
^ Melampiaskan kemarahan
Semburat jingga memudarkan birunya langit Kota Jakarta. Suasana hiruk pikuk tampak terlihat di sepanjang ruas jalan Kota Jakarta saat jam pulang kantor berdentang. Bersamaan langkah kaki Vira yang tergesa, para pekerja kerah putih Kota Jakarta memadati jalur pedestrian yang mengarah ke stasiun kereta api.
Vira memaksa tubuhnya masuk ke dalam gerbong yang sudah terisi penuh. Mencari sedikit celah untuk bisa berdiri tegak dalam himpitan tubuh-tubuh meski tanpa pegangan. Bisa dipastikan kereta api tetap akan padat sampai beberapa jam mendatang apalagi besok libur. Naik kereta sekarang atau nanti akan sama penuhnya, sehingga memaksa masuk meski penuh menjadi strategi satu-satunya yang dipakai agar cepat sampai ke tujuan. Setelah berganti kereta di Stasiun Manggarai, kereta menuju Depok Bogor tidak terlalu padat meski nanti di stasiun setelahnya penambahan penumpang cukup signifikan.
Kosa dengan vespa abu tuanya menunggu dengan setia di depan Stasiun Pondok Cina. Sudut bibirnya mengembang ketika sosok perempuan yang disayangi mendekat dengan wajah berbinar dan senyum yang merekah.
“Capek?” tanya Kosa seraya menyerahkan helmet biru muda.
Vira mengangguk. “Abang mau makan? Ke Margo City yuk!” ajak Vira lalu sigap duduk di boncengan dan memeluk pinggang Kosa.
Jalan Margonda Raya menuju Marcy sungguh sangat padat. Meskipun naik motor, namun tetap saja tersendat dan berusaha mencari celah kosong di antara rapatnya kendaraan roda empat. Pun sesak terasa dalam Mall terbesar di Depok dengan pengunjung yang didominasi anak muda.
“Besok Papah ajak makan bersama. Papah mau mengenalkan anak-anak dari istri keduanya,” ucap Vira pelan sembari menunggu pesanan.
“Vira mau datang? Sama istri-istrinya Papah juga?” tanya Kosa.
“Ish Abang, ya enggak lah! Bisa perang dunia ketiga kalau istri-istrinya ikut,” dengus Vira.
“Jadi gak datang?” tanya Kosa kembali.
“Sudah janji sih sama Natha buat datang sama-sama. Mirna gak tau deh, gak ada jawaban. Gak ngerti juga sih buat apa ketemu. Waktu nikah diam-diam, pas sudah besar baru dipertemukan. Memangnya bisa langsung jadi saudara, saling anggap kakak adik pas ketemu sekali?”
“Ya setidaknya Papah kamu punya niat baik biar kalian bersaudara saling kenal.”
“Abang juga gitu? Kenal sama anak-anak Papa Mama Abang dari keluarga baru semua?” tanya Vira karena teringat bahwa orangtua Kosa bercerai sejak dirinya masih berusia belia.
“Gak semua sih! Yang paling sering sama anak Mama dari pernikahannya yang sekarang. Rosma. Kamu ingat gak Vir? Waktu kita ketemu di Pejaten Village pas kamu lagi makan sama Mas Une dan Mas Doddy? Itu anak Mamah pertama soalnya jaraknya sekitar 5 tahun sama Abang. Anak keduanya perempuan juga, namanya Diani. Cuma masih SMP. Abang sama Mas Andri gak terlalu dekat paling sama Rosma aja sih!”
Vira menoleh takkala pesanan dimsum dan minuman mereka sudah datang sebelum hidangan utama. “Terima kasih,” ucap Vira kepada pramusaji.
“Abang, ini kan setiap porsi isinya tiga, jadi dua untuk Vira dan satu buat Abang ya?” rayu Vira sambil cengengesan.
Kosa tertawa lalu menyentil hidung Vira. “Iya sayang, dari dulu kan memang selalu begitu.”
“Kalau dari keluarga baru Papa Abang kenal semua?” tanya Vira lagi sambil mencelupkan dimsumnya ke minyak cabai yang sudah dituang ke piring kecil.
“Pernah sekali ketemu tapi sebentar aja. Lupa dimana gitu. Papa punya dua anak laki-laki dari pernikahannya yang sekarang. Eh, Vir, ingat gak? Waktu kemarin di Bandara kan ada perempuan yang ngobrol sama Abang pas kita mau pulang? Nah, itu anak tunggal suami Mamah yang sekarang. Namanya Mba Shanti. Dia kuliah S1 dan S2 di Hukum UI loh Vir!”
“Eh, yang kemarin itu? Jadi itu kakak tiri Abang?”
“Iya, Mba Shanti itu pengacara, sama kayak Papa tiri Abang.”
“Abang dekat gak sama Mba Shanti? Vira tuh sebenarnya gak terlalu excited kenal sama anak-anak Papah. Kayaknya bagaimana gitu, mau ngobrol apa juga bingung. Masa sih tanya bagaimana rasanya jadi anak pelakor? Kalian dinafkahin gak sama Papah kalian yang tukang selingkuh itu?” ucap Vira dengan nada sarkas.
“Vir, jangan gitu ah, terkadang ada hal-hal yang kita sebagai anak tidak perlu ikut campur terlalu dalam. Maksud Abang, memang Mamah Vira yang terluka tapi Papah kamu itu sama sekali tidak pernah melalaikan perannya sebagai orangtua.”
Vira menghela napas lalu menghembuskannya dengan mata terpejam. “Yeah, you’re right [Iya, Abang benar].”
“Besok mau Abang antar ke Bekasi? Sekalian malam mingguan Vir! Dimana sih restorannya? Di Metmall?”
“Benar nih Abang mau antar Vira?”
“Jam berapa Vir acara sama Papah? Pagi, sore atau malam? Selama kalian makan nanti Abang ke toko buku dan setelahnya kita nonton berdua. Bagaimana?” usul Kosa antusias
“Kayaknya siang deh. Nonton film apa? Pokoknya jangan horror, Vira gak suka.”
“Justru kalau pacaran itu paling seru ya nonton horror Vir!”
“Vira tau banget maksudnya apa. Dasar mesum!"
__ADS_1
“Loh koq mesum. Justru ini merupakan strategi untuk melihat apakah perempuannya menjadikan laki-laki sebagai tempatnya bersandar dan meminta perlindungan saat dia dalam keadaan takut atau membutuhkan,” elak Kosa.
“Halah, strategi apaan? Modus itu namanya,” sungut Vira.
Kosa tertawa melihat Vira cemberut. Mereka kemudian diam sejenak ketika pesanan utama mereka datang. Dua porsi nasi ayam Hainan yang menjadi favorit mereka berdua, masih hangat dan siap untuk disantap.
“Jam berapa ke Jogja Vir? Hari Selasa kan?” tanya Kosa dengan mulut setengah penuh.
“Iya, Selasa sampai Jumat. Tapi diajak jalan-jalan sama Pak Herman ke Surabaya sampai Minggu. Abang pergi penelitian juga?”
“Gak ada acara sih kalau minggu depan paling ngerjain skripsi saja. Penelitian Pilkadanya Pak Irsyam masih dua minggu lagi. Soal rekruitmen staf lokal sudah beres semua. Matsuoka Sensei minta bantuan lagi ntuk penelitian batch 2 sekitar 10 hari ke Banyuwangi tapi waktunya masih tentative. Mungkin masalah perizinan dan dana.”
“Eh, diajak lagi ke Banyuwangi? Kereen. Jangan-jangan nanti Abang dikasih beasiswa ke Jepang lagi.”
Kosa tersenyum. Ada rasa bangga yang ditunjukkan di hadapan kekasihnya ini.
“Mudah-mudahan ya Vir. Prof. Ibrahim sama Mas Hamid dari Untirta juga ngomong gitu kemarin.”
------------------------
Dengan vespa abu tuanya, Kosa mengantarkan Vira menuju Bekasi dan tiba jam delapan pagi. Tampak Natha dengan celana pendek dan kaos spandeknya sedang menyiram tanaman hias. Wajah Natha dengan karakter kuat terlihat sedikit pucat tanpa riasan sama sekali. Netranya sedikit menyipit ketika Kosa memarkir motornya di sisa ruang garasi terbuka beranda rumahnya.
“Wiiii, akhirnya pulang juga Vir! Masih sama yang lama?” ujar Natha sambil terus mengarahkan selang air ke arah tanaman.
“Apaan sih Nath? Masih pagi juga!” sahut Vira pelan.
“Pagi Nath, maaf pagi-pagi sudah datang. Iya nih, Vira masih betah sama yang lama,” sapa Kosa sambil nyengir kuda tanpa memasukkan ke dalam hati sindiran halus dari Natha.
“Masuk aja. Ada Mamah di dalam. Kalian sudah sarapan belum? Mamah masak nasi uduk banyak.”
“Nath, Papah sama Mirna ada di rumah?” tanya Vira
“Mirna udah pulang dari kemarin malam. Kalau Papah ya biasa lah, sama keluarga barunya. Nanti elu sama Mirna ikut mobil gue. Anak-anaknya yang di sana ikut mobil Papah.”
“Kayaknya sih jam dua belasan lewat gitu lah.”
Vira mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh Kosa. Tidak ada orang, sepertinya Mamah dan Mirna ada di kamar masing-masing. Vira menaiki tangga menuju kamarnya sedangkan Kosa merebahkan dirinya di sofa hijau depan televisi dan mendesah lega. Sudah cukup lama dirinya tidak menjejakkan tubuh di rumah kekasihnya ini. Rasanya seperti kembali ke rumah sendiri.
Setelah sarapan, Vira segera mengikuti arah Natha menuju kamar, meninggalkan Kosa sendiri. Tatapan mata Natha memberi kode ada pembicaraan yang sifatnya pribadi antara dua saudari ini.
“Beneran Vir? Elu masih sama Kosa?” tanya Natha dengan suara cukup pelan karena menyadari kamarnya tidak kedap suara.
Vira terdiam.
“Kosa tau gak sih semua yang elu alami kemarin? Maksud gue, Kosa gak marah sama elu? Elu gak cerita?”
“Nath, gue memang belum cerita tapi gara-gara itu gue sempat putus sama Kosa. Dia minta balikan dan gue jahatnya merasa gue gak siap buat kehilangan Kosa,” jawab Vira pelan dan ada nada pilu dalam ucapannya.
“Gila aja kemarin, gak anaknya gak ibunya datang ke rumah. Untung aja gue yang nemuin. Koq bisa sih Vir, sampai ibunya tau alamat kita?”
Vira menghela napas panjang. “Seminggu ini kayaknya hidup gue kayak roller coaster, udah kayak apaan tau!”
“Gue cuma ingetin lo aja ya Vir, jangan pernah mainin perasaan orang. Gue memang gak terlalu suka Kosa tapi bukan berarti lo bisa memperlakukan orang seperti itu. Maksud gue, jangan membiarkan hati lo mendua dan mengambil keuntungan dari posisi rentan lo. Vir, lo itu adik gue dan gue sayang banget sama lo. Elu pasti ngerti maksud gue apa.”
Vira memalingkan wajahnya dan matanya mengerjap karena mulai ada kabut air yang menggenang.
“Tuh, kan, elu itu memang cengeng, bawa perasaan banget. Kayaknya elu tipe-tipe cewek yang memang rentan dan bikin cowok mendekat karena mereka merasa lo itu butuh untuk mendapatkan perlindungan dari mereka. Makanya demen deh cowok sama modelan yang kayak elu Vir,” tuding Natha yang memantik emosi Vira.
“Iih Nath, gue gak gitu ah! Jangan sembarangan menilai gue. Please put yourself in my shoes! Elu gak tau rasanya jadi gue.”
“Vir, sorry… I’m truly sorry, I didn’t mean to hurt you. Natha mendekap Vira, merasa bersalah karena kata-katanya yang melabeli Vira tanpa dasar yang kuat. Maafin gue ya Vir!”
__ADS_1
Vira hanya terdiam dan mencoba menahan genangan air yang berkumpul di sudut matanya.
“Gue nanti berangkat ke Metmall bareng sama Kosa aja Nath. Sekalian malam mingguan soalnya selasa sampai jumat gue harus ikut ke Dapilnya Pak Herman di Jogja. Jadi elu sama Mirna aja jalannya. Gue juga pulangnya ke Depok biar gak bolak balik.”
“Vir, kayaknya elu marah ya sama gue? Vir, jangan masukin ke hati dong kata-kata gue. Kan gue udah minta maaf. I’m sorry!”
Vira tidak ingin memperpanjang masalah meskipun ada rasa kesal menyelinap yang kemudian membuatnya meninggalkan kamar Natha. Entah karena tudingan atau karena merasa bahwa dirinya memang lemah menghadapi persoalan ini.
Di ruang keluarga, Vira mendapati Kosa tengah diapit oleh Mirna dan Mamah. Entah apa yang dibicarakan tapi roman muka Kosa tampak berseri bahagia. Vira membalas senyuman ketika mendapati Kosa menatapnya dengan sorot mata penuh binar. Vira kemudian berjalan menuju dapur dan membuatkan secangkir kopi susu gula aren favorit lelaki itu.
“Mir, sanaan duduknya. Jauh-jauh juga gak apa-apa. Gue mo ngomong sama Abang!” pinta Vira dengan nada menyuruh sambil menjejalkan dirinya mengisi ruang kosong antara Kosa dengan Mirna.
“Apaan sih Kak Vira. Kan udah sering ngobrol di kampus, satu jurusan pula, tempat kos kalian juga dekat, masih juga pengen ngobrol berdua di sini. Mirna kan juga ingin ngobrol sama Kak Kosa. Mirna mau cerita banyak. Mirna mau certain semua kejelekan Kak Vira, biar Kak Kosa tau semuanya,” ancam Mirna.
“Isssh, sana… sana. Cari pacar sendiri aja biar puas ngobrolnya. Bodo amat, Abang sudah tau semua kejelekan gue, tanya aja sendiri,” tukas Vira.
“Vir, ajak nak Kosa ke taman belakang saja ya sayang. Mamah sama Mirna di sini, mau nonton drama kemarin yang belum selesai,” ucap Mamah bijak menengahi pertengkaran kecil kedua anak gadisnya.
“Eh iya Mah, jawab Vira cengengesan lalu menarik tangan Kosa. Yuk Bang, kita ke belakang saja! Eh sebentar. Abang duluan aja, Vira mau bawa kopi Abang sekalian sama camilan.”
------------------------------
Luas taman belakang tidak terlalu luas, hanya sekitar lima belas meter persegi. Berbeda dengan taman depan yang cenderung diisi oleh tanaman hias dan bunga-bunga kesukaan Mamah, taman belakang justru ditanami sayuran, tanaman buah dalam pot, dan apotik hidup. Tampak beberapa pohon tomat ceri merah dan kuning bergelantungan dan juga pohon cabe rawit yang masih berwarna putih kekuningan. Ada pot dengan terung ungu panjang dan juga terung hijau bulat. Dalam rak yang bergelantungan di dinding taman ada tanaman kemangi, daun bawang, pakcoy, dan tanaman rempah lainnya.
“Kayaknya makin subur aja ya Vir sejak terakhir ke sini.”
“Natha yang bantuin ngurus. Rajin dikasih pupuk!”
“Natha masih ngerjain skripsi? Kapan sidang?” tanya Kosa beruntun.
“Kayaknya sebentar lagi mau selesai skripsinya, makanya di rumah terus. Paling ke kampus cuma ketemu pembimbing buat urus revisi sebelum sidang.”
“Kenapa Natha telat satu semester Vir? Kayaknya Natha rajin, harusnya bisa lulus semester kemarin bukan?” tanya Kosa lagi.
“Semester tujuh lalu Natha dapat magang kerja empat belas minggu di UNICEF Swedia, sekalian ambil course non-sks di Lund University, ya gitu deh jadi kuliah di sini ditinggalin satu semester.”
“Oh, bagus dong, experience is the teacher of all things [pengalaman adalah guru semua hal]. Gak semua orang bisa dapat kesempatan seperti itu,” puji Kosa untuk Natha yang membuat Vira agak sedikit jengah.
Vira terdiam sebentar. Ada rasa ragu untuk memulai topik pembicaraan ini. Karena sungguh Vira ingin melupakan hal-hal lalu yang menyakitkan namun ada bagian dirinya yang juga menginginkan kebenaran atas tudingan Natha padanya tadi.
“Abang, hhmm… Vira mau tanya. Hhmm, jadi begini…. Hhmm….”
Kosa terdiam dan menatapnya dengan sorot mata lembut. Menunggu Vira yang tampak kesulitan untuk menguraikan kata-kata.
“Abang, itu.. kenapa sih, hhmm… kenapa Abang mau gak mau putus dari Vira? Maksud Vira, kenapa Abang minta balikan? Maksud Vira, itu… kenapa, eh maksud Vira, ada banyak hal yang Abang lihat dan sebenarnya Abang paham kalau Vira ini jahat sama Abang, sudah menyakiti hati Abang. Kenapa hhmm….”
“Ssttt… sudah ya sayang, jangan dibahas lagi. Abang sayang sama Vira. Tidak perlu mengungkit hal-hal yang menyakitkan hati,” tukas Kosa memotong ucapan Vira
“Tapi Vira benar ingin tau kenapa Abang begitu baik sama Vira!”
“Abang gak bisa lihat Vira sedih. Abang hanya ingin Vira bahagia.” Sorot mata Kosa berusaha untuk meyakinkan Vira
“Eh, maksudnya Abang?” tiba-tiba tatapan Vira seketika berubah menjadi tajam.
“Maksudnya apa? Abang jadi gak ngerti,” ujar Kosa sedikit bingung.
“Abang pasti melihat Vira sebagai perempuan yang mudah sedih dan rentan untuk disakiti. Jadi Abang merasa ingin melindungi Vira kan? Abang ingin hadir sebagai pihak yang superior dan menjadi pahlawan bagi perempuan yang lemah. Begitu kan maksud Abang?”
“Vir, koq jadi begini sih? Abang gak bilang begitu,” ucap Kosa membela diri. Sungguh Kosa kaget dengan reaksi Vira yang tendensius, di luar dari dugaan,
“Laki-laki itu memang semua sama. Senang dengan perempuan yang terlihat lemah, seolah ingin menjadi pelindung. Menjadi laki-laki yang menghapus air mata perempuan. Begitu kan? Itu maksud Abang kan?” tanya Vira dengan berapi-api.
__ADS_1
Kosa menghela napasnya sambil memejamkan matanya sebentar. Digenggamnya tangan Vira dengan lembut. “Sayang, Abang gak pernah mikir seperti itu. Vira kenapa sampai bisa mengambil kesimpulan kayak gini?”
Entah apa yang merasuki Vira, tiba-tiba dirinya menjadi bingung sendiri dan merasa bersalah dengan apa yang diucapkannya kepada Kosa. Vira menarik tangannya dari genggaman Kosa kemudian berdiri, meninggalkan Kosa sendiri dalam diam.