
Kereta api Argo Lawu akan berangkat jam delapan malam lebih sedikit. Tak banyak barang yang dibawa. Kosa hanya membawa tas ransel yang berisi beberapa potong pakaian dan perlengkapan penelitian saja termasuk surat izin.
Kosa mendapatkan tempat duduk di barisan tengah gerbong yang bersebelahan dengan gerbong restoran. Dilihatnya sudah ada tiga orang remaja perempuan yang sudah duduk dan salah satunya mengambil tempat duduknya, aisle seat.
“Maaf, itu tempat duduk saya,” ucap Kosa menunjuk ke arah kursi yang diduduki perempuan berkacamata dengan rambut sebahu.
Perempuan itu melihat ke arah Kosa namun tetap tidak beranjak dari kursinya.
Kosa terdiam, tetap berdiri menunggu remaja perempuan itu bergeser ke kursi sebelahnya. Tapi tidak juga dilakukannya.
“Sorry, lu harus pindah. Itu kursi gue,” ucap Kosa dengan nada sedikit keras.
Remaja perempuan itu kaget. “Kalem wae to Mas [Biasa aja kali],” cetusnya pelan lalu pindah ke kursi sebelah.
Kosa menghela napas. Berurusan dengan remaja tanggung seumuran dengan anak SMA sepertinya bukan pilihan yang menyenangkan.
Diletakkan ransel kecilnya di rak barang yang terletak di atas kursinya. Dikeluarkan ponsel dan earphone dari saku jaket tipisnya. Mendengarkan musik mungkin pilihan yang menyenangkan untuk menemaninya menuju Yogyakarta.
---------------------
Ketiga anak remaja ini tidak bisa diam dan Kosa merasa terganggu dengan suara bisik-bisik dari pembicaraan mereka. Dilihatnya jam digital di lengan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Anak-anak remaja ini sepertinya masih semangat untuk mengobrol tanpa merasa lelah.
“Wah, tesih dangu nggih ketemu kakak tingkat, selak mboten sabar je [Aduh, masih lama aja ketemu sama kating nih, gak sabar jadinya],” seloroh remaja perempuan berbaju merah yang duduk persis di depan Kosa.
“Wong sinau wae dereng lo, koq yo mpun kepengin ketemu kakak tingkat lo [Belajar aja belum koq ya sudah mikirin kating],” sahut yang berkacamata dengan rambut sebahu.
“Urip ki endah, kedah direncanake keendahane kawit awal [Hidup ini indah, harus direncanakan keindahannya sejak awal],” jawab si baju merah sambil tertawa terbahak-bahak.
“Hahahaha, jenenge niku iso ae lo [Hahaha, kamu bisa aja],” sahut si kacamata lagi
Perempuan satunya lagi, yang duduk di dekat jendela hanya tersenyum mendengar pembicaraan kedua temannya dan sesekali melihat. Tangannya aktif bermain di ponselnya.
Tiba-tiba rasa penasaran Kosa karena pembicaraan ini muncul.
“Kuliah nang ndi [kuliah dimana]?” tanya Kosa.
“Eh,” serempak bertiga menoleh ke arah Kosa.
__ADS_1
“Universitas Indonesia Mas,” jawab si baju merah dengan penuh kebanggan. Sepertinya remaja perempuan yang satu ini mudah sekali bergaul menurut analisis Kosa.
“Fakultas opo [ Fakultas apa]?” tanya Kosa sekali lagi.
“FISIP mas tapi beda jurusan. Kita berdua ambil komunikasi kalau dia ambil politik,” jawab si baju merah sambil menunjuk ke perempuan berkacamata yang duduk di sebelah Kosa.
“Walah, adik tingkat dong! Ntar elu ketemu gue deh,” sahut Kosa tertawa. Tetiba bahasanya berubah menjadi bahasa gaul kampus.
“Kakak anak komunikasi?” tanya si baju merah kembali dengan wajah yang masih tampak terkejut.
“Bukan, gue anak politik,” ucap Kosa.
Kini, gantian perempuan berkacamata dengan rambut sebahu yang kaget. Tak disangkanya, lelaki yang diketusinya ternyata senior di kampus.
“Buktinya Kakak kating politik apa?” tanya si kacamata, masih tidak menyangka.
“Lu buka aja Ig Himpunan Mahasiswa Politik, ntar lu bisa liat foto-foto gue di sana,” seloroh Kosa penuh keyakinan yang membuat si kacamata terdiam lama.
“Kakak mau pulang juga ke Jawa?” tanya remaja berbaju hitam yang sedari tadi diam.
“Mau penelitian ke Bantul, buat skripsi,” jawab Kosa jujur.
“Iya Kak, udah seminggu di Depok. Cuma bawa barang ke kost-an sama jalan-jalan aja sekitar kampus.”
“Koq balik lagi?”
“Iya, OBM [orientasi belajar mahasiswa] masih sebulan lagi dan kuliahnya juga baru mulai bulan September. Jadi pulang dulu Kak,” jelas si baju hitam.
“Oh, begitu. Sampai ketemu di kampus. Gue tinggal tidur dulu ya!”
“Baik Kak!” ucap mereka bertiga nyaris bersamaan.
Akhirnya Kosa memejamkan matanya. Suasana menjadi lebih hening dari sebelumnya dan membuatnya jadi lebih mudah untuk tidur.
___________________________
Alarm di ponsel Kosa berbunyi. Sudah pukul dua pagi. Masih ada sekitar satu jam sebelum turun di Stasiun Tugu, Yogyakarta.
__ADS_1
Dilihatnya kedua gadis remaja di depannya masih tertidur pulas namun tidak dengan gadis kecamata yang duduk di sebelahnya. Terpantul dari kaca, bayangan dirinya dan gadis berkacamata yang sedang melihat ke arah jendela. Entah apa yang dilihat dari suasana gelap di luar.
“Gak tidur?” sapa Kosa pelan.
“Eh, belum Kak. Gak bisa tidur kalau di kendaraan umum. Nanti aja di rumah.”
“Orang Solo?” tebak Kosa.
“Yogya Kak, asli Tegalrejo.”
“Walah deket dong,” ujar Kosa kaget.
“Kakak asli Tegalrejo juga?”
“Oh, bukan. Penelitian saya.”
“Jauh Kak, Bantul beda kabupaten.”
“Deket lah, sama-sama Yogya,” kilah Kosa sambil tertawa.
Pembicaraan mereka membuat kedua gadis remaja di depannya terbangun. Tak lama, Kosa lalu berkenalan dengan mereka bertiga. Ternyata tiga sekawan ini berasal dari satu SMA yang sama. Salah satu SMA terkenal di Yogyakarta yang memutuskan untuk kuliah jauh dari orang tua agar lebih mudah bekerja di Jakarta nantinya.
-----------------------------------
Setelah turun, Kosa istirahat sebentar di Stasiun Tugu, menunggu sampai subuh.
Masih ada sekitar satu setengah jam lagi untuk sekedar mengecek ponselnya. Masih tidak ada kabar dari Vira. Postingan fesbuknya pun masih yang lama, belum ada penambahan baru. Kosa menghela napas panjang, ada rindu yang tertahan yang membuatnya bingung. Seperti remaja tanggung yang kasmaran saja.
Usai subuh, Kosa berjalan ke arah Malioboro untuk menunggu bis menuju terminal. Nanti dari terminal baru akan naik bus menuju Sedayu, Bantul dan akan dijemput oleh Joko yang akan menemaninya selama penelitian.
Malioboro masih sepi subuh ini, belum banyak yang lalu lalang. Berbeda dengan sore sampai malam hari yang penuh dengan orang hilir mudik. Mengingatkan kenangan empat dan lima tahun silam sewaktu kuliah di Yogyakarta.
Ada beberapa tenda kecil nasi angkringan yang menjual sarapan dalam porsi-porsi yang kecil. Kosa menghampirinya dan mulai memilih makanan khas yang sudah lama dirindukan. Ada nasi putih dengan tempe orek dan irisan telur dadar dan sambal yang citarasanya sedikit manis yang dipilihnya dan segelas teh manis hangat yang cocok untuk memulai pagi di Kota gudeg ini.
Teringat dirinya bersama anak-anak Fahutan di awal-awal kuliah di Yogya selalu lari pagi setiap minggu sampai ke jalan Malioboro. Menikmati sarapan nasi pecel kembang turi di sekitaran Beringharjo. Pulangnya malah naik bis karena perut kenyang.
Awal kuliah di Yogya, menikmati kota yang membuat dirinya tenang tanpa hiruk pikuk seperti di Jakarta. Suasana kota yang guyub membuatnya berencana untuk menetap di kota ini usai lulus kuliah.
__ADS_1
Namun ternyata takdir berkata lain. Keputusannya pindah kuliah demi bisa menemani nenek yang sakit kanker membuat semua rencananya berubah. Tidak ada penyesalan karena ternyata ada banyak hal indah setelah itu yang datang kepadanya.