margonda kalau mau belanja ya!” tukas Trisha kegirangan.
Ternyata tak banyak yang dibeli oleh ketiga perempuan itu meskipun Kosa merasa sudah terlalu lama di supermarket ini. Mengingatkan Kosa pada perempuan-perempuan yang pernah dekat dengannya, tapi bukan Vira.
Ingatannya kembali kepada Vira. Apakah Vira suka belanja juga seperti ini? Melihat ini Kosa merasa sepertinya menjadi tidak begitu mengenal Vira. Berapa banyak waktu yang sudah dihabiskan bersama? Apa saja yang telah mereka lakukan? Kemana saja mereka pergi? Sepertinya bisa dihitung dengan jari. Dengan situasinya seperti ini Kosa merasa begitu jauh.
__ADS_1
“Hey Kak, ngelamun ae. Mangan [makan] yuk! Wes luwe [sudah lapar nih], tadi cuma makan roti,” ajak Trisha yang diiringi dengan anggukan Niken dan Fransiska.
“Mau makan dimana?”
“Kakak aja yang pilih, tempatnya yang enak ya Kak!” ucap Siska yang memang tidak banyak bicara sedari tadi.
Kosa mengajak mereka berjalan tidak terlalu jauh ke arah tempat makan yang biasa ia kunjungi.
---------------------------------------------------------
“Gue tinggal dulu ya, ntar gue jemput agak sorean. Masih ada urusan di rumah singgah,” ucap Natha sebelum meninggalkan mereka di kamar kos-nya yang terletak di belakang kampus vokasi.
“Makan siangnya gampang lah, udah banyak yang buka. Mahasiswa baru udah pada ngumpul semua soalnya!” sambung Natha lagi.
Diperhatikan kamar kos kakaknya ini. Ukurannya cukup besar dan rapi sekali. Buku-buku tersusun rapi di rak yang berdampingan dengan lemari bajunya. Bahkan ada televisi ukuran 24-inch yang terpasang erat di dinding kamarnya dan kulkas mini seperti di hotel saja. Vira tidak pernah ke sini sebelumnya karena Natha baru memutuskan kos satu tahun belakangan karena kesibukan kuliahnya.
“Gue jadi pengen ngekos juga Mir,” ucap Vira.
“Kasian mama Kak, ntar sendirian di rumah. Papa kan kerja terus!”
Mirna mengeluarkan isi kopernya yang penuh dengan baju, buku, dan perlengkapan untuk OBM besok. Meletakkan di rak lemari yang memang sengaja dikosongkan Natha untuknya. Mirna hanya menempati kamar kos Natha untuk kegiatan OBM saja yang kebetulan lumayan dekat dengan Fakultas MIPA, kampusnya.
“Kalo Kak Kosa ngekosnya dimana Kak?” celetuk Mirna tiba-tiba, membuyarkan lamunan Vira.
“Eh, gak tau Mir. Belum pernah ke sana!”
“Masa sih? Pacaran segitu lama Kak Vira gak pernah main ke sana? Parah ih. Pantes diputusin!”
“Apaan sih Mir, gue gak diputusin koq. Elu kepo banget sama urusan gue sih! Nyebelin tau gak!” sungut Vira kesal.
“Telpon aja Kak, bilang kalo Kak Vira lagi nganter Mirna jadi sekalian ketemu gitu!”
Vira terdiam. Andai dirinya punya keberanian itu, menghubungi Kosa setelah apa yang terjadi dengan Mas Cokro di tempat parkir lantai basement. Mengatakan semuanya. Menceritakan tentang hatinya. Vira terlalu takut.
“Udah ya Mir, jangan bahas Kosa lagi,” tukas Vira. Hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulutnya untuk menghentikan rasa sakit yang tetiba hadir.
“Makan yuk Kak! Laper nih. Traktir makanan enak ya!” pinta Mirna sambil nyengir.
“Males.”
“Kemarin Kak Natha dibeliin sweater mahal, mamah juga. Mirna cuma dikasih gantungan kunci sama gelang. Gak fair banget! Gantinya traktir aja hari ini ya!” rajuk Mirna.
“Udah untung gue beliin Mir.”
“Kak Vira jahat ih!”
Namun Vira teringat satu tempat yang menjadi favoritnya. Tempat yang menyajikan makanan enak dengan suasana cozy. Tempat dengan kenangan yang indah untuknya.
“Yaudah buruan, ikut gue. Ada tempat asyik, makanannya juga enak. Tapi jalan ya, gak pake ngeluh soalnya harus jalan agak jauh.”
“Pake ojek online aja sih Kak!” pinta Mirna.
“Gak, gue maunya jalan. Udah kangen pengen naik gunung!” tukas Vira mengabaikan permintaan Mirna.
Mereka berjalan lewat jalur belakang. Ada banyak jalan kecil yang tunjukkan oleh aplikasi navigasi GPS di ponsel Vira menuju ke tempat makan yang mereka tuju. Melewati rumah penduduk yang cukup padat dan tanah-tanah yang ditanami pohon pisang. Suasananya masih asri.
Setelah tiga puluh menit berjalan, mereka sampai di Café mungil dengan nuansa kayu. Tanaman lee kuan yew menjuntai lebat menutupi sebagian jendelanya. Memberikan kesan teduh karena menghalangi cahaya matahari yang masuk ke dalam. Café Gerimis. Café yang mengingatkan Vira kepada Kosa.
“Iiih cakep amat Cafenya Kak!” ucap Mirna ketika sampai di depan Café Gerimis.
__ADS_1
Vira tersenyum. Lalu mengajak Mirna masuk mengikutinya, menuju arah belakang. Menuju meja di dekat kolam dengan gemericik air yang membuatnya rindu. Meja yang menjadi saksi saat Kosa meminta Vira untuk menjadi pacarnya.
Namun langkah itu terhenti, ketika mata Vira mendapati meja itu sudah terisi oleh empat orang yang sedang asyik tertawa dan bersenda gurau. Ada rasa seperti batu yang menghantam hatinya ketika Vira menyadari bahwa lelaki yang duduk di sebelah perempuan berkacamata itu adalah Kosa.