Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
At Oods with Someone


__ADS_3

^Pertemanan yang Aneh


Kosara Dwinanta


Sengaja jam tujuh pagi Kosa datang ke rumah kost Vira hanya sekedar mengantarkan satu boks bubur ayam Betawi kesukaan perempuannya itu. Berharap pagi ini suasana hati Vira sudah membaik dan sarapan bubur membuat Vira semangat kuliah hari ini. Namun bibi penjaga kost mengatakan bahwa ternyata Vira sudah berangkat ke kampus sejak jam enam pagi. Ini membuat Kosa kaget dan mencoba menebak alasan apa yang menyebabkan Vira berangkat ke kampus sepagi ini.


Kosa bergegas kembali ke rumah kost-nya dan bersiap untuk menuju kampus untuk mencari Vira. Sengaja Kosa menunggu di ruang H.504 tempat Vira kuliah pagi ini. Mba Evi, dosen Asia Selatan masuk jam delapan tepat dan kelas sudah penuh. Namun Vira tak terlihat dalam pandangannya. Kosa menunggu sampai pukul delapan lewat lima belas menit namun Vira tak kunjung datang ke kelas. Kosa meninggalkan Gedung H dengan langkah gontai dan penuh tanda tanya tentang keberadaan Vira.


Kosa berjalan menuju perpustakaan MBRC yang ternyata belum dibuka. Beberapa staf kebersihan masih sibuk mengelap kaca dan mengepel lantainya. Sepertinya Vira tidak mungkin di sana. Kosa lalu menuju ruang program studi, ada meja besar di sana yang sering digunakan mahasiswa untuk belajar dan diskusi. Dan ternyata Vira juga tidak di sana.


Kosa memutuskan untuk sejenak duduk di ruang Prodi. Hanya ada Mas Tarman, office boy, yang mondar mandir mengecek kebersihan ruang dan Mas Bachtiar, Staff Prodi. Setidaknya Kosa menunggu di sini sampai rapat dengan Pak Irsyam dan Mas Syahran di Pusat Kajian dimulai pukul sepuluh. Staff Pusat Kajian sendiri belum ada yang datang dan pintu masih terkunci rapat. Sepertinya baru dibuka sesaat menjelang rapat dimulai.


Tidak banyak yang dikerjakan Kosa di ruang Prodi. Pikirannya melayang dimana Vira. Membaca buku saja tidak bisa konsentrasi apalagi menulis. Dipandangnya detik demi detik jarum jam yang berputar. Terdengar begitu lambat namun pasti menuju angka sepuluh yang ditunggunya.


Ketika hendak keluar, tampak oleh mata Kosa, sosok lelaki yang membuka pintu kaca tebal Ruang Prodi. Sepertinya bukan mahasiswa politik. Tapi mungkin saja mahasiswa pascasarjana Politik yang salah masuk ruang karena Prodi pascasarjana memang terletak persis di sebelah Prodi sarjana Entah wajah lelaki itu terasa familiar di benak Kosa. Mengingatkannya pada seseorang yang ia sendiri lupa. Namun dirinya tidak terlalu memikirkannya karena harus segera menuju ruang rapat Pusat Kajian.


Rapat terkait Pilkada serentak memang membuat Kosa bersemangat karena seperti yang dijanjikan sebelumnya bahwa Kosa akan menjadi koordinator lapangan untuk empat provinsi. Bahkan jika lulus semester ini, dirinya masih akan terlibat dalam penelitian ini. Ada dua peneliti baru yang bergabung. Satu peneliti, Mas Andi dari jurusan Sosiologi yang kemungkinan fokus pada pendekatan kuantitatif yang dipakai dan satu lagi, Mas Tito dari Antropologi yang akan membantu pendekatan budaya. Sepertinya Kosa akan belajar banyak dari penelitian ini. Meski demikian, urusan Vira masih mengganjal di pikirannya.


Tiba-tiba notifikasi pesan chatnya berbunyi. Dari Danu sahabatnya. Pesan berupa foto perempuan yang sangat dikenalnya bersama seorang lelaki yang memakai helmet tertutup sedang mengendarai motor sport. Wajah Vira begitu jelas. Kosa memandang ke langit-langit ruang rapat sambil menghela napasnya panjang.


--------------------------------------------------


“Ah gila, yang benar aja Vir, yakali kita nongkrong di lorong menuju toilet kayak gini. Kayak anak alay gak punya duit,” keluh Bagas.


“Ini lantai tiga, gak banyak yang pakai toilet ini, paling pegawai mall aja yang lewat sini,” jawab Vira.


“Sepi sih sepi tapi gak kayak gini juga. Mending di hotel sih Vir, pikiran lo itu jangan mesum, di hotel ada restoran atau café juga dan relative sepi. Jadi enak buat ngobrol.”


“Eh, lo itu harusnya tau ini tempat mainnya mahasiswa. Bukan pikiran gue yang mesum, tapi kalau orang ngeliat lo sama gue masuk hotel, pikiran mereka yang gak bisa gue cegah. Gue gak mau mereka mikir yang bikin nama gue jadi buruk.”


“Repot banget sih jadi elu, segala pikiran orang pake dipikirin, buang-buang waktu aja,” cetus Bagas sinis.


“Yeah, whatever lah! Buruan elu mau ngomong apa lagi sama gue. Mumpung mood gue lagi baik!”


“Lo suka Mas Adjie?” tanya Bagas yang membuat Vira terdiam lama.


“Hhmm, gue sebenarnya gak yakin sama perasaan gue sendiri. Mungkin karena gue bukan tipe yang mudah jatuh cinta, jadi susah juga jawab pertanyaan elu.”


“Elu kan punya pacar koq bisa sih gak yakin gitu? Lo gak cinta sama pacar lo?”


“Please deh, gue gak suka lo nanya itu. Bukan urusan lo juga gue mau cinta apa enggak sama pacar gue,” jawab Vira ketus.


“Sorry.”


“Gue gak tau sama sekali kalau Kakak lo itu mau tunangan. Gw cuma ketemu beberapa kali dan lo gak usah khawatir, gue bukan perempuan brengsek yang suka ganggu hubungan orang.”

__ADS_1


“Sebenarnya bukan itu maksud gue ketemu elu. Sejak ketemu elu kemarin, gue tau koq elu cewek baik-baik. Gue cuma ingin tau kenapa Mas Adjie suka sama elu.”


“Hahaha, lo itu mirip sama Adik gue si Mirna, bawaannya kepo sama urusan Kakaknya.”


“Mas Adjie itu dulu demi sama Mba Ayu sampai ngelawan Bapak Ibu. Setelah sekian lama Mba Ayu meninggal, baru kali ini Mas Adjie berani ngelawan lagi. Gue kan sebagai adiknya jelas ingin tau siapa cewek yang bisa bikin Mas Adjie begitu,” ucap Bagas sambil tertawa.


“Kakak lo itu benar-benar ngerusak gue.”


"Eh Vir, beneran elu sudah tidur sama Mas Adjie?”


“Iissshh, bego banget sih lo. Maksud gue bukan itu. Kakak lo itu bikin hubungan gue sama pacar gue jadi kacau balau. Gue ngekos buat hindarin dia. Pas gue mulai suka eh malah tunangan. Benar-benar ngerusak perasaan gue.”


“Elu yang bego, cuma gitu doang elu bilang ngerusak. Pilih kata yang benar. Ngerusak itu kalau keperawanan elu direnggut atau elu dipukulin sampai babak belur, baru tuh disebut ngerusak!”


“Elu mikirnya kejauhan.”


“Tapi Vir, Mas Adjie itu kalau punya tekad, gak ada yang bisa menghentikan. Gue cuma mau kasih saran aja, kalau elu emang cinta sama Mas Adjie, lo juga harus berjuang sama Mas Adjie. Lawan kalian itu berat, Ibu gue.”


“Gue bilang ya, elu itu mikirnya kejauhan. Gue masih kuliah, gue udah punya pacar, tunangan Mas Adjie itu, Mba Lydia, kakaknya Gani yang baik banget sama gue. Gue juga menghormati Gani sebagai teman baik gue. Dan yang paling penting itu, Pak Herman Sasongko itu bos magang gue. Nilai kuliah magang gue tergantung sama Pak Sasongko.”


“What? Elu kerja sama Bokapnya Gani? Koq bisa?”


“Dunia gak selebar daun kelor ternyata. Gue magang di DPR, itu kuliahnya enam sks, sama kayak skripsi. Gue magang di Komisi tiga, di kantornya Pak Herman. Gila kan?”


“Hahaha, kasian banget hidup lo, Vir. Sumpah, gue gak bisa ngebayangin jadinya bagaimana,” ujar Bagas seraya tertawa miris.


“Ah, gaya banget lo ngomong bukan cuma urusan cinta, pret ah!” sindir Bagas.


“Ember,” jawab Vira pendek.


“Kalau elu sama Mas Adjie, gue yakin elu bakal bahagia. Semua kebutuhan lo bakal dipenuhi. Apa yang lo minta, yang lo mau, tinggal sebut saja.”


“Maksud lo?” tanya Vira


“Lo bisa tinggalin semuanya, gak usah peduli yang lain.”


Vira tertawa mendengar pernyataan Bagas. Semakin lama semakin keras dan membuat Bagas menatap Vira dengan pandangan aneh.


“Koq elu ketawa? Gue serius dengan apa yang gue bilang!” cetus Bagas heran.


“Ya jelas lah gue ketawa, emang gue sebego apa ninggalin semuanya? Menurut lo, orang kayak gue kebutuhannya seperti apa sampai elu berani bilang kalau Kakak lo bisa menuhin itu semua? Lo pikir kebutuhan gue beli tas branded? Kosmetik? Mobil mewah? Emas? Berlian? Cowok macam elu mungkin cuma ketemu sama cewek-cewek yang rela melakukan apa saja demi kemewahan. Dan elu salah kalau samain gue kayak mereka.”


“Eh, tapi ternyata emang benar ya…… gue lihat elu dari ujung kaki ke ujung rambut gak ada satu pun yang branded. Yeaah, heran juga sih gue kenapa Kakak gue suka sama cewek kayak elu. Masih mahasiswa, gak terawat, gak minta apa-apa pula. Aneh aja sih menurut gue!”


“Koq bisa sih kita merasa sama? Gue aja gak ngerti kenapa Kakak lo bisa suka sama gue. Asal elu tau, Kakak lo itu agak sedikit nakutin gue.”

__ADS_1


“Maksud lo?” tanya Bagas menoleh ke arah Vira.


“Gue gak mau kayak cewek kecentilan yang gede rasa. Tapi Kakak lo itu kayaknya serius banget ngejar-ngejar gue meski sudah berulang kali gue kasih tanda penolakan.”


“Hahaha, kan gue sudah bilang tadi kalau Kakak gue itu kalau sudah ada maunya bakal dikejar terus sampai dapat.”


“Creepy [seremin] gak sih Kakak lo?”


“Tergantung sih. Tapi bukannya cewek suka dikejar-kejar gitu? Berhasil gak ke elu?”


“Hahaha, buset deh lo, nanya kagak ada filternya.”


“Yaelah, jujur aja sih Vir. Gue gak akan ngejudge perasaan elu koq.”


“Hahaha, gila aja gue disuruh cerita perasaan gue ke orang yang baru empat lima jam kenal gue? Lo pikir lo siapa sampai merasa bisa punya previlese dengerin perasaan gue? You wish [jangan harap]!” ujar Vira dengan nada sinis.


“Hahaha, kampret banget lu Vir! Pegel gue lama-lama ngobrol sama elu.”


“Yaudah sih, gak usah nanya-nanya lagi. Elu tenang saja, elu bisa bilang ke nyokap lo kalau gak usah khawatir. Gue gak akan mengacaukan hubungan Kakak lo dengan Mba Lydia.”


“Elu belum tau Ibu gue seperti apa. Ibu gue akan memastikan sendiri dari mulut elu Vir dan bukan dari gue. Jadi ya elu mungkin akan segera ketemu Ibu,” ucap Bagas wanti-wanti.


“Oh gosh, really [ah, yang benar saja]! Apa memang seperti ini kalau anak orang kaya jatuh cinta sama orang biasa? Hey, ini Indonesia, there’s no caste here [tidak ada kasta di sini]. Koq, kalian ribet amat sih ngurusin urusan asmara orang. Kakak lo itu laki-laki dewasa, sudah pernah nikah pula, dan urusan seperti ini kalian masih ikut campur?” sergah Vira.


“Hahaha, ya begitu deh!” sahut Bagas sambil nyengir dan pura-pura menggaruk kepalanya.


“Gue gak takut meski nanti Ibu lo mengintimidasi gue, karena memang gak ada yang perlu ditakutkan. Tapi terus terang aja, mending gak usah ketemu sekalian,” cetus Vira dengan sedikit kesal. Merasa urusan seperti ini membuat dirinya menjadi seperti terdakwa dengan kesalahan yang begitu besar.


Bagas terdiam mendengarnya. Perempuan yang duduk dengan kaki selonjoran ini terlihat menghela napasnya berulang kali. Ada rasa kasihan dari dirinya. Vira tampak seperti mahasiswa biasa namun entah kenapa terlihat begitu manis ketika bicara soal harga dirinya. Perempuan yang tangguh. Dilihatnya jarum pendek dalam arloji yang terpasang di tangan kirinya menunjukkan angka empat, sebentar lagi kuliah Profesor Rhenald akan dimulai pukul lima.


“Lo mau gue antar pulang sampai ke tempat kost? Sudah jam empat lewat. Gue ada kelas jam lima sore. Sekalian, kan satu arah,” ucap Bagas menawarkan tumpangan ke Vira.


“Gak usah lah. Elu duluan aja. Biar gue naik ojek online,” tolak Vira.


-----------------------


Vira mendapati Kosa yang sudah menunggunya di teras rumah kostnya. Tersenyum namun ada rasa kekhawatiran yang tersirat dari wajahnya yang tampan. Tatapan matanya menyimpan rasa rindu sekaligus rasa bingung.


“Abang,” ujar Vira lirih.


“Vir, baru pulang?” tanya Kosa pelan.


Vira mengangguk pelan. Tak berani rasanya Vira memandang lelaki di hadapannya. Sungguh rasa bersalah yang teramat besar membebani punggungnya yang susah untuk ditegakkan. Matanya kembali terasa pedih dan buliran air menitik perlahan.


“Abang kangen. Abang ingin bicara banyak. Vira ada waktu?” tanya Kosa. Entah mengapa ada rasa canggung yang menyergap dari kata-kata yang diucapkan.

__ADS_1


Vira terdiam dan tetap tertunduk. Matanya berulang kali mengerjap agar air di matanya menghilang. Tetiba ada uluran tangan kekar yang merengkuh dirinya dan kemudian mendekap lembut tubuhnya. Tak sanggup Vira bertahan dalam diamnya. Isakan tangisnya mulai terdengar dan buliran air matanya mulai deras berjatuhan membasahi kaus Kosa yang melekat dengan pipi Vira.


Kosa menatap nanar sambil menghela napasnya berulang kali. Membiarkan Vira menumpahkan rasa di dadanya, dalam dekapannya. Entah apa yang terjadi pada Vira selama dirinya pergi penelitian yang membuat perempuannya ini menjadi berbeda. Kosa harus mengetahuinya.


__ADS_2