Romansa Di Makara Jingga

Romansa Di Makara Jingga
The Starry Night Fills You with Joy


__ADS_3

^Langit Berbintang Memenuhimu dengan Kegembiraan.


Mama menyambut di pintu teras ketika Kosa menepikan mobilnya di depan rumah Vira. Memberikan senyum terbaiknya yang membuat tetesan air mata di pipi Vira jatuh karena rindu.


Turun dari mobil, Vira langsung berlari ke arah Mama.


“Mama, Vira kangen.”


Perempuan paruh baya itu memeluknya hangat dan menepuk punggung Vira berulang kali dengan pelan.


“Mama juga kangen. Vira sehat kan?”


Mama melepaskan pelukannya dan menuntun Vira masuk ke dalam rumah. Sedang Kosa membawakan ransel dan tas duffel Vira yang berat. Meletakkannya di kamar Vira di lantai dua lalu turun kembali menuju ruang keluarga.


“Nak Kosa, terima kasih ya sudah mau menjemput Vira. Papanya Vira gak bisa jemput, lagi tugas di luar. Natha juga gak bisa. Untung ada nak Kosa.”


“Gak apa-apa Tante, kebetulan Kosa bisa jemput koq.”


“Kamu sama Vira sudah makan?”


“Belum Tante. Gak apa-apa, nanti saja. Sekalian makan malam.”


“Eh, jangan. Nanti sakit. Ini Mama sudah masak banyak, kesukaannya Vira juga. Ayo dimakan! Mama ke atas panggil Vira dulu ya!”


Perempuan yang memiliki wajah teduh itu beranjak ke atas. Mengetuk kamar Vira.


“Vir, Vira… turun sayang. Ayo makan bareng nak Kosa!”


“Iya Mah, sebentar lagi turun,” teriak Vira dari dalam kamar.


Tak lama kemudian, Vira yang sudah berganti baju turun ke bawah membawa tas duffel hitamnya.


“Loh koq diturunin lagi Vir?” tanya Kosa keheranan.


“Iya, ini isinya oleh-oleh semua Bang. Sekalian mau dibagi-bagiin,” sahut Vira.


“Eh, abang juga punya oleh-oleh buat Vira dari Yogya. Ada di mobil. Abang ambil dulu ya sebentar!”


“Eh Bang, ntar aja ambilnya. Vira lapar nih!”


Vira mengajak Kosa ke meja makan, mengambil piring dan menyendokkan nasi ke piring dan membiarkan Kosa sendiri yang mengisi lauk-pauknya. Mama masak enak hari ini, semua kesukaan Vira. Dendeng balado dan gulai daun singkong teri.

__ADS_1


“Abang, gak suka pete yah?” ucap Vira ketika Kosa tampak menyisihkan makanan berbau khas itu ketika menyendokkan daging dendeng ke dalam piringnya.


Kosa nyengir. Bingung mau menjawab apa.


“Iiih, enak tau Bang, Vira suka banget sama pete. Bisa bikin nambah terus.”


“Beneran Vira suka?”


“Beneran. Abang juga suka kan? Pura-pura aja gak suka depan Vira. Dasar jaim.”


Kosa tertawa. Apa yang dikatakan Vira memang benar. Dirinya suka semua makanan. Hanya saja selama pacaran dengan banyak perempuan sebelum Vira, ia menjadi pemilih makanan, menyesuaikan dengan apa yang disukai oleh pacarnya dulu. Tidak bisa menunjukkan apa yang dia inginkan.


Kosa mengambil beberapa pete yang ada dalam campuran dendeng balado. Mengunyahnya bersamaan dengan nasi hangat dan daging tipis garing berbalut cabai merah yang ditumbuk kasar. Rasanya begitu lezat, seperti menyantap masakan neneknya. Menjadi dirinya yang dulu.


Vira tersenyum ketika mendapati Kosa menyendokkan nasi putih hangat untuk ketiga kalinya. Sama dengan Vira yang sudah merindu pada masakan Indonesia dan juga lelaki yang ada di hadapannya.


 


Vira mulai membuka resleting tas duffel berwarna hitam dengan logo tiga daun berwarna putih. Dikeluarkannya pashmina cashmere biru lembut untuk Mama. Perempuan itu menerimanya dengan senyum hangat.


“Terima kasih ya Vir. Ini lembut banget, Mama suka.”


Vira senang sekali mendengar mama mengatakan itu. Lalu Vira mengambilkan outer layer warna monokrom hitam dan abu-abu untuk Kosa.


“Beneran buat abang? Bagus banget.”


“Eh, ini ada lagi deh buat abang. Gelang ikat ala Tibet sama kaos oblong.”


“Banyak amat Vir. Jangan-jangan duit kamu abis buat beli ini semua.”


“Kan duitnya juga dari abang. Duit penelitian kemarin.” Vira tertawa mengatakannya.


“Ini kayaknya kolusi biar abang ngajak Vira ikut penelitian lagi ya kan?” tuduh Kosa pura-pura.


“Iya, emang bener, pokoknya abang harus ajak Vira ikut penelitian terus ya!”


Kosa tertawa mendengarnya. Ingin rasanya mengelus pelan puncak kepala Vira namun tidak enak hati karena ada Mama Vira di sana yang sibuk memperhatikan mereka berdua.


“Ma, Natha sama Mirna kapan pulang?” tanya Vira


“Natha lagi penelitian ke rumah singgah di Depok, katanya buat skripsi. Nanti mama suruh Natha pulang,” jawab Mama.

__ADS_1


“Kalau Mirna baru tadi pagi berangkat, tiga hari di Bali sama teman-teman sekolahnya. Merayakan kelulusan,” sambung Mama lagi.


“Yaudah nanti Vira taruh aja oleh-olehnya di kamar ya Ma,” ucap Vira yang dibalas dengan anggukan Mama.


 


Kosa masih menemani Vira di rumah. Masih melepaskan kerinduan. Berbicara di ruang keluarga, di sofa hijau tua, berdua. Malam yang indah.


“Vira gak capek?” tanya Kosa yang mendapati Vira masih semangat ngobrol berdua dengannya.


“Lebih capek daki gunung Bang daripada ngobrol.”


“Di sana gak ada apa-apa kan ya?” tanya Kosa kembali.


“Maksudnya abang?”


“Perjalanan panjang yang pastinya capek, perempuan sendirian, di gunung pula, abang mikirnya pasti kamu gak nyaman banget.”


Vira tersenyum. Kemudian matanya terpejam. Membayangkan pendakiannya yang baru saja berlalu. Terlintas satu persatu wajah mas-mas pendaki dalam tim mereka. Kedekatannya dengan Bobby. Mas Une yang selalu santai. Mas Dody yang tegas, dan juga Mas Cokro yang misterius. Juga ingatan akan perasaannya yang campur aduk selama di sana. Rasa capek, kesal, bahagia, marah, sedih, dan kangen melebur menjadi satu.


Vira begitu larut dalam kenangan. Gunung tinggi yang menjulang, pepohonan hijau, bunga Rhododendron, puncak salju, dan hamparan langit penuh bintang berkelebatan dalam bayangannya.


“Vir, Vira. Koq diam sih?” tanya Kosa setelah sekian lama tak ada jawaban yang keluar dari mulut Vira.


Ditengoknya wajah Vira yang duduk disampingnya. Tampak tenang. Tidak bergerak namun ada gerakan napas yang teratur yang berhembus dari hidung bangirnya.


Dilihatnya jam dinding analog yang terpatri di atas bingkai foto keluarga Vira di ruang keluarga ini. Baru menunjukkan pukul sembilan malam dan Vira sudah tertidur.


Kosa tampak sedikit bingung. Apa yang harus dilakukannya dalam situasi ini? Tidak ada siapapun. Mama Vira pun tampaknya sudah tidur. Papa Vira tidak ada di rumah Begitu pun dengan Natha dan Mirna.


Kosa ingin pulang tapi tidak sopan meninggalkan rumah ini begitu saja tanpa pamit dengan empunya rumah. Tak ingin pula dirinya membangunkan Vira yang sudah ternyenyak.


Ditatapnya kembali wajah Vira yang tertidur. Begitu tenang dan pulas. Tak kuasa Kosa membangunkannya. Tak ingin pula dirinya mengalihkan perhatiannya untuk yang lain.


Sesekali bibir ranum Vira bergerak-gerak. Gerakan yang tampak begitu sensual di mata Kosa. Memancing keingintahuannya akan rasa bibir yang menyunggingkan senyuman termanis untuknya.


Ditundukkan wajah Kosa. Semakin dekat dengan wajah Vira. Deru napas Kosa yang begitu menggebu ingin mengecup perempuan kesayangannya ini. Melampiaskan segala kerinduan yang terpendam.


Namun tetiba Vira menggeliat. Seketika menghentikan keinginan Kosa yang menggelora dan menarik wajahnya mejauh. Ada kesadaran yang menelusup masuk.


Bukan begini caranya, guman Kosa. Meskipun begitu ingin dirinya mengecup Vira, tapi tidak dengan cara ini. Diam-diam seperti pencuri. Ciuman pertama darinya harus dengan keinginan dan persetujuan Vira. Begitu tekadnya.

__ADS_1


Kosa mengangkat sedikit tubuh Vira dan membaringkannya di sofa hijau tua yang empuk. Ditinggalkannya menuju ruang tamu. Kosa membaringkan tubuhnya di kursi jati panjang yang terletak di sana. Terpisah ruang, menjauh dari Vira untuk malam ini lebih baik baginya.


Malam yang panjang.


__ADS_2