
^Hubungan personal yang sangat erat
Vira memutuskan untuk pulang ke Bekasi ketika Kosa meminta maaf tidak bisa menemani Vira belanja baju karena masih akan ikut rapat bersama Matsuoka Sensei menjelang keberangkatan penelitian senin esok.
Kejadian jumat lalu juga membuat Vira berpikir ulang mengenai kerjaannya selama magang politik ini. Tidak perlu mengeluarkan uang hanya untuk membeli pakaian mahal kalau kerjaannya hanya duduk-duduk menunggu bos. Lebih baik pinjam baju Natha saja.
“Tumben koq pulang Vir? Gimana magangnya?” tanya Natha yang sibuk menyetrika bajunya. Rutinitas yang dikerjakan di rumah saat libur. Rasa herannya menyeruak ketika pagi ini mendapati Vira, adiknya, sudah ada di rumah dan menemuinya di ruang jemur dan setrika yang menjadi satu di lantai atas.
“Hahaha, ya gitu deh Nath. Dibilang sibuk magang ya sibuk tapi kerjaannya ya gitu-gitu aja.”
“Ya memang begitu Vir, emangnya lo mau mengharap kayak gimana? Kerja kayak buruh atau kayak bos?”
“Kayaknya capek di jalan doang sih daripada kerjanya Nath.”
‘Namanya juga magang Vir, dibawa santai aja. Jangan terlalu berharap kerjaannya idealis seperti yang elu inginkan. Tapi setidaknya elu bisa belajar sesuatu.”
“Mungkin karena minggu pertama kali ya Nath, jadi belum banyak yang gue ketahui. Cuma ya itu, iiih amit-amit deh perjalanan bolak-balik ke Senayan itu, ampun Nath, bikin gue stress.”
“Pakai aja mobil Papa yang satu lagi atau motor Vespa. Daripada nganggur di rumah.”
“Lu kan tau gue gak punya SIM Nath.”
“Ya bikin keles. Sudah diingetin bikin SIM berulang kali masih aja males. Atau minta antar jemput sama Kosa aja, dia kan lagi gak ada kerjaan tuh, cuma ngerjain skripsi doang!”
“Iih kata siapa Nath, dia tuh sampingannya banyak banget. Besok senin dia nemenin peneliti dari Jepang ke Serang, seminggu gitu, makanya mending gue balik aja ke Bekasi.”
“Dari dulu kayaknya tuh anak suka penelitian ke mana-mana ya Vir? Kayaknya cocok banget jadi akademisi. Karirnya bakal bagus tuh. Tapi ya tetep aja gue gak terlalu suka dia.”
“Dia baik banget tau Nath. Jangan gitu ah!”
“Lu mau ngapain ke sini? Pasti ada maunya ya Vir?” tanya Natha dengan nada menyelidiki.
“Elu tuh ngerti banget gue ya Nath! Gue mau pinjem baju buat magang. Kemeja sama blazer gitu, kayaknya elu punya banyak deh di lemari,” ucap Vira cengengesan.
“Suruh siapa baju kaos semua. Tunik yang elu punya juga terlalu remaja gitu, kayak si Mirna aja!”
“Ya, gak kepikiran pake baju kayak gitu Nath. Gue sudah beli kemeja dua sama celana bahan tapi cuci pake cuci pake gitu.”
“Yaudin tapi ntar aja gue yang pilihin, jangan elu yang milih.”
“Eh Vir, lupa gue tadi mau ngomong apa. Itu di kulkas ada cokelat banyak banget buat elu,” seru Natha.
“Buat gue? Dari siapa Nath?” tanya Vira
“Biasa lah, dari yang kemarin ngirim opera cake. Pengen gue makan cokelatnya tapi takut ada mantra-mantranya gitu. Ngeri kena pelet.”
Vira menghela napas panjang. “Kenapa diterima Nath?”
“Elunya kagak ada, bingung juga nolaknya,” kilah Natha.
“Kalau elu gak mau biar gue sama Mirna yang makan, yang penting gue udah bilang sama elu,” lanjut Natha.
“Gue ke kamar dulu Nath!” ucap Vira yang tetiba ingin tidur sesaat untuk menguraikan rasa pusing di kepalanya yang tiba-tiba mendera.
Ganindra Mahija Sasongko
Sudah beberapa bulan sejak proposalnya dikembalikan, Gani sudah nyaris tidak pernah melihat perempuan yang akan diajaknya berkenalan. Entah karena kesibukannya menyelesaikan skripsi atau memang perempuan itu yang sudah jarang ke perpustakaan pusat dan selasar Masjid.
Tidak ada penjelasan yang dikatakan ketika proposal ta’arufnya dikembalikan. Dan dirinya juga sudah tidak berminat untuk melanjutkan ta’aruf dengan perempuan lain yang direkomendasikan murobbi-nya.
Tapi apakah ini rencana Tuhan, ketika selesai wisuda dan akan mempersiapkan diri ke Riau untuk melanjutkan kerja ke Perusahaan Minyak tempat magangnya dahulu, Gani justru dipertemukan kembali dengan perempuan itu.
Mama biasanya meminta kurir yang mengirim makanan Papa ke kantor di Senayan di setiap jam makan siang. Hanya saja, setelah wisuda, ada banyak waktu luang sebelum keberangkatannya membuat Gani mengambil tugas mengantar makanan. Agar lebih dekat meski cuma sebentar. Kepergiannya ke Riau pasti akan menjauhkan dirinya dengan Papa dan Mama. Tidak ada anak lelaki yang akan menjaga keduanya.
Kakaknya Tara sedang kuliah bisnis di Birmingham, Inggris dan Lydia lebih suka tinggal di apartemen Taman Rasuna sejak perceraiannya. Hanya sesekali saja Lydia main ke rumah untuk konsultasi bisnis dengan Papa dan Mama.
Pertemuan pertama langsung dengan Vira, perempuan yang memang sejak awal ia ketahui namanya membuatnya jadi salah tingkah. Bagaimana tidak, perempuan itu sedang menunggu sendirian di kantor Papa dan sama sekali tidak mengenalnya. Raut wajah Vira menunjukkan perasaan asing saat bertemu dengannya.
Seharusnya ia menemani Papa makan siang tapi nalurinya mengatakan bahwa ini saatnya harus bicara dengan Vira. Ini adalah kesempatan pertama bertemu langsung dengannya. Namun, Gani justru mendapati Ibu Fatmah dan Pak Faisal yang sudah kembali ke ruangan. Ternyata Vira baru saja pergi untuk makan siang.
Gani langsung mengejar Vira dan tetiba semua terjadi begitu saja. Mereka makan bersama di Kantin Pujasera. Meski aneh dan Gani merasa bahwa situasi yang berjalan ini terkesan dipaksakan tapi hatinya gembira. Karena ini adalah kesempatannya untuk mengenal perempuan yang pernah mengembalikan proposalnya itu.
Bahkan Gani pergi ke Kuningan dan meminta Lydia, kakaknya untuk bertemu di apartemennya. Ini semata karena dirinya mengetahui Vira menemani ayahnya rapat di daerah Kuningan. Berharap dirinya bisa bertemu secara kebetulan di sana dan ternyata semesta mendukungnya.
Lydia meminta bertemu Gani di Plaza Festival karena dirinya sedang olahraga di Stadion Somantri yang jaraknya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Di sana lah Gani bertemu Vira yang sedang menyantap makanan di restoran favoritnya. Di sana lah Gani juga mengenalkan Vira kepada kakak perempuannya, Lydia. Satu-satunya yang memahami perasaannya.
“Is she the girl [apakah dia]?” tanya Lydia kepada Gani setelah adiknya itu kembali dari mengantarkan Vira ke halte busway Karet Kuningan.
“The girl who rejected your proposal before she even met you [cewek yang nolak elu sebelum ketemu]?” tanya Lydia kembali.
__ADS_1
“And you are still excited to meet her? That’s weird! [dan kamu tetap senang ketemu dia? Aneh!]” ungkap Lydia dengan menyipitkan mata dan mengerutkan keningnya.
Gani tersenyum menyadari kakak perempuannya inilah satu-satunya yang paling mengerti siapa dirinya.
“Aku nginep sini ya!” ucap Gani
“Tell Mom and Dad, so they won’t be waiting for you [Bilang Mama dan Papa biar mereka gak usah nungguin elu pulang]!” kata Lydia mengingatkan.
Setelah menikmati tidur siangnya yang sekejap, Vira mendapati Mirna, adiknya sudah duduk di sofa hijau ruang keluarga, dengan satu kotak cokelat di tangannya. Wajahnya melirik Vira dengan cemberut dan memancarkan rona kekesalan.
“Ih, Mir, koq elu balik sih ke rumah? Gue kirain masih sibuk urusan kampus,” tanya Vira dengan nada malas.
“Kak Vira emang ngeselin banget. Tadi pagi Mirna ke kosan Kak Vira tau, eeh malah udah pulang kata bibi kos,” dengus Mirna sambil memasukkan sebutir cokelat besar ke dalam mulutnya.
“Jam berapa lu ke kos gue Mir?” tanya Vira.
“Jam sepuluh,” jawab Mirna.
“Itu mah udah siang Mir. Gue udah berangkat dari jam delapan. Suruh siapa gak nelpon gue dulu.”
“Males banget nelponin Kak Vira, gak pernah diangkat, mending datengin langsung. Eh, ini cokelat dari siapa sih, enak banget. Kayaknya ini kacang macademia ya? Mirna kira kacang almond tapi lain rasanya.”
“Spesial tuh pengirimnya,” celetuk Natha sambil mengerjapkan matanya.
“Apaan sih lu Nath,” tukas Vira kesal.
“Dari Kak Kosa?” tanya Mirna.
“Bukan, tapi yang satunya lagi Mir!” ledek Natha sambil menekan tombol remot tivi, memilah miilih saluran yang ingin ditonton.
“Reseh lu Nath! Eh, itu ganti kali jangan horror mulu kali Nath, gue bosen liat zombie-zombiean. Ganti The Queen’s Gambit aja, gue belum kelar nontonnya.”
“Jadi, ini cokelat dari selingkuhannya Kak Vira?” tanya Mirna terkejut.
“Ngomong selingkuhan lagi, ntar gak gue akuin jadi adek gue lu Mir,” ancam Vira kesal.
“Pantes enak ya Mir, rasanya itu ngeri-ngeri sedaaaappp,” seloroh Natha sambil cekikikan.
“Abisin aja Mir, buat elu semuanya,” ucap Vira.
“Eh, beneran Kak? Yakin? Mirna sih lebih suka Kak Kosa tapi ini cokelatnya enak banget. Dosa kalau gak dimakan,” ucap Mirna kontradiktif.
“Kalau elu suka makan aja Nath, gue lagi diet,” tukas Vira kesal.
“Sini Nath remot tivi-nya. Geser sanaan Mir, gue mau nonton si Anya. Hati-hati kebanyakan makan cokelat ntar muka lu jerawatan.”
“Ini mah cokelat mahal Kak, kalo cokelat yang seribuan tuh baru bikin muka berontak.”
“Menurut gue ya, itu si Benny mukanya lucu banget, imut padahal aslinya cuma beda dua tahun sama si Townes yang dewasa,” komentar Natha.
“Gue sih lebih suka kalau Beth jadian sama si Townes,” lanjut Natha.
“Mirna sih suka sama Benny, cuma terlalu ceking aja. Tapi ya, itu kayaknya si Townes mirip sama selingkuhannya Kak Vira ya?” seloroh Mirna.
“Mir, mulut lo ngeselin banget sih. Lagi nonton kali Mir, masa ngomongnya begitu sih,” tukas Vira.
“Gue belum pernah liat sih Mir selingkuhannya Vira, masa sih mirip sama Townes? Ganteng dong? Masa sih seganteng itu mau sama Vira?” seloroh Natha menimpali ucapan Mirna.
“Kalian emang reseh deh, jago banget bikin kesel gue,” sungut Vira.
Tak terasa, sudah tiga episode berlalu dan senja merah mulai mewarnai langit. Mereka bertiga sudah menghabiskan sekotak coklat, dua bungkus keripik kentang, satu mangkok besar salad buah, dan beberapa minuman kaleng. Meja kaca di depan sofa hijau penuh dengan sisa-sisa keseruan menonton yang belum usai.
“Terusin abis maghrib aja Vir. Dan itu Mir, elu beresin remah-remahannya. Jangan mentang-mentang Papah Mamah pergi liburan, elu santai-santai gak kerja,”
“Koq Mirna doang sih yang disuruh? Itu Kak Vira yang ngabisin keripik kentangnya,” kilah Mirna.
“Kan elu udah makan cokelatnya Vira, Mir. Bales budi dikit dong!” sergah Natha yang membuat Vira tertawa geli.
“Mir, itu ada yang ngebel. Bukain dulu sana. Gue gak pake jilbab. Beresinnya ntar aja!” ucap Vira.
Mirna bergegas menuju pintu depan. Melongok sebentar dari kaca jendela untuk mengetahui siapa datang bertamu menjelang maghrib seperti ini sebelum membuka pintu.
“Eh, Kak Kosa, mau malam mingguan sama Kak Vira ya?” sapa Mirna manja.
“Kak Viraaaaaaaa, ada Kak Kosa nih!” teriak Mirna yang membuat Vira lari bergegas ke kamar mengganti pakaiannya dengan celana jeans dan kaus lengan panjang dan jilbab langsung berwarna putih.
“Masuk aja Kak ke dalam. Papah sama Mamah lagi liburan dari jumat ke Bandung,” jelas Mirna.
“Kalian bertiga aja jadinya? Eh, ini Mir, ada martabak, taruh di piring ya Mir!”
__ADS_1
“Halo Sa, mo malam mingguan sama Vira ya?” tanya Natha ketika Kosa melihatnya duduk di ruang keluarga.
“Wuiiih, rame amat mejanya. Kalian habis pesta ya?” tanya Kosa ketika melihat kondisi ruang keluarga.
“Biasa deh cewek kalo ngumpul. Kebanyakan ngemilnya,” jawab Natha.
“Gue tinggal ke kamar ya Sa! Mir, elu beresin cepat nih, keburu disemutin ntar!”
Mirna mengangguk dengan wajah cemberut. “Eh Kak, biarin Mirna aja, Kak Kosa duduk aja nungguin Kak Vira,” cegah Mirna ketika Kosa mulai bergerak membantu membereskan meja.
“Santai Mir, kayak gini sih sebentaran juga kelar!”
“Kak Kosa punya adik gak?” tanya Mirna
“Kenapa? Mau temenan?” tanya Kosa balik
“Kalo punya adik cowok sepantaran Mirna, mau dong dikenalin,” rayu Mirna manja.
“Hahahaha, Mir, Mir, kamu koq lucu banget sih!” ucap Kosa.
“Jangan mau Bang, jangan kenalin. Mirna makannya banyak, kasian adeknya, nanti rugi bandar,” ucap Vira yang tiba-tiba hadir di antara Mirna dan Kosa.
“Ish, Kak Vira emang nyebelin banget. Koq Kak Kosa mau aja sih sama Kak Vira? Bisa tahan gitu?” dengus Mirna kesal yang membuat Kosa semakin tertawa dibuatnya.
Selepas maghrib, Natha dan Mirna lebih memilih masuk ke kamarnya ketimbang meneruskan untuk menonton The Queen’s Gambit. Membiarkan ruang keluarga kini dikuasai Vira dan Kosa berdua saja.
“Abang tadi rapatnya selesai jam berapa sama Matsuoka Sensei?” tanya Vira
“Jam dua belas tapi Matsuoka Sensei sama Prof. Ibrahim ajak makan dulu di Mang Engking. Makannya lebih lama dari rapatnya.”
“Waah, abang makan enak dong tadi,” seru Vira.
“Enak sih cuma rasanya ada yang kurang,” ucap Kosa.
“Kurang garam?”
“Kurang pas karena gak ada Vira di samping abang!” gombal Kosa yang membuat Vira tertawa.
“Kemarin bagaimana rapat sama Pak Dewannya? Bajunya udah beli? Atau pergi sekarang aja yuk!”
“Apaan itu, kemarin cuma nunggu doang tau Bang, gak ngapa-ngapain. Bikin risalah rapat aja gak. Udah gitu gak diajak makan siang, baru makan pas jam lima sore. Kebayang laper banget, sebel deh pokoknya!” keluh Vira.
“Beli bajunya jadi?”
“Gak jadi ah Bang, pinjem baju Natha aja, cuma buat tiga bulan koq, itu juga dipakenya kamis jumat aja!”
Kosa tersenyum mendengar setiap kata-kata Vira. Ketika menatap Vira, ada kehangatan yang dipancarkan dari kedua mata tajamnya.
“Vir,” panggil Kosa pelan.
“Hhhmm….”
“Abang cium ya?”
“Abang…..” ucap Vira lirih. Tubuhnya tetiba menghangat mendengar permintaan Kosa. Ada rona merah yang menjalar di pipinya.
“Boleh ya?!” pinta Kosa masih menunggu jawaban Vira.
Vira terdiam lalu mengangguk pelan. Entah apa yang menyebabkan matanya menjadi terpejam namun sensor hidungnya mulai merasakan hembusan napas hangat yang membelai wajahnya. Sensor kulitnya mulai merasakan sentuhan lembut tangan Kosa di kedua belah pipinya.
Kosa mengecup pipi Vira begitu perlahan seperti menikmati manisnya buah kurma. Lalu mengecup mata Vira yang terpejam. Vira menahan napasnya sesaat ketika bibir Kosa mulai bergerak menuju sudut bibirnya. Mengecup setiap bagian bibirnya dengan lembut. Ranumnya bibir Vira membuat Kosa enggan untuk melepasnya.
“Iiiih Kak Kosa sama Kak Vira mesum,” teriakan Mirna tetiba membuat keduanya melepaskan pagutannya.
Kosa mengusap rambutnya dan mengulum senyum sedangkan Vira memalingkan wajahnya ke samping, menghindari tatapan Mirna.
“Itu ada yang ngebel pintu depan sampe gak kedengeran gitu sih Kak!”
Vira langsung bangkit. “Biar gue yang buka Mir!” Dirinya dengan rasa malu kepada adiknya melesat menuju ruang tamu.
“Eh Mir, koq tumben keluar kamar?” tanya Kosa membuka percakapan karena Mirna masih memandangnya dengan tatapan yang berbeda.
“Ya keluar Kak, itu dari tadi bel bunyi gak ada yang bukain pintu. Ternyata Kak Kosa lagi mesum.”
“Itu ciuman aja koq Mir, gak mesum,” elak Kosa sambil tertawa pelan.
“Ish, sama aja Kak, itu mesum tau.”
“Eeh, Kakak ke depan dulu ya mau liat tamunya,” ucap Kosa beranjak pergi menyusul Vira untuk menghindari Mirna yang seolah menghakimi perbuatannya.
__ADS_1
Dibukanya pintu tamu yang tertutup. Dilihatnya Vira menerima satu buket bunga lily berwarna merah muda dan sebuah kotak besar berwarna coklat berbahan kertas keras. Ada rasa ingin tahu yang begitu besar pada diri Kosa akan siapa pengirimnya.