
Vira tidak bisa tidur. Dengkuran keras ternyata bukan dari Bobby saja, tetapi nyaris dari semua mas-mas yang tidur di dalam kamar yang sama dengannya.
Dengan kepala lembab, memakai jilbab dan badan dibungkus dengan thermal sleeping bag, rasanya seperti terkungkung. Vira ingin berteriak kencang saking kesalnya. Lama sekali membuat dirinya mengantuk dengan suasana yang serba tidak menguntungkan ini.
Vira bangun terlambat. Jam setengah tujuh pagi. Ruangan kamar sudah kosong, hanya dirinya dan ransel berwarna merah yang tersisa. Ini terbalik, padahal biasanya Vira yang bangun lebih dulu. Segera Vira mencuci muka, gosok gigi dan mengganti pakaiannya.
Vira tidak terlalu terburu-buru. Toh biar cepat sekalipun, dalam perjalanan Vira selalu menjadi yang terakhir. Vira melepaskan jilbab kausnya. Diayunkan rambutnya yang sebahu untuk menghilangkan lembab yang masih tertinggal.
Vira menikmati sekali rambutnya yang bergerak bebas mengikuti setiap gerak tubuhnya.
Sambil bersenandung, Vira melipat thermal sleeping bag, dan membereskan semua perlengkapannya. Bahkan Vira membereskan seprai kasur yang ditinggalkan dalam keadaan berantakan oleh mas-mas pendaki.
Tetiba matanya tertuju pada arloji analog berwarna hitam yang tergeletak di atas kusen jendela. Diambilnya jam tangan tersebut. Diperhatikan modelnya yang klasik. Vira mencoba menerka siapa dari mas-mas pendaki yang memiliki jam ini.
Vira tidak menyadari pintu yang lupa dikuncinya terbuka dan sesosok lelaki berkulit coklat sawo matang dengan wajah yang tumbuhi bulu-bulu hitam tak beraturan bergegas menuju ke arahnya.
“Maaf,” ucap lelaki itu kemudian mengambil arloji analog dari tangan Vira dan meninggalkan Vira dalam keadaan terpana.
Vira tersadar, dirinya ternyata tidak memakai jilbab dan tetiba ada rasa malu menyeruak dari dalam dirinya.
________________
Sandeep mengatakan bahwa perjalanan kali ini menuju Maccapucchre Base Camp dan mereka akan makan siang di Deurali yang ketinggiannya sekitar 3200 Mdpl. Treknya tidak susah dan menyusuri sisi sungai jadi ada banyak keindahan yang bisa dilihat.
Kali ini Vira terlambat sarapan. Insiden jam analog memperlambat dirinya. Namun sepertinya mas-mas pendaki memakluminya, bahkan Bobby mentraktir minum untuk sarapannya.
“Nih Vir, buat elu,” ucap Bobby sambil menyodorkan segelas cokelat hangat ke Vira.
“Gue tau elu kurang tidur gara-gara kita semua,” lanjut Bobby.
“Hahaha, santai aja Bi, ujar Vira bohong padahal dirinya masih ngantuk luar biasa.
“Ntar gue temenin deh, siapa tau elu ngantuk di jalan. Gue bisa koq gendong elu atau jadi sandaran elu buat tidur,” rayu Bobby.
“Prikitiw…… ,” seru Mas Une yang dibarengi dengan suara tertawa dari Mas Dody. Mas Cokro tetap diam saja.
“Hahaha, apaan si Bi, parah lu. Ini juga Mas Une sama Mas Dody pake godain segala, rese ah,” ucap Vira memberengut.
“Beneran gue Vir, pegang kata-kata gue,” jawab Bobby lantang.
“Au aaah, ucap Vira sambil cepat-cepat menyelesaikan sarapannya.
__ADS_1
Terlihat Sandeep sedari tadi memberikan kode kepadanya untuk mempercepat sarapan sambil menunjuk ke arah jam analog yang terpatri di dinding restoran.
-----------------------
Entah mengapa, di perjalanan menuju Deurali ini dilakukan bersama-sama. Tidak ada yang duluan atau belakangan. Mas Une, mas Cokro, dan Mas Dody yang terbiasa cepat justru kini berjalan sangat santai. Sepertinya mereka mencoba menyeimbangkan dengan langkah kaki Vira.
“Mas Une, koq tumben sih kalian gak cepat aja jalannya?” tanya Vira keheranan.
“Gue takut si Obi macem-macem sama elu, Vir,” jawab Mas Une yang membuat Bobby justru tertawa terbahak-bahak.
“Apaan sih Mas Une. Lagian ada Sandeep gitu, mana berani Obi macem-macem,” elak Vira.
“Gue berani koq Vir, sekarang di depan semuanya juga gue berani,” sahut Bobby tiba-tiba.
“Si Obi mah lama-lama di gunung gak liat cewek jadi gila nih,” sahut Mas Dody.
“Bule cewek banyak Bi, berseliweran,” ucap Vira.
“Bulenya jalan bareng cowok, mau dihajar sampe mampus emangnya?” ucap Mas Dody kembali.
“Gue gak demen Bule, gue demen yang kayak Vira,” ucap Bobby lantang.
“Mas-masku ini ngomong apaan sih? Koq Vira sih yang dijadiin objek becandaan kalian. Parah, ah.”
“Ini namanya udah taraf demotivasi Vir, biasa ini kalo kelamaan di gunung, kagak nyampe-nyampe. Kudu ada bahan obrolan, biar gak stres,” ujar Mas Une.
“Gak usah dimasukin ke hati. Dibawa asyik aja,” sambungnya.
Vira tertawa lebar. Untung saja Vira bukan termasuk perempuan yang suka bawa perasaan.
Tapi, perjalanan panjang kali ini memang berbeda. Karena jalurnya yang terlalu panjang dan lama. Karena dia perempuan satu-satunya. Karena Bobby menjadi teman dekat dan karena tiba-tiba Vira mulai memperhatikan salah satu mas pendaki yang selama ini diabaikannya.
Berkali-kali mereka foto bersama di jalur menuju Deurali. Padahal foto bersama mereka terakhir adalah di Bandara Tribhuvan ketika baru pertama kali menjejakkan kakinya di Nepal. Ashok yang memotretnya. Katanya itu kebiasaan dia menyimpan foto klien untuk dipasang di kantornya.
Kali ini mereka foto dengan berbagai gaya. Posisi aneh khas para lelaki yang membuat Vira tertawa sendiri saat melakukannya. Sandeep sendiri sepertinya hanya bisa mengelus dada dan bersabar menunggu gaya yang pas sebelum memotret mereka. Bobby bahkan meminta foto berdua dengan Vira berkali-kali. Padahal selama mereka jalan berdua tidak pernah sekalipun Bobby mengajak selfie bersamanya.
___________________
Makan siang di Deurali cukup menyenangkan, tidak terlalu lapar meskipun mereka sampai jam setengah dua siang. Terlambat satu jam dari jadual karena kesantaian mereka sepanjang perjalanan. Bahkan sepanjang makan pun mereka masih bercanda saling menimpali. Vira begitu menyukai suasana seperti ini.
Hanya saja tetiba bunyi tuk-tuk dari atas atap terdengar begitu keras. Hujan es turun dengan derasnya.
__ADS_1
Ruangan yang semula hangat tanpa pemanas berubah menjadi dingin. Dilihatnya atap lodge yang berada di seberang restoran sudah penuh dengan tumpukan es batu yang basah. Mirip salju dengan butiran yang kasar. Langit pun berwarna gelap padahal masih siang.
Tidak ada tanda-tanda hujan es akan berhenti padahal sudah hampir dua jam mereka menunggu.
Sandeep menawarkan untuk melanjutkan perjalanan menuju Maccapucchre yang jarak tempuhnya paling cepat sekitar empat jam. Jika mereka berangkat jam empat sore maka kemungkinan besar mereka akan sampai paling cepat jam delapan malam. Jalanan pasti berubah menjadi licin dan di beberapa titik akan sedikit berlumpur. Sandeep mengingatkan ada beberapa titik juga dimana jalur tingginya sama dengan sungai dan kemungkinan sungai meluap juga besar meski tidak deras.
Vira membayangkan perjuangannya menembus hujan es sewaktu menuju Tadapani beberapa hari lalu. Apalagi saat ini kondisinya juga tidak terlalu fit karena kurang tidur. Bobby sepertinya tidak menyukainya juga.
Mas Une mempertimbangkan usulan Sandeep karena sepertinya Mas Cokro dan Mas Dody tidak masalah berjalan dalam kondisi seperti ini.
“Mas Une, Vira tinggal di sini aja deh, kayaknya gak sanggup ke Macchapucchre kalo kayak gini,” ucap Vira.
“Iya Mas, biar gue sama Vira aja di sini, kalian berangkat aja ke sana,” timpal Bobby.
“Apaan sih lu Bi, lagi serius juga,” ujar Vira sambil memukul lengan atas Bobby.
“Gue serius Vir,” balas Bobby dengan menunjukkan wajah polosnya.
“If you stay here, you must pay ten dollars for compensation to the lodge in Macchapucchre [Kalau kamu menginap di sini, kamu harus bayar 10 dolar untuk ganti rugi ke penginapan di Macchapuccre],” terang Sandeep.
“Tenang Vir, seratus dolar juga gue bayarin asal kita berdua tinggal di sini,” sahut Bobby.
“Obiiiiiii, reseh lu,” teriak Vira sambil mendorong Bobby yang cengengesan.
Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, Mas Une memutuskan untuk menginap di Deurali dan membayar denda sebanyak lima puluh dolar berlima atau setara 1000 rupee per orang kepada Sandeep.
Sandeep mengurus booking penginapan di Deurali dan hanya tersisa beberapa kamar yang semuanya ukuran besar. Tidak ada kamar untuk sendiri. Sandeep mengatakan bahkan pendaki yang datang sendiri pun akan digabung dengan pendaki lain dalam satu kamar.
Vira kembali meradang. Teringat bagaimana rasanya kemarin ketika tidur bersama mas-mas pendaki ini. Suara dengkuran yang tidak berhenti dan saling bersahutan membuat kepalanya berkedut pusing.
“Vir, sorry ya, lu mesti tidur bareng kita lagi,” ucap Mas Une yang paham melihat perubahan raut di wajah Vira ketika Sandeep mengatakan hanya memesan satu kamar saja.
“Tenang Vir, lu tidur di sebelah gue lagi. Gue yang jagain elu,” ucap Bobby meyakinkan Vira.
Vira melotot ke arah Bobby. “Mas Une, pokoknya jauhin Bobby dari Vira, gak sanggup Mas bikin susah tidur,” pinta Vira serius.
“Gue janji Vir, gak bakal ngorok lagi, percaya sama gue,” sahut Bobby kembali meyakinkan Vira.
“Please, Mas Une,” pinta Vira sekali lagi yang kemudian membuat Mas Une tertawa.
Mas Une kemudian mengatur pembagian ranjang. Kamar tidur yang dipilih Sandeep berisi lima ranjang saling berjejer. Vira mendapat paling ujung, diikuti oleh Mas Cokro, Mas Une berada di tengah-tengah lalu diikuti oleh Bobby dan terakhir Mas Dody yang ranjangnya berhadapan dengan pintu keluar. Kamarnya relatif sempit, bahkan jarak antar ranjang pun hanya muat untuk pijakan kaki berdiri saja. Vira pun kembali meradang. Why him?
__ADS_1