Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Face the Music


__ADS_3

Vira megajak Kosa masuk ke dalam toko roti yang juga menyediakan kopi di dalamnya. Vira tau bahwa Kosa punya kebiasaan minum kopi setelah makan.


Vira memesan choco hazelnut dan sepotong bagel, sedangkan Kosa secangkir kopi susu hangat dan pastry gurih dengan isian beef bacon dan cream cheese.


“Kamu makannya banyak juga ya Vir,” ucap Kosa.


“Tergantung suasana hati aja Bang. Vira kuat puasa juga koq!”


“Gak takut gemuk?”


“Lebih takut mati kelaparan, hehehe…” seru Vira terkekeh.


“Jarang abang liat cewek yang makannya banyak. Mereka bilang selalu diet. Gak mau makan gorengan, gak mau makan nasi, gak mau ngemil, banyak gak maunya. Kadang bingung mereka itu makannya apa,” cerita Kosa lalu tertawa.


“Dulu Vira juga sempat gak makan karbohidrat Bang, eeeh lemes banget malah pusing. Ya udah balik normal deh. Kalo udah sempit baju baru deh lari keliling komplek sama berenang buat bakar kalori.”


 


“Vir, abang mau cerita? Hal pribadi, tapi mungkin Vira bisa liat hubungannya dengan apa yang baru Vira alami.”


Disesapnya kopi susu hangatnya sedikit sebelum Kosa bercerita ke Vira.


“Orang tua abang itu sudah bercerai sejak abang masih kecil,” ujar Kosa.

__ADS_1


“Eh, beneran Bang?”


“Iya, pas umur lima tahun nyokap cerai dari bokap. Alasannya masalah ekonomi. bokap kerjaannya masih luntang-lantung. Keluarga nyokap gak suka dan minta agar mereka bercerai. nyokap lalu nikah lagi sama duda kaya yang profesinya pengacara.”


“Nyokap abang mau gitu disuruh cerai? Emangnya gak cinta.”


“Mereka nikah karena cinta tapi masih terlalu muda. Nyokap terbiasa hidup mapan. Susah ketika nikah memulai dari nol," jelas Kosa.


"Bokap juga sama. Dia terima aja pas disuruh cerai, gak berusaha mempertahankan. Bokap juga udah nikah lagi. Nyokap punya dua anak perempuan dan bokap punya dua anak laki-laki dari pernikahan yang baru," sambung Kosa.


“Abang tinggal sama siapa? Nyokap atau bokap?” tanya Vira.


“Dua-duanya gak ada yang mau bawa abang dan Mas Andri. Jadi kami berdua tinggal di rumah kakek nenek. Mungkin nenek sama kakek merasa bersalah karena menyuruh mereka bercerai, jadi kami diasuh kakek,” lirih Kosa.


“Oooh, maaf,” ucap Vira dengan nada menyesal.


“Meski gak tinggal bersama, tapi mereka pasti bertanggung jawab kan?”


“Dulu abang kuliah di Yogya dua tahun. Cuma waktu nenek kena kanker, jadi terpaksa kuliah ditinggalin karena nemenin nenek. Makanya abang kemudian mutusin ikut ujian ambil Universitas di sini saja biar deket. Semua keperluan abang sama Mas Andri kuliah dibayarin kakek pakai uang pensiunnya.”


“Bokap abang kemana?”


“Ada, tapi ya sibuk sama keluarga barunya. Abang sih gak apa-apa tapi Mas Andri kayaknya marah sama Bokap.”

__ADS_1


“Nyokap juga gak bantu sama sekali? Bukannya suami barunya itu pengacara kaya?” tanya Vira heran.


“Nyokap itu gak bisa hidup biasa-biasa saja. Sukanya belanja. Suami barunya tau sifat Nyokap makanya uangnya juga dijatah. Nyokap gak bisa ngasih juga.”


“Aneh, emang kebutuhan anak seberapa besar sih?” Vira mulai sedikit emosi.


“Eeh, gak apa-apa Vir. Santai aja. Abang cuma ingin cerita aja.” Kosa mulai menenangkan Vira.


“Maksudnya supaya Vira bisa memahami cerita abang ini,” lanjut Kosa.


“Vira masih belum paham Bang.”


“Abang memang belum bertemu sama Papa Vira. Tapi abang liat kalau Papa Vira itu bertanggung jawab sama keluarga. Rumah kalian, pendidikan anak-anaknya, kasih sayang juga diberikan.”


“Maksud abang?”


“Kalau Mama dan Papa Vira bercerai hanya akan menimbulkan luka terutama bagi anak-anaknya.”


Sontak penjelasan Kosa membuat Vira diam. Terdiam lama dengan mata memandang nanar ke arah jendela. Matanya terasa pedih dan ada sedikit air yang menumpuk di pelupuk mata dan mulai perlahan turun.


Diusapnya air mata yang dengan ujung telunjuknya. “Vira ngerti, Bang!”


“Abang cuma ingin Vira gak usah stres. Biarkan itu menjadi urusan Mama dan Papa Vira. Mereka pasti punya caranya sendiri untuk memutuskan yang terbaik buat mereka berdua dan anak-anaknya.”

__ADS_1


Vira menyesap choco hazelnut-nya. Dipandangnya Kosa dengan tatapan penuh kasih. Tak menyangka bahwa Kosa membagi kisah pribadinya untuk menyemangati Vira yang sedang kalut.


“Jangan kabur lagi ya sayang. Jangan stress, Hadapi saja. Just face the music,” saran Kosa.


__ADS_2