Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
Love Brings Pain and Pain Brings Beauty


__ADS_3

^Cinta Membawa Luka dan Luka Membawa Keindahan


Vira memandangi seisi ruangan yang tidak berubah selama tiga minggu lebih dirinya tidak pulang. Tidak ada yang berubah. Semua tertata rapi pada tempatnya. Mama mengatur rumah dengan telaten. Membuat Vira selalu rindu dengan rumah yang memberikan kenyamanan ini.


Dihempaskan tubuhnya ke sofa hijau tua di ruang keluarga. Ada Natha dan Mirna di sana yang berkumpul setelah mengantarkan Mamah yang dijemput Tante Hana baru saja.


“Jadi, siang ini kita makan apa?” tanya Mirna kepada kedua kakaknya.


“Gue bosen sama makanan luar Nath. Pengen masakan rumah aja. Masak yuk!” ajak Vira.


“Beli aja sih Vir. Gue males banget masak. Tiap hari gue makan masakan Mamah, lagian ntar sore gue mau pergi jalan sama temen,” sahut Natha menolak ajakan masak Vira.


“Jalan sama siapa Nath? Malem mingguan?” tanya Vira heran.


Natha hanya tertawa dan tidak menjawab. Mirna yang biasa usil juga tidak menimpali. Mirna sibuk mencari-cari film yang akan ditonton di saluran berbayar.


“Jadi, sebenarnya bagaimana Vir?”


“Bagaimana apanya?”


“Ya elu sama Cokro. Kamis kemarin dia dateng tau. Meskipun elu gak ada, dia tetap ngobrol sama Papah Mamah. Gak tau juga dia ngomongin apa tapi kayaknya Papah senang aja sama dia.”


“Mir, masuk kamar sana!” perintah Vira yang tidak ingin adiknya ini mendengar ceritanya tentang Cokro.


“Apaan sih? Cuma cerita gitu doang,” dengus Mirna kesal. Dirinya menolak untuk meninggalkan ruangan dan bersikeras ingin menonton drama Korea meskipun sebenarnya ingin juga mengetahui cerita kakaknya itu.


“Tapi jangan usil ngomentarin gue ya! Awas aja kalo bikin kesel.”


“Iiih, siapa juga yang usil?” sahut Mirna tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.


“Sebentar Vir, sebentar,” pinta Natha yang berjalan cepat ke arah dapur lalu kembali dengan beberapa snack di tangannya.


Vira mendengus. Entah kenapa dirinya merasa ceritanya akan menjadi sebuah kolosal dan tidak lagi mengandung privasi. Tampak Natha mulai membuka bungkusan popcorn rasa karamel dan Mirna mulai mengecilkan suara dari drama Korea yang sedang ditontonnya.


“Jadi Vir, kenapa elu bisa diantar pulang sama Cokro?”


“Temen gunung gue si Bobby ngajakin makan di Ancol karena mau pergi. Gue pikir dia cuma ngundang gue doang, makan berdua, eeh ternyata semua diundang. Gue gak kepikiran Mas Cokro bakalan datang.”


“Trus kenapa elu bisa pulang bareng dia? Kan elu bisa pulang naik taksi online?”


“Kan gue udah bilang Nath, kalau gue itu di depan Mas Cokro kayak apaan, gak bisa nolak. Mas Cokro maksa nganterin gue pulang dan ngomong tentang perasaannya.”


“Perasaannya ke elu gimana? Kayaknya si Cokro cinta sama elu ya Vir, abisnya datang terus ke rumah, bawa hadiah pula.”


“Mas Cokro sih cuma bilang kangen. Gak ngerti ah, gue jadi bingung sendiri Nath.”


“Masa sih cuma bilang kangen? Gak percaya gue. Feeling gue sih lebih dari itu. Jangan bohong sama saudara sendiri.”


“Ah elu Nath, vulgar banget sih nanyanya.”


“Kak Vira ngomong aja yang jujur. Mirna gak akan komentar koq,” celetuk Mirna.


“Iish elu Mir, ngomongnya gitu banget.”


“Benar kata Mirna, Vir! Elu harus ngomong apa adanya,” tandas Natha yang menguatkan pendapat Mirna.


Vira terdiam sejenak. Ada rasa malu dan enggan yang bercampur jadi satu jika dirinya berkata seutuhnya tentang apa yang terjadi antara dirinya dengan Mas Cokro kemarin malam. Meski di depan Natha dan Mirna, saudara kandungnya sekali pun. Vira menghela napasnya dalam-dalam.


“Iya, Mas Cokro meluk dan nyium gue. Gue sama sekali membiarkannya. Gak ada penolakan dari gue,” ucap Vira lirih berterus terang.


Natha menghela napasnya mendengar jawaban Vira dan mata Mirna mendelik sembari menahan mulutnya agar tidak berkomentar satu kata pun.


“Gue jahat ya Nath. Gue ngerasanya gimana gitu. Gue sama sekali gak ingin begini, gue udah sengaja menghindar dari Mas Cokro tapi koq ya bisa bertemu lagi dan terulang lagi. Gue ngerasa jahat banget sama Kosa. Bingung gue Nath.”


Natha terdiam dan tatapan Mirna menjadi lebih lunak. Tampaknya drama Korea yang dipilih tidak lagi menarik untuk ditonton.


“Gue itu sayang banget sama Kosa. Dia ngajarin gue banyak hal Nath, bahkan ngajak gue penelitian bareng. Sering banget kasih dukungan ke gue. Tapi dengan Mas Cokro ada perasaan baru yang beda dari yang gue rasakan selama ini sama Kosa.”

__ADS_1


Terdengar suara Natha tertawa miris. “Duh Vir, koq ya baru sekali pacaran kisah cinta lo udah seribet ini,” gumam Natha pelan.


“Menurut Mirna sih mending gak usah sama dua-duanya. Biar gak ada yang disakiti. Bilang aja sibuk kuliah,” saran Mirna tanpa diminta.


“Elu harus berpikir rasional Vir. Buat skala kelebihan dan kekurangan dari keduanya. Pilih yang menguntungkan buat elu,” saran Natha yang terdengar aneh di telinga Vira.


“Maksud lo menguntungkan? Elu mau gue berhitung ala kapitalis gitu Nath? Ah gila aja. Indikatornya apa? Materi? Gue gak pernah melihat orang dari materinya Nath. Asal elu tau aja Nath, gue bukan cewek matre.”


“Bukan gitu maksud gue Vir. Elu kan belajar teori pilihan rasional. Setidaknya kalau elu suka dua-duanya, elu bisa berpikir di luar rasa suka itu. Elu bisa memilih berdasarkan aspek lainnya. Misalnya perhatian, yang paling ganteng, kepintaran, dan termasuk juga materinya. Gue tau koq elu bukan cewek matre, tapi materi itu bisa jadi salah satu pertimbangan elu saat memilih. Gak usah merasa tersinggung. Gue rasa semua cewek juga mikirin materi koq Vir!” jelas Natha panjang lebar.


“Mir, kalau elu disuruh milih cowok yang naik motor apa naik mobil, elu pilih siapa?” tanya Natha ke Mirna.


“Mirna sih pasti milih Kak Kosa yang naik motor,” jawab Mirna tanpa ragu.


“Gue gak nyuruh elu milih antara Kosa atau Cokro. Tapi gue nanya elu lebih suka cowok yang naik motor apa naik mobil?” tanya Natha sekali lagi.


“Hhmm, yang naik mobil sih, biar gak kepanasan atau kehujanan,” jawab Mirna pelan.


“Nah, maksud gue gitu Vir. Gak ada cewek yang gak suka materi. Cuma ya pakai skala prioritas. Apakah skala utamanya itu cinta atau materi. Gue jujur saja sama elu ya Vir, Kosa disukai karena tampang, pintar, dan jaringannya dalam kampus kuat. Tapi kalau materi kayaknya Kosa gak deh! Gue gak pernah lihat dia pakai barang branded gitu.”


“Gila lo Nath, gue sama sekali gak kepikiran kayak begini. Baik Kosa atau Mas Cokro sama sekali bukan materi yang gue lihat dari mereka, sumpah!” tegas Vira sekali lagi.


“Ya terserah elu Vir, pilihan lu seperti apa nanti. Tapi menurut gue sih, elu harus pilih salah satu yang terbaik, jangan salah pilih!”


“Gue itu ya Nath, takut banget kalau gue bakalan nyakitin perasaan orang yang sudah baik ke gue. Gue takut nanti berbalik ke gue lagi,” ucap Vira lirih.


“Maksud lo karma?” tanya Natha.


“Gw kasih tau ya Vir, si Kosa sebelum sama elu dia udah mutusin banyak cewek, salah satunya Rossa, temen gue. Kalau elu mutusin Kosa, anggap aja itu karmanya Kosa. Gak usah mikir yang aneh-aneh,” tandas Natha.


“Kak Natha, pesan pizza Kak, dengar pembicaraan kalian bikin perut Mirna lapar nih!” pinta Mirna.


Natha membuka ponselnya dengan sidik jari lalu diberikan ke Mirna. “Terserah elu pesan apa Mir, jangan lupa pesanin gue salad sama lasagna. Kode ccv gue 988. Vir, elu mau pesan apa?”


“Salad aja deh! Gue sebenarnya pengen masakan rumah. Paling gue nebeng pizza aja sepotong dua potong,” jawab Vira.


“Tapi Nath, jahat banget gak sih cewek yang mutusin pacarnya yang gak salah apa-apa? Gue gak punya niat sama sekali mutusin Kosa tapi kalau seandainya itu terjadi, kayaknya koq gue ngerasa jadi perempuan yang gak punya perasaan.”


“Yaelah Vir, orang nikah aja bisa cerai, apalagi cuma pacaran. Yang harus lo ingat bahwa dalam menjalankan sebuah hubungan, harus didasarkan rasa suka, rasa cinta, bukan cuma kasihan apalagi terpaksa. Kalau elu atau Kosa nemu cinta yang baru, gak usah dipaksain yang lama. Gak usah kasihan atau merasa diri lo jahat karena mutusin.”


“Wah Nath, elu itu radikal juga cara mikirnya ya, gak nyangka gue!” ucap Vira terperangah.


“Kosa itu juga suka mutusin cewek koq. Dan kayaknya dia gak pernah ngerasa kalau diri dia itu jahat. Dalam hubungan laki-laki perempuan, putus itu biasa, apapun alasannya. Gak usah didramatisir!” tegas Natha.


“Kayaknya elu emang gak terlalu suka sama Kosa ya Nath!”


“That’s not my point [bukan itu yang ingin gue sampaikan], gue cuma ingin elu gak usah stress apalagi sampai main petak umpet yang merugikan diri elu sendiri hanya gara-gara urusan asmara. Kalau pertama pacaran udah bikin elu stress, gimana nanti!” tandas Natha yang diiringi dengan suara tawa yang sinis.


Vira terdiam. Otaknya berpikir keras. Meskipun apa yang dikatakan Natha benar tapi seperti bukan dirinya. Mirna tampaknya mulai mengalihkan kembali perhatian ke drama Korea yang sedari tadi diabaikannya.


“Mas Cokro itu duda Nath, istrinya sudah lama meninggal karena sakit,” ungkap Vira.


“Menurut lo itu masalah gak? Punya anak?”


“Gue gak mikirin itu sih Nath, gue juga gak tau kalau Mas Cokro punya anak atau enggak. Kayaknya sih gak punya.”


“Semua keputusan ada di tangan lo koq Vir. Gak usah ragu dan plin-plan. Gak suka gue lihatnya!” Natha menegaskan kembali maksudnya.


“Mir, tumben elu gak komentar. Kenapa?” tanya Natha sedikit heran.


“Mirna kan janji Kak gak akan komentar, nanti Kak Vira malah marah. Tapi kalau disuruh milih sih Mirna lebih suka Kak Vira sama Kak Kosa. Gak tau juga kenapa. Mungkin karena Mirna lebih kenal sama Kak Kosa daripada Mas Cokro. Mirna cuma tau Mas Cokro ganteng, coklatnya yang dikasihnya enak-enak dan mobilnya mewah. Orangnya gak Mirna kenal sama sekali."


“Udah sih Vir, milih tuh bukan karena gue atau Mirna sukanya yang mana. Tapi milih dari hati dan pikiran elu sendiri.”


Pembicaraan mereka terhenti ketika ada dering bell yang tak henti. Menandakan ada tamu yang datang berkunjung.


“Mir, bukain pintu. Kayaknya kurir pizza deh!” perintah Natha yang langsung membuat Mirna beranjak dari sofa menuju pintu depan.

__ADS_1


Tiba-tiba Mirna kembali cepat dari ruang tamu menuju ruang keluarga.


“Kak Vira, itu ada tamu. Cowok!”


Vira kaget. “Siapa Mir? Kosa atau Mas Cokro?”


Ada rasa takut menerpanya jika salah satu dari mereka hadir ketika pembicaraan tentang mereka baru saja selesai dibahas.


“Bukan dua-duanya, tapi cakep banget. Kayak mahasiswa juga. Temen Kak Vira kali?”


Vira langsung berpikir teman-teman cowoknya. Handoko? Aldo? Kak Danu? Kak Agus? Kayaknya bukan mereka karena Mirna bilang cakep banget.


Bergegas Vira setengah berlari menyusuri tangga, menuju ke kamarnya. Berganti baju dan memakai jilbab kausnya.


 


Ternyata Gani yang didapati Vira di ruang tamu. Lelaki muda dengan sedikit janggut di dagunya dan wajah yang teduh kini hadir di hadapannya. Anak anggota Dewan yang dulu pernah melamarnya datang dengan pakaian kasualnya. Berbeda dengan terakhir bertemu yang memakai kemeja formal.


“Mas Gani masih ingat jalan ke rumah Vira? Koq bisa?” tanya Vira takjub karena bahkan dua hari lalu tanpa turun, Vira langsung meminta Gani mengantar kembali ke Depok.


Gani tersenyum. “Maaf langsung ke sini tanpa izin. Kamu sama sekali tidak membalas pesan chat, saya jadi khawatir. Ada pesan yang ingin saya sampaikan!”


Vira tersenyum malu. Sejak Bersama Mas Cokro, dirinya sama sekali melupakan ponselnya. Hanya dipakai untuk mengabari Natha agar membuka pintu rumahnya kemarin malam. Sama sekali melupakan seluruh pesan yang masuk. Sama sekali tidak berkeinginan membuka pesan-pesan lain bahkan yang mungkin dari Kosa sekalipun.


“Maaf Mas Gani, kemarin Vira gak sempat buka ponsel bahkan sampai sekarang juga gak sempat. Mohon maaf sekali lagi!”


“Gak apa-apa Vir. Saya yang minta maaf datang ke rumah Vira tanpa meminta izin terlebih dahulu.”


“Ah, gak apa-apa koq Mas Gani.” Vira tersenyum hangat kepada lelaki dihadapannya ini. Ada dua pasang mata yang melirik ke arah ruang tamu. Seperti menunggu untuk diperkenalkan.


“Ada pesan apa Mas sampai harus datang ke rumah. Koq yah jadi merepotkan Mas Gani saja!”


“Kak Lydia ada acara. Dia bilang saya boleh ajak kamu ke acaranya. Mungkin kalau kamu berkenan pergi, saya akan senang hati. Minggu depan saya akan berangkat kerja untuk memulai kerja di Riau.”


“Oh, acaranya Mba Lydia. Waah, gak nyangka Mba Lydia ingat saya, padahal baru bertemu dua kali.”


“Acaranya besok malam. Besok saya jemput di sini, mungkin pulangnya sekalian saya antar kembali ke Depok. Kamu senin ada kuliah kan? Jadi tidak sampai merepotkan kamu.”


“Mas Gani koq baik banget sih sama Vira, jadi gak enak Mas!”


Terdengar bunyi bell dan Vira langsung membukakan pintunya. Ternyata kurir yang mengantarkan pesanan pizza. Vira membawa setumpuk kotak kardus berisi pizza dan kontainer berisi salad, lasagna, dan snack yang dipesannya.


Gani dengan sigap membantu Vira, mengambil beberapa kontainer berisi salad dan lasagna dan membuntuti Vira masuk ke dalam ruang keluarga, setelah dipersilahkan oleh Vira. Tampak di sana Natha dan Mirna yang sudah menunggu dengan raut wajah yang seolah meminta penjelasan.


“Mas Gani, kenalin ini Natha, Kakak Vira dan ini Mirna, adik Vira,” ucap Vira memperkenalkan keluarganya.


“Mamah dan Papah lagi gak di rumah Mas, jadi cuma ada bertiga. Makanya pesan makanan online saja biar gampang dan gak repot.”


Natha dan Mirna tersenyum, masih dengan wajah yang sama. Wajah yang ingin meminta penjelasan.


“Nath, Mir, ini kenalin Mas Gani, lulusan fakultas Teknik UI, baru aja lulus. Kebetulan Mas Gani ini anaknya Pak Herman Sasongko, anggota dewan tempat Vira magang.”


“Berarti elu seangkatan gue dong! Please deh Vir, bahasa lo koq jadi super sopan gitu sih?” tanya Natha langsung tanpa tedeng aling-aling.


Gani mengangguk dan tersenyum ramah.


“Duduk di ruang keluarg sini aja ya Mas Gani, sekalian ikut makan siang sama kita. Kebetulan banget kita pesan makannya banyak,” ucap Vira menawarkan.


“Tidak usah Vir. Saya pulang saja. Tidak baik mengganggu di jam makan siang.”


“Apaan sih Mas Gani, makan saja dulu. Gak sopan Mas kalau menolak ajakan makan tuan rumah,” kilah Vira yang kemudian membukakan kontainer berisi salad, memberikan sausnya dan menyerahkannya kepada Gani.


“Jangan Vir, ini cuma ada tiga kontainer. Jangan kasih jatah kamu ke saya. Saya makan pizza saja.”


“Ambil Mas, gak apa-apa koq. Nanti Vira bisa minta dari Natha dan Mirna."


Gani lebih banyak diam dan tersenyum meskipun dari raut wajahnya tampak menikmati keberadaannya di ruang keluarga ini. Terkadang hanya Vira yang banyak bicara dan sesekali Natha yang menimpali. Mirna sendiri tampak fokus dengan drama Koreanya.

__ADS_1


__ADS_2