Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Dovan and the Girl Who Lost in the Mountain


__ADS_3

Sandeep mengatakan bahwa pendakian hari ini menuju Dovan adalah pendakian yang jarak tempuhnya lumayan jauh namun medan tidak terlalu sulit. Vira mendengus mendengarnya. Dengan pengalaman berhari-hari harus melewati banyak gunung tampaknya kata tidak terlalu sulit bukan frasa yang tepat. Yang dibutuhkan adalah frasa tidak capek menurutnya.


Vira memesan menu sarapan yang banyak. Bobby sampai berdecak kagum melihatnya.


“Gue gak pernah liat cewek makan segini banyak. Asli Vir, parah lu,” ujar Bobby.


“Sengaja, biar ntar kalo tersesat lagi, masih ada cadangan makanan di badan, gak kelaperan,” canda Mas Une.


Vira tersenyum lebar dengan mulut penuh makanan. Sepertinya memang dirinya butuh suplai makanan lebih banyak mengingat kejadian kemarin dan jarak yang lebih jauh dari biasanya.


-------------------------


Sepanjang perjalanan, seperti biasa Vira selalu berada paling belakang. Ada Sandeep dan Bobby yang selalu setia menemani.


“Gue demen jalan sama lu Vir, santai, gak berasa capek, dan banyak pengalaman,” ucap Bobby.


“Apaan yang gak capek? Gue lelet karena emang capek Bi, gempor kaki.”


“Gue biasa daki sama Mas Coky, cepet banget dia, langkahnya panjang-panjang. Mas Une sama lah,” sahut Bobby.


“Mas Coky itu siapa Bi?” tanya Vira.


“Lah itu Mas Cokro. Gue manggilnya Coky.”


“Oh, Mas Cokro pendiem banget ya? Gue cuma liat dia makan, minum, ngerokok, minum bir, sama senyum doang Bi. Sampe sekarang gue kagak pernah denger suaranya,” ujar Vira berterus terang.


“Emang gitu dia orangnya.”


“Kasian gue ama istrinya Bi. Kebayang gue kalo punya laki pendiem gitu, sepi banget kali ya!”


Bobby berhenti dan terdiam sejenak. Tidak menanggapi apa yang diucapkan Vira.


“Kenapa Bi? Gue salah ngomong ya?”


“Jangan ngomong gitu lagi ya Vir,” pinta Bobby.


“Mas Coky itu istrinya udah meninggal. Udah lima tahun Vir. Sampai sekarang belum nikah lagi,” sambung Bobby


"Ooooh, maaf Bi."

__ADS_1


Kini berganti Vira yang terdiam. Ada penyesalan sudah mengeluarkan pernyataan seperti itu. Berprasangka tanpa mengetahui apa yang terjadi.


________________


Dalam perjalanan ada banyak orang yang ditemui Vira dan Bobby.


Sejak bertemu dengan Mr. Kim, Bobby menyadari bahwa banyak orang hebat yang mendaki di sini. Tidak terlihat kecuali kita melihatnya. Mengenalnya karena kita mengenalinya.


Pertemuan hari ini yang disukai Bobby adalah bertemu dengan dua orang biksu Buddha.


Sewaktu di Kathmandu, Bobby tidak sempat mengunjungi Kuil Hindu dan Buddha bahkan di Pokhara juga tidak. Hanya perjalanan menuju Ulleri dirinya baru masuk ke dalam Kuil Buddha untuk minta diberkati oleh para Biksu. Bobby menceritakan bahwa dirinya percaya dengan semua agama karena menurutnya agama hadir untuk kebaikan manusia.


“Bobby, here in Nepal, religion is private. each member of the family may have a different god or goddess to worship [Di Nepal, agama itu urusan pribadi, setiap anggota keluarga bisa saja punya dewa atau dewi yang berbeda untuk disembah],” ungkap Sandeep.


Biksu yang diajak berselfia ria dengan Bobby dengan senang hati menjelaskan bahwa meskipun sama-sama mirip dengan ajaran Buddha dari Tibet tapi pemimpin agama mereka bukanlah Dalai Lama. Bahkan para biksu itu menunjukkan pin yang tersemat di dadanya yang bergambar wajah pemimpin mereka.


“Lu tau Vir, destinasi gue harus ke Tibet, gue mau ketemu Dalai Lama.”


“Ada tuh gunung di sana, gunung Kailash. Kemaren pas gue cek mahal banget Bi, nyaris dua ribu dollar. Lagian ketemu Dalai Lama mah susah, yakali kayak ketemu Ustad di Masjid Bi.”


“Elu udah ngecek-ngecek ya Vir?” tanya Bobby.


“Iiih koq elu tau banyak?” Bobby menunjukkan keheranannya.


“Gue punya list to go and list to do [daftar yang mau dituju dan yang mau dilakukan]. Tibet masuk urutan akhir karena ribet dan mahal,” ungkap Vira.


“Ya namanya juga cita-cita Vir,” pungkas Bobby dengan nada suara yang mulai sedikit menurun.


'Tapi ya Vir, gue mau ke sananya berdua sama elu."


"Bayarin tapinya!"


--------------------------------------


Pertemuan kedua yang begitu berkesan buat Vira saat perjalanan menuju Dovan adalah bertemu dengan Piplu, Sutradara dari Bangladesh.


Saat Vira beristirahat di restoran, saat itu lah seorang berwajah India datang menghampirinya.


“Do you mind if I sit here [Boleh saya duduk di sini]?” tanyanya sambil menunjuk kursi di sebelah Vira.

__ADS_1


“Sure, go head [silakan],” jawab Vira.


Biasanya Vira yang selalu kepo dan memulai pembicaraan dengan orang asing yang ditemuinya. Tapi kali ini berbeda. Lelaki seumuran Mas Une dan Mas Cokro ini dengan mudah mengajak Vira berkomunikasi.


“I’m Piplu from Bangladesh [Saya Piplu dari Bangladesh],” ucapnya memperkenalkan diri ke Vira.


“Oh, I’m Vira from Indonesia. How do you do [Oh, saya Vira dari Indonesia. Apa kabar]?”


“Oh no! Is that you the girl who lost on the mountain [oh tidak, apakah kamu perempuan yang tersesat di gunung kemarin]?” Piplu terlihat agak sedikit terkejut dan menatapnya dalam.


“Wait, whaaat [Tunggu, apaaa]?” Vira jelas terkejut mendengar perkataan Piplu barusan.


“Ya, you are the one who get lost on the way to Chhomrong. Is that right [ya, kamu kan orangnya yang tersesat menuju Chhomrong kan]?” tanya Piplu lagi.


“Hahaha, yeah you are right. That’s me [yah benar, itu saya],” aku Vira.


“How do you know that I was lost [Bagaimana kamu bisa tau]?” tanya Vira


“All creatures in this mountain know that you got lost yesterday [semua makhluk di gunung ini tau koq kamu tersesat kemarin],” sahut Piplu sambil tertawa.


Pertemuan dengan awal yang lucu. Tak disangka oleh Vira ternyata Piplu adalah seorang sutradara ternama dari Bangladesh yang sedang menggarap film dokumenter mengenai sosok Perdana Menteri Sheikh Hasina Wajed.


Tak kalah terkejutnya bagi Piplu ketika mengetahui bahwa Vira banyak membaca tentang sosok Hasena dan konfliknya dengan Khaleda Zia, yang merupakan rival politiknya. Vira mengenalkan dirinya sebagai mahasiswa yang belajar ilmu perbandingan politik antar negara.


Piplu kemudian memberikan nomor ponselnya di Bangladesh yang tersambung dengan aplikasi pesan chat.


"I have a feeling that someday we will work together [saya merasa suatu saat kita akan bekerja sama untuk suatu proyek]," ucap Piplu sambil menjabat tangan Vira sebelum mereka berpisah.


__________________________


Sesampainya di Dovan, menjelang maghrib dan Vira tidak mengerti mengapa tiba-tiba ranselnya berada di restoran lodge yang mereka tempati, bukan di kamarnya.


Sandeep tiba-tiba menghampirinya untuk meminta maaf karena lodge penuh dan tidak bisa mendapatkan kamar sendiri untuk Vira. Kamar paling kecil untuk dua orang sudah ditempati pendaki lain.


Sandeep menjelaskan bahwa pemesanan kamar lodge sudah dilakukan di awal pemberangkatan, sejak mereka di Pokhara. Namun pemilik lodge meminta maaf karena ada pasangan pendaki dari Estonia yang datang dan memesan kamar tiba-tiba. Pemilik lodge tidak bisa menolak karena hari sudah sore dan penginapan terjauh ada di Deurali yang jaraknya empat sampai lima jam perjalanan.


Jadilah kamar Vira diberikan kepada pasangan Estonia dan Vira dipindahkan bersama dengan mas-mas pendaki ini. Berlima dalam satu kamar yang sempit. Dengan tempat tidur yang nyaris rapat satu sama lain.


Penyatuan kamar ini membuatnya agak sedikit tersiksa. Karena mau tidak mau tetap harus memakai jilbabnya sepanjang malam. Apalagi karena perjalanan jauh hari ini membuat kepala VIra gatal. Benar-benar gatal karena keringat.

__ADS_1


Mandi air hangat dengan biaya dua dolar rasanya begitu menyenangkan. Namun rasa senang itu tetiba menguap karena dengan rambut basah, Vira terpaksa menutup kepalanya dengan jilbab semalaman penuh. Nasib


__ADS_2