Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Go to Pieces


__ADS_3

^Kekalutan batin


Vira menyadari dengan baik apa yang telah terjadi antara dirinya dengan Mas Cokro. Ketakutan terbesar dirinya saat bertemu Mas Cokro kini terjadi sudah. Berbagai usaha yang dilakukan untuk menghindari lelaki ini tiada berarti lagi. Mas Cokro mengetahui pasti kelemahan dirinya.


Vira sendiri tidak mengerti mengapa sensor gerak tubuhnya tidak berjalan beriringan dengan pemikirannya. Sejak awal sebenarnya Vira bisa saja pulang sendiri seperti keinginan awalnya yang enggan diantar pulang Mas Cokro. Melarikan diri dengan naik taksi online atau bahkan ojek online. Tapi tidak terjadi. Dirinya seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Menurut saja tanpa ada perlawanan.


“Mas ingin Vira menunggu. Jangan pergi dari sisi Mas. Ada yang harus Mas selesaikan dulu, semoga Vira sabar menunggu.”


Vira terdiam. Tak mengerti juga apa yang dikatakan oleh Mas Cokro barusan.


“Kalau Mas sudah selesai urusannya, Mas janji kita akan bersama dan kita akan bahagia.”


Vira tetap terdiam. Pikirannya berkelana entah kemana. Ada wajah-wajah yang berkelebat dalam bayangannya. Wajah-wajah yang membuat dirinya bahagia dan memiliki arti dalam kehidupan ini. Wajah-wajah yang selalu ada saat dirinya membutuhkan. Bahagia? Bahagia seperti apa yang akan diberikan Mas Cokro kepadanya? Apakah bahagia yang disertai rasa sakit dan sedih di hati seperti yang saat ini Vira rasakan? Vira sungguh tak mengerti.


“Vir, kamu dengar apa yang Mas barusan katakan?”


“Vir, Vira,” sentak Mas Cokro menghentikan kelana lamunannya.


Vira tersadar. Dilihat jam digitalnya menunjukkan angka pertama dengan hari yang berbeda. Tak mungkin dirinya kembali ke rumah kost sekarang karena pagar digembok dan ibu kost juga mengunci ganda pintu depan rumah. Pulang ke rumah pun entah apa yang akan dikatakan Mama dan Papa. Namun rasanya Vira hanya ingin terlelap. Melepaskan segala penat dalam tubuh dan pikirannya.


Vira menatap ke arah Mas Cokro. “Mas, Vira mau pulang sudah malam,” ucapnya pelan.


“Mau pulang ke mana?” tanya Mas Cokro.


“Memangnya Vira mau pulang ke mana lagi Mas?”


“Maksud Mas, pulang ke rumah atau ke tempat kost? Kamu ngekos dekat kampus kan?”


“Pulang ke rumah Mas.”


“Nanti siapa yang bukain pintu? Sudah larut malam. Sebaiknya kamu ke tempat kost saja. Mas juga belum tau tempat kos Vira.”


Vira diam. Teringat dulu sengaja dirinya tinggal di kost karena ingin menghindar dari Mas Cokro. Sekarang justru laki-laki ini ingin mengantarnya pulang.


“Tempat kos sudah digembok setiap jam 12 malam. Peraturannya begitu.”


“Vira mau menginap di hotel saja? Di sini ada hotel, nanti pagi Mas antar pulang.”


Vira terdiam sesaat. Tak mungkin dirinya bersama di hotel dengan Mas Cokro. Tidak dengan alasan apapun. Meski berulangkali Mas Cokro menciumnya namun tak akan pernah dirinya melakukan sampai sejauh itu.


“Jangan salah sangka. Mas pesan dua kamar.”


“Gak usah Mas. Antar Vira pulang saja ke Bekasi,” pinta Vira bersikeras lalu berjalan lebih dahulu menuju mobil Mas Cokro.


 


Natha meminta Mirna menemaninya untuk menunggu Vira yang akan pulang jam dua malam ini. Berulangkali Vira miscall ke ponsel Natha dan hanya mengirimkan pesan pendek tentang jam berapa Vira akan sampai. Mirna merasa kesal karena Natha mengganggu waktu tidurnya namun Mirna tidak pernah bisa mengatakan tidak kepada Natha.


Ketika ada seberkas sinar yang menembus gorden depan, Natha dan Mirna langsung mengintip untuk mencari tau. Terlihat oleh kedua pasang mata yang menahan kantuk itu mobil warna metalik hitam yang berhenti di depan rumah. Mobil yang mereka kenal karena beberapa kali pemiliknya datang ke rumah ini.


Tak terlihat siapapun yang berada dalam mobil itu karena terhalang lapisan kaca yang cukup gelap. Natha dan Mirna mengira Vira akan segera keluar setelah lampu mobil dimatikan tapi ternyata tidak. Entah apa yang dilakukan Vira dan Cokro di dalam mobil itu.


Dengan kesal, Natha keluar dari rumah dan menghampiri. Tak peduli dirinya hanya memakai daster katun pendek. Niatnya hanya untuk meminta Vira segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Ternyata sebelum Natha marah, Cokro langsung ke luar dari mobil dan begitu juga Vira.

__ADS_1


“Maaf, saya mengantar Vira pulang selarut ini,” ucap Cokro kepada Natha.


“Mas, Vira masuk dulu ya! Terima kasih sudah diantar pulang,” sahut Vira pelan dan tanpa melihat Cokro atau pun Natha, dirinya langsung bergegas masuk.


Natha menghela napasnya panjang. “Terima kasih sudah antar adik saya pulang. Tapi lain kali meskipun urusan di antara kalian panjang, sebaiknya perhatikan soal waktu. Tidak baik bagi perempuan di antar oleh lelaki yang bukan keluarga larut malam seperti ini,” ujar Natha ketus, tak peduli Cokro lebih tua daripada dirinya.


Cokro tersenyum. “Baik, terima kasih banyak dan mohon maaf sekali lagi.”


Natha langsung masuk tanpa perlu menunggu mobil Cokro yang menghilang dari pandangannya yang kini mulai beringsut normal. Rasa kantuknya sudah hilang digantikan dengan rasa kesal dan penasaran dengan apa yang terjadi dengan adiknya Vira.


Di sofa hijau ruang keluarga, tampak Mirna yang merebahkan diri dengan mata terpejam dan Vira yang duduk termenung. Wajahnya begitu datar namun memendam begitu banyak emosi dalam diri yang disadari benar oleh Natha. Tak sampai hati melihatnya, meski sejak awal Vira menelpon dirinya untuk membuka kunci pintu rumah, Natha ingin sekali memarahinya. Bahkan Mirna yang biasanya usil mengomentari kini hanya memilih rebahan saja di samping Vira.


Diambilnya segelas air putih dingin dari dispenser lalu disodorkan ke depan Vira. “Minum dulu biar segar. Kayaknya elu kusut banget.”


Vira menoleh ke arah Natha dan tersenyum setengah dipaksa. “Makasih Nath.”


“Gue tau elu kayaknya lagi ada masalah. Gak perlu cerita sekarang, mending elu cuci muka dan tidur aja dulu. Jangan sampe stress cuma gara-gara ginian aja, ucap Natha mencoba menenangkan.


“Mir, bangun Mir, masuk sana ke kamar. Jangan tidur di sofa, ntar kena iler elu jadi bau,” perintah Natha sambil menepuk bahu Mirna.


Mirna tanpa bicara dan dengan mata setengah terbuka berjalan terhuyung-huyung menuju kamarnya dan Vira kemudian menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Meski rasanya ingin mandi agar segar tapi tenaganya tak lagi sanggup dan hanya ingin secepatnya memeluk bantal dan memejamkan matanya.


 


Vira benar-benar lelap sampai Natha yang penasaran terpaksa harus membangunkannya. Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, hanya Vira yang belum tampak di bawah untuk sarapan. Bahkan Mirna sudah sarapan untuk yang kedua kalinya.


“Makan di kosan sih enak, bisa gonta-ganti menu, cuma yah sedikit banget porsinya, harus beli banyak baru kenyang. Rasanya sih juga emang belum seenak masakan Mamah,” curhat Mirna di meja makan setelah menyantap sandwich tuna keju. Sudah ada juga potongan cake di hadapannya.


Mama tersenyum mendengarnya. Semua anaknya memang suka makan apa saja dengan porsi besar apalagi di saat kuliah seperti ini. Entah berapa berat beban kerja mahasiswa tapi sepertinya energi yang dibutuhkan cukup terkuras. Sebagai orang tua yang selalu menyediakan makanan setiap hari, awalnya agak berat membiarkan anak-anak perempuannya ini untuk tinggal di tempat kost. Memikirkan bagaimana mereka bertahan hidup dan mengurus sendiri kebutuhannya membuat dirinya sedikit takut.


Sejak Vira memutuskan untuk kos, Mama menduga bahwa Vira melakukannya untuk menghindari lelaki yang pernah bertamu ke rumah beberapa kali. Lelaki dengan wajah yang rupawan dan selalu mengendarai mobil mewah. Entah dimana Vira bisa mengenal lelaki yang usianya sudah cukup matang untuk berkeluarga ini. Sepertinya bukan teman kuliah juga.


Baik Natha dan Mirna, tidak pernah menjalin hubungan dengan lelaki. Bahkan Natha yang sudah cukup usia, tidak pernah ada lelaki yang mengaku pacarnya dan datang mengunjungi ke rumah. Meski banyak salam dan hadiah-hadiah dari lelaki yang menyukainya.


Sedangkan Vira anak keduanya berbeda. Dalam satu waktu yang tidak begitu jauh, ada dua lelaki yang hadir dalam kehidupannya. Yang berani datang ke rumah, memberinya hadiah, mengajaknya jalan, dan menunjukkan keseriusannya.


Mama termenung memikirkan bagaimana cara Vira menata hatinya yang mungkin bercabang. Terlintas olehnya juga bagaimana perasaannya yang begitu sakit ketika mengetahui hati suaminya yang juga bercabang. Selalu ada yang disakiti ketika cinta tidak lagi satu.


“Jadi, semalam Vira diantar pulang sama Cokro?” tanya Mama ke Mirna yang masih asyik mengunyah potongan strawberry cheesecake.


“Jam berapa?”


“Jam dua malem Mah, selingkuh ya koq sampe malem begitu, Kak Vira emang parah banget deh!”


“Eh, jangan ngomong begitu, kamu kan gak tau ceritanya bagaimana!” ucap Mama bijak.


“Mamah yang ngasih tau alamat kos Kak Vira ya ke Mas Cokro?” tanya Mirna. “Koq bisa sih jemput Kak Vira gitu?”


“Bukan Mamah koq. Lagian kan Mamah juga gak tau alamat kost kalian. Mamah gak pernah diajak ke sana.”


“Kemarin setelah maghrib Mirna tuh nyamper ke kos Kak Vira tapi gak ada di sana. Katanya bibi di sana Kak Vira berangkatnya pagi dan belum pulang. Ya sudah Mirna pulang ke Bekasi sendiri, eh Kak Vira juga gak ada. Malah malem-malem diantar sama Mas Cokro. Mirna juga gak ngerti deh!”


“Koq si Vira belum turun Mir? Coba kamu ketok kamarnya. Takut kenapa-apa. Mamah jadi serem ngebayanginnya.”

__ADS_1


“Mamah mikirin apa sih? Takut Kak Vira mati bunuh diri karena urusan perselingkuhan? Gak mungkin lah anak Mamah begitu,” jawab Mirna meyakinkan Mama.


“Dulu, waktu Papah kamu mengaku punya istri dan anak-anak lain, ya Mamah sempat kepikiran buat bunuh diri. Cuma ingat kamu Mir, ingat Kakak kamu Natha dan Vira. Tapi ya itu dulu, sekarang meski kalau dipikirkan masih sakit juga sih. Setidaknya ada kalian sumber kebahagiaan Mamah.”


“Iiih Mamah kan yang diselingkuhin sama Papah, ya wajar punya perasaan itu, tapi ini kak Vira yang nyelingkuhin. Beda banget, Kak Vira yang bikin sakit hati orang kali Mah.”


Tidak lama kemudian, dengan handuk tersampir di pundaknya, Vira berjalan menuju meja makan yang diikuti Natha.


“Anak Mamah koq lama banget bangunnya?” ucap Mamah ketika Vira menghampiri dan mengecup keningnya.


“Capek banget Mah, baru bisa tidur jam tiga malam.”


“Cerita dong Vir, kemarin koq bisa sih diantar si Cokro?” tanya Natha yang memang penasaran dari tadi.


“Mulut gue masih bau jigong.”


“Iiih Kak Vira, ini kan kue Mirna. Ambil aja sendiri di kulkas kenapa sih? Tuh, kan sendoknya bau gini,” protes Mirna ketika Vira langsung mengambil alih sendok yang berisi potongan cheesecake dari tangan Mirna.


“Itu kuenya dari Cokro. Kamis malam datang bawa kue ini. Di kulkas masih ada beberapa potong koq!” ucap Mamah yang langsung membuat Vira nyaris tersedak. Langsung disambarnya gelas Mirna yang masih berisi setengah cokelat susu hangat.


Natha dengan sigap menepuk-nepuk pundak adiknya untuk menghentikan batuknya. Supaya Vira segera cerita dan menghilangkan rasa ingin taunya yang sudah membuncah. Vira mengatur napasnya Kembali agar teratur. Menarik napasnya lalu ditahan dan kemudian dihembuskan. Ini dilakukan beberapa kali sampai normal kembali.


“Mandi dulu sana,” pinta Mama kepada Vira.


“Papah mana Mah? Masih di kamar ya?” tanya Vira.


“Sabtu ini Papah ada acara sama keluarga sana,” ucap Mamah pelan. Meski sudah berkali-kali izin dengan alasan yang sama tetap saja membuat perempuan paruh baya ini sedih.


“Ya enak dong Mah, Mamah bisa punya me time [waktu untuk sendiri] yang banyak. Gak usah mikirin makanan. Kita bisa koq urus sendiri. Pesen makanan online aja!” sahut Natha mencoba menghibur Mama.


Mama tersenyum. “Yasudah sana. Nanti Tante Hana, Mamahnya Dita mau ajak Mamah ke Tamcit (Thamrin City), mau beli perlengkapan buat bayinya Dita. Katanya bulan depan sudah mau melahirkan. Mamah sama Tante Hana yang beli, katanya si Dita hamilnya besar, mulai capek.”


“Mamah ke sana naik apa?” tanya Vira.


“Naik mobilnya Tante Hana tapi yang nyupirin si Bimo, adiknya Dita. Katanya Dody sama Dita lagi liburan. Si Bimo sekalian hapalin jalan, baru kemarin dia bikin SIM soalnya, ucap Mama menjelaskan.


“Iya, Mah, kemarin Vira ketemuan sama Mas Dody di Ancol, cuma gak ketemuan sama Dita. Katanya Dita lagi di Putri Duyung Cottage.”


“Elu ngapain di Ancol Vir sama si Dody?” tanya Natha dengan nada heran.


“Ada acara farewell party (pesta perpisahan) temen gue yang mau ke Jepang.”


“Temen-temen gunung lo?” tanya Natha lagi yang disambut dengan anggukan Vira.


“Oh, jadi elu ketemuan Cokronya di Ancol ya? Jadi dia itu temannya Dody juga?” tanya Natha yang mencoba menyimpulkan pembicaraan mereka.


“Jadi elu menghabiskan waktu berdua sama Cokro di Ancol? Pantes sampai malam,” tuding Natha.


“Iya, ceritanya tapi gak seperti yang elu bayangin Nath. Kalau dari ucapan elu itu kayaknya gue emang tukang selingkuh yang menikmati banget ketemu sama Mas Cokro,” sanggah Vira.


“Gue gak ngomong gitu koq, gak usah marah juga kali Vir, biasa aja. Sana gih mandi dulu biar segar. Kayaknya keringat sisa semalam bikin tensi lo mulai naik,” sahut Natha.


“Nanti Mamah dijemput Tante Hana jam sepuluh. Pulangnya paling sore. Tapi gak tau juga, si Bimo katanya lagi senang-senangnya nyetir mungkin nanti malah diajak jalan-jalan keliling Jakarta.”

__ADS_1


“Gak apa-apa koq Mah, have fun sama Tante Hana yaaa, jalan-jalan aja biar hepi Mah, biar awet muda,” ucap Vira yang ditimpali dengan ucapan serupa dari Natha dan Mirna.


Vira beranjak menuju kamar mandi. Ada senyum tersungging di wajahnya. Pulang ke rumah dalam kekalutan batin yang dirasakannya sekarang adalah langkah yang bijak. Ada keluarga yang menjadi tempat berbagi cerita dan rasa.


__ADS_2