
Mirna nyaris menubruk tubuh kakaknya ketika tanpa pemberitahuan langkah Vira terhenti begitu saja di depannya.
“Ih Kak, berhenti seenaknya aja sih!” keluh Mirna memprotes apa yang barusan terjadi.
Mirna melongok ke arah meja yang akan ditempati mereka. Terlihat oleh mata Mirna ada Kosa yang menatap lurus dengan sorot mata terkejut ke arah Kakaknya. Kosa sedang bersama tiga orang perempuan yang tampak sebaya dengan dirinya.
“Eh, Kak Kosa ada sini,” sapa Mirna memecahkan diamnya Vira.
Kosa bangkit berdiri dan menghampiri Vira.
“Vir, kamu di sini?” tanya Kosa pelan nyaris seperti bisikan.
Lidah Vira kelu, tatapan Kosa kepadanya seolah membekukan setiap kata yang ingin ia ucapkan. Kosa menyadari ini.
“Vir, tunggu sebentar ya!”
Dihampirinya Trisha, Niken, dan Fransiska. Meminta maaf bahwa dirinya tidak bisa menemani makan bersama mereka.
“Mirna, sudah makan?” tanya Kosa kepada adiknya Vira.
“Kak Kosa mau kemana? Mirna belum makan. Jangan ditinggalin.”
“Kamu mau makan sama mereka?” tanya Kosa sambil menunjuk ke arah Trisha, Niken, dan Fransiska.
“Ah, gak mau Kak, Mirna gak kenal,” jawab Mirna sambil menggelangkan kepalanya.
“Please Mir, sebentar aja. Makan sendiri dulu ya! Kakak ada urusan sama Vira,” pinta Kosa penuh harap.
Mirna terpaksa mengangguk lalu mencari meja sendiri. Dipikirnya ini lebih baik daripada berbagi dengan tiga orang perempuan yang sama sekali tidak dikenalnya.
Kosa menuntun Vira menaiki tangga menuju lantai dua Café Gerimis. Menuju meja kosong yang terletak di balkon belakang. Hanya berdua di sana. Seolah semesta memberikan ruang dan waktu bagi mereka untuk bicara.
Tampak mata Vira memerah dan berkaca-kaca. Buliran air menumpuk di matanya namun tertahan dan tak kunjung turun.
Kosa merengkuh Vira dan mendekatkan dengan tubuhnya. Membiarkan Vira meluapkan apa yang ada dalam hati dan pikirannya. Membiarkan air mata Vira menjadi jawaban sementara yang Kosa butuhkan.
Suara gemericik air sayup mulai terdengar di telinga Kosa ketika isakan tangis Vira terhenti.
“Sudah?” tanya Kosa pelan yang dibalas dengan anggukan Vira.
“Abang, Vira minta maaf.”
“Abang juga minta maaf ya, gak hubungin Vira selama ini!”
Mereka lalu terdiam. Meski ada banyak yang ingin dibicarakan tapi kata maaf yang diucapkan mampu membuat perasaan gelisah yang ada menjadi lebih tenang.
__ADS_1
“Mau makan? Sudah lapar kan?” tanya Kosa.
Vira tersenyum mengangguk. Perutnya yang berbunyi tak bisa menyimpan kebohongan meski dalam suasana seperti ini sekalipun.
“Mau makan di sini, berdua sama Abang atau di bawah sama Mirna?” tanya Kosa kembali.
“Di bawah aja Bang, sama Mirna,” jawab Vira sambil menggosok hidungnya yang gatal dan memerah karena menangis cukup lama.
Mereka turun ke bawah mendapati Mirna yang sedang asyik bermain dengan ponselnya. Tampak Trisha, Niken, dan Fransiska sudah tidak ada. Mejanya pun sudah dibersihkan oleh pegawai Café.
“Mir, pindah ke belakang aja yuk!” ajak Kosa yang menghampiri Mirna, mengajaknya ke meja favoritnya.
“Berantemnya udah Kak? Koq gak ada suaranya?” tanya Mirna ngasal.
Kosa mengacak-ngacak rambut Mirna. “Kamu ini, kalau ngomong selalu lucu! Kenapa belum makan?”
“Nungguin Kak Vira, kalau makan duluan takut gak dibayarin,” jawab Mirna nyengir.
Mereka makan bertiga. Kosa dan Vira tampak tidak terlalu peduli dengan apa yang akan mereka makan sehingga membiarkan Mirna yang memilih menunya. Mirna sibuk bicara dengan Kosa sedangkan Vira lebih banyak diam.
“Sampai kapan kos di tempat Natha, Mir?” tanya Kosa sambil menyeruput es kopi susunya.
“Sampai selesai OBM aja Kak, ntar balik ke rumah. Kuliahnya juga baru mulai awal September. Nanti kos lagi tapi cuma sebentar aja,” ujar Mirna sambil mengaduk-aduk es teh manisnya agar dingin dan manisnya merata.
“Kamu bisa pulang sendiri gak Mir?” tanya Kosa.
Kosa tertawa. “Yaudah dianterin deh tapi nanti pinjem Viranya ya!”
“Ambil aja gak usah dibalikin,” sahut Mirna kesal.
------------------------------------------------------------
Setelah mengantarkan Mirna kembali ke tempat kos Natha, Kosa mengajak Vira jalan berdua. Menyusuri arah jalan kecil yang menghubungkan antara Kukusan Kelurahan dengan Kukusan Teknik. Mereka berdua berjalan, saling menggenggam tangan dan tak banyak bicara.
“Mau ke tempat kos Abang?” tanya Kosa.
Vira mengangguk. Mereka membutuhkan ruang kosong hanya berdua untuk bicara. Pembicaraan dari hati ke hati. Mungkin tempat kos Kosa adalah tempat yang tepat untuk ini.
Rumah kos yang ditempati Kosa sepertinya rumah model lama, berbeda dengan rumah kos Natha yang bangunannya masih baru, kuat, dan kokoh. Rumah ala Betawi ini memiliki teras yang cukup besar dan diisi kursi-kursi bambu. Ada papan berwarna putih tertulis kata-kata yang membuat Vira tersenyum. “Tamu Perempuan Cukup Sampai Di Sini, Masuk Kamar Langsung ke KUA.”
“Mau masuk ke kamar Abang?” tanya Kosa dengan muka serius.
Vira tertawa. Telunjuknya dihadapkan ke arah papan putih tersebut lalu menggelengkan kepalanya.
“Abang sih siap kapan pun Vira mau,” sahut Kosa nyengir.
__ADS_1
“Abang ngaco ah!” ujar Vira.
Mereka duduk terdiam di kursi bambu yang panjang. Warna pelitur coklatnya sudah memudar, menyisakan warna asli bambu kering yang lusuh.
Baik Vira dan Kosa sama-sama berusaha menyusun kata-kata yang tepat untuk disampaikan. Agar tidak ada silap kata atau yang membuat hati merana.
“Abang …….” ucap Vira memulai percakapan.
“Vira mau putus dari Abang?” tanya Kosa tiba-tiba menyela ucapan Vira.
“Abang mau putus?” Vira balik bertanya. Wajahnya pias karena terkejut dengan ucapan Kosa barusan.
“Sama sekali gak mau. Hanya saja Abang kepikiran kalau Vira yang ingin putus.”
Kosa menatap Vira yang matanya mulai memerah. Ada genangan di sudut matanya yang mulai turun perlahan.
“Abang…Abang, Vira minta maaf. Benar-benar minta maaf.”
Kosa merengkuh Vira. “Abang percaya Vira, tidak usah minta maaf. Abang percaya!”
Suara Vira bercampur dengan isak tangis meski pelan terdengar.
“Abang, Mas Cokro sudah mencium Vira dan Vira membalas ciumannya. Vira benar-benar minta maaf.”
Kosa diam seketika. Rengkuhannya mengendur. Tak menyangka dengan ucapan yang baru saja didengarnya. Seperti dentuman yang memekakkan telinga dan membuatnya hilang kesadaran. Kosa tidak tahu harus menjawab apa. Terpaku menatap lurus ke depan, meski dengan pandangan yang mulai berbayang.
Rasa sakit yang pernah muncul ketika Vira memakai payung berdua dengan lelaki itu saat hujan kini kembali. Berlipat menghantam dada Kosa. Hantaman yang membuat energi dalam tubuhnya memanas. Tangannya mengepal erat dan ingin rasanya memukul sesuatu. Pukulan yang mampu menghilangkan energi itu. Pukulan yang bisa meredakan panas yang ia rasakan.
Vira terdiam. Menyadari pengakuannya yangi membuat Kosa merenggangkan pelukannya. Melihat kepalan tangan Kosa yang bergetar. Vira bersiap dengan perkataan Kosa yang akan membuat hatinya sakit. Vira menunggu perkataan itu dalam diamnya.
Lama Kosa mematung. Sampai kepalannya kembali terbuka. Sampai suhu tubuhnya mereda. Sampai bayangan di matanya kembali menghilang dan mendapatkan fokusnya. Dilihatnya Vira masih tertunduk dan sedikit terisak.
Disadari betapa perempuan ini sudah sekian lama membuat hatinya senang. Namun juga membuat hatinya gundah dan sakit. Tak ada kerelaan dalam hatinya atas apa yang dilakukan lelaki itu kepada Vira. Namun tidak ada keinginan sedikit pun untuk melepaskan Vira.
Direngkuhnya kembali bahu Vira agar menempel dengan bahunya.
“Vira mau Abang bagaimana?” tanya Kosa pelan.
Vira terdiam.
“Vira mau kita putus?” tanya Kosa sekali lagi.
Vira tetap terdiam.
“Kalau Vira lebih bahagia dengan dia, Abang rela,” ucap Kosa berusaha mengikhlaskan.
__ADS_1
Vira yang tadi terdiam dan tertunduk kini menatap wajah Kosa. Digenggamnya tangan lelaki yang baru saja disakitinya ini. Ada keberanian yang muncul untuk mengatakan ini. Keberanian yang hadir melihat sikap yang ditunjukkan Kosa padanya. Keberanian karena ada rasa takut yang menghampirinya jika kehilangan lelaki ini.
“Abang………. Vira sayang sama Abang. Jangan lepasin Vira! Jaga Vira selalu ya Bang!”