Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Out of the Blue


__ADS_3

Kosa sudah rapi pagi ini. Rencananya sabtu ini Kosa akan mengajak Vira jalan ke Mal di seputaran Bekasi atau Depok.


Kosa menatap sesaat jam tangannya. “Ah, masih jam delapan pagi. Terlalu dini jika nelpon Vira. Jam sepuluh saja lah!” gumam Kosa


Setelah mengerjakan beberapa tugas kuliah dan memeriksa dokumen penelitian, Kosa menatap kembali jam tangannya. Waktu berputar begitu lambat. Jam sembilan masih terlalu pagi untuk menelpon Vira. Biasanya mahasiswa itu selalu menggunakan sabtu sebagai hari istirahat dengan bangun agak siang.


Diambilnya ponsel dan Kosa mulai mencari kesibukan dengan ponselnya sampai waktu menunjukkan di angka sepuluh.


Drrrttt…..drrttt……drrrrt….


Dua kali panggilan tidak terjawab. Apakah Vira masih tidur? pikir Kosa. Ditunggunya sebentar lagi.


Ada rasa khawatir dan penasaran mengapa Vira tidak lekas menjawab. Mungkin tidur, mungkin juga ada acara keluarga, mungkin lagi di luar rumah. Ada banyak kemungkinan. Akhirnya Kosa memutuskan untuk menulis pesan singkat melalui aplikasi pesan.


K: [Vir, lagi dimana? Jalan yuk!]


Sudah setengah jam berlalu tapi Vira tak kunjung membalasnya. Sudah centang dua namun belum berwarna biru. Kosa ingin mengetik banyak kata untuk menanyakan banyak hal kepada Vira. Namun niatnya urung dilakukan. Takut nanti Vira merasa tidak nyaman.


Tetiba ada bunyi pesan masuk, Kosa langsung membacanya. Ah, ternyata dari Rosma, adik perempuannya.


R: [Mas Kosa, nonton yuk! Mas Andri ngajakin ke Penvil nih, katanya kangen sekalian ngasih oleh-oleh sebelum basi]


K: [Mas Andri sudah pulang? Bawa apaan?]

__ADS_1


R: [Dari kemarin malam. Gak tau deh! Tanya aja sendiri]


K: [Jam berapa?]


R: [Abis dzuhur, ketemuan langsung di sana aja Mas]


K: [Yasud, nanti Mas WA ya!]


Selesai membalas, Kosa mengecek WA Vira, masih berwarna abu-abu. Ah, mungkin sabtu waktu istirahatnya Vira jadi dirinya sungkan untuk menghubungi atau mengetik pesan sekali lagi. Ya sudahlah!


Kosa menatap dirinya di cermin. Sudah ganteng gini masa’ cuma di kamar kost, mana wangi pula. Disambarnya kunci motor Vespa dan jaket kulitnya. Tak lupa Kosa memakai sneaker low–ankle warna hitam dengan garis putih yang sudah dibersihkan sejak kemarin.


Setelah mampir ke tempat Danu dan Pras teman kuliahnya, baru Kosa menuju Penvil. Tidak terlalu jauh jarak dari Depok ke Penvil. Meskipun sabtu terkenal macet namun Kosa dengan mudahnya mencari jalur alternatif menuju arah Pejaten Raya, mengingat naik motor dan harus lewat belakang agar tidak memutar balik.


Bergegas ke lantai dua, Kosa melihat kakaknya Mas Andri dan adik perempuannya Rosma sedang asyik menyantap dimsum hangat yang tersaji di meja.


“Mas, Dek, sudah lama kayaknya ya? Udah makan dimsum aja. Koq gak nungguin sih?” Kosa menjabat tangan Mas Andri dan Rosma kemudian mencium punggung tangan Kosa.


“Kelamaan lu Sa, udah ke sini dari jam sebelas. Keburu laper nih!” ujar Mas Andri sambal memasukkan siew mai udang ke dalam mulutnya.


“Loh Dek, kamu bilang tadi habis dzuhur kan? Gak ngomong jam sebelas.”


“Hehehe, maaf Mas Kosa. Tadi Ros ke sini juga karena Mas Andri ternyata ke rumah dulu, mau ketemu Mamah. Eh malah sebentar di rumah langsung ngajakin ke sini.”

__ADS_1


“Udah gue pesenin buat lu juga Sa, santai aja. Selera lu gak berubah kan? Gue juga udah beli tiket nonton yang jam tiga.”


Kosa mengambil beberapa dimsum dan menambahkan sedikit minyak cabai di atasnya. Tidak lama kemudian pesanan nasi ayam ala Hainan favoritnya sudah tersedia di depannya.


Dilihatnya Mas Andri memesan kwetiau daging sapi dan Rosma dengan tahu jamur shimejinya. Kebiasaan Rosma selalu makan tanpa nasi. Alasannya selalu diet padahal tidak ada tanda-tanda kegemukan sama sekali.


Selesai makan, Andri dan Kosa sama-sama menyelonjorkan kakinya. Tanda kekenyangan. Rosma sibuk dengan ponselnya.


Ditatapnya sekeliling restoran, tampak pengunjung yang datang bersama keluarganya. Beberapa meja diisi oleh pasangan muda-mudi yang asyik makan sambal bicara manja. Wajah-wajah bahagia.


Kosa membayangkan seharusnya hari ini adalah malam minggu pertamanya dengan Vira. Makan, nonton, ngobrolin diri mereka sambal ngopi di coffee shop. Ternyata rencana hanya tinggal rencana.


Sambil merebahkan punggungnya, matanya berkeliling. Kosa melihat ke arah meja dalam paling pojok ada perempuan berjilbab coklat susu dengan arah duduk yang membelakangi dirinya. Tidak terlihat wajah perempuan itu namun sepertinya asyik bicara dengan dua orang laki-laki di hadapannya.


Kosa teringat warna coklat susu itu adalah warna jilbab favorit Vira. Seringkali Kosa mendapati Vira memakai jilbab dengan warna itu.


Entah kenapa Kosa terus memandangi punggung perempuan itu. Mirip seperti Vira, pikirnya. Tapi mana mungkin. Penvil kan jauh dari Bekasi. Vira juga pasti masih tidur. Lagipula untuk apa Vira ada di Penvil dengan laki-laki yang terlihat jauh lebih tua, batin Kosa gelisah.


Perempuan itu tetiba berdiri dan membalikkan badannya, diikuti oleh kedua lelaki yang bersamanya. Wajah Vira terlihat nyata.


Itu benar Vira. Koq bisa? Siapa lelaki yang bersama Vira? Kosa tidak pernah melihat wajah mereka sebelumnya.


Dilihatnya mereka bertiga menuju kasir dan mengeluarkan uang masing-masing. Perempuan berkulit hitam manis berjalan melewati meja Kosa dan sama sekali tidak menyadari keberadaan Kosa.

__ADS_1


__ADS_2