Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Kembang Desa


__ADS_3

Hanya dalam tiga hari ini, Kosa sudah mengumpulkan banyak informasi yang dibutuhkan terkait kasus politik uang dalam pilkada kemarin lalu.


Keahlian Kosa dalam meramu kata bisa membuat narasumber yang ditanyai tidak merasa takut atau bersalah terkait isu sensitif yang ditanyakannya. Bahkan mereka dengan senang hati menceritakan semuanya saat Kosa meminta izin untuk merekamnya.


“Mas Kosa, nanti nama saya disebut kan dalam skripsinya Mas? Jangan lupa disebutkan posisi saya juga ya Mas!” ujar Pak Mulyono, salah satu perangkat desa yang menjadi narasumbernya ketika sesi wawancara berakhir.


“Siap Pak. Insya Allah,” jawab Kosa lalu memberikan souvenir pulpen dengan logo kampusnya. Souvenir sisa penelitian di Karawang kemarin.


“Wah, apik iki [bagus ini],” ucap Pak Mulyono yang menerimanya dengan wajah berbinar.


“Saya ijin pamit Pak Mul, matur nuwun sanget [terima kasih banyak],” pamit Kosa yang diikuti oleh Joko yang sedari tadi menemaninya wawancara.


“Wis akeh toh, Mas [sudah banyak kah Mas]?” tanya Joko sepulang dari kantor desa.


“Lumayan Jok, tinggal wawancara penduduk biasa aja,” sahut Kosa.


“Pakai teknik apa Mas? Snow ball [bola salju] saja kah?” tanya Joko sekali lagi.


“Iya, yang memang terkait langsung sama politik uangnya saja Jok. Ndak semua orang kena,” jelas Kosa.


“Sudah punya nama Mas?”


“Mangkane kuwi aku njaluk sampeyan [makanya aku minta tolong kamu],” ujar Kosa tertawa.


“Aku ora ngerti uwonge [aku belum kenal orang-orangnya],” sambung Kosa.


“Belum kenal koq ambil penelitian di sini toh Mas?” selidik Joko, memandang Kosa dengan wajah heran.


“Diminta sama pembimbing Jok. Tadinya mau ambil di Jakarta ae, tapi katanya sudah banyak. Pembimbingku asal Yogya sini. Katanya di sini dari dulu sudah begitu cuma belum ada yang meneliti,” terang Kosa.


“Mesti mahal biayanya iki [ini]. Aku rak popo [tidak mengapa] dibayar sedikit Mas. Sek aku ke Jakarta dikasih tempat tinggal gratis ae,” sahut Joko tertawa.


“Wis tau jenenge sopo [sudah tau orangnya siapa]?” tanya Kosa


“Ada Mas. Paten iki [mantab ini] tapi bahaya Mas,” jawab Joko tertawa kecil, seperti menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


------------------


Keesokan hari, Joko mengajak Kosa ke salah satu rumah penduduk yang berada dekat dengan pasar. Lokasinya di pinggir desa dan agak sedikit menjorok ke dalam. Tampak bangunan rumah yang cukup besar dan sudah permanen. Namun di beberapa sisi masih menggunakan bilik bambu dalam proporsi kecil saja, sisanya sudah ditembok halus.


“Rumah siapa ini Jok?” tanya Kosa.


“Ini rumahnya Jeng Asih, kembang desa di sini!” jawab Joko dengan senyum menggoda.


“Sampeyan kenal dimana? Koq iso [bisa] jadi narsum?” tanya Kosa heran.


“Sampeyan harus tau Mas, kalau pas pemilu rumahnya Jeng Asih ini yang paling rame. Semua partai pada sowan ke sini. Kasih banyak barang-barang. Nanti Jeng Asih kasih nama lagi orang-orang yang disuruhnya buat bantuin partai. Pokoknya semua itu lewat Jeng Asih.”


“Waduh, sowan koq ke kembang desa? Kenapa gak ke Kyai atau elit lain?” Kosa terlihat keheranan.


“Belum pernah ngobrol sama Jeng Asih sampeyan. Nanti sek biar liat sendiri bagaimana orangnya.”


Setelah pintu diketuk tiga kali, terlihat perempuan berumur tiga puluhan membukakan pintu. Kulitnya putih bersih, hanya menggunakan celana pendek jeans yang dipadukan dengan kaus ketat yang menonjolkan dadanya yang cukup besar. Rambut sedikit pirang sebahu dibiarkan terurai begitu saja.


Rupa perempuan ini membuyarkan segala bayangan yang ada di kepala Kosa tentang sosok kembang desa yang dia kira sebelumnya. Sosok gadis desa yang lugu dan dengan wajah kemayu.


“Loh, koq diam saja di depan pintu. Kalian mau masuk apa ndak?”


“Nggih Mbak, kulo nuwun [permisi],” ucap Joko yang kemudian langkahnya diikuti oleh Kosa, masuk dan duduk di kursi jati yang ada di ruang tamu.


“Kalian itu, anak muda ndak bisa lihat perempuan montok sedikit. Mulutnya itu langsung ndak bisa ditutup,” seloroh Jeng Asih.


Kosa dan Joko tersipu malu.


“Jenengan ayu banget, Mbak’e [ Mb itu cantik banget sih],” puji Kosa.


“Hahaha… kamu itu pasti bukan orang sini ya? Yasudah, pakai bahasa Indonesia wae.”


Kosa menceritakan maksudnya kepada Jeng Asih terkait penelitian skripsinya. Tak disangkanya Jeng Asih jauh di luar perkiraannya. Pakaiannya tidak mencerminkan isi kepalanya. Ini bukan sekedar kembang desa, tapi ini justru seperti bos rakyat yang punya peran besar dalam mengatur warga di sekitarnya.


“Saya itu gak mau orang-orang itu cuma ngasih duit sedikit buat dapat suara kita. Rugi Mas! Lah itu biasanya yang dikasih cuma Kades, kita cuma dapat kaos saja. Kita ndak mau kayak gitu. Kalau cuma mengharap duit dari dana desa untuk membangun susah toh Mas. Birokrasinya ribet, bikin warga males. Tapi yo kalo pake duit pemilu langsung ceeeessss, keluar cepet, gak pake ngurus kertas-kertasnya segala. Orang yang percaya karo aku itu tau mereka ndak rugi kasih suara yang saya minta buat orang partai. Aku kasih modal buat usaha, aku bagusin rumah mereka. Aku ndak ambil untung sendirian Mas.”

__ADS_1


“Kenapa gak masuk partai aja Mb?” tanya Kosa.


“Wah, malah rugi aku *to*h masuk partai? Keluar duit banyak malah ndak kepilih atau malah masuk penjara. Ndak minat aku Mas. Aku wes puas jualan di sini, daganganku laku, banyak yang cari aku, dan bisa bantu warga. Aku ini kenal banyak orang di tiga desa Mas, mereka nurut sama aku, iku kabeh wes cukup [itu saja sudah cukup].”


Jeng Asih memberikan nama-nama orang yang mendapat aliran dana pemilu yang masuk dalam jaringannya termasuk alamat dan nomor ponselnya.


“Nanti aku telpon ke mereka kalo sampeyan bakal datang nemuin, jadi mereka ndak perlu merasa takut,” ucap Jeng Asih di akhir wawancara.


-----------------------


“Wah hebat kamu Jok, bisa dapetin Jeng Asih jadi narsumku!” puji Kosa.


“Gak nyangka baik orangnya, pinter lagi,” sambungnya.


“Dia dulu pernah kuliah, suaminya aktivis cuma meninggal muda. Katanya gara-gara kasus tanah dengan pengusaha yang ada main sama pejabat partai. Tapi ya dia beda sama almarhum suaminya Mas. Kalo dulu suaminya langsung lawan pejabat-pejabat yang korup nyusahin warga. Jeng Asih malah deketin pejabat korup. Ambil duitnya buat warga.”


“Jeng Asih sudah nikah lagi Jok?”


“Ngopo [kenapa] Mas? Koq nanyanya begitu? Sampeyan tertarik?”


Kosa tertawa. “iso ae lo Jok…Jok… [bisa saja kamu].”


“Yang ngantri banyak Mas, cuma Jeng Asihnya yang ndak mau.”


______________________


Data yang didapatkan Kosa sudah lebih dari cukup. Dari sepuluh hari yang direncanakan karena perkiraan susahnya mencari narasumber ternyata bisa dipangkas lebih cepat. Hanya enam hari saja dan semua karena Joko dan Jeng Asih yang mempermudah pencarian datanya.


Kosa sudah terlanjur memesan tiket kereta untuk empat hari ke depan. Dirinya terlalu malas untuk mengubah jadual kepulangan.


Daripada kembali ke Depok dan berkutat dengan kesendirian tanpa Vira, lebih baik dirinya menghabiskan waktu di Yogya, nostalgia dan menyusuri kenangan semasa kuliah di sini dulu.


Joko menolak ikut bersama Kosa ke Malioboro. Lebih baik membantu di kebun bapaknya. Apalagi uang yang diperoleh hasil membantu Kosa tidak ingin dihabiskan. Lebih baik ditabung untuk masa depannya.


"Suwun [terima kasih] Jok. Sampeyan wes banyak bantu aku."

__ADS_1


Dijabatnya erat tangan Kosa, mengantarkan Kosa naik bis menuju Kota Yogya.


__ADS_2