
^Tidak Ada Sesuatu yang Cuma-Cuma di Dunia ini
Jumat pagi ini begitu cerah. Produksi oksigen dari hutan hijau kampus memberikan hembusan lembut manis yang menyegarkan.
Vira sudah hadir menemani Kosa dalam sidang proposalnya di Ruang Rapat Gedung B Lantai 2. Sidang proposal hanya dihadiri pembimbing skripsi, ketua dan sekretaris jurusan. Biasanya sidang proposal selalu tertutup tapi Kosa meminta izin agar Vira diperbolehkan masuk.
Vira memperhatikan jalannya sidang. Seperti biasa, Kosa tampak tidak pernah kesulitan dalam menjawab setiap pertanyaan terkait data dan logika berpikir dalam proposalnya. Semuanya mengalir. Sidang selama satu jam ini memutuskan bahwa proposalnya dapat dilanjutkan tanpa perlu perbaikan.
“Abang keren deh, gak ada perbaikan, parah kerennya!” ucap Vira terpukau setelah para penguji proposal sudah keluar ruangan.
Kosa tersenyum. “Mau makan di Takor gak? Masih jam sembilan. Nanti langsung ke Kuningan kan? Berangkat jam sebelas saja.”
Vira mengangguk. “Bang, kayaknya Vira butuh kemeja deh! Mau beli blazer juga. Kata Pak Faisal, Pak Herman itu suka rapat sama pejabat-pejabat gitu jadi diminta pakai blazer biar lebih sopan.”
“Vira mau Abang temenin belanjanya?”
“Besok Abang sibuk gak? Rapat sama Matsuoka Sensei?” tanya Vira.
“Gak sibuk, rapat terakhirnya hari ini nanti agak sore, paling cuma dua jam.”
Kantin takor jam sembilan pagi ini masih sepi. Mahasiswa kampus Makara jingga ini memang datang pagi hanya untuk kuliah, jarang nongkrong sedari pagi. Tapi kalau sudah di atas jam dua belas siang sampai malam hari, kampus malah semakin ramai. Vira dan Kosa mengambil meja di paling ujung dekat dengan kolam.
Vira memesan nasi imbi yang penuh kenangan. Menu yang membuat Vira merasakan ada sesuatu yang lain dengan Kosa, lebih dari sekedar junior dan senior. Gara-gara nasi imbi ini lah muncul gossip tentang dirinya dan Kosa.
“Senyum-senyum gitu sih Vir. Lagi mikirin apa?” tanya Kosa memperhatikan gelagat Vira.
“Udah lama gak makan di sini, jadi inget banyak kenangan manis.”
“Angkatan tua ya gitu deh, apalagi nanti kalau jadi alumni.”
Vira tertawa. “Gak kerasa udah tua, perasaan baru kemarin jadi maba.”
“Tapi Abang kan tiga tahun lebih tua dari Vira kan? Berarti sekarang sudah tua banget dong?”
“Hahaha, koq kamu inget aja sih soal umur. Abang selalu ngerasa sama mudanya sama Vira.”
“Berarti Abang tahun ini 24 tahun ya? Ih, udah tua banget!”
“Itu masa-masa keemasan cowok, lagi ganteng-gantengnya.”
“Hahaha, apa kata Abang aja deh!”
Dari Stasiun UI, Vira turun di Tebet dan melanjutkan dengan busway menuju daerah Kuningan. Jalanan tidak terlalu macet karena mungkin bersamaan dengan persiapan Sholat Jumat. Vira turun di halte Karet Kuningan dan berjalan kaki menuju Gedung Kementerian.
Vira melihat jam digital yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih menunjukan pukul satu siang. Vira masuk ke dalam lobby dan menunggu di sana setelah diperbolehkan masuk oleh bagian keamanan di pintu depan.
Dikirimkannya pesan kepada Pak Faisal untuk memberitahu bahwa Vira sudah sampai di Gedung sesuai dengan lokasi yang dikirimkan. Lama ditunggu Pak Faisal tak kunjung membalas pesannya. Vira sendirian di lobby. Mengetuk-ngetukkan sepatunya ke lantai saking bosannya.
Jam dua kurang sepuluh menit Pak Faisal membalas pesannya yang membuat Vira kaget.
Vir, pindah ke Westin. Di tunggu di Lobby Lounge.
Vira langsung searching dan menemukan Hotel Westin yang ternyata satu kilo jaraknya dari tempatnya berada. Ada beberapa alternatif yang ditawarkan di aplikasi maps untuk mencapai Hotel Westin. Akhirnya dengan pertimbangan lebih ringkas Vira berjalan kaki melalui Epicentrum Selatan.
Vira terlambat lima menit padahal sudah setengah berlari. Pak Faisal tersenyum kepadanya ketika Vira menghampiri.
“Duduk Vir, Pak Herman lagi di Daily Treats. Koq bisa sih kamu sampai keringetan gitu? Kamu jalan kaki ya ke sini?”
“Hehehe, iya Pak. Deket koq.” Vira masih sibuk mengatur napasnya.
“Lain kali naik taksi online saja, murah dan cepat koq!”
__ADS_1
“Siap Pak! Pak Faisal gak ikut sama Pak Herman?” tanya Vira heran melihat Pak Faisal seorang diri.
“Kita di sini saja, mereka ada pembicaraan penting. Nanti kamu belajar ya terkait jenis-jenis rapat Bapak, biar nanti tau cara handle-nya!”
“Baik Pak!” seru Vira.
“Pak Faisal, kalau boleh tau kenapa dipindah tempatnya Pak?” tanya Vira.
“Ya kadang memang suka begini. Mereka yang atur!”
“Oooh..” Vira mengangguk.
Vira hanya menunggu saja bersama Pak Faisal di kursi lobby, berdua saja. Pak Faisal tampak tersenyum-senyum sementara tangannya sibuk mengetik. Ingin Vira mengajaknya ngobrol namun takut mengganggu urusannya Pak Faisal. Akhirnya Vira menyibukkan dirinya sendiri.
Vira melihat lantai marmer berwarna coklat gradasi bermotif yang indah, begitu mengkilat dan memantulkan bayangannya karena disinari cahaya dari lampu gantung yang mewah tergantung. Dilihatnya sekeliling, hanya ada beberapa orang yang lalu lalang dan duduk saja.
Suasananya begitu cozy. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.
Pak Herman bersama dua orang pejabat berseragam keluar dari elevator. Pak Faisal yang langsung diikuti Vira menghampiri mereka, tersenyum lalu membungkukkan badannya.
“Sal, nanti setelah ini ada orang dari kementerian yang akan tindak lanjuti. Kamu urus ya!” ujar Pak Herman.
“Baik Pak!” jawab Pak Faisal.
Pak Herman lalu keluar lobby dan masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan oleh supirnya.
“Vir, saya pulang dulu ya! Kamu hati-hati di jalan!” ujar Pak Faisal lalu menuju ke arah samping tempat parkiran mobil. Meninggalkan Vira seorang diri.
“Baik Pak! Hati-hati di jalan juga Pak!” balas Vira.
Dengan langkah gontai, Vira keluar dari lokasi hotel dan mulai membuka aplikasi maps untuk mencari lokasi stasiun atau halte busway terdekat agar dapat segera pulang.
Dalam hatinya begitu kesal dengan hari ini. Hanya diam duduk, tidak ada hal penting yang dikerjakannya. Padahal dirinya begitu bersemangat untuk datang. Vira mengira akan melihat lobi-lobi politik antara pejabat negara tapi ternyata tidak.
Dipikir-pikir sekali lagi oleh Vira memang acara rapatnya Pak Herman tadi begitu mengesalkan dirinya. Kalau hanya sekedar duduk menemani saja kan Pak Faisal bisa melakukannya sendiri. Gak perlu mengajak Vira segala. Kalau butuh teman biar gak menunggu sendirian, setidaknya Vira diajak ngobrol dan bukan dibiarkan begitu saja.
Perutnya sudah berbunyi. Teringat nasi imbi yang disantapnya jam sembilan pagi tadi di kantin Takor. Padahal tadi Vira mengira akan ditraktir makan bersama para pejabat di hotel mewah tapi ternyata tidak. Sudah berharap ternyata zonk. Ah, dasar kamu Vira, memangnya kamu siapa sampai berharap ditraktir makan bersama pejabat, batinnya melengos.
Karena tak kuat menahan lapar, Vira memutuskan untuk mampir ke Plaza Festival yang dilewatinya saat berjalan dari Epicentrum Selatan menuju Rasuna Said. Dilihatnya ada beberada banyak anak muda yang berjalan menuju tangga masuk Plaza.
Udara sejuk mulai menyapa kulit ketika Vira menjejak masuk ke dalam Plaza. Lampu-lampu memantulkan cahaya putih dan kuning. Tampak banyak butik-butik pakaian yang menggelar barangnya di selasar, di luar toko, memancing Vira untuk melihatnya.
Namun sayang, keinginan Vira untuk mencuci mata dikalahkan dengan rasa lapar yang tertahan sejak tadi.
Vira tidak perlu berlama-lama mencari restoran karena di lantai dasar ada restoran yang menyediakan comfort food favoritnya, oriental cuisine. Suasana restoran tidak terlalu ramai karena masih jam lima sore, belum waktunya makan malam.
Vira mengambil tempat duduk di dalam karena ada penyejuk udara ketimbang di luar balkon. Kursi-kursi hijau tampak masih belum banyak yang menempati. Sengaja Vira mengambil tempat agak ke dalam, cocok untuknya yang sedang makan sendiri.
Vira merasa begitu bersemangat melihat daftar yang bertuliskan nama-nama menu yang semua disukainya. Dipesannya beberapa menu sekaligus. Bakmi daging sapi cah cabai, baby buncis ayam krispi, siomay ayam goreng, dan es teh lemon.
Dengan melihat makanan yang tersaji, Vira merasa sanggup untuk menghabiskan semuanya. Dicobanya dulu siomay ayam goreng sebagai menu pembuka sebelum menuju ke hidangan utama. Rasanya tetap seenak pertama kali Vira mencobanya.
“Vir, Vira ya?!” ada suara yang menyapanya ketika sedang menyantap bakmi dengan sumpit bambu.
Dengan mulut penuh Vira mendongak ke arah si pemilik suara yang menyapanya. Tampak sosok yang ia kenal, yang masih segar dalam ingatannya.
“Eeh, iya, Mas yang kemarin ya?” jawabnya dengan mulut penuh sembari mengunyah bakmi dengan cepat agar segera tertelan. Entah apakah tadi suaranya terdengar jelas atau tidak
“Koq bisa di sini? Kebetulan banget,” ucap Vira lagi ketika mulutnya kosong dengan nada heran.
“Eh iya, kebetulan lewat. Ada janji juga ketemu di sini,” ujar lelaki itu.
“Boleh duduk sini ya?!” ujarnya lagi yang terpaksa dijawab Vira dengan anggukan.
__ADS_1
Aduuuh, Vira tak habis pikir. Barusan bertemu dengan Bapaknya, dan sekarang dengan anak lelakinya. Koq yah bisa? Mana Vira lupa lagi dengan namanya. Hanya teringat bahwa lelaki yang duduk di depannya ini lulusan teknik di kampusnya. Kenapa juga dari sekian banyak meja yang kosong, anak bos-nya ini justru duduk di hadapannya.
“Mas, maaf, boleh tau namanya lagi? Vira lupa, maaf sekali lagi,” ucap Vira dengan nada malu dan menyesal. Tak bermaksud bahwa pertemuan kemarin tidak berarti untuk diingat.
Lelaki itu diam dan kemudian tersenyum. “Gani, Ganindra.”
Gani lalu mengusap ponselnya dan tak lama kemudian ponsel Vira yang terletak di depan piringnya berbunyi.
“Itu nomor saya, mungkin bisa disimpan biar ingat,” ucapnya.
“Oh, baik Mas.” Vira langsung menyimpan nomornya dengan ekspresi wajah yang heran. Dinamakannya nomor yang baru masuk dengan Ganindra Sasongko.
“Koq Mas bisa tau nomor saya?” tanya Vira yang baru saja menyadari hal itu.
“Diberi tau Bu Fatmah,” jawab Gani. Vira mengingat ini jawaban pamungkas yang diberikan Gani untuk setiap pertanyaan yang diberikan Vira dari kemarin.
Vira hanya mengangguk pelan meski rasanya terlalu aneh dengan semua kebetulan ini. Gani menemukan mejanya yang terletak di pojok restoran. Gani menyimpan nomor Vira di ponselnya. Entah apa lagi yang Gani ketahui yang akan membuat Vira kembali heran.
Vira kembali menyantap bakminya yang sempat tertunda karena kehadiran Gani. Sepertinya Gani juga hanya duduk saja di depannya dan sibuk dengan ponselnya. Ingin rasanya Vira meminta Gani untuk pindah karena sudah merusak mood makannya sedikit. Tapi mana mungkin Vira melakukan itu pada anak bos-nya.
Dilihatnya kembali Gani yang sedang mengecek ponselnya. Sesekali Gani melihat ke arah luar restoran. Sepertinya memang benar Gani sedang menunggu seseorang. Vira tetiba merasa jadi tidak enak membiarkan Gani tanpa obrolan.
“Mas Gani sudah makan?” tanya Vira
Gani langsung menengok ke arahnya. “Tadi siang sudah setelah sholat jumat,” ucapnya sambil tersenyum.
“Koq mainnya jauh banget sih Mas, sampai ke Kuningan sini?”
Mata Gani membulat. “Maksudnya?”
“Koq bisa sih kita ketemuan di sini? Kayaknya kebetulan banget. Apalagi meja Vira kan agak ke dalam Mas. Ya gitu deh, masih susah percaya kalau bisa ketemuan di sini,” ungkap Vira jujur.
“Oh, itu, saya tinggal di Apartemen Taman Rasuna, dekat sini tinggal jalan kaki. Kamu koq bisa ke sini? Gak kuliah atau ke Senayan?”
“Barusan nemenin Bapak dan Pak Faisal ketemu sama orang Kemenhukham trus mampir deh ke sini.”
“Lapar banget kelihatannya,” ujar Gani sambil tersenyum.
“Hahaha….iya, kelihatan banget ya Mas? Belum makan siang nih, telat banget jadi sekalian disatuin sama makan malam makanya pesan banyak.”
Gani tertawa mendengar ucapan Vira. “Lanjut aja Vir makannya. Ini janjian koq nanti sebentar lagi juga datang.”
“Hahaha…sip Mas.”
Vira kembali melanjutkan makannya sembari sesekali mencuri pandang ke arah Gani. Didapatinya Gani sibuk memainkan ponselnya dan senyum-senyum sendiri. Entah apa yang dibacanya di ponsel, mungkin memang ada hal lucu.
Persis ketika Vira menyeruput es teh lemon, Gani melambaikan tangannya kepada sosok perempuan yang melangkah masuk ke restoran. Perempuan yang tinggi, cantik, dan berkulit putih, mengenakan celana legging hitam untuk olahraga dengan panjang sebetis yang dipadupadankan dengan kaus berbahan sama. Rambutnya dikuncir. Perempuan itu membalas lambaian tangan Gani dan menghampirinya.
Perempuan cantik dan dewasa, pikir Vira saat melihat sosok perempuan yang kini tengah berada tepat di depannya. Namun Vira pura-pura sibuk dengan gelasnya agar tidak terlalu terlihat penasaran dengan yang bukan urusannya.
“I am sorry to keep you waiting so long [maaf lama nunggunya],” ucap perempuan itu kepada Gani. Ada raut wajah heran yang ditampakkan perempuan itu saat melihat Vira yang duduk bersama Gani.
“It’s okay [gak masalah],” jawab Gani pendek.
“Are you dating her [kamu lagi pacaran sama dia]?” tanya perempuan itu dengan menunjuk Vira yang membuatnya nyaris tersedak dan terbatuk-batuk.
Gani segera memberikan tisu yang ada di meja kepada Vira. Merasa tidak enak dengan pertanyaan yang dilontarkan perempuan itu kepada Vira.
“Vir, maaf. Ini kenalin Lydia, kakak saya,” ucap Gani mencoba menetralkan keadaan.
“Oh, halo Kak.” Vira langsung bangun berdiri dan tersenyum. Ini ternyata anak pertama bos-nya, kakaknya Gani.
Perempuan itu tersenyum manis kepada Vira lalu memandang Gani.
__ADS_1
“Ini Vira, staf Papa di kantor. Mahasiswa magang,” ucap Gani mencoba menjelaskan tentang Vira.
“Gan, i think I knew who she is [kayaknya gue tau deh siapa dia],” ujar Lydia dengan tetap menatap Vira yang membuatnya salah tingkah.