
*Kangen
Kosara Dwinanta
Penelitian dengan Matsuoka Sensei di luar perkiraannya. Tidak menyangka harus masuk daerah yang tidak terjangkau kendaraan, berjalan kaki melintasi hutan dan sungai besar hanya untuk menemui masyarakat dan elit lokal pedesaan. Baru sekali ini Kosa merasakan penelitian lapangan yang berat.
Teringat Prof. Ibrahim yang wanti-wanti mengingatkan agar jangan mengeluh selama membantu Matsuoka Sensei. Pengalaman ini bisa jadi pintu masuk karirnya di dunia akademik. Kalau kinerjanya bagus, Prof. Ibrahim akan meminta Matsuoka Sensei menjadikan Kosa sebagai calon muridnya di jenjang master.
“Kosa-san, mou tsukareta [sudah capek]?” tanya Matsuoka Sensei ketika melihat Kosa yang meletakkan dua buah ransel besar dan duduk di batu besar yang ada di tepi jalan.
Kosa tertawa ringan. “iie, Sensei [tidak, Sensei], jawab Kosa. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang selalu diucapkan oleh Matsuoka Sensei ketika Kosa berhenti sejenak untuk melepas lelah. Jawaban tidak adalah jawaban yang dianggap lebih sopan daripada terus terang mengaku kelelahan.
“Mou sugu kimasu [sebentar lagi sampai],” ucap Matsuoka Sensei dengan suara keras menyemangati.
Kosa tertawa kembali mendengar ucapan Matsuoka Sensei yang seperti teriak meski tidak mengerti artinya. Tapi dari intonasinya Kosa yakin ini semacam ucapan semangat agar terus berjalan.
Setelah meneguk air dari botol minuman air mineral, Kosa menaikkan ransel Matsuoka Sensei di punggungnya dan ransel Kosa sendiri bagian depan dadanya. Kakinya mulai menjejak lagi di tanah yang padat dan kering yang menjadi penyambung antar desa. Berjalan menuju desa berikutnya yang menjadi tempat pertemuan dengan supir yang akan mengantarkan Kosa dan Matsuoka Sensei ke Anyer.
Teringat olehnya Vira yang suka naik gunung. Berjalan kaki dengan jarak yang jauh dan turun naik membuat Kosa semangat. Vira yang kurus saja bisa sampai ke Himalaya, dirinya tak boleh kalah apalagi sampai mengeluh capek untuk perjalanan yang kontur tanahnya relatif datar ini.
Tampak olehnya Matsuoka Sensei yang berjalan santai dan riang dengan sesekali memotret pemandangan sekitar. Membuat Kosa tersenyum dan semangat melanjutkan perjalanan.
Jalanan yang mereka lalui kini sudah bukan lagi tanah padat tetapi campuran aspal yang tidak rata dan banyak lubang sana sini. Kualitas jelek dan tidak ada perawatan berkala sepertinya menjadi faktor penyebab. Kosa harus lebih berhati-hati melangkahkan kakinya. Mereka berjalan sekitar satu jam menuju Kantor Kecamatan Leuwidamar, titik penjemputan oleh yang dijanjikan oleh Pak Hamid dari Untirta.
---------------------------------------------
Dari Kantor Kecamatan Leuwidamar, mereka dijemput oleh supir menuju kawasan Anyer. Perjalanan yang cukup panjang karena memakan waktu hampir tiga jam. Melewati jalan-jalan kecil yang kadang rusak dan berlubang. Berbeda sekali kondisinya dengan wilayah Jabodetabek yang infrastrukturnya bagus.
Kosa kerap membandingkan kondisi daerah penelitiannya ini dengan Propinsi yang berbatasan. Sungguh sangat berbeda jauh padahal jaraknya cukup dekat dengan ibukota negara yang merupakan pusat pemerintahan. Bahkan Banten ini terdapat banyak perusahaan dan destinasi wisata pantai yang bisa dijadikan sumber pendapatan asli daerah. Namun sayang, pemanfaatannya belum maksimal sehingga pembangunan tidak bisa dirasakan masyarakat daerahnya.
Mobil SUV hitam sejuta umat yang disewa terus beradu dengan keheningan malam. Perjalanan yang cukup panjang namun Kosa tidak ikut terlelap seperti Matsuoka Sensei. Melewati jalan yang sepi, jarang terlihat adanya rumah, dan tanpa lampu penerangan, hanya mengandalkan lampu sorot mobil. Baru ketika melewati Rangkasbitung menuju Anyer, jalanan mulai terlihat banyak kendaraan dan tanda-tanda kehidupan modern. Mereka sampai di wilayah Sambolo, Anyer sekitar pukul delapan malam.
Pak Hamid sudah menunggu Matsuoka Sensei dan Kosa di villa tua di tepi pantai yang disewa untuk dua malam. Ada tiga kamar yang tersedia. Kosa mendapatkan kamar bersama Pak Hamid di bagian depan dengan kaca yang menghadap laut. Matsuoka Sensei sendiri mendapatkan kamar di bagian tengah sesuai permintaannya.
Dari jendela kamar Kosa, tampak Matsuoka Sensei bersama Pak Hamid duduk di luar villa menikmati semilir angin laut dan saling tertawa. Kosa segera membereskan barang-barang dan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Teringat seharian ini dirinya berjalan dengan penat tubuh dan peluh. Setelah mandi dan tubuh segar kembali, Kosa bergabung untuk acara bakar ikan, seafood, dan jagung yang baru saja disiapkan pengurus villa.
“Sa, katanya lagi skripsi ya? Sama Prof. Ibrahim?” tanya Pak Hamid yang mulai meletakkan ikan kerapu utuh dan beberapa udang besar siap untuk dipanggang. Terlihat di wadah ada cumi, beberapa ekor ikan yang sudah disiangi dan juga jagung masih mengantri, siap untuk dibakar. Sementara Matsuoka Sensei mulai berkutat dengan komputernya.
Kosa mengangguk. “Iya, Mas Hamid!” Lalu dirinya mendekati Pak Hamid dan turut membantu mengipasi arang batok kelapa yang mulai bersemu merah mengeluarkan bara api.
“Saya itu dulu asistennya Prof. Ibrahim di mata kuliah Politik Pedesaan. Kenal sama Matsuoka Sensei juga karena Prof. Ibrahim. Waktu master saya dibimbing sama Matsuoka Sensei tapi pas doktornya sama Mizuno Sensei,” terang Pak Hamid.
“Oh, jarak antara master ke doktornya gak lama ya Mas?” tanya Kosa
“Langsung, harusnya sama Matsuoka Sensei juga tapi waktu itu Sensei lagi sabbatical leave (cuti mengajar) jadi dialihkan ke Mizuno Sensei.”
“Kyodai (Kyoto Daigaku - Universitas Kyoto) ya Mas?” tanya Kosa tentang universitas mana Pak Hamid belajar.
“Bukan, saya di Doshisha, depannya Gosho Imperial Palace (Istana Kaisar). Pernah ke sana?”
“Hehehe…. Belum Mas, saya baru penelitian di beberapa daerah saja Mas. Belum pernah ke luar negeri.”
__ADS_1
“Rajin-rajin sama Prof. Ibrahim. Katanya kamu jadi asistennya di Pusat Kajian Jepang ya?”
“Iya Mas.”
“Biasanya setiap tahun di sana Asosiasi Jepang Indonesia suka kasih beasiswa untuk kuliah di Jepang. Siapa tau kamu tahun depan kamu bisa ikutan,” ucap Pak Hamid menyemangati Kosa.
“Mas Hamid beasiswanya lewat Asosiasi Jepang Indonesia juga ya Mas?” tanya Kosa yang mulai bersemangat. Seolah masa depan telah membentang di depan matanya.
“Saya pakai beasiswa pemerintah Jepang, monbukagakusho. Kamu kalau mau juga bisa lewat jalur itu,” jelas Mas Hamid sambil mengoleskan saus kecap di atas ikan bakar yang baru dibalik.
“Pakai beasiswa monbukagakusho itu susah ya Mas?”
“Hahaha, nanyanya jangan hopeless gitu lah. Kamu sih pasti bisa. Tapi saya jadi research student dulu, sekolah bahasa, setahun sebelum test masuk universitasnya.”
“Pakai test masuk juga ya Mas?”
“Iya, makanya jadi research student, belajar bahasanya. Sa, ini yang udah mateng, kasih ke Matsuoka Sensei dan Mas Yadi, kasian dia nyetir bolak-balik enam jam.”
“Doumo arigatou [terima kasih],” ucap Matsuoka Sensei ketika menerima piring yang berisi satu ekor ikan kerapu bakar bumbu kecap dari Kosa.
Kosa lalu menyerahkan piring satunya lagi ke Mas Yadi yang sibuk dengan ponselnya. Sepertinya Mas Yadi sedang menuliskan teks pesan untuk seseorang.
Melihat itu, Kosa jadi teringat sudah berapa lama dirinya tidak berkabar berita kepada Vira karena masalah jaringan dan kesibukannya selama penelitian. Rencananya setelah acara barbeque ini, Kosa akan menelpon Vira untuk melepas rindu dan mendengarkan suaranya meski hanya sekejap.
------------------------------------------
Ganindra Mahija Sasongko
Teringat pesan yang disampaikan Kakaknya, Lydia untuk meminta Gani menghubungi Vira. Mengundang Vira ke rumahnya pada hari minggu ini.
“You can invite her if you want. I don’t mind. She’s a good girl. This is your last chance before you go [Kamu bisa undang dia koq, gue gak masalah. Anaknya baik dan ini kesempatan buat kamu sebelum pergi ke sana],” ujar Lydia.
”Yeah, this is closed party, but it’s okay if she come. I really don’t mind [Meskipun pestanya tertutup tapi gak masalah kalau dia yang datang],” lanjut Lydia.
Teringat saat Vira tiba-tiba meminta dirinya untuk mengantarkan ke Depok tanpa turun terlebih dahulu ke rumahnya. Wajah yang penuh kecemasan dan takut. Apakah saat ini Vira sedang mengurus masalah ini? Apakah mungkin Vira sedang bersama kekasihnya atau justru bertengkar?
Teringat pula Lydia mengingatkan dirinya bahwa Vira sedang menjalin hubungan dengan kakak tingkatnya. Jadi tidak perlu berharap banyak. Namun dirinya merasa begitu menyenangkan berada di dekat perempuan itu. Mungkin hanya berteman dengan Vira saja sudah cukup baginya.
Atau mungkin Vira sudah tertidur karena capek? Entah ada banyak kemungkinan mengapa Vira tidak menjawan telpon dan pesan chatnya.
Gani merasa begitu aneh dengan dirinya, mengapa ia begitu sering memikirkan Vira akhir-akhir ini. Mungkin kah dirinya didera rasa rindu meski dirinya baru saja bertemu dengan Vira kemarin malam. Mungkin juga ini hanya sekedar sindrom yang terjadi karena dirinya akan segera pergi jauh. Seseorang yang mengikat kakinya agar tidak bisa melangkah jauh. Entahlah.
Dua jam sejak terakhir Gani menelpon Vira tak tampak tanda-tanda Vira akan menelpon balik atau membalas pesan chatnya. Terlintas keinginan untuk menemuinya secara langsung. Gani masih merekam dengan baik alamat rumah dan tempat kost Vira yang kemarin ia datangi.
-----------------------------------
Tjokro Adjie Pambudi
Kini Vira benar-benar ada dalam dekapannya. Vira yang selama ini menghilang darinya kini dalam pelukannya. Tidak ada lagi yang Cokro harapkan selama ini selain apa yang terjadi saat ini. Ketika rindunya mengalir lepas dalam sentuhan kepada perempuan yang kini mengisi ruang kosong di hatinya.
“Mas kangen Vira,” bisik Cokro pelan, dengan suara parau yang nyaris tak terdengar.
__ADS_1
Perempuan dalam pelukannya kini hanya diam. Cokro tidak peduli meski berapa lama dirinya harus memeluk perempuan ini. Penantian bertemu dengan Vira kini terbayar sudah. Dirinya mengetahui pasti Vira yang sengaja menghindar. Sengaja tidak ingin bertemu dengannya. Kesengajaan yang menyiksa hatinya. Kini sirna sudah.
“Sebentar. Biarkan Mas memeluk Vira sebentar lagi,” pinta Cokro.
Cokro merasakan Vira tidak mencoba mengadu kekuatan tubuhnya lagi dan tidak lagi kaku. Seolah Vira mencair dalam rengkuhannya. Mengisi kembali hatinya yang lama kering dengan sentuhan dan harapan.
Cokro mengendurkan tangannya. Dilihatnya wajah Vira yang menunduk dengan dua tangan mendekap di dadanya. Cokro kemudian melepaskan pelukannya, mengambil tangan Vira dan kemudian menuntunnya turun ke bawah.
Cokro meyakini bahwa Vira sudah siap untuk diajak bicara. Mereka kemudian duduk di tepian pembatas dengan kaki yang bergantung. Sesaat mereka terdiam.
“Vira lapar?” tanya Cokro memulai pembicaraan.
Vira tetap terdiam, tampak tak ingin bicara. Cokro tersenyum.
“Kalau Vira tetap diam, Mas tidak akan antar Vira pulang,” ancam Cokro pura-pura.
“Koq Mas gitu sih, Ini kan sudah malam. Lagipula apa yang mau dibicarakan?” Perempuan manis ini akhirnya menjawab meskipun dengan nada sengit. Cokro tersenyum.
“Mas ingin membicarakan mengenai hubungan kita.”
“Hubungan apa Mas? Vira gak punya hubungan apa-apa sama Mas Cokro. Mas kan tau itu!”
Cokro menghela nafasnya. Dirinya sudah menduga Vira akan mengatakan ini. Cokro ingin mengetahui pasti perasaan Vira yang sesungguhnya langsung dan Cokro juga ingin Vira mengetahui perasaannya yang semakin berkembang ini.
“Mas ingin Vira jujur dengan apa yang Vira rasakan. Mas tau sejak terakhir kita bertemu, Vira selalu menjauhi Mas. Itu karena Vira merasa bersalah. Karena Vira punya perasaan yang sama dengan yang Mas rasakan.”
“Mas Cokro ini bicara apa sih? Mas jangan mengasumsikan semua ini dengan pemikiran Mas saja. Itu terlalu naif,” ucap Vira dengan nada yang masih sama.
“Maksud Vira naif itu apa?” Cokro mencoba menelaah jawaban perempuan di hadapannya ini. Sungguh dirinya sangat meragukan apa yang barusan Vira katakan.
“Vira merasa bersalah itu pasti, karena memang yang terjadi terakhir kita bertemu itu tidak seharusnya terjadi.”
“Tapi itu yang memang terjadi bukan?”
“Iya terjadi, tapi bukan berarti Vira cinta sama Mas Cokro,” elak Vira.
“Benarkah? Coba Vira bilang tidak cinta sekali lagi dan tatap mata Mas biar Mas percaya,” tantang Cokro lalu membalikkan tubuh Vira agar menghadap dirinya.
Vira terdiam. Matanya tertunduk. Tak ingin dirinya membalas tatapan sepasang mata coklat tua yang tajam itu.
“Vir, coba lihat wajah Mas dan katakan kalau Vira tidak cinta Mas,” tuntut Cokro sekali lagi.
“Vira gak cinta sama Mas Cokro.” Perempuan itu mengucapkan pelan dengan pandangan yang masih tertunduk.
“Lihat mata Mas,” tuntut Cokro tak henti.
Vira pun mengangkat wajahnya dan menatap Cokro. “Mas Cokro ini maunya apa? Bisa gak sih Mas Cokro mengerti apa yang Vira katakan?” Ada nada amarah dalam ucapan Vira.
Tak kuasa Cokro memandang wajah Vira yang kini menatapnya. Meski marah dan bukan ucapan cinta yang keluar namun kerinduan akan perempuan ini kian tak terbendung. Direngkuhnya wajah Vira dengan kedua tangannya lalu Cokro mengecup bibir Vira perlahan dan penuh kelembutan.
Dirinya tidak peduli dengan sanggahan Vira. Tidak peduli dengan amarah Vira. Cokro meyakini bahwa sesungguhnya penerimaan Vira dari setiap ciumannya adalah jawaban jujur dari perasaan di antara mereka berdua.
__ADS_1