
^ Hubungan Darah Lebih Kuat Dari Apapun
Setelah menandatangani bukti penerimaan dari kurirnya, Vira menghela dan mengatur napasnya baik-baik. Diliriknya Kosa yang memandang ke arahnya. Vira tak ingin lagi mendapati kilatan amarah di mata Kosa karena persoalan ini.
“Dari siapa Vir?” pertanyaan Kosa yang sudah Vira duga sebelumnya.
Vira mengangkat kedua bahunya. “Buat Natha, dari pacarnya mungkin,” jawab Vira sesantai mungkin.
“Natha punya pacar? Abang baru tau,” ucap Kosa heran. Vira mengangkat bahunya tanda tidak tau.
Kosa mengikuti Vira dari belakang. Menuju ruang keluarga dimana ada Mirna yang sedang duduk menonton televisi. Kosa menjatuhkan dirinya di Sofa, mengambil tempat di sebelah Mirna.
“Kiriman buat siapa Kak?” tanya Mirna
“Buat Natha, dari pacarnya,” sahut Vira sambil membawa buket bunga dan kotak ke lantai atas, ke kamar Natha.
“Eh, emang Kak Natha punya pacar?” tanya Mirna yang tak dipedulikan oleh Vira yang terus berjalan.
Vira membuka kamar Natha dengan kedua tangan yang memegang buket bunga dan kotak besar itu lalu menutupnya kembali.
Natha memandang ke arah Vira. “Ngapain lu ke kamar gue Vir? Bawa apaan itu?”
“Ini buat elu Nath,” ucap Vira pelan.
“Dari siapa?” tanya Natha dengan mimik muka heran.
Dilihatnya Vira menundukkan kepalanya. Natha lalu mengambil kartu ucapan yang tersemat di kotak kue. Dibacanya dengan cepat kata-kata yang tertulis di dalamnya.
“Katanya mau datang nemuin elu minggu depan,” sahutnya.
“Eeh,” ujar Vira terkejut. Disambarnya kartu itu dan mulai dibacanya. Isinya sama dengan apa yang dikatakan Natha.
“Berarti minggu depan gue gak pulang ke Bekasi ya Nath,” gumam Vira.
“Elu takut ketahuan Kosa ya kalo ini dari Cokro?” tebak Natha.
“Gue gak mau dia tersinggung gara-gara ini.”
“Oh, yaudah. Trus gue dapet apa bantuin elu?”
Wajah Vira memberengut. “Ish, sama adik sendiri pake minta imbalan.”
“Mau gak?”
“Elu mau minta apaan? Duit gue gak banyak Nath. Cuma tabungan buat jalan-jalan sama naik gunung doang.”
“Gue gak minta duit elu koq, santai aja. Nanti gue kasih tau elu kalau gue butuh sesuatu.”
“Gue janji. Lu bisa pegang kata-kata gue Nath,” ucap Vira meyakinkan.
Natha menyimpan kartu ucapan itu di lacinya dan kemudian memeriksa seluruh bagian buket dan kotak untuk memastikan tidak ada hal-hal yang mencurigakan.
“Bawa kotaknya turun, taruh di kulkas aja kuenya. Ini bunganya biar gue kasih air.”
Kosa mengamati bunga lily berwarna merah jambu yang diletakkan Natha di vas bening di meja kaca ruang keluarga. Di depannya ada martabak yang dibawanya dan dua potong kue cheesecake dengan potongan stroberi segar di atasnya pemberian Natha.
“Kenapa gak ditaruh di kamar Natha aja Vir bunganya? Kan dari pacarnya bukan?” tanya Kosa heran.
“Gak tau deh,” ucap Vira seakan tak peduli padahal dalam hati kesal dengan kelakuan Natha yang sengaja meletakkan vas dengan bunga lily di hadapannya.
“Kak Natha gak suka bunga beneran. Sukanya bunga deposito,” celetuk Mirna yang sedari tadi duduk di antara Vira dan Kosa.
__ADS_1
“Elu gak tidur Mir?” tanya Vira yang sepertinya kesal dengan kehadiran Mirna.
“Masih jam delapan,” sahut Mirna santai.
“Elu gak main sama temen lu Mir?” tanya Vira lagi.
“Males.”
“Lu ngapain sih dari tadi di sini? Suka banget gangguin orang,” sungut Vira kesal.
“Biarin, biar kalian gak mesum lagi,” jawab Mirna sambil menatap sinis ke arah Vira.
“Abang, diam dong ah, jangan cekikikan gitu. Bilangin Mirna apa keq biar dia pergi,” tukas Vira yang sekarang kekesalannya semakin menumpuk kepada Mirna dan juga kepada Kosa.
Vira lalu bangkit dan menarik tangan Kosa. “Yuk Bang, kita pindah ke kamar Vira aja!”
Tetiba tangan Kosa juga ditarik oleh Mirna.
“Jangan Kak, di sini aja. Jangan mau diajak Kak Vira ke kamar. Nanti Mirna laporin ke Mamah. Mirna masuk kamar tapi Kak Kosa janji gak mesum lagi sama Kak Vira.”
“Ish Mir, elu koq ngomongnya gitu sih!” Ingin rasanya Vira mencubit adiknya namun tidak bisa.
“Kamu sama Mirna itu lucu ya hubungannya, kayaknya kalian itu dekat banget,” ucap Kosa ketika Mirna akhirnya meninggalkan mereka berdua di ruang keluarga.
“Apaan dekat. Mirna itu usil banget mulutnya tau Bang, reseh banget, nyebelin,” ungkap Vira menyatakan kekesalannya.
“Vira mau lanjutin yang tadi,” tanya Kosa pelan.
“Lanjutin apa?” tanya Vira tak mengerti.
“Perbuatan mesum yang tadi kita lakukan,” ujar Kosa dengan seringai di wajahnya.
“Issssh, Abaaaaaang. Abang koq mesum banget iiih, sebel ah,” seru Vira mendorong tubuh Kosa dan kemudian bergerak menjauhinya.
“Sini, duduk samping Abang. Kita ngobrol aja. Nanti bakalan gak ketemu seminggu.”
Vira menurut dan duduk di samping Kosa dengan tangan yang masih saling menggenggam.
“Selesainya kapan sih Bang? Jumat sudah balik ke Depok?” tanya Vira.
“Jumat baru selesai. Hari pertama langsung ke Lebak dan lanjut ke Pandeglang dan hari terakhir ke Serang. Kayaknya bisa lebih juga kalau Matsuoka Sensei mau liburan di Anyer. Tadi pas ngobrol sama Mas Hamid dari Untirta lewat teleconference, katanya mau dipesenin Villa di Carita.”
“Ih enak banget sih penelitiannya,” ujar Vira takjub.
“Lama Vir dan katanya masuk ke desa-desa pedalaman gitu, bisa jadi nanti sinyalnya bermasalah.”
“Vira baiknya dimana ya Bang selama Abang pergi? Di Depok atau di Bekasi? Kayaknya males banget gak ada yang jemput dari Stasiun.”
‘Kalau di Depok kan ada Mirna, jadi gak kesepian banget. Lagian nanti kalau Abang balik bisa langsung datengin Vira, gak perlu ke Bekasi lagi. Tapi kalau Vira kangen Mamah ya pulang aja.”
“Ish, kalau ngajak jalan sama makan bareng Mirna sih ngabisin duit aja Bang, pasti maunya ditraktir.”
“Loh, mirip kan? Kamu juga kalau makan kan Abang yang traktir!”
“Ih, Vira kan gak pernah minta ditraktir, Abang sendiri yang bawaannya pengen traktir Vira terus. Vira punya duit sendiri koq. Suruh siapa bayarin Vira. Trus Vira tuh gak suka disamain sama Mirna. Beda banget. Vira gak suka Abang ngomong kayak gini,” tukas Vira kesal.
Vira membalikkan tubuhnya membelakangi Kosa. Kekesalannya seperti bertumpuk. Dimulai dari Natha dan Mirna, kini bertambah dengan ucapan Kosa. Meski dirinya merasa cukup aneh, apakah ini juga ditambah dengan faktor hormonnya atau menjadi manja karena akan berpisah dengan Kosa nanti.
Kosa melingkarkan tangannya ke raga Vira, memeluknya dari belakang. Diciumnya kain yang menyelubungi kepala Vira. “Kesayangan Abang jangan marah ya!” bisik Kosa.
__ADS_1
Lydia Magdalena Sasongko
Dilihatnya Gani, adik lelaki bungsunya masuk ke kamar kedua apartemennya untuk tidur. Lelaki lembut dan introvert tapi selalu menjadikan Lydia sebagai tempatnya bertumpu. Lelaki yang paling berbeda dari semua yang dikenalnya.
Perjalanan karir Papa untuk menjadi seperti sekarang memang penuh perjuangan. Dari seorang lelaki biasa saja dari Yogyakarta dan kuliah di ibukota sampai meniti karir menjadi politisi semua terekam baik dalam ingatan Lydia. Ingatan yang terbentuk dari cerita-cerita Papa dan Mama selama ini.
Dukungan Mama luar biasa terhadap Papa menyebabkan adik-adiknya lebih dekat dengan Lydia daripada dengan orang tuanya. Mama lebih banyak menghabiskan waktu di samping Papa mengurusi segala kebutuhannya.
Adik pertamanya, Mahendra Wistara sungguh sangat berbeda dengan adik bungsunya, Ganindra Mahija. Tara, sejak kecil selalu menunjukkan potensinya sebagai sosok yang mandiri. Dengan lantang selalu mengatakan bahwa kelak dirinya yang akan menggantikan bisnis ayahnya. Sejak lulus sekolah lanjutan atas langsung meminta kuliah di luar negeri seperti dirinya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari Tara.
Berbeda dengan Gani, yang lembut dan pendiam. Membuat Lydia merasa harus menjadi pelindung bagi adiknya ini. Bahkan ketika adiknya masuk ke sekolah agama khusus laki-laki di bilangan Kebayoran Baru juga tidak mengubah Gani dari sifat introvert-nya.
Lydia tidak paham mengapa dari satu keluarga dengan didikan yang sama bisa menghasilkan sifat dan perilaku yang berbeda. Papa, Herman Sasongko adalah pria Jawa Muslim yang menikah dengan Mama, Ruth Margaretha Karouw, yang merupakan perempuan Nasrani dari tanah Sulawesi. Keduanya tidak mengajarkan agama kepada anak-anaknya, dan hanya menyerahkan kepada institusi sekolah saja. Mereka selalu berlebaran dan juga selalu natalan. Entah mana yang dipilihnya, Lydia tidak terlalu peduli. Agama menjadi tidak penting untuk dirinya.
Tak disangka, Gani yang sekolah di sekolah agama khusus laki-laki menjadi berubah ketika diterima dan masuk di Prodi Elektro Fakultas Teknik UI. Gani tidak ingin kuliah di Boston seperti dirinya yang mengambil jurusan hukum ataupun seperti Tara yang mengambil ekonomi bisnis di Birmingham. Gani hanya ingin kuliah di dalam negeri. Di titik inilah perubahan pada diri Gani terjadi.
Ada yang berbeda ketika Gani mulai masuk kuliah. Lydia mendapati Gani mulai tertarik dengan ilmu agama dan mengikuti pengajian dalam kelompok kecil di kampusnya. Lydia seringkali mendapati buku-buku agama di meja kamar tidur Gani. Ada Alquran dengan terjemahan juga. Namun, tidak ada yang peduli. Papa Mama membebaskan semua anaknya untuk memilih agama apapun yang disukainya. Bagi Lydia, perubahan akan ketertarikan Gani pada agama tetaplah menjadikan Gani sebagai adik yang lembut di matanya.
Bahkan ketika Lydia harus bercerai dengan suaminya yang brengsek pun, Gani lah yang selalu ada mendukungnya. Memberikan semangat, mengirimkan ayat-ayat dari kitab suci untuk menguatkannya. Meskipun Lydia tidak terlalu peduli dengan ayat-ayat itu tapi kepedulian Gani lah yang membuatnya semakin dekat.
Sepulang dari magang di perusahaan minyak yang terletak di Riau, Gani tampak lebih banyak tersenyum. Membuat Lydia banyak bertanya-tanya. Didapatinya adiknya ini sedang membuat proposal perkenalan untuk seorang perempuan. Teringat oleh Lydia dengan percakapan serius dengan Gani tentang ini.
“Did you meet someone special in Riau [Apa kamu ketemu seseorang yang special di Riau]?” tanya Lydia.
Gani tersenyum dan menggelangkan kepalanya.
“May I know who is she? Is she junior on your campus? [Boleh gue tau siapa dia? Junior di kampus kah?]”
Gani terdiam sesaat lalu menjawab. “Beda fakultas dan beda tingkat.”
“Do you know her? I mean close to her? I mean did you ever talk to her? [Kamu kenal orangnya? Maksud gue udah dekat sama dia? Elu udah pernah ngomong belum sama dia?]” tanya Lydia menyelidiki.
Gani terdiam lagi sebelum menceritakan kepadanya panjang lebar. Curahan terpanjang yang pernah Gani sampaikan kepadanya. Gani menceritakan betapa seringnya ia melihat perempuan ini di selasar masjid kampus dan di perpustakaan pusat. Ini membuat Lydia tak habis pikir, mengapa bisa Gani adiknya ini tertarik kepada perempuan dengan hanya melihatnya saja.
“I wanna tell you something. First you should know for what I say to you is not to make you down. But I’m sure that you are gonna be rejected for this [Gue Cuma mau bilang tapi bukan buat ngejatuhin mental elu. Kalau begini caranya, gue yakin elu bakal ditolak],” ungkap Lydia jujur.
“Tidak apa-apa. Aku siap koq!”
“Why her? I don’t even know what kind of girl you like. Is she cheerful person? Clumsy? Generous? Gosh, I really don’t understand you. You know what Gani, I am a widow, I know better about marriage than you. Don’t be a fool rush in [Kenapa elu milih cewek itu? Gue bahkan gak tau cewek macam apa yang elu suka. Apa orangnya periang? Ceroboh? Baik hati. Gue gak ngerti elu Gan, dan asal elu tau gue ini janda Gan, gue tau banget soal pernikahan daripada elu. Gak usah buru-buru].”
“Kak, aku akan balik ke Riau. Aku akan kerja di sana. Aku mau membangun keluarga di sana. Aku mau bersama orang yang mau belajar agama bersama. Aku tidak ingin seperti Papa Mama mendidik kita. Aku ingin ketenangan dalam hidup,” tutur Gani pelan.
“Wait a minute, what did you say? You wanna serenity in your life? What does it mean? [Tunggu sebentar, elu bilang apa? Elu mau ketenangan dalam hidup lu? Maksudnya apa sih? Gak ngerti gue].”
“Mungkin Kakak tidak mengerti aku. Tapi aku ingin hidup yang mendekatkan diri dengan Tuhan. Dia yang sekarang memenuhi pikiran aku, yang mungkin bisa aku ajak bersama-sama belajar untuk mengenal Tuhan.”
“Have you told Mom and Dad about this? Dad must be disappointed for what you chose [Elu udah ngomong ke Papa dan Mama? Gue yakin Papa pasti kecewa dengan keputusan elu ini].”
“Aku akan bilang ke mereka.”
“If you are rejected by her, will you still go to Riau? [Kalau elu ditolak dia, elu masih mau kerja di Riau?]”
“Aku tetap akan pergi.”
“If she accepts your proposal, will you stay? [Kalau dia terima proposal elu, elu bakal tinggal di Jakarta?]” tanya Lydia memastikan.
Gani diam menatap mata Kakaknya. Tidak ada jawaban yang bisa diberikan Gani atas pertanyaan sulit itu.
Kenangan akan pembicaraan itu terpatri dan kini beralih dengan perempuan yang ditemuinya di Plaza Festival.
Perempuan yang biasa saja menurut Lydia. Tidak ada yang istimewa. Entah apa yang membuat Gani tetiba menjadi berani untuk menawarkan diri mengantarkan perempuan itu ke halte busway. Tidak seperti lelaki pemalu yang dikenalnya.
__ADS_1
Lydia menghela nafasnya. Skenario Tuhan memang tak tertandingi, pikir Lydia pas mengetahui bahwa perempuan itu justru menjadi mahasiswa yang sedang magang di kantor Papa. What a life!