
^Biarkan hujan menciummu
Vira terbangun dan mendapati dirinya di sofa ruang keluarga. Sendirian. Teringat dengan Kosa yang terakhir dilihatnya, mata Vira mencari-cari sependek penglihatannya. Tidak ada siapa pun. Semua ruang gelap kecuali ruang keluarga tempatnya tertidur.
Dilihatnya jam dinding dan jarum pendeknya berada di angka tiga dan jarum panjangnya berada di angka lima. Sudah hampir subuh. Bergegas Vira naik ke atas menuju kamarnya.
Merasa gerah, dibukanya jilbab yang lebih dari seharian dipakainya. Membersihkan wajahnya dengan susu pembersih dan air penyegar. Ritual yang nyaris ditinggalkannya karena pendakian ke Annapurna.
Tampak wajah Vira di cermin sedikit lebih gelap. Meskipun mendaki gunung yang tinggi dan dingin, namun paparan sinar matahari cukup intensif. Apalagi saat itu Vira tidak mengantisipasinya dengan alas bedak atau kosmetik lainnya. Sama sekali tidak terpikirkan.
Suara adzan subuh sayup-sayup mengumandang. Vira bergegas menuju kembali ke lantai bawah untuk mengambil wudhu dan sholat subuh bersama mama. Ada ruangan khusus untuk sholat berjamaah yang terletak dekat dengan ruang keluarga.
Vira terpaksa menunggu karena ternyata kamar mandi bawah ada yang menggunakan. Ada bunyi keran air yang mengalir. Tumben, biasanya mama selalu wudhu di kamar mandi kamarnya, pikir Vira.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Tampak seorang lelaki dengan wajah basah dan celana jeans biru yang digulung keluar. Lelaki itu mengibaskan rambutnya lalu mengusap kepalanya. Pemandangan yang membuat Vira tertegun.
“Abang………………... abang masih di sini?” Vira terkejut bukan kepalang mendapati Kosa masih di rumahnya. Tidak disadari Vira bahwa dirinya sedang tidak berjilbab.
Kosa juga tertegun, melihat perempuan yang ada di depannya. Perempuan dengan rambut sebahu. Wajahnya serupa dengan perempuan yang hadir dalam kehidupannya belakangan ini.
“Vira?” ucap Kosa dengan nada setengah tak percaya. Mencoba untuk memastikan.
Seketika Vira pun tersadar dengan mata Kosa yang menatapnya tanpa kedip. Langsung Vira memalingkan muka dan berlari cepat menuju anak tangga. Dengan terengah-engah Vira kembali ke kamarnya.
“Aaah, kirain abang sudah pulang, ternyata masih di sini,” ucap Vira pada dirinya sendiri. Dipakainya jilbab kaus dan menatap sebentar ke cermin untuk sekedar memastikan dirinya cukup cantik untuk turun.
Kosa sedang duduk di sofa hijau tua, menunggunya turun.
“Vira mau sholat berjamaah sama Abang? Mama sudah menunggu di sana,” ujar Kosa seraya menunjuk ruang sholat yang letaknya di sebelah kanan ruang keluarga.
“Iya, mau Bang, Sebentar, Vira ambil wudhu dulu,” jawab Vira datar dan pelan, bersikap seolah tidak ada yang terjadi.
---------------------------------------
Selepas sholat subuh berjamaah, Kosa hendak pamit pulang. Namun mama Vira menawarkan sarapan.
“Jangan pulang dulu Nak Kosa. Sarapan sama mama di sini ya!” pinta mama.
“Gak usah tante. Nanti di rumah saja."
“Sarapan di sini saja, sama Vira. Rumah sepi cuma berdua. Makanya tante senang Nak Kosa ternyata menginap di sini. Tapi maaf ya jadinya malah tidur di sana. Pasti badannya jadi sakit-sakit deh!”
“Hehehe, gak apa-apa tante, sudah biasa koq tidur dimana saja,” jawab Kosa sopan.
__ADS_1
“Mah, biar Vira yang bikin sarapan sama abang ya! Mama duduk aja, tinggal terima beres,” ujar Vira yang kemudian memberikan kode kepada Kosa untuk mengikutinya ke arah dapur.
“Vir, abang pulang aja ya!” pinta Kosa.
“Ih abang, kan mama yang minta abang sarapan di sini. Abang bilangnya ke mama aja!”
“Gerah Vir, abang belum mandi. Terakhir mandi pas mau jemput Vira di Bandara. Bau asem nih!” sahut Kosa yang mengangkat tangan kanannya dan mengernyit karena pura-pura mencium ketiaknya.
“Iya, bau asem banget. Kirain abang pulang kemarin malam. Vira cariin gak ada. Tidur dimana?” tanya Vira.
“Di ruang tamu. Mau pulang juga bingung. Vira sama mama sudah tidur. Yaudah tidur di sini aja!”
“Kenapa gak bangunin Vira aja sih Bang?”
“Tidur kayak kebo gitu, susah banguninnya,” canda Kosa yang membuat Vira tertawa geli, tidak menyangkal karena memang sepulang dari Nepal kemarin belum sempat istirahat cukup.
“Yaudah mandi di sini aja Bang, ntar Vira ambilin handuk. Pake baju papa aja ya!”
“Jangan Vir, malu ah. Pulang aja!” tawar Kosa mencoba mengelak permintaan Vira.
“Udah ah Bang, please deh! Abis mandi nanti kita bikini sarapan buat mama ya!” ajak Vira.
--------------------------
Kosa merasa segar sekali hari ini. Pertama kalinya ia menginap di rumah perempuan bahkan mandi dan memakai celana papa Vira. Entah mengapa Kosa seperti merasa bagian dari rumah ini.
“Abang kalau sarapan sukanya apa?” tanya Vira.
“Apa aja. Abang pemakan segala. Katanya mau bikinin buat mama, koq nanya ke abang?”
“Mama sukanya sama kue-kue manis sambil minum kopi,” sahut Vira.
“Abang juga suka. Mau bikin kue apa jadinya?” tanya Kosa.
“Bikin brownies aja yuk Bang! Udah lama gak makan, kebanyakan makan dimsum di Nepal,” ucap Vira sambil tertawa.
Vira menimbang takaran tepungnya dengan menggunakan gelas dan sendok ukur. Vira membuat brownies bebas gluten dengan menggunakan campuran tepung beras, tepung tapioka, dan tepung maizena. Dicampurkannya cokelat bubuk ke dalam campuran tepung dan diaduk rata.
Kosa membantunya dengan mengocok gula butiran halus dan tiga butir telur. Vira memasukkan lelehan cokelat blok dan butter ke dalam kocokan telur dan kemudian terakhir memasukkan campuran tepung. Kosa yang menaburkan irisan almond dan chocochips di atas adonan yang sudah dituang ke Loyang segi empat.
Kosa begitu menikmati acara masak bersama Vira.
“Tunggu tiga puluh menit Bang. Kita bikin kopi buat mama sama abang yuk!”
__ADS_1
Kosa tak menyangka untuk membuat kopi seenak café yang pernah Vira buatkan tidaklah susah dan memerlukan biaya mahal. Ternyata Vira bisa membuatnya secara sederhana.
Vira menggunakan dripper, semacam gelas dengan tiga lubang kecil yang dilapisi dengan kertas penyaring. Vira memanaskan teko leher angsa lalu membiarkannya sampai suhu 90 derajat celcius.
“Suhunya segini ya Bang, soalnya mama suka ada pahit-pahit kopinya gitu!” terang Vira.
Vira meracik satu gelas takaran mug dengan campuran kopi arabika dan robusta.
“Ini kesukaan papa Bang, arabika mandheling, wangi banget. Tapi kalo mama sukanya bajawa. Nanti dicampur sama kopi robusta merk k*p** a**. Jadinya mantab bang!”
“Koq kamu tau Vir? Belajar dari mana?”
“Pernah kursus sehari. Lumayan deh!”
Sarapan pagi ini terasa menyenangkan. Mama Vira banyak bercerita tentang Vira kecil kepada Kosa. Vira yang suka manjat pohon, suka olahraga, tapi pendiam. Tidak terlalu banyak bergaul. Teman-temannya bisa dihitung dengan jari yang pernah main ke rumah.
Mama senang ketika ternyata Kosa bisa dekat dengan Vira, tidak menyangka bahwa anak gadisnya bisa dekat dengan lelaki lebih dari sekedar teman.
------------------------------
“Vir, abang pulang dulu ya, mumpung belum hujan!” pamit Kosa sambil menengadahkan kepalanya menatap langit pagi yang kelabu.
“Ada oleh-oleh buat Vira dari Yogya kemarin. Sekalian ambil ya, ada di mobil.”
Vira mengantarkan Kosa menuju mobil dan mengambil tas berwarna coklat tua berisi tas rajut.
Saat itu juga tampak sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik menepi dan memarkirkannya di belakang mobil Kosa. Vira merasa pernah melihat mobil ini di suatu tempat.
Tampak seorang lelaki berkulit sawo matang dan berkacamata hitam keluar dari mobil. Lelaki itu memakai celana jeans hitam dengan jas kasual membungkus kaos putih polos yang dipakainya. Wajahnya bersih sehingga menunjukkan potongan perlente seperti pengusaha muda
Sesaat Vira mengira itu adalah tamu tetangga yang kesasar atau mungkin saja pacarnya Natha sampai kemudian semakin dekat jaraknya, Vira mendapati wajah yang familiar. Wajah yang terakhir ini ada di pikirannya selain Kosa.
Lelaki itu kini di hadapan Vira dan Kosa. Membuka kacamata hitamnya lalu tersenyum. “Halo Vira, apa kabar?”
“Mas Cokro? Eh beneran ini Mas Cokro? Koq bisa?” tanya Vira tak percaya. Matanya membulat dan mulutnya ternganga.
“Bang, kenalin ini Mas Cokro! Eh kemarin sudah kenalan kan?” sambung Vira yang terlihat gugup.
Kosa memaksakan diri untuk tersenyum. Mendapati sesuatu yang aneh dengan kedatangan lelaki ini di pagi hari. Pagi yang mendung.
Mas Cokro membawa tas dengan tekstur licin berbahan art paper. Berwarna merah muda yang lembut.
“Cuma mau antar ini buat Vira,” ucap Mas Cokro sambil mengulurkan tas merah jambu itu ke hadapan Vira.
__ADS_1
“Eh, iya Mas, terima kasih!” sahut Vira yang masih gugup dan kaget dengan kedatangan Mas Cokro. Di tangannya sekarang ada dua buah tas, dari Kosa dan dari Mas Cokro.
Rintik hujan mulai turun perlahan, membuyarkan kegugupan Vira dan perasaan aneh yang melingkupi Kosa. Bertiga dengan cepat berlari masuk ke dalam rumah yang pintunya sedari tadi belum ditutup.