
Kosa dan Vira berjalan menuju tempat parkiran motor yang terletak di samping Gedung H, berseberangan dengan Fakultas Ilmu Budaya. Ingin rasanya Kosa menggandeng tangan Vira tapi itu tidak mungkin.
Kosa menempatkan Vespa PX 150 miliknya di dekat pos satpam, persis di sebelah pintu gerbang. Kebetulan Kosa datang pagi sekali saat belum banyak mahasiswa yang menitipkan motornya di sana sehingga dirinya leluasa mencari tempat parkir.
Sengaja Kosa menempatkannya di sana agar mudah keluarnya. Parkiran motor di kampusnya selalu penuh bahkan sampai parkir paralel. Terkadang bahkan harus meminta bantuan satpam yang bertugas untuk membantu memindahkan posisi motor yang menghalangi jalan keluar masuk.
Tampak dua orang satpam yang bertugas di tempat parkiran yang sedang asyik minum kopi dan menonton berita di televisi.
“Eh, Nak Kosa sudah mau pulang? Tumben cepat biasanya sore atau malam baru pulang,” tanya Pak Satpam dengan nama Suryono seperti tertera di label yang tersemat di dada kirinya.
“Iya Pak, ini ada urusan sebentar sama teman soal penelitian.” Kosa menjawab hati-hati agar Vira tidak menganggapnya aneh.
“Sama nona yang manis ini urusannya ya nak Kosa? Bapak doakan semoga langgeng.” Pak Suryono tertawa kecil
Vira ikut tertawa kecil menanggapi, tidak menunjukkan reaksi marah atau tersinggung. Kosa bersyukur, sepertinya hari ini berbeda.
“Vir, ini dipake ya helmetnya.” Kosa menyodorkan helmet berwarna biru muda ke arah Vira.
“Loh, tumben Kak bawa helm cadangan. Ini sepertinya masih baru.”
“Eh gak koq Vir. Itu tadi pas mo ngampus ngeliat ada yang jualan. Ya dibeli aja buat penglaris,” elak Kosa.
“Baik banget sih Kak. Helm-nya juga bagus koq. Jadi kalau ada yang nebeng ya gak khawatir lah.”
“Maksudnya memang gitu koq Vir.” Kosa tersenyum lagi.
Kosa mengendarai Vespa-nya dengan santai sembari mengajak Vira bercakap-cakap sepanjang perjalanan. Vira sesekali menanggapinya dengan sedikit teriak dan tertawa ringan.
__ADS_1
Langit biru dengan awan menggantung, semilir angin yang berhembus membelai dan memberi kesejukan. Kosa merasa hari ini adalah hari terbaiknya.
Sesampainya di Café Gerimis, Kosa memilih tempat yang sama untuk parkir. Memilih meja yang sama seperti kamis lalu. Memilih kopi susu dan memesankan teh lemon hangat untuk Vira yang sedang tersenyum manis ke arahnya.
“Vir, makan dulu ya, pasti lapar kan?” Kosa menyodorkan daftar menu ke Vira.
“Menu favorit di sini apa Kak?”
“Enak semua Vir, tapi elu harus nyoba chicken cordon bleu sama ayam penyetnya, asli nagih banget.” Kosa begitu bersemangat merekomendasikan makanan favoritnya ke Vira.
“Mau ayam penyetnya aja Kak pakai tempe tahu.”
“Ok, sip!” Kosa memberikan kode kepada staf Café yang kemudian mendatangi dan menuliskan pesanannya.
Sembari menunggu makanan, dilihatnya Vira memejamkan mata saat mendengar alunan merdu suara Once Mekel yang menyanyikan lagu Dealova yang bercampur suara lambat gemericik air kolam belakang.
aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
karena langkah merapuh tanpa dirimu
oh karena hati tlah letih
aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh
aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu
tanpamu sepinya waktu merantai hati
__ADS_1
oh bayangmu seakan-akan
reff: kau seperti nyanyian dalam hatiku
yang memanggil rinduku padamu
seperti udara yang kuhela kau selalu ada
hanya dirimu yang bisa membuatku tenang
tanpa dirimu aku merasa hilang
dan sepi
“Vir, gue bisa nyanyiin lagu ini buat elu kalau elu mau,” gumam Kosa pelan sambal menatap wajah Vira yang masih memejamkan mata.
“Eh, apa Kak maksudnya?” Vira tetiba membuka matanya.
Kosa gelagapan, salah tingkah. “Eh ini, itu… gue…gue hapal koq liriknya. Kalau elu suka gue bisa nyanyiinnya atau kita karaoke bareng aja di Marcy. Ntar abis penelitian kita karaoke bareng sama tim pengumpul data.” Duuh, bisa juga Kosa ngelesnya.
“Hahaha, jangan deh Kak, suaraku parah banget,” elak Vira sambil mentertawai diri sendiri.
Pesanan chicken cordon bleu untuk Kosa dan ayam penyet komplet untuk Vira datang. Kosa kembali memesan dua botol air mineral ukuran sedang.
“Jaga-jaga Vir, itu sambalnya penyetnya pedas banget,”
“Hahaha…tenang, biasa koq Kak. Mamah suka bikin ini di rumah. Eh, Vira makan pakai tangan ya Kak? Gak apa-apa kan?”
__ADS_1
“Santai aja Vir sama gue sih.”
Sebenarnya Kosa agak kaget kenapa Vira bisa bersikap manis dan terbuka seperti ini di depannya. Seperti bukan dengan perempuan yang baru dikenalnya tiga bulan lalu tapi lebih dari itu, seperti perempuan yang sudah lama hadir dalam hidupnya.